Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Padamu Negeri

Beranda / Padamu Negeri / Dua Puluh Tahun Jadi Guru Honor
Dua Puluh Tahun Jadi Guru Honor
11 Komentar | Dibaca 4490 kali

Kiranya benar filosofi Guru Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, akan benar adanya. Kebenaran ini berpijak pada beberapa pengalaman yang sering dijumpai mana kala guru mengajar tanpa menerima imbalan apa-apa. Mengajar memang sudah jadi tanggung jawab seseorang yang telah memilih menjadi guru. Letak makna filosofi tersebut kerap sekali melekat pada mereka yang mengajar dengan ikhlas, bukan hanya sekadar mengharap imbalan setelah mentrasfer ilmu.

Guru adalah sosok pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bagi siswa-siswi. Pahlawan bisa berupa siapa saja. Kemerdekaan pula bisa ditafsirkan ke dalam berbagai arti. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari buta huruf. Merdeka dari penipuan karena tidak tahu. Dan merdeka yang lain, siapa saja bisa mendefisinikan ‘kemerdekaan’ tersebut.

Sosok pahlawan tanpa tanda jasa ini selalu akan dijumpai di sekolah-sekolah. Mengajar generasi muda menjadi pintar dan dipandang hebat di mata dunia. Mereka dijadikan pahlawan dari dulu hingga kini, pahlawan untuk membangun bangsa dan negara menjadi kuat dan maju. Dari guru pula akan tercipta suatu bangsa yang bermartabat. Tidak bisa dipungkiri, di mana-mana akan didapati seorang guru berdiri di depan kelas. Tidak hanya di perkotaan namun di pelosok yang belum ada listrik dan sinyal ponsel pun terdapat seorang guru.

Di antara sekian banyak sosok pahlawan ini di seluruh dunia, di seluruh Indonesia. Terdapat Munih. Perempuan keturunan Aceh ini adalah seorang guru yang sudah mengajar lebih dari dua puluh tahun. Jangan salah, dua puluh tahun mengajar itu Munih bukan seorang pegawai. Hanya guru honor atau bakti.

Perjalanan panjang Munih dan penantian yang membuahkan kesabaran itu tak kunjung usai. Munih merupakan seorang perempuan yang tamat PGA (Pendidikan Guru Agama) setara dengan SMA sekarang ini. Namun pada waktu itu PGA sangat dibanggakan dan dijadikan jaminan sebagai lulusan terbaik. Munih tak perlu melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi, berbekal ijazah tersebut mudah saja diterima di sekolah untuk berbakti dan mengajar mata pelajaran agama.

Teman-teman Munih satu persatu diangkat jadi pegawai. Sebagian ada yang lulus ujian masuk pegawai sebagian lagi ada yang lulus pemutihan. Munih belum juga mendapatkan Surat Keterangan bahwa ia akan setara kedudukan dengan teman-temannya. Munih mas