Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Start dan Finish ‘Pendidikan Indonesia’
Start dan Finish ‘Pendidikan Indonesia’
0 Komentar | Dibaca 650 kali

Empat penjuru angin di Indonesia sudah terpenuhi oleh idealisme pendidikan. Namun retorika pendidikan hanya bertumpu pada idealisme dan wacana. Sehingga semarak dengan pembahasan, legislasi, seminar serta pelatihan-pelatihan yang hampir terindikasi dengan pengembangan ‘proyek pendidikan’ saja.
Sementara para peserta didik, adalah objek penderita dari pengembangan proyek pendidikan tersebut. Mereka bisa saja diumpamakan sebagai kelinci percobaan abadi. Tentu saja ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, karena pendapat ini hanya berdasarkan ‘potret’ di lapangan saja. Pastinya setiap orang dan atau pelaku dunia pendidikan memiliki ‘fotografi’ dan ‘koreografi’ sendiri-sendiri. Dalam hal ini gambaran dunia pendidikan serta gerak-gemulai para pelaku pendidikan begitu memukau para peserta didik, dan tontonan gratis para orang tua yang menjadi bagian terpenting dari masyarakat pendidikan Indonesia. Sedangkan para pengembang kurikulum selaku sutradara pendidikan Indonesia, semakin semangat menggarap cerita-cerita baru dalam cinema edukasi.

‘Taman Siswa’ yang merupakan garis ‘start’ pendidikan Indonesia sedianya sudah mendarah-daging dalam diri aktor pendidik secara menyeluruh, mulai dari guru, pengamat, pengatur lalu-lalang pendidikan (pemerintah), para orang tua, bahkan segenap orangtua yang sudah matang dalam pendidikannya. Para pendiri Taman Siswa sudah berupaya merumuskan idealismenya yang bersumber dari karakter murni ‘kebangsaan dan moralitas agama’ melalui ‘Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani’. Tetapi apa yang terjadi di masa kini, tut wuri handayani pun semakin ‘pudar’ terpampang di topi anak SD, bahkan bisa jadi lupa dibaca dan dipahami oleh gurunya sendiri karena terlalu sibuk dengan pertanggungjawaban sistematis yang dibangun oleh penyandang dana utama pendidikan.

Tulisan ini mungkin agak sulit dipahami karena kurang berani menyampaikan fakta dalam dunia pendidikan, tetapi menaruh harapan besar agar para pembaca yang budiman bersedia mengambil cermin bagi dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Mari kita bercermin bersama pada prilaku kita sehari-hari, sebagai guru, sebagai orang tua, dan sebagai manusia yang memiliki tanggungjawab moral. Sudah kita mentransformasikan ‘Triloka Taman Siswa’ pada keluarga kita, anak-anak kita, kelas kita tercinta, bahkan pada bawahan kita di satmikal manpun, atau kenapa tidak kita tawarkan pada atasan kita di tempat tugas masing-masing.

Ki Hadjar Dewantara telah memicu di garis ‘start’ sejak  tanggal 3 Juli tahun 1922. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara), sebenarnya sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak tahun 1908 bersama Sutomo, Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan dr. Douwes Dekker. tepatnya diawali dengan gerakan Kebangkitan Nasional,  yaitu masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda maupun Portugis. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908).

Kemudian dari pada itu, untuk menopang Kebangkitan Nasional agar mencapai ‘lap’  pertama maka dibentuklah ‘Taman Siswa’ sebagai pondasi perjuangan Kebangkitan kebangsaan. Skenario para tokoh kebangsaan tersebut ternyata berjalan sesuai dengan harapan. Karena Taman Siswa adalah Monumen Pendidikan, sedangkan Triloka Taman Siswa dilaksanakan dan ditransformasikan secara alami (mungkin karena masih banyak jiwa manusia Indonesia saat itu belum terkontaminasi oleh ‘jiwa kolonialisme dan feodalisme, bahkan hedonisme) hingga tercapailah ‘lap’ pertama pendidikan itu dalam waktu 5 (lima) tahun melalui ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). 1908, 1922, dan 1928 adalah merupakan lingkaran evolusi pendidikan Indonesia. Perjuangan Pendidikan, atau ‘Taman Siswa Effect’ ternyata mampu melahirkan pemuda-pemuda cinta tanah air dalam skala yang lebih luas, bukan hanya sadar harus mempertahankan dan membebaskan setiap jengkal tanah yang ditinggali, tapi terdidik, sadar dan merasa Indonesia.

Atas berkat Allah yang maha kuasa, serta didorongkan oleh keinginan yang luhur. Maka pada tahun 1945, pendidikan Indonesia kembali berbicara tentang ‘Proklamasi’ yang berkaitan dengan hal-hal pemindahan kekuasaan dan lain-lain. Pada tahun itu pun, disusun Undang-Undang Dasar ‘Pengatur Indonesia Merdeka’ yang pada salah-satu alenia ‘Pembukaan’nya disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia harus disusun dalam Undang-Undang Negara Indonesia agar mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Apabila dilihat dari urut kalimatnya, untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum, tentunya baru bisa terjadi apabila kita dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, setelah itu barulah bangsa kita akan mampu berbicara di tingkat peradaban dunia. 1908,1922, 1928, 1955 (pemilihan umum pertama) dan tahun 2014 (pemilihan umum kini). Semoga kita mampu bercermin dari tahun ke tahun tentang Indonesia, partai mana saja yang telah ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ dan para calon anggota legislatif manakah yang malah ‘membodohkan kehidupan anak-anak bangsa’. Atau mungkin saya sendiri telah melakukan pembodohan pada anak didik saya yang tergerus oleh sistem undang-undang pendidikan masa kini. Wallahua’lam.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

yuikisoek

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0