Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // UNAS

Beranda / UNAS / Unas “hanya” sebuah instrumen evaluasi
Unas “hanya” sebuah instrumen evaluasi
7 Komentar | Dibaca 2665 kali

Musim Ujian Nasional (UNAS) telah tiba, luar biasa persiapan yang dilakukan oleh siswa dan orang tua/wali siswa untuk menyambut kehadiran Ujian Nasional, mulai dari aktivitas yang sifatnya akademis sampai aktivitas yang bersifat “non-akademis”,  semua dilakukan demi kelulusan seorang anak dengan nilai yang memuaskan. Beberapa rekan saya sudah memberikan les diluar jam belajar untuk mendukung keberhasilan putra-putrinya. Disisi lain saya menyimak di beberapa media doa bersama dilakukan, bahkan sampai mendatangi orang pintar, yang katanya bisa memberikan perangkat tulis yang mengakibatkan bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Luar biasa memang apa yang dilakukan, seolah hajatan nasional yang namanya unas ini menjadi perang luar biasa.

Ketika hasil UNAS telah diumumkan , sekolah dan guru menganggap seorang anak yang tidak lulus atau mendapatkan nilai jelek seolah-olah menjadi aib bagi sekolah mereka. Apalagi di era otonomi ini, dimana setiap  kepala daerah – pada masa kampanyenya- selalu menjanjikan kualitas tingkat pendidikan semakin baik, tapi apa iya tingkat kualitas pendidikan baik itu hanya atas dasar parameter tingkat kelulusan unas atau nilai Unas ? Menurut saya bukan itu hakekat unas, tapi melalui parameter tersebut dapat dinilai bahwa ada sebuah proses yang salah dalam dunia pendidikan di daerah, entah itu terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana, kemampuan mengajar guru, kondisi lingkungan dan lain sebagainya. Tingkat kelulusan dan nilai unas lah paramater yang digunakan untuk mengevaluasi itu semua dan memperbaiki setahap demi setahap. Ibaratnya begini, kalau hasil penjualan mengalami penurunan apakah langsung di justifikasi bahwa “hanya” tim penjualan yang (maaf) goblok ? Tentu tidak toh, harus di kaji juga, apakah produknya baik, stategi yang diterapkan sesuai, mekanisme promosi dan komunikasi dengan costumer dan lain-lain.

Orang tua dan masyarakat pun setali tiga uang, ketika seorang tidak lulus, dia pasti akan dipergunjingkan, jika pun lulus, nilai seorang anak yang satu dengan yang lain pasti di adu. Sekarang saya balik pertanyaan itu bagi anda yang mencari nafkah entah seorang ayah atau seorang ibu. Ketika anda sudah berusaha mati-matian mencar