Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Start dan Finish ‘Pendidikan Indonesia’
Start dan Finish ‘Pendidikan Indonesia’
0 Komentar | Dibaca 677 kali

Empat penjuru angin di Indonesia sudah terpenuhi oleh idealisme pendidikan. Namun retorika pendidikan hanya bertumpu pada idealisme dan wacana. Sehingga semarak dengan pembahasan, legislasi, seminar serta pelatihan-pelatihan yang hampir terindikasi dengan pengembangan ‘proyek pendidikan’ saja.
Sementara para peserta didik, adalah objek penderita dari pengembangan proyek pendidikan tersebut. Mereka bisa saja diumpamakan sebagai kelinci percobaan abadi. Tentu saja ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, karena pendapat ini hanya berdasarkan ‘potret’ di lapangan saja. Pastinya setiap orang dan atau pelaku dunia pendidikan memiliki ‘fotografi’ dan ‘koreografi’ sendiri-sendiri. Dalam hal ini gambaran dunia pendidikan serta gerak-gemulai para pelaku pendidikan begitu memukau para peserta didik, dan tontonan gratis para orang tua yang menjadi bagian terpenting dari masyarakat pendidikan Indonesia. Sedangkan para pengembang kurikulum selaku sutradara pendidikan Indonesia, semakin semangat menggarap cerita-cerita baru dalam cinema edukasi.

‘Taman Siswa’ yang merupakan garis ‘start’ pendidikan Indonesia sedianya sudah mendarah-daging dalam diri aktor pendidik secara menyeluruh, mulai dari guru, pengamat, pengatur lalu-lalang pendidikan (pemerintah), para orang tua, bahkan segenap orangtua yang sudah matang dalam pendidikannya. Para pendiri Taman Siswa sudah berupaya merumuskan idealismenya yang bersumber dari karakter murni ‘kebangsaan dan moralitas agama’ melalui ‘Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani’. Tetapi apa yang terjadi di masa kini, tut wuri handayani pun semakin ‘pudar’ terpampang di topi anak SD, bahkan bisa jadi lupa dibaca dan dipahami oleh gurunya sendiri karena terlalu sibuk dengan pertanggungjawaban sistematis yang dibangun oleh penyandang dana utama pendidikan.

Tulisan ini mungkin agak sulit dipahami karena kurang berani menyampaikan fakta dalam dunia pendidikan, tetapi menaruh harapan besar agar para pembaca yang budiman bersedia mengambil cermin bagi dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Mari kita bercermin bersama pada prilaku kita sehari-hari, sebagai guru, sebagai orang tua, dan sebagai manusia yang memiliki tanggungjawab moral. Sudah kita mentransformasikan ‘Triloka Taman Siswa’ pada keluarga kita, anak-anak kita, kelas kita tercinta, bahkan pada bawahan kita di satmikal manpun, atau kenapa tidak kita tawarkan pada atasan kita di tempat tugas masing-masing.

Ki Hadjar Dewantara telah memicu di garis ‘start’ sejak  tanggal 3 Juli tahun 192