Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Etos Kerja Guru PNS yang Buruk
Etos Kerja Guru PNS yang Buruk
49 Komentar | Dibaca 8261 kali

Saya sering menerima keluhan dari teman-teman seprofesi yang notabene masih berstatus guru non PNS. Bukan keluhan tentang kesejahteraannya yang kurang, tapi mengeluhkan kinerja guru PNS yang mengajar asal-asalan.

Sebut saja Bu Rini, guru TK non PNS yang sering SMS ke nomor ponselku. Bahkan pernah saat jam istirahat dia mengirimku SMS yang bikin aku tersenyum.

“Jam segini kepsekku baru berangkat, padahal dari pagi aku sudah ngos-ngosan ngajari anak-anak latihan nari. Gajinya sih hampir 8 juta, tapi berangkat ke sekolah selalu jam 9 …. Enak banget ya jadi PNS? Ngajar suka-suka duite banyak.”

***

Lain lagi cerita   temanku dari lain kecamatan, yang menggerutu karena Ketua IGTKI dan kepseknya yang cenderung arogan, tidak pernah mau menerima masukan dari anak buahnya yang masih non PNS. Ngasih masukan positif sedikit saja langsung dibilang keminter, katanya. Dia bilang, “Berangkat cuma duduk, gak pernah ngajar. Kerjanya cuma nulis RKH, nemuin tamu, rapat keluar untuk acara ini itu. Gimana dia tahu permasalahan guru dan murid-muridnya jika gak pernah berinteraksi dengan anak didiknya?”

***

Menelisik dari cerita-cerita senada dari teman-teman guru, rasanya miris sekali. Sepertinya guru-guru TK yang masih non PNS tenaga dan pikirannya dikuras habis-habisan untuk kemajuan anak didiknya, sementara guru TK yang sudah PNS dan kebanyakan menjabat sebagai kepala sekolah hanya bisa menikmati gaji buta tanpa merasa pusing menghadapi anak didik yang bermacam-macam polah dan berjuta karakter, yang selalu bergerak dan tak mau diam.

***

Memang, tidak semua guru PNS yang “parah”, sebab banyak juga guru PNS yang etos kerjanya bagus. Saya hanya ingin mencermati keluhan-keluhan yang ada, bukan berdasarkan asumsiku belaka. Menurutku, ada beberapa sebab kenapa hal seperti ini berlanjut tanpa ada yang menegur ataupun memberi sanksi, jika itu adalah sebuah kesalahan. Padahal setahu saya,  kode etik PNS di antaranya: “…. berkemampuan melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan. ”

Kemungkinan mereka (guru non PNS) takut jika menegur atasannya akan berimbas pada hal buruk, seperti dipecat misalnya, atau khawatir akan terjadi permusuhan di antara mereka karena atasan tersinggung yang pada akhirnya hubungan menjadi tidak kondusif lagi. Apalagi jika sampai dilaporkan ke dinas, tentunya akan lebih buruk lagi akibatnya. Jadi satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah diam dan menggerutu di belakang.

***

Melihat kinerja guru PNS di lembaga Taman Kanak-Kanak yang sedemikian rupa, sepertinya masih lebih baik kinerja guru TK non PNS yang kuamati selama ini, meski upah yang diterima sangat jauh dari sejahtera.  Yang membuatku salut, para guru swasta mengajarnya benar-benar maksimal, tidak setengah-setengah, bahkan mereka lebih ceria dibanding para guru PNS yang lebih banyak mengeluhkan problematika rumah tangga dan kehidupan pribadinya. ^_^

/p

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Terdapat 49 Komentar pada "Etos Kerja Guru PNS yang Buruk"

  1. Kian Santang

     |
    March 26, 2014 at 11:04 am

    Memang kebanyakan guru PNS seperti yang anda paparkan kayaknya tidak punya target pekerjaan, mereka sepertinya hanya beranggapan setelah jadi PNS mereka bisa bebas dari target pekerjaan yang utama yaitu MENCERDASKAN ANAK DIDIK, mereka hanya memikirikan bagaimana saya naik jabatan/golongan/pangkat sehingga gaji naik.

  2. Robert Davis Chaniago

     |
    March 26, 2014 at 4:30 pm

    mungkin bisa diberikan gambar featured images yang agak besar resolusinya bu, biar nanti tampilanya ndak pecah2 🙂 minimal panjang 660pixel dan lebar 350pixel, sekalian juga sumber gambarnya dicantumkan pada diskripsinya.

    Selamat artikelnya sudah masuk ke pilihan editor minggu ini 🙂

  3. Panca Nugroho

     |
    March 26, 2014 at 4:39 pm

    saya kira itu tidak hanya terjadi di lingkungan kegururan…hampir semua instansi seperti itu. jika dibandingkan dengan dengan swasta maka akan sangat jauh tertinggal.
    inilah sebenanrya mental mental PNS yg tidak bertanggung jawab. karena mau kerja atau ndak mereka tetap mendapatkan gaji…

  4. Robert Davis Chaniago

     |
    March 26, 2014 at 5:01 pm

    betul betul betul *upin ipin mode : on*

  5. KETUT PARTA

     |
    March 27, 2014 at 7:27 am

    habis pajak negara buat gaji PNS yang gak bener kerjanya. Sertifikasi guru buang-buang uang negara saja. semua hanya panggung sandiwara.

  6. RYSA SAHRIAL, S.T

     |
    March 27, 2014 at 9:29 am

    Kasusnya sama dengan SMA tmpt kerja dulu..
    Btw itu iklan adsense punya siapa nongol? milik pribadi apa dinas?

  7. Hendrawan Kuncoro

     |
    March 27, 2014 at 10:48 am

    itu adsense kayaknya punya situs ini om, bukan pribadi atau dinas.

  8. Futicha Turisqoh

     |
    March 29, 2014 at 3:21 pm

    @Kian Santang: yup, betul sekali. Gaji nomer satu, kerja nomer 2, hehe ^_^

  9. DAMAN SANTOSA

     |
    February 3, 2016 at 7:08 am

    sebagai gambaran bahwa honor yg didapat lebih barokah daripada PNS yg buta gaji, perbandingan pendapatan yg hampir 7 kali lipat tidak membuat saya yg non PNS minder, kita disekolah sama2 sebagai pendidik, saling mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan adalah ibadah. sekali lagi saya yg non PNS tidak minder, apa yg mampu dibeli PNS alhamdulillah saya juga mampu. yg penting jangan menghitung apa yang belum kita punya (jabatan PNS misalnya), tapi bersyukurlah atas apa yang sudah kita dapat.
    ingat pa/bu, tugas kita mendidik, mengarahkan, …., ……., ……., menilai, mengevaluasi, kalau waktu kita habiskan buat memperjuangkan keadilan dunia, tidak akan cukup, kapan kita ngajarnya???

  10. Futicha Turisqoh

     |
    March 29, 2014 at 3:23 pm

    @Robert Davis: hehe, teliti amat sih Boz? iyah, aku lupa, gak ditulis sumbernya. Biarin deh pecah2, yg penting ada gambarnya …. Aku asal comot aja di internet. Tadinya mau upload foto yg bersangkutan, tapi kan gak etis… ntar aku dituntut mencemarkan nama baik orang lain… hehe ^_^

  11. Futicha Turisqoh

     |
    March 29, 2014 at 3:26 pm

    @Panca Nugroho: iyap, bentul … Tapi aku mau mencantumkan instansi lain juga begitu, gak tega, khawatir dibilang sok tau… hehe ^_^

  12. Futicha Turisqoh

     |
    March 29, 2014 at 3:27 pm

    @Ketut Parta: panggung sandiwara? Maksudnya? apa maz?? bisa dijelaskan? ^_^

  13. Futicha Turisqoh

     |
    March 29, 2014 at 3:29 pm

    @Rysa Sahrial: sama? ada bedanya gak dg PNS Guru TK? hehe, barangkali ada masukan positif dan negatif …. ^_^

  14. Relly Komaruzaman

     |
    April 9, 2014 at 9:39 pm

    Ini gambaran nyata dari opini seorang calon guru PNS yang belum menjadi PNS. Selamat menjelek-jelekkan kebobrokan yang ada, semoga Futicha Turisqoh bisa menjadi seorang legislator yang amanah, sakinah, dan terbebas dari fitnah. Anda seorang guru kok mencalonkan diri menjadi caleg dari Partai Keadilan Sejahtera? Hmm… Saya pelajari dulu hukum yang berlaku untuk beropini lagi tentang Anda. Saya terkesan membela guru PNS yang Anda kritik secara tajam setajam silat lidah, mungkin naluri saya selaku anggota Persatuan Guru Republik Indonesia dan Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia yang membuat saya demikian.

  15. Muhammad Mukhlis

     |
    May 1, 2014 at 12:13 pm

    menurut saya sebaiknya pemerintah lebih teliti dan cermat dalam merekrut cpns untuk ke depan karena akan menggadaikan nasib bangsa ini 20 tahun akan datang. mgk guru yang dimaksud penulis adalah guru produk masa lalu. jadi kalau produk masa lalu ini susah di upgrade lagi. mgk pemerintahlah yang harus membuat suatu rumusan supaya membuat efek jera kepada guru-guru baik PNS atau non PNS yang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

  16. Futicha Turisqoh

     |
    May 3, 2014 at 3:09 am

    @Relly: Terimakasih atas masukannya. Saya memang bukan guru PNS, dan baru sertifikasi tahun 2013. Justru dari realita yang ada, sekali lagi REALITA, bukan sekedar karangan dan omdo dari saya saja, saya malah jadi khawatir, setelah predikat sertifikasi yang sudah saya sandang saat ini gak jauh beda dengan PNS yang saya kritik di atas. Meski saya BUKAN PNS, toh menyandang sertifikasi juga sama beratnya amanah yang harus kita jaga, dimana disitu dituntut keprofesionalan kita. Kritikan di atas setidaknya untuk memacu diri saya sendiri untuk tidak seperti guru PNS yang kerja semau gue. Bahkan tadi pagi, di saat tengah istirahat, teman saya SMS lagi. Katanya, “Subhanallah…. Saat Hardiknas aja Bozz-ku jam segini baru berangkat, padahal sudah PNS dan sertifikasi… Hebat!!” Sekali lagi, saya pun hanya bisa tersenyum membacanya. Saya tak mungkin mengadukan hal ini pada dinas, karena pasti akan ditertawakan, sebab saya BUKAN guru PNS.

  17. Relly Komaruzaman

     |
    September 4, 2014 at 11:23 pm

    Tidak ada yang tidak mungkin jika kemauan Anda memang serius untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi Anda. Apalagi Anda seorang politikus Partai Keadilan Sejahtera. Silakan berjuang demi persaingan dalam kehidupan!

  18. Futicha Turisqoh

     |
    May 3, 2014 at 3:18 am

    @Muhammad Mukhlis: yup, guru PNS yang saya tulis di atas adalah produk lama yang kebanyakan yang sudah sepuh-sepuh alias sudah senior. Mungkin hal itu yang membuat kami enggan untuk menegurnya, karena kami menghormatinya sebagai guru yang sudah banyak makan asam garam. Saya yakin, dulu sebelum jadi PNS tentu kerjanya sangat bagus tanpa pamrih. Kalaupun sekarang jadi seperti itu, tentu karena merasa sudah nyaman dan ingin “beristirahat” sebentar, tak perlu ngoyo2 lagi seperti dulu. Biarlah yang kerja serius yang muda-muda saja. Dan memang betul, para guru PNS sekarang yang tergolong masih berusia muda etos kerjanya sangat hebat, konsisten, ulet dan kreatif. Mungkin itulah bedanya PNS produk lama dengan yang produk baru. Terimakasih kepada pembaca atas kunjungan dan argumennya. ^_^

  19. Futicha Turisqoh

     |
    May 3, 2014 at 3:18 am

    @Muhammad Mukhlis: yup, guru PNS yang saya tulis di atas adalah produk lama yang kebanyakan yang sudah sepuh-sepuh alias sudah senior. Mungkin hal itu yang membuat kami enggan untuk menegurnya, karena kami menghormatinya sebagai guru yang sudah banyak makan asam garam. Saya yakin, dulu sebelum jadi PNS tentu kerjanya sangat bagus tanpa pamrih. Kalaupun sekarang jadi seperti itu, tentu karena merasa sudah nyaman dan ingin “beristirahat” sebentar, tak perlu ngoyo2 lagi seperti dulu. Bairlah yang kerja serius yang muda-muda saja. Dan memang betul, para guru PNS sekarang yang tergolong masih berusia muda etos kerjanya sangat hebat, konsisten, ulet dan kreatif. Mungkin itulah bedanya PNS produk lama dengan yang produk baru. Terimakasih kepada pembaca atas kunjungan dan argumennya. ^_^

  20. SAHRI RIZA UMAMI

     |
    May 7, 2014 at 4:45 pm

    Yang lama kita maklum pak 🙂
    Umumnya beliau-beliau ini menjadi guru karena panggilan hati. Tahu sendiri dulu PNS guru seperti apa. Orang bilang guru bisa dipakai menakut-nakuti anak perawannya, “Awas kalo nggak nurut dikawinin ama guru!” 😀

    Zaman berlalu, kesejahteraan guru (PNS) meningkat. Beliau-beliau ini hanya menikmati seklas diujung pengabdiannya.

    Maslahnya, apa yang ditulis artikel diatas justru kini jamak ditemui pada PNS produk baru ….

  21. Futicha Turisqoh

     |
    May 12, 2014 at 5:26 am

    @Sahri: yup, begitulah yang ada, meski tak semua begitu

  22. MUHAMMAD YUSUF

     |
    June 23, 2014 at 9:27 pm

    tidak semua begitu

  23. BANGUN JOKO LAKSONO

     |
    June 26, 2014 at 8:43 pm

    Saya lihat dan alami, memang masih banyak yang begitu, khususnya utk teman2 kita yg mengajar di tingkat slta /smk. Kebetulan sy sendiri mengajar untuk anak orang lain, sementara anak saya sendiri diajar oleh orang lain (sekolah lain). Alasan mereka sudah bertambah lagi ; anak2 kan sudah dewasa, sudah bisa belajar mandiri ,…. kami guru hanya mengarahkan saja ,…. Demikian katanya.
    Diperlukan instrumen sistem seleksi awal dan pengawasan yang sangat baik. Lebih baik lagi , aturan dirubah ; guru PNS , mengingat gajinya sdh besar, tunjangan sertifikasi kecil saja, yang non-pns dibesarkan,… he..he.. setujuuuuu !!

  24. RAMNAWATI

     |
    June 27, 2014 at 7:55 am

    Setuju sama @Muhammad Yusuf.
    Tidak semua guru PNS begitu, di sekolahku walau di desa Guru PNS bekerja dengan Maksimal.
    Malah Guru Non PNS ( bukan dari sekolahku lho, cuma liat tetanggaku yang Guru Non PNS dilingkungan tempat tinggalku ) Jika mau jujur sih, bertahan jadi guru dengan honor kecil karena status sosial. Kerjanya lebih aktib karena di bayar sekolah istilah orang kerja, Mandornya di depan mata, he he he …
    Tapi, tidak semua juga guru Non PNS begitu, sebagian karena panggilan jiwa, hanya nasibnya kurang beruntung.
    Coba deh, liat-liat lagi.

  25. Marshal Aryobowo

     |
    June 29, 2014 at 8:39 am

    kalo semua PNS begitu, apa pantas kita bayar pajar..??????? GAK BINGITZ……

  26. Relly Komaruzaman

     |
    September 4, 2014 at 11:19 pm

    PNS juga bayar pajak, malahan pajaknya rutin dibayar setiap bulannya.

  27. Sukiman, A. Ma

     |
    July 2, 2014 at 1:35 pm

    iklas beramal..
    akan indah pada waktu nya

  28. Futicha Turisqoh

     |
    September 14, 2014 at 9:32 am

    yup (Y)

  29. YANTI NURHAYATI

     |
    July 6, 2014 at 11:09 am

    insyaallah kalo panggilan hati untuk membaktikan diri kita mengayomi anak-anak di sekolah, hati kita akan merasa indah, pendekatan kita kepada siswa dengan penuh rasa sayang dan tanggung jawab dan merupakan amanah yang allah embankan sebagai tenaga pendidik,Kerja yang maksimal akan membuahkan hasil.sama halnya seperti mendidik putra-putri kita di rumah.

  30. Futicha Turisqoh

     |
    September 14, 2014 at 9:41 am

    ya bu, setuju dg pendapat Ibu. Indah berawal dari keikhlasan

  31. Sri Rukmini

     |
    July 17, 2014 at 10:24 pm

    Etos kerja yang buruk ada 2 faktor menurut sy, faktor dr internal si PNS dan exsternal. Satu contoh sj, faktor internal misal pribadi yg tdk amanh dan externaly mungkin pimpinan yg tdk memberi contoh baik terhdap bwahany. Lengkaplah sudah rusaky kan bisa berjamaah itu. Tapi ini lah uniqy hdup kt slalu dihadapkan dgn kenyataan yg tdk pas. Jadi kesimpulany, ” kalau menurut anda itu benar lakukan saja dan maju terus semangat bagi para PNS yg berjiwa baik demi kemajuan bangsa !

  32. Futicha Turisqoh

     |
    September 14, 2014 at 9:38 am

    Faktor utama sebenarnya dari diri kita sendiri. Jika kita berjiwa amanah, apapun peran kita akan baik dalam bekerja

  33. N. OTING SAIDAH

     |
    September 5, 2014 at 7:23 pm

    MAKANYA DIINTAI AJA…………..KALO ADA PEMECATAN………TENTU MEREKA TAKUT………DAN TAAKAN BERANI SEENAE DEWE…………..IYA TO.
    NAMUN TENTU HARUS ADA TAHAPAN-TAHAPAN PERINGATAN.

  34. Futicha Turisqoh

     |
    September 14, 2014 at 9:44 am

    Untuk pemecatan itu gak mudah, tapi tahapan peringatan atau sanksi itu lebih baik menurutku, sebab tak ada manusia yg sempurna

  35. ELI PRIYATNA

     |
    September 8, 2014 at 1:01 pm

    dulu ngebet banget mau jadi ns, sudah jadi ns malesnya gak ketulungan karena ikllim kerja di Indonesia santai amat, dulu ingin sertifikasi sudah sertifikasi makin males kerjanya

  36. Futicha Turisqoh

     |
    September 14, 2014 at 9:34 am

    Yanti Nurhayati: ya bu, setuju dg pendapat Ibu. Indah berawal dari keikhlasan

  37. Futicha Turisqoh

     |
    September 14, 2014 at 9:40 am

    Sri Rukmini: Faktor utama sebenarnya dari diri kita sendiri. Jika kita berjiwa amanah, apapun peran kita akan baik dalam bekerja

  38. MULIANI ASLEHATUN

     |
    September 14, 2014 at 1:17 pm

    saya seorang operator baru di sebuah sekolah, baru mulai mengamati dan mengenali tindak tanduk para PNS, seperti apa yang dikeluhkan kebanyakan teman, mungkin pemerintah pengawasannya sangat lemah terhadap mereka, juga tidak jelas sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku, dan lebih celakanya justru ketimuran kita yang terkadang menghalangi berjalannya sistem sebagaimana mestinya. kasian pendidikan di Indonesia…

  39. Futicha Turisqoh

     |
    October 8, 2014 at 11:20 pm

    Ya, pengawasan yang kurang ketat juga mempengaruhi hasil kerja guru PNS

  40. SUJINAH

     |
    September 14, 2014 at 10:34 pm

    kalau di sekolahku maaf bukan pamer untuk masuk semua pukul 07.00 WIB memang kalau pulang jam 13.00 wib dah cabut karena rumah rata rata jauh sampai 25 km

  41. Futicha Turisqoh

     |
    October 9, 2014 at 2:48 am

    siiiiippp… itu disiplin yg baik

  42. MISBAH

     |
    September 25, 2014 at 10:08 am

    Saya juga sedang mengalami hal yang sama. Sebagai PNS -guru merindukan adanya revolusi mental pengelola sekolah…bukan hanya memikirkan bagaimana mengumpulkan pundi-pundi keuangan.Pengelola sekolah malah bisnis seragam siswa…kualitas baju sera
    gam jelek,….serbuan umpatan orangtua siswa mengalir. Kami guru yang tidak tahu masa
    lah juga kena getahnya.

  43. Futicha Turisqoh

     |
    October 9, 2014 at 2:51 am

    Waaahh, itu sekolah apa toko? hehe ^_^

  44. Zaid Buri Prahastyo

     |
    October 12, 2014 at 3:56 pm

    Berpikir kreatif bisa dilatih, dan hanya mental inovator yang bisa membuat orang terus melatih kreativitasnya. Umur bisa jadi penghambat kreativitas (kinerja sel-sel otak mulai menurun).
    Teruslah menyuarakan masalah kinerja guru, terus saja suarakan lemahnya sistem pengawasan kinerja guru, terus suarakan .. suarakan terus…
    Ajak rekan-rekan guru lain untuk turut prihatin dengan kinerja guru, ajak rekan-rekan untuk meningkatkan kualitas pribadinya dan menjadi guru profesional… sebarkan kebaikan di sekitar kita, dan biarkan alam semesta merespon pikiran-pikiran positif kita dan saksikanlah bagaimana keinginan kita semua diwujudkan olehNYA..

  45. MS PURWOKO

     |
    October 19, 2014 at 3:39 am

    Satu hal lagi yang perlu dijaga dalam memilih atau menaikan pangkat guru PNS + Gaji tentunya, tidak sedikit yang sudah melakukan upgrad kependidikanya namun sangat disyangkan Kelas gaji pegawai tinggi namun tingkat pengetahuannya masih standar, alias tidak ditingkatkan, script download dan bukan datang dari suatu rencana pemikiran memajukan pengetahuan murid.
    Contoh si A melakukan kejenjang Kelas gaji lebih tinggi dan mengikuti ujian dengan hasil yang gemilang, eeh tau punya kabar ternyata semua kebutuhan berkas yang mencarikan situkang warnet 🙁 sungguh ini yang bakal terjadi di indonesia bukan lagi kemakmuran murid dalam belajar, akan tetapi kemakmuran seorang guru yang sudah mulai keliatan pensiunnya dan mengejar kenaikan kelas gaji dengan hanya berbekal modal sedikit keuangan.

    harapan kita semua, hal-hal seperti ini jangan sampe terulang kembali, masih banyak honorer yang berkualitas dan masih muda dan berenergik dalam mengajar anak didik, mereka yang seharusnya mendapatkan konpensasi dari pemerintahan setempat, sehingga kecemburuan sosial tidak demo dihati mereka.

    semoga artikel diatas dapat dijadikan panutan buat kepala sekolah, guru, intansi pemerintahan yang merasa seperti diatas, mohon diperbaiki kerja anda.

    Salam silahturahmi.

  46. suhaimi muchsin

     |
    April 9, 2015 at 10:55 am

    kinerja oknum PNS (guru) sebagaimana artikel di atas sudah menjadi rahasia umum , permasalahannya dimana peran pengawas sekolah dan steck holder, serta pejabat pembina kepegawaiandalam menyikapi kasus yang terjadi. Artinya perlu diadakan berbagai macam pendekatan; baik itu pendekatan secara emosional dan pendekatan secara spritual.
    serta peraturan perundangan yang berlaku di negara Kesatuan Republik Indonesia salah satunya PP No.53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil PP No.16 tahun 2009, dan aturan tentang Beban Kerja Guru..semogah artikel di atas bukan merupakan ” ungkapan ketidakpuasan atas realita yang ada atau kecemburuan sosial” maju terus dunia Pendidik Indonesia ” dan oknum guru PNS yang berbuat cepat sadar dan bertobat..amin…wassalam

  47. kang propikid

     |
    May 9, 2015 at 3:15 pm

    Info Cpns bentar lagi INFO

  48. SURYA TANGGUH

     |
    May 26, 2015 at 6:49 am

    Menurut saya apapun atau siapapun guru baik yang PNS atau Non PNS bahkan yang tua dan yang muda kalau dalam dirinya sudah tidak ada keinginan untuk bertanggung jawab dengan kewajiban dan amanahnya maka akan terjadi seperti yang dipaparkan di atas. Perlu jadi catatan untuk kita semua bahwa kita tidak perlu melihat kesalahan orang lain yang terpenting mulailah dari diri kita sendiri dulu, apakah kita sudah melakukan lebih baik dari orang yang kita lihat atau belum. kalau sudah baik, lanjutkan. kalau belum perbaiki. Urusan mereka yang malas boleh kita suarakan dengan hati yang damai, tanpa ada propokasi dan celaan yang bisa menimbulkan kebencian. Karena semua apa yang kita lakukan baik benar ataupun tidak benar akan kita pertanggung jawabkan pada yang empuNYA kebenaran. Kita semua yang jadi guru baik yang rajin ataupun yang malas adalah teladan, kalau kita jadi teladan yang salah maka kita semua pasti tau apa yang akan terjadi…. salam sukses.

  49. kang propikid

     |
    February 7, 2016 at 8:52 am

    ingin memberikan info saja ijin opersional sekolah (ijob) bisa anda lihat di

    Syarat dan Ketentuan Perpanjangan Izin Madrasah

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Obat Sehat Pria

Kami agen pedagang obat herbal alami yaitu hammer of thor menjual obat pembesar alat vital yang asli, tidak ...
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0