Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Kutipan Novel , Duka dalam Suka
Kutipan Novel , Duka dalam Suka
0 Komentar | Dibaca 763 kali

Setitik Bahagia dalam Duka

Penulis : Ari Setiadi, S.Pd

 

 

 

Ranting dan dedaunan yang terjatuh

Tak pernah menyalahkan sang pohon

Karena ia yakin ranting dan dedaunan

Akan terlahir kembali

Menjadi pucuk-pucuk masa depan

 

Ari Setiadi                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SATU

 

 

Suatu pagi, di sebuah Desa bernama Cijenuk yang terletak di daerah  Bandung bagian barat hari itu dilanda mendung. Sang surya seolah enggan menyapa penghuni bumi walau hanya sesungging. Pagi yang biasanya Ia masih sembunyi-sembunyi, seolah enggan menunjukan sedikit parasnya untuk memberikan sedikit kehangatan. Hembusan angin  dari arah barat menyapu debu dan asap kendaraan. Debu dan asap  berlomba  mencari tempat singgah yang nyaman di mana saja bahkan di lubang hidung manusia.

Tepat di pintu gerbang sekolah, bergiliran kendaraan umum menurunkan penumpangnya. Tak lain penumpang itu adalah siswa-siswi SMP Karya Pembangunan. Tanpa menunggu lama, begitu keluar dari pintu kendaraan  mereka segera berjalan masuk melalui rahang gerbang dan menuju kelas masing-masing. Tidak lupa mereka membayar ongkos terlebih dahulu.

Beberapa menit kemudian Pak Aries, Guru Bahasa Indonesia di sekolah itu datang.  Ia masuk ke ruangan yang telah disediakan untuk para guru di sekolah itu. Seperti biasa, salam silaturahmi dan saling membalas ucapan salam pun terjadi di ruangan tersebut. Suatu hal yang dianggap  wajib dilakukan oleh guru atau pun orang-orang yang ada di lingkungan sekolah itu. Namun, hal itu juga wajib kita lakukan di manapun dan kepada siapapun bukan?  karena agama Islam mengajarkan hal tersebut. Ucapan Assalamualaikum wajib kita balas dengan Wa aliaikum salam. Karena ucapan tersebut merupakan suatu doa keselamatan pada orang yang mengucapkan, maupun yang menjawabnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 86. Yang artinya.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu(dengan serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An Nisa : 86)

Langit murung. Tampak setiap orang yang ada di sana, mengeluhkan cuaca pagi itu. Kabut keluh di wajah mereka seolah melengkapi mendungnya pagi itu. Bagaimana tidak?  Jika hujan turun anak-anak sekolah akan kerepotan di hari esok untuk mengeringkan baju seragamnya. Mayoritas anak sekolah tersebut hanya memiliki satu baju seragam putih biru.  Belum lagi, beberapa kelas tidak dapat digunakan jika hujan turun karena atapnya bocor. Sudah beberapa kali itu diperbaiki namun hasilnya tetap sama. “Bocor!”  . Beberapa guru juga merasakan hal yang sama. Jika genting kelas bocor, mereka pun tidak dapat melaksanakan tugas mengajarnya. Al hasil materi bersih-bersih pun menjadi alternatif. Proposal renovasi telah diajukan kepada Dinas terkait. Namun, sudah berbulan-bulan dan melaju ke tahun belum jua ada kepastian. Sampai kapankah itu? Wallahu a’lam.

Lain halnya dengan Pak Aries. Hari itu cuaca yang mendung ditambah suasana sekolah yang ikut terbawa muramnya cuaca. Tidak mempengaruhinya untuk menambah daftar keluh setiap orang yang ada di sana. Tidak lain, karena hatinya  sedang berbahagia. Besok ia akan di wisuda, di resmikan sebagai salah satu cendikiawan Bahasa dan Sastra Indonesia terbaik di Perguruan Tinggi tempat ia menimba ilmu.  Apapun suasana pagi itu ia tetap memajangkan senyum di wajahnya. Sehingga ia menjadi orang yang paling berbeda pagi itu.

Tet…tet…tetttttttttttt!!!.  suara bel berdenging keras. Telinga siapa saja yang ada dilingkungan sekolah itu tidak akan luput dari terjangan dan hantaman denging keras bel sekolah itu.

Bel tanda masuk telah berbunyi. Seluruh siswa yang tengah berada di luar kelas mulai memasuki kelasnya masing-masing.  Demikian dengan para guru yang bermuara di ruang guru mulai bersiap-siap untuk memasuki kelas yang tengah di tunggu sang murid. Cuaca pagi itu tidak berubah. Menit menuju jam, jam melaju ke jam berikutnya, tetapi  cuaca tak berubah malah semakin bertambah kelam. Awan hitam kian menyelimuti sang  cakrawala hingga tenggalam  ditelan sang awan pemarah.  Beberapa siswa tampak tidak terlalu terpengaruh oleh cuaca hari itu, tapi kebanyakan dari mereka mengeluhkan cuaca pagi itu. Hingga bel tanda pulangpun terdengar, cuaca  tak berubah.

****

Tet…tet…tetttttttttttt!!!.  Kembali suara bel berdenging. Suara bel yang ke tiga kalinya hari itu, menunjukan bahwa denging keras tersebut adalah waktunya pulang.

Suara bel tanda pulang itu bunyinya berbeda sekali seperti biasanya. Suaranya terdengar begitu menggelegar karena diiringi suara petir yang memecah kesunyian. Hujan perlahan-lahan mulai turun. Tiap menit semakin bertambah volumenya. Rintik-rintik hujan yang lembut menjadi garis-garis tegas yang membuat setiap insan menahan diri menerobos tebalnya hujan dan memilih menepi kemudian  menunggu sampai hujan reda.

Detik berganti menit, menit berganti jam. Tapi hujan tak kunjung reda. Aries mulai resah, dan gamang. Bagaimana tidak!  Ia harus mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi hari esok. Esok adalah hari yang selama 4 tahun ia nantikan.  Perjuanganya, pengabdiannya, kegigihan dan usahanya dalam belajar akan mendapatkan pengakuan berupa gelar seorang dari salah satu dari cendikiawan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia terbaik di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung.

Seketika ia terbawa dalam lamunan.  Ditemani gemercik air hujan yang turun deras yang dimuntahkan dari langit.  Esok, keluarganya akan menjadi saksi  sekaligus ia akan membuat bangga mereka  dan  membuktikan bahwa ia dapat menjadi seseorang yang mandiri dan dapat menyelesaikan kuliahnya tanpa membebani ke dua orang tuanya.

Esok, ibu dan ayahnya akan menggandeng ke dua tanggannya menuju mimbar kehormatan di kampus.  Akan ia katakan sebuah ucapan rasa terima kasih kepada ke dua orang tuanya yang begitu gigih dan sabar dalam memperjuangkan ia untuk menjadi seorang sarjana.

Ayah dan ibunya memeluknya. kemudian, ia mencium ke dua kaki mereka. Hal yang selalu ia lakukan ketika Aries mendapatkan kebahagian. Namun  jika ia mendapatkan kesusahan, ia akan berusaha menyembunyikan itu dari ke dua orang tuanya. Walau mereka tahu bahwa anaknya  sedang mengalami kesulitan,  tetapi mereka mau mengerti keinginan Aries yang selalu berusaha membuat ke dua orang tuanya bahagia. Selalu ia ingat ajaran yang selalu ibunya berikan untuk menemaninya dalam menjalani pasang surut hidup.

“Bertakwalah nak. Jika kau mendapat bahagia bersyukurlah, jika kau dapat musibah atau susah bersabarlah. Allah itu menyayangimu dengan caranya sendiri. Berbaik sangkalah padanya”.

Petuah yang sering Ibunya tanamkan.

Cobaan memang pasti akan sering kita temukan, baik itu sebuah nikmat ataupun sebuah musibah. Namun percayalah Allah telah mempersiapkan pahala besar bagi mereka yang bersabar tanpa batas. Sebagaimana Allah berfirman.

“Sesungguhnya hanya orang-orang uang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas”(Az-Zumar : 10)

***

 

“Duuuuarrrrrrrrrr!!!!!!,,,,duarrrrrrr!!!!” Bunyi petir begitu menggelegar. Seketika membangunkan lamunannya. Tetesan air hujan yang masuk dari genting yang bocor, menetes tepat di wajahnya. Kini wajahnya basah. Tampak jelas ia seperti orang yang sedang menangis.

Kini, ia terbangun dari lamunan kebahagiaanya. Lamunan kebahagian itu seketika lenyap, tergantikan oleh sebuah kenyataan yang pahit. Tragedi kecelakaan dua bulan yang lalu telah merenggut nyawa ke dua orang tuanya. Nyawa hatinya, nyawa hidupnya. Orang yang paling ia cintai kini telah  tiada.

Lamunan dan harapan menjadi sesuatu yang kosong. Keberhasilan dan penghargaan yang ia dapatkan  menjadi sesuatu yang merobek-robek hatinya. Meluluh-lantahkan jiwanya. Jiwanya terombang-ambing di lautan duka.

“Untuk apa semua ini, untuk apaaaa!!” hatinya berkecamuk.

Ke dua kaki yang selalu ingin ia cium, kini hanya segunduk tanah merah tanpa suara. Pelukan hangat yang selalu ayah dan ibunya berikan, kini hanya sebongkah batu nisan bertuliskan nama.

“Ya Allah, mengapa kau tidak memberiku kesempatan untuk membahagiakan mereka?”

“Mengapa kau tak memberiku kesempatan untuk ku mencium kaki mereka?”

“Mengapa kau tak  beri  aku kesempatan untuk ku menunjukan, berbahagianya aku sekarang?”  Lirihnya dalam hati.

Namun ia sadar, semua ini  adalah ujian baginya. Ia berusaha untuk tabah dan berusaha untuk lebih bertakwa atas segala kejadian yang ia alami.

Ia sadar, bahwa setiap manusia yang hidup pastilah akan bertemu kematian jua. Begitupun dirinya. Namun kita tidak tahu kapan? Atau dimana? Ajal kita akan dijemput.

Innalilahi wa innalillahi rojiun” (datang dari Allah dan kembali padanya)

****

Hujan masih deras. Setiap orang yang tengah berada dekatnya saat berlindung dari hujan- yang kebanyakan adalah murid-muridnya yang sedang menepi menunggu hujan reda, tak menyadari bahwa ia sedang menangis. Tetasan air hujan yang menetes tepat ke wajahnya membuat orang tidak dapat membedakan yang mana air mata.

Tapi tidak dengan muridnya yang satu itu. Salah satu murid terbaik di sekolah itu.

“Bapak kenapa? “ tanya Nurfalah padanya.

“memangnya Bapak kenapa Nur?

“Bapak menangis, ada apa Pak? Tapi maaf Nur lancang”

“Bapak gak apa-apa Nur, seperti menangis ya. Inikan hujan Nur!” Arie mencoba menutupinya.

“Saya yakin  itu bukan air hujan yang menetes ke wajah Bapak, tapi itu air mata Bapak”

Nampaknya sulit bagi Aries untuk mencoba menutupi kesedihannya pada muridnya yang satu itu. Nurfalah terus mendesak ingin tahu, seolah tengah merasakan apa yang dirasakan Aries – Nurfalah menatap dengan mata sayu, keningnya mengerut. Raut kecemasan nampak di wajah mungil itu. Bagaimana tidak, ia sudah menganggap Pak Aries sebagai orang tua ke dua baginya.

Garis-garis tebal hujan kembali menjadi rintik-rintik. Beberapa menit kemudian menjadi butiran embun. Hujan deras telah reda.  Saat yang tepat untuk Arie memotong pembicaraan.

Allhamdulilah, hujanya reda Nur!” “ Bapak duluan ya, Assalamualaikum!”

Wa..wa allaikum salam..” menjawab salam Pak Arie.

Matanya terus memandangi punggung Pak Aries dari belakang yang keluar gerbang yang semakin lama semakin jauh dan terlihat mengecil, kemudian hilang di sebuah belokan jalan raya. Hatinya merasakan nuansa yang tidak seperti biasanya pada diri gurunya itu. Guru yang selalu tampak ceria, kalem, dan bersahaja kini selalu tampak murung. Setelah itu ia pun beranjak  pulang meninggalkan sekolahnya.

 

****

 

 

 

 

 

 

 

2

Mahasiswa Terbaik

 

Suasana di area kampus sudah sangat ramai pagi itu. Padahal, waktu masih menujukan jam 05.30 WIB.  Sengaja Aries datang lebih awal supaya dapat parkir di dalam area kampus. Namun kenyataan berbeda, pagi buta area parkir dalam kampus sudah penuh dan sesak.

Area kampus STKIP Siliwangi Bandung  yang begitu luas hari itu menjadi terlihat menyempit. Karena dipenuhi mobil, motor dan juga para keluarga yang sudah berada di sana sejak pukul 05.00 WIB pagi. Apa boleh buat, ia terpaksa parkir di area Fakultas Kedokteran Unjani –yang jarak dari sana ke area kampusnya cukup jauh. Setelah memarkirkan kendaraannya, ia berjalan menuju Aula Kampus tempat acara wisuda di gelar.

Sesampainya di gerbang, begitu terperanjatnya ia. Melihat begitu banyak, sesak, orang di dalam area kampus. Untuk sekedar berjalan saja rasanya cukup sulit. Pantas saja, seluruh keluarga ikut untuk mengantar serta menyaksikan anaknya, istrinya, dan siapa saja yang di wisuda waktu itu.

Ketika Aries berjalan menuju Aula Kampus, tampak di pinggir-pinggir jalan dan di muka kelas berjejer para tukang Photographer yang biasa hadir jika ada acara-acara seperti ini. Tampak terlihat sangat sibuknya para tukang poto itu, karena banyak sekali para peserta wisuda yang  tak mau melewatkan moment untuk mengabadikan saat-saat bersejarah bagi mereka dengan keluarganya tercinta. Al hasil,  tukang poto pun kebanjiran order.  Aries hanya tersenyum miris melihat hal itu dan terus bergerak maju menuju pintu Aula yang menunggunya. Dalam hati ia berkata “Bahagianya mereka” gumamnya dalam hati.

Megah, luas, dan takjub. Hal itu yang ia saksikan ketika masuk ke dalam Aula STKIP Siliwangi Bandung. Panggung dan podium yang gagah di sisi kiri—kanan berjejer meja kehormatan untuk para Rektor, Guru Besar, Dosen-dosen, dan para tamu undangan.  Di bawahnya, berjejer  kursi-kursi bernomor yang sudah penuh diduduki oleh masing-masing peserta wisuda sesuai dengan nomor kursinya. Nomor 531 adalah nomor tempat duduk Aries. Ia mencari-cari kursi bernomor 531, hingga beberapa menit kemudian ia menemukan kursinya yang berada paling belakang. Ia duduk dan menunggu acara dimulai.

 

Assalamualaikum, Wr Wb… salam sejahtera untuk kita semua

Semua mata tertuju ke arah suara berasal. Sang pembawa acara telah mengucapkan salam tanda acara akan dimulai. Mukadimah, dan sambutan-sambutan pun saling bergantian disampaikan oleh orang-orang terpenting pada acara itu. Wejangan, ilmu, amanat, dan ucapan selamat dari mereka disampaikan kepada seluruh peserta wisuda. Tak terkecuali kepada para orang tua peserta wisuda,  mereka memberikan selamat atas kesuksesan anak mereka mendapatkan gelar Sarjana. Setelah itu rehat dan mendengarkan lagu sendu yang dibawakan oleh paduan suara Mahasiswa STKIP Siliwangi Bandung. Lagu Hymne Guru dan lagu daerah.

****

            Baiklah para hadirin semuanya”  kembali pembawa acara melanjutkan acara selanjutnya.

“kita lanjutkan kepada acara yang sangat dinanti. PENOBATAN MAHASISWA TERBAIK STKIP SILIWANGI BANDUNG ANGKATAN 2011. Jatuh kepada?”

Setiap orang yang berada di ruangan itu saling berpandangan, saling menoleh dengan teman duduknya dan saling menebak, kira-kira siapa yang terpilih itu. Ada juga yang hanya diam berharap-harap cemas, semoga dirinya yang terpilih. Ada juga yang hanya tertawa miris, memastikan pasti bukan dirinya.

Namun Aries hanya duduk diam, seolah tidak terpengaruh dengan suasana yang sedang terjadi di ruangan itu. Rasanya hal yang sulit bagi dia untuk tersenyum. Baginya, siapapun yang terpanggil ia adalah orang yang sangat beruntung dan hebat.

Keheningan terjadi sesaat sang pembawa acara menentukan detik-detik penentuan siapakah yang mendapatkan penghargaan itu.

“Aries Setiawan Dodi, S.Pd!………” terdengar suara yang memanggil nama lengkapnya.

“Sekali lagi saya panggil, Aries Setiawan Dodi, S.Pd!. dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Selamat! Padanya. Beri tepuk tangan! “ kembali sang pembawa acara memanggil namanya.

Riuh tepuk tangan pun bergemuruh di dalam ruangan itu. Orang-orang di luar gedung aula mungkin tidak tahu apa yang tengah terjadi di dalam. Aries berusaha mengangkat tubuhnya yang terasa berat. Rasa tak percaya, bahagia, kaget bercampur menjadi satu. Membuat tubuhnya menjadi gemetar dan lemas mungkin sedikit shock  karena sungguh di luar dugaannya. Dengan langkah pelan namun pasti, ditemani dengan gemuruh suara tepuk tangan dari seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu Aries berjalan menuju Podium kehormatan itu.  Ia pun memberikan sambutan.

Asslamualaikum Wr. Wb.”

“ Yang terhormat Rektor STKIP Siliwangi Bandung,yang terhormat para Dekan STKIP Siliwangi Bandung, yang saya hormati ketua Jurusan, para dosen dan para tamu undangan. Yang saya banggakan teman-teman peserta wisuda. “

” Puja dan puji mari kita panjatkan pada sang Khalik. Shalawat dan salam kita senandungkan pada baginda Rassul, beserta para keluarganya, sahabatnya, tabiian, dan seluruh umatnya di muka bumi.”

“ saya ucapkan terima kasih dan syukur atas nikmat yang diberikan pada saya. Melalui STKIP Siliwangi Bandung berupa sebuah predikat Mahasiswa terbaik tahun ini. Namun, sepertinya saya kurang pantas.”

Sejenak suasana menjadi hening, dan Aries melanjutkan.

“  Saya tidak pantas mendapatkan ini. Masih banyak para mahasiswa yang kemampuan intelektual dan segalanya di atas saya. Bahkan jauh lebih hebat. Saya yakin, para peserta wisuda di ruangan ini adalah mahasiswa yang punya kemampuan intelektual yang sangat hebat dibandingkan apalah saya ini.”

“ Percayalah!  Saya hanya orang yang beruntung saja, bahkan mungkin kebetulan”

Aries melanjutkan kembali sambutanya.

“Para hadirin, di luar sana, orang tua anda, orang-orang yang mencintai anda dengan tulus tengah menunggu  anak yang mereka banggakan, keluar dari ruangan ini dengan membawa gelar S1. Anda disambut dengan pelukan, pujian, dan sambutan hangat dari tangan kasih mereka.”

“Sesungguhnya itulah penghargaan yang sebenarnya. Penghargaan yang tulus dari kasih dan sayang seseoarang yang mencintai kita jiwa dan raga.  Penghargaan yang selalu saya impikan selama ini, saya harapkan selama ini”  sejenak ia terdiam, kemudian melanjutkan kembali sambutanya dengan suara parau.

“Para hadirin!, seandainya ada yang mau menukar penghargaan ini dengan pelukan kasih sayang dari orang tua anda. Saya akan memberikanya.”

“karena sesungguhnya penghargaan itu yang ingin saya dapat hari ini. Namun, orang tua saya hanya bisa melihat anaknya ini  berdiri di podium terhormat ini  dari tempat istirahat abadinya”

Setiap mata orang di dalam ruangan itu tertuju padanya. Sesaat menundukan wajah mereka dan menghapus air mata yang keluar sendiri, seolah ingin menyaksikan haru yang terjadi di ruangan itu. Orang-orang yang awalnya terseyum miris, bahkan kecewa menyaksikan hal itu karena mengapa bukan mereka yang terpilih. Kini hanya bisa tertunduk. Mereka malu pada diri mereka karena tengah iri kepada orang yang tidak lebih beruntung dari mereka. Benar apa yang diucapakan Aries, penghargaan yang sesungguhnya datang dari orang tua kita. Apapun keadaannya, bagi mereka anaknya  adalah yang terbaik.

Beberapa menit kemudian. Aries menutup sambutannya diikuti oleh gemuruh tepuk tangan yang dipersembahkan padanya. Ia turun dari podium kehormatan itu dan disambut standing aplause dari seluruh orang di ruangan itu. Kemudian setelah itu dilanjutkan ke acara pelantikan, kemudian doa dan penutupan. Suasana berangsur kembali normal.

Acara-pun  tak terasa sudah di penghujung. Hal yang diprediksikan bakal menyita waktu yang cukup  lama, kini hanya sekilas dan acara wisudapun telah usai.  Pintu gerbang aula pun terbuka. Tampak di luar pintu aula para orang tua tercinta tengah menantikan untuk memberikan bunga dan memeluk anaknya yang keluar dari pintu aula itu. Para peserta wisuda pun keluar.

Benar sekali, terlihat sambutan yang hangat, ucapan selamat, bahkan pelukan yang diberikan pada mereka. Bunga-bunga mawar mereka persembahkan untuk seseorang yang keluar dari ruangan itu. Betapa bahagianya mereka. Aries hanya melihat mereka yang berbahagia sambil  tersenyum. Andai saja ada jugaorang yang memberi bunga padanya, ia akan sangat senang sekali. Namun kenyataanya Ia hanya datang sendiri. Walaupun begitu  Ia mencoba merasakan kebahagian yang teman-temanya rasakan. Walaupun sepertinya agak sulit.

“Selamat ya kawan-kawan” ucapnya dalam hati kepada teman-temanya.

Pulang secepatnya adalah sesuatu yang saat ini ada di benaknya. Ia berjalan  menusuri kerumunan orang yang memadati area kampusnya. Ia terus berusaha keluar menuju gerbang pintu keluar untuk langsung bergegas pulang. Ia menyelusup di antara kerumunan orang-orang. Sampai akhirnya ia dapat lepas dari kerumunan itu.

Alhamdulilah Ya Allah…. akhirnya keluar juga” ucapnya dengan perasaan lega.

Ia menoleh terlebih dahulu  ke arah kampusnya sebelum ia keluar dan pergi meninggalkan tempat di mana ia di didik, dilatih, dan diajarkan ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya dari para Dosen tercinta.

“Rasanya baru bulan kemarin saya masuk kuliah, sekarang sudah lulus lagi. Hmm… waktu memang begitu cepat melaju.” Gumamnya dalam hati.

Setelah melihat lama dengan lekat-lekat kampus tercintanya, ia segera membalikan badannya kembali untuk menuju ke tempat di mana ia memarkirkan kendaraanya.

Tiba-tiba ia terperanjat.  Ia kaget. Di hadapannya tengah berdiri wajah yang tak asing. Wajah yang selalu ia lihat. Wajah itu adalah Nurfalah.

Assalamualaikum?” suara itu mengucapkan salam.

“Wa..walalikum salam. Nufalah sedang apa di sini?”

Nufalah datang tidak sendiri. Ia bersama ayahnya.

“Saya dan ayah sengaja datang ingin melihat wisuda Bapak, dan sekaligus kami ingin langsung mengucapkan selamat  pada Bapak” Nurfalah berkata dengan suara lembutnya.

“tapi…”   sejenak Nurfalah terdiam, kemudian ia melanjutkan pembicaraanya.

“Tapi kami tidak diperkenankan masuk. Katanya kami tidakmemiliki kartu undangan wisuda bapak! Maaf pak.”

Tersentuh hatinya. Ia tak bisa mengatakan apa-apa selain ucapan

“Terima kasih Nur , Pak, telah datang kemari, sa..saya bingung harus berkata apa. Selain ucapan terima kasih yang banyak.namun, maafkan saya juga tidak bisa membawa kalian masuk, karena saya tak tahu” Aries menjawabnya dengan suara sedikit parau.

“Tapi sekali lagi saya berterima kasih, sangat-sangat berterima kasih” dengan tertunduk ia mengucapkan itu pada Pak Budi dan Nurfalah.

Tak sadar air matanya jatuh ketika mengucapkan itu pada Nurfalah dan ayahnya. Andai orang tahu saat itu betapa bahagia dan terharunya ia. Ia kini merasa tak sendirian.

Kemudian, Ayahanda Nur memberikan pelukan dan ucapan selamat serta mengatakan agar ia sabar dalam menghadapi apapun yang di takdirkan padanya. Karena sesungguhnya ada hikmah di balik setiap duka. Ia tumpahkan segala suka dan duka di dekapan pelukan Ayahanda Nurfalah.

Hari itu, ada setitik kasih yang Allah berikan padanya. Ia sadar, selain kasih dan perhatian dari ke dua orang tuanya, ternyata ada orang lain yang juga peduli terhadapnya. Nurfalah dan keluarganya adalah orangnya.

****

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ASRI GUNARTI

Sweet, Talktive,Always looking for the new one, Always keep spirit.
Daftar Artikel Terkait :  4
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0