Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / “Penyesalan itu benar terjadi…..”
“Penyesalan itu benar terjadi…..”
0 Komentar | Dibaca 1042 kali

Ira…. Ira… bangun Ra… kamu gak berangkat sekolah … iya… iya… aku bangun… sambil mengucak mata yang masih ngantuk aku pun keluar kamar sambil membawa handuk di leherku… terdengar lagi suara ibu, cepet mandinya sudah siang… jangan lupa shalat subuhnya juga… iya bu… ibu itu kenapa si… aku udah tahu ko bu… bahkan aku hafal habis ini ibu akan bilang apa… aku belum sampai kamar mandi ibu juga pasti akan ngomong lagi… Ira… nanti baju tidurnya di gantung ya… huh… dan benarkan… rasanya lelah deh dengan ucapan ibu yang terkadang menurutku berlebihan… aku kan sudah cukup dewasa … bukan anak kecil yang masih duduk di bangku SD lagi… yang apa-apa ibu masih siapkan, aku kan sekarang sudah duduk di kelas 2 SMA…

Ibu, aku berangkat ya… Assalamualaikum… betul saja belum kakiku melangkah wejangan ibu keluar lagi… bekal ibu masukan ke dalam tasmu jangan lupa dimakan ya nak… hati-hati di jalan… lihat kanan kiri ya Ra… sepanjang jalan aku merenung kenapa si sikap ibu seperti itu… apa karena aku anak satu-satunya… ah tapi tidak juga… buktinya Annisa teman sekelasku juga anak tunggal tapi ibunya bersikap biasa saja… bahkan dia dibebaskan oleh orang tuanya, ah sudahlah aku juga tidak mengerti.

Teng.…. Teng….. Teng….. bel sekolahku pun berbunyi waktu pulang sekolah pun tiba….. teman-temanku dengan senangnya keluar pintu gerbang….. Annisa dan Dewi menyapaku… Ra, kita jalan-jalan yuk… lagi ada diskon lho ra… yuk ikutan…. Aku bingung harus bilang apa, dalam hati, aku ingin sekali ikut dengan mereka… tapi bagaimana dengan ibu… aku tidak kebayang paniknya ibu menunggu di depan rumah karena watunya aku pulang namun aku belum sampai rumah…. Dengan mimik wajah yang berat hati, aku harus memilih untuk pulang. Maaf ya… mungkin lain kali…! aku sudah janji pada ibu tuk langsung pulang…! ah, kamu Ra…! ibumu kan tidak tahu kalau kamu pergi jalan-jalan… lagi pula kan ini tidak sering-sering… udahlah Ra…! sekali-kali tidak apa…! Bilang saja pada ibumu kalo kita ada kegatan belajar kelompok,,,,! tidak, aku mau pulang saja… maaf ya…!

Benar perkiraanku ibu sudah menunggu, ya wanita paruh baya itu telah menungguku dengan senyum di wajahnya, tak ada kata lelah buatnya untukku…. meski terkadang aku suka membuatnya kesal, tapi tak ada marah yang terucap dari bibirnya.

Pagi pun tiba, kejadian yang sama terulang lagi setiap paginya ibu memanggilku tuk bangun pagi dan… ya, seperti itu dan mungkin akan seperti itu, di sekolah kali ini Annisa dan Dewi sudah mengajakku lebih awal, ya kami bertemu di gerbang sekolah saat ingin masuk, dengan yakinnya aku jawab iya, aku mau ikut… Ok! nanti setelah pulang sekolah ya Ra…! Kali ini Aku sedikit nekat, aku tidak langsung pulang, aku ikut teman-temanku pergi jalan-jalan ke Mall. Aku merasa sangat bebas sekali, seperti seekor burung yang keluar dari sangkarnya, entah aku harus senang atau tidak walau di hatiku tahu kalau ibu pasti khawatir, tapi aku alihkan pikiranku dengan memilih-milih busana remaja model terbaru, tanpa ku sadari, waktu sudah hampir magrib, iya aku lupa, telepon genggamku tertinggal, aduh! Bagaimana ini, setidaknya kalau ada itu, aku bisa bilang pada ibu kalau aku ikut belajar kelompok dengan teman, ah biarlah, ini juga tidak sering aku lakukan.

Aku sudah hampir tiba dirumah, aku bingung memikirkan alasan apa yang harus aku katakana pada ibu, apakah dia akan memarahiku. Ah, tidak mungkin, ibu tidak pernah seperti itu padaku. Assalamu’alaikum…! bu aku pulang…! ibu…aku pulang bu…! Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini ya…! di rumah terlihat sepi,apa mungkin ibu sudah tidur, apa mungkin ibu tidak peduli lagi padaku, kenapa ini, kenapa banyak sekali pertanyaan di benakku, aku berusaha menenangkan diriku sendiri. tak berapa lama ada suara terdengar menjawb salamku yang sudah berkali-kali aku ucapkan, tapi sepertinya itu bukan suara ibu, iya, itu bukan suara ibu, tapi suara itupun tak asing buatku, oh, ternyata itu suara Tante Mira. Tante kapan datang?, Ibu mana tante, aku kok tidak melihatnya, ia sudah tidur ya, tan?, tapi tante hanya tersenyum tak menjawab dia hanya menyuruhku untuk lekas mengganti pakaianku, maaf tan aku tadi…! Sudah, tidak apa-apa… kamu cepat ganti pakaianmu, setelah itu kamu makan ya, tante tunggu di ruang tamu, tapi tan…?!, ayah mana…?, ko dirumah sepi sekali…?!, sudah ya tante tunggu di ruang tamu…!, kenapa ini. pikiranku kembali dihinggapi dengan berbagai pertanyaan, sikap tante pun semakin mebuatku bertanya-tanya, ada apa si ini sebenarnya.

Aku pun segera menghampiri tante, tante pun tak banyak bicara, ia hanya sering memberiku senyum, mungkin itu cara dia yang sudah membaca pikiranku, untuk memberiku ketenangan. Ra…! Ayah dan ibumu sedang pergi, mereka meminta tante untuk sementara menemanimu di rumah, tak apa ya Ra…! Tapi kenapa ibu tidak bilang apa-apa padaku tante, kalau mereka ingin pergi, memang mereka kemana tan…? Tante hanya diberi pesan untuk menjagamua saja ra…! Tidak ada pesan lain, tapi mereka kemana, tan…? Tanyaku lagi dengan pertanyaan yang sama dan dengan suara yang lebih meminta jawaban, tak juga aku mendapat jawaban yang jelas, akupun kembali ke kamar dengan dipenuhi oleh pertanyaan yang belum terjawab, yang semuanya larut menghantarkanku tidur.

Pagi ini aku kesiangan,aku tidak mendenagr suara yang seperti biasa aku dengar di waktu pagi, ibu hari ini tidak membangunkanku, aduh! Bagaimana ini, aku kesiangan, aku tidak sempat sarapan pagi meskipun Tante Mira sudah menyiapkannya, bekalpun tak ada dalam tasku, hari ini semua terasa kacau, pintu gerbang sekolahku sudah terkunci, akupun mendapat hukuman dari guru piketku di sekolah. Ya, hari ini aku mulai tanpa ibu di rumah kenapa semua terasa kacau tanpa ibu, aku kesiangan, aku tidak sempat sarapan, dan harus mendapatkan hukuman.

Sepulang sekolah tante menjemputku dan kemudian mengajakku pergi, aku bertanya, tante kita mau kemana?, aku jadi bingung…! Oh, iya tante, memang ibu sama ayah kemana si tante…? terus kita mau kemana…? Kenapa akau jadi cerewet seperti ini, aku jadi merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang meminta sesuatu pada orang tua. Sepanjang perjalanan kami hanya saling terdiam,tantepun tidak menjawab satupun pertanyaanku hanya senyuman saja yang aku dapati dari setiap pertanyaan yang aku lontarkan. sampai akhirnya kami tiba di depan sebuah gedung tinggi, gedung itu bertuliskan rumah sakit, kembali aku seperti anak kecil yang meminta, tante kenapa kita kesini…?, memang ada siapa disini, tak ada satupun pertanyaanku yang tanteku jawab, ia hanya membalasku dengan sebuah senyuman, yang pada akhirnya dia berkata, sudah sampai, yuk kita turun Ra…! kita akan menemui seseorang yang tentunya kamu sudah mengenalnya.
Kami menuju ke ruang di lantai 2 di rumah sakit, kamar 207 begitu kata suster penjaga di bawah, bibirku ingin kembali bertanya , tetapi aku tahu pasti tidak akan ada jawaban dari tante, aku memutuskan untuk diam, sembil melangkahkan kakiku yang menurutku agak sedikit berat rasanya. Kami pun tiba di depan kamar 207, tante membuka pintu kamar itu. Sulit aku bayangkan aku melihat seseorang yang sangat ku kenal, benar dia adalah wanita yang pagi hari ini tak ku dengar suaranya, dia ibu, tanpa terasa air mata ini telah membasahi pipiku, sambil berlari aku menghampiri tubuhnya yang terlihat lemas dengan kepala yang di balut perban, tak sedikitpun air mata yang keluar dari kelopak matanya yang indah, tapi hanya sebuah senyum lebar yang menyapaku. Aku tahu ibu menahan rasa sakit di badannya, namun ia tak ingin menampakkannya di hadapanku,

Bu, Ibu kenapa? Kenapa semua ini bu…? Apa yang sudah terjadi pada ibu. Ibu pun berlahan menceritakan kejadian dua hari lalu, saat aku nekat pergi ke Mall bersama Annisa dan Dewi setelah pulang sekolah, ternyata ibu menjemputku di sekolah karena ia merasa khawatir padaku, karena mendapati sekolah yang sudah tidak ada siswanya, ibu merasa panik dan tanpa ibu sadari ibu menyebrang jalan tanpa lihat kanan-kiri lagi, dengan kencangnya pengendara sepeda motor menghantam tubuh ibu dan membuat kepala ibu terbentur keras dengan trotoar jalan sehingga tak sadarkan diri, begitulah kurang lebih cerita ibu padaku. Air mataku terus mengalir tak hentinya menatap wajah ibu yang pucat, namun tak nampak sedikitpun raut amarahnya padaku.

Aku pun meminta maaf pada ibu dan menceritakan alasanku kenapa bisa pulang terlambat, ibupun hanya membalas dengan senyuman lebarnya, tak sedikitpun ia memarahiku. Bu… aku sayang pada ibu maafkan aku bu…, maafkan kenakalanku, kalau aku tidak melakukan itu mungkin semua ini tidak akan terjadi, aku menyesal telah berbuat seperti ini.

Aku tersadar bahwa perkataa dan perbuatannya yang terkadang membuatku merasa risih, itu adalah wujud cintanya padaku, dan akupun sadar sesungguhnya aku memang belum cukup dewasa mengurusi diriku sendiri karena semua itu terlihat pada hari ini kalau aku tanpa ibu, memulai aktifitas dengan tidak baik, aku bangun kesiangan, aku terlambat dan harus dihukum.
Aku merasa sangat menyesal kali ini, terimakasi ya Allah karena Kau telah memberiku wanita seperti ibu untuk menjadi ibuku, dan terimakasih masih memberiku kesempatan untuk membahagiakan ibu. Aku tidak membayangkan jika Engkau mengambil ibuku. Astagfirullah Al-adziim… dengan apa aku harus menebus rasa penyesalanku. Aku menjadi rindu ucapan ibu setiap pagi, dan aku selalu menunggu saat itu.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

gerajepah

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0