Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Bagaimana kita seharusnya Memandang Pendidikan?
Bagaimana kita seharusnya Memandang Pendidikan?
1 Komentar | Dibaca 1004 kali

”Hanya orang tak berpengetahuan yang memandang hina pendidikan.”—Publilius Syrus, Moral Sayings, abad pertama SM.
Pencipta kita, Allah pengetahuan, ingin agar para penyembah-Nya menjadi orang-orang yang terdidik. Namun, beberapa orang mungkin bertanya. Misalnya, banyak orang di dunia ini tanpa pendidikan tinggi bisa sukses secara materi, jadi, apakah kita tidak usah berpendidikan tinggi? Kalaulah kita melihat, ada orang-orang yang berpendidikan tinggi bisa juga sukses, Seberapa jauhkah hendaknya kita menempuh pendidikan? Apakah pendidikan minimal yang diwajibkan oleh hukum sudah cukup, atau apakah pendidikan tambahan perlu ditempuh?
Dalam benak kita bisa jadi, Pendidikan adalah suatu proses mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna; mencakup pelajaran praktis untuk memenuhi kebutuhan materi keluarga suatu saat nanti. Ada juga yang berpikir mengenyam pendidikan yang lebih tinggi seperti untuk meraih gelar atau cita-cita sebagai Dokter/Spesialis. Selain itu, di dalam masyarakat pada umumnya, dianggap suatu kebanggaan bagi orang-orang muda untuk mempelajari suatu keterampilan, bahkan sekalipun mereka akan menempuh pendidikan yang lebih tinggi nantinya.
lalu, bagaiman harusnya pandangan kita tehadap pendidikan? Cermatlah pertimbangkan masalahnya. Beberapa orang mendapati bahwa menempuh pendidikan tambahan, entah dalam bentuk pelajaran akademis maupun kejuruan, telah membantu mereka memenuhi kebutuhan materi keluarga mereka. Memelihara keluarga adalah sesuatu yang patut, karena ’menyediakan kebutuhan bagi anggota rumah tangga’ merupakan tugas mulia. Memperoleh keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan hal ini adalah soal hikmat yang praktis.
Akan tetapi, orang-orang yang merasa perlu memperoleh lebih daripada pendidikan dasar untuk memenuhi tujuan ini hendaklah mempertimbangkan untung-ruginya. Keuntungan yang mungkin didapat antara lain bekal untuk memperoleh pekerjaan yang memungkinkan seseorang menafkahi diri dan keluarganya dengan memadai. Selain itu, boleh jadi suatu saat nanti ia dapat membantu orang-orang lain secara materi.
Apa saja kemungkinan kerugiannya? Ini boleh jadi antara lain membuka diri terhadap pengajaran yang mengikis iman anak-anak kita seperti pergaulan bebas, penggunaan narkoba, kecanduan game online dan lainnya. Oleh sebab itu sangatlah bijak mengingatkan anak-anak kita (juga orang tua) untuk sangat waspada terhadap ”apa yang secara salah disebut ’pengetahuan’ ” serta ”filsafat dan tipu daya yang kosong sesuai dengan tradisi manusia”. Tidak dapat disangkal lagi, membuka diri terhadap bentuk pendidikan tertentu dapat merusak iman kita. Orang-orang yang mempertimbangkan pelatihan atau st