Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Keganjilan Mengenai Peserta Sertifikasi Guru 2014
Keganjilan Mengenai Peserta Sertifikasi Guru 2014
5 Komentar | Dibaca 2658 kali

Tulisan ini berasal dari diri saya pribadi yang sumringah melihat hasil seleksi peserta sertifikasi guru tahun 2014 ini. Bagaimana tidak? Beragam keganjilan yang muncul di benak saya saat melihat pengumuman yang masuk kuota sertifikasi guru 2014. Saya tidak tahu mesti menyampaikan kepada siapa, mau telepon dinas terkait? Buat apa, paling tidak ditanggapi. Dianggap seperti daun jatuh. Lagi pula saya tidak bertugas di tempat itu. Awalnya saya tidak mau ambil pusing, namun batin ini tidak mau kompromi. Mesti diberitakan. Jalan satu-satunya tulis. Semoga dengan tulisan ini ada yang tertegur atau bahkan tersinggung.
Perhatikan screen shoot yang saya ambil dari situs http://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/ . silahkan masuk ke situs tersebut, klik kriteria, di kolom provinsi pilih Bengkulu, di kolom kabupaten pilih Bengkulu Tengah, pilih halaman terakhir.

Perhatikan pada nomor terakhir, usia 17 tahun 6 bulan, sudah memiliki masa tugas 22 tahun 8 bulan. Berarti yang bersangkutan mulai mengajar 5 tahun sebelum dilahirkan. Logikanya di mana? Ini salah operator dinas atau pusat? Saya rasa salah kedua-duanya. Atau ada praktik ‘uang pelicin’? Atau posisinya salah balik atau salah ketik? Dibalikpun rasanya masih tetap tidak masuk akal, masa mengajar mulai usia 5 tahun?
Selanjutnya. Perhatikan yang no 102, usia 24 tahun 5 bulan sudah bertugas selama 8 tahun 11 bulan. Berarti yang bersangkutan mulai mengajar usia 15 tahun 4 bulan. Saat itu sekitar tahun 2005. Setahu saya, pada saat itu, paling tidak lulus SLTA baru bisa honor menjadi guru di SD. Ini kebenarannya di mana? Kalau dilogikakan, usia tersebut masih SMP atau baru masuk kelas 1 SMA. Atau si guru tersebut sambil mengajar mengambil paket c dan paket d (kalau ada). Ya Allah, ini bagaimana? Tidak malu apa melakukan praktik-praktik seperti itu. Sadar dong, pendidikan ini. Kalau pendidiknya seperti itu, bagaimana dengan anak didiknya?
Itu 2 permasalah sangat mencolok yang saya utarakan. Masih banyak lagi, silahkan diperiksa dan dilihat-lihat di situsnya. Saya tidak tahu motifnya apa? Apa karena yang bersangkutan honor atau apa? Sehingga merasa iba dengan honornya yang pas-pasan. Itu terserah. Tapi paling tidak, tolong pikirkan, yang lihat dan membaca siapa? Buka