Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Padamu Negeri

Beranda / Padamu Negeri / Dua Puluh Tahun Jadi Guru Honor
Dua Puluh Tahun Jadi Guru Honor
11 Komentar | Dibaca 3772 kali

Kiranya benar filosofi Guru Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, akan benar adanya. Kebenaran ini berpijak pada beberapa pengalaman yang sering dijumpai mana kala guru mengajar tanpa menerima imbalan apa-apa. Mengajar memang sudah jadi tanggung jawab seseorang yang telah memilih menjadi guru. Letak makna filosofi tersebut kerap sekali melekat pada mereka yang mengajar dengan ikhlas, bukan hanya sekadar mengharap imbalan setelah mentrasfer ilmu.

Guru adalah sosok pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bagi siswa-siswi. Pahlawan bisa berupa siapa saja. Kemerdekaan pula bisa ditafsirkan ke dalam berbagai arti. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari buta huruf. Merdeka dari penipuan karena tidak tahu. Dan merdeka yang lain, siapa saja bisa mendefisinikan ‘kemerdekaan’ tersebut.

Sosok pahlawan tanpa tanda jasa ini selalu akan dijumpai di sekolah-sekolah. Mengajar generasi muda menjadi pintar dan dipandang hebat di mata dunia. Mereka dijadikan pahlawan dari dulu hingga kini, pahlawan untuk membangun bangsa dan negara menjadi kuat dan maju. Dari guru pula akan tercipta suatu bangsa yang bermartabat. Tidak bisa dipungkiri, di mana-mana akan didapati seorang guru berdiri di depan kelas. Tidak hanya di perkotaan namun di pelosok yang belum ada listrik dan sinyal ponsel pun terdapat seorang guru.

Di antara sekian banyak sosok pahlawan ini di seluruh dunia, di seluruh Indonesia. Terdapat Munih. Perempuan keturunan Aceh ini adalah seorang guru yang sudah mengajar lebih dari dua puluh tahun. Jangan salah, dua puluh tahun mengajar itu Munih bukan seorang pegawai. Hanya guru honor atau bakti.

Perjalanan panjang Munih dan penantian yang membuahkan kesabaran itu tak kunjung usai. Munih merupakan seorang perempuan yang tamat PGA (Pendidikan Guru Agama) setara dengan SMA sekarang ini. Namun pada waktu itu PGA sangat dibanggakan dan dijadikan jaminan sebagai lulusan terbaik. Munih tak perlu melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi, berbekal ijazah tersebut mudah saja diterima di sekolah untuk berbakti dan mengajar mata pelajaran agama.

Teman-teman Munih satu persatu diangkat jadi pegawai. Sebagian ada yang lulus ujian masuk pegawai sebagian lagi ada yang lulus pemutihan. Munih belum juga mendapatkan Surat Keterangan bahwa ia akan setara kedudukan dengan teman-temannya. Munih masih terpaku di sekolah yang sama. Dengan siswa-siswa berbeda. Dengan rekan kerja bergantian. Kepala sekolah silih berganti. Rekan-rekan kerja Munih kebanyakan sudah sarjana, atau paling tidak diploma tiga. Munih belum melepaskan ijazah PGA.

Persaingan semakin ketat. Munih terus berpacu melawan arus yang tak pernah ia kenal lagi. Tahun menjadi sangat modern. Jika awal-awal mengabdi Munih tidak dibayar serupiah juga, sekarang sudah ada sedikit walau hanya dua tiga ratus ribu rupiah di akhir semester. Munih tetap menerima dengan lapang dada. Kakinya sudah rapuh melangkah ke sekolah, umurnya hampir mencapai lima puluh. Berpikir ia tidak lama lagi jika seorang pegawai akan pensiun. Nah Munih belum juga apa-apa.

Umur pula yang menghalangi Munih ikut uji masuk jadi pegawai. Harapannya mungkin sudah pupus. Namun semangat mengajar; menjadi guru tanpa tanda jasa; tetap dijalankan. Seminggu dua hari ke sekolah, mencukupi absen guru honor, selain mengajar. Munih sudah tidak peduli absensi, kadang lupa ia memparafnya. Setelah mengajar, bercengkrama sebentar, menunggu waktu pulang menjelang dhuhur, kembali mendayuh sepeda mencapai rumah.

Perjuangan Munih dengan senjata pena akhirnya berbuah manis. Dua ribu dua belas menjadi hadiah setelah dua puluh tahun mengabdi jadi guru honor. Nama Munih keluar sebagai calon pegawai negeri. Rasa bangga tentu ada. Sudah lama ia menunggu, berpikir tidak ada harapan ternyata dari sembilan puluh sembilan persen rasa pesimis masih ada sisa satu persen lagi optimis menjadi nyata.

Semangat Munih, kita jadikan pelajaran keikhlasan dalam menjalankan berbagai tindakan. Perjuangannya juga tidak jauh dengan perjuangan pada pendahulu dalam memerdekakan Indonesia. Sudah dua puluh generasi yang dididik Munih menjadi manusia berbudi pekerti luhur dan mengerti agama. Tidak sedikit pula anak didiknya mendahului menjadi pegawai. Munih tidak pernah berhenti berjuang, di sisa umurnya menjelang pensiun ia masih bisa menyimpan SK kelulusan sebagai pegawai.

Selamat Munih, guruku, dan guru anak negeri!

***

Inspirasi dari Munih, seorang guru honor di salah satu sekolah dasar di pelosok Aceh Barat.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Terdapat 11 Komentar pada "Dua Puluh Tahun Jadi Guru Honor"

  1. SAHRI RIZA UMAMI

     |
    May 7, 2014 at 4:19 pm

    Terima kasih untuk Bu Munih atas pengabdiannya 🙂

    Namun kini masyarakat tidak memandang guru sebagai pahlawan, mereka pekerja. Yang disebut guru umum diasosiasikan sebagai PNS, yang sekarang secara materi telah dihargai relatif layak oleh pemerintah.

    Di satu sisi adalah PNS dengan penghasilan jutaan perbulan (bisa termasuk tunjangan), di sisi berlawanan ada Bu Munih …

  2. HUSNIJAL, S.HI

     |
    May 18, 2014 at 8:54 pm

    TIDAK ADA GURU TANPA MURID. BERSUKUR KITA JIKA MASIH ADA YANG MAU JADI MURID. KALAU ADA MURID ITU BERARTI KITA MASIH JADI GURU. KALAU MURID ADA, SEKOLAH JUGA DIJAMIN TETAP HIDUP. KARENA ADA SEKOLAH-SEKOLAH SWASTA YANG MURIDNYA SANGAT MINIM.

  3. BOEDI SANTOSA, S.Pd.I

     |
    May 28, 2014 at 6:15 pm

    MENJADI GURU BUKAN SEBUAH PILIHAN KARENA MENJADI GURU MERUPAKAN PANGGILAN HATI, DAN ALLOH MAHA TAHU APA YANG TERSEMBUNYI….DARI NIAT KITA MENJADI GURU DAN PENDIDIK. ALHAMDULILLAH 12 TAHUN MENJADI GURU NON PNS DAN NON K1/2 … HIDUP BERKECUKUPAN DAN ALLOH MAHA SEGALANYA… MEMBALAS KEIKHLASAN SETIAP APA YANG DILAKUKAN …HAMBANYA ( tiada maksud menggurui/sombong, inilah realita hidup yang aku syukuri)
    SEMOGA TUJUAN MENDAPATKAN SYAFAAT DARI AMAL JARIYAH MENJADI GURU AKAN KITA DAPATKAN …AMIEN2X

  4. Sri Surantini

     |
    June 23, 2014 at 10:06 am

    kpd bu munih…slamt di usia yg tlh mendkati pensiun,ahirnya kebahagiaan yg terbesar kterima PNS,alhamdulillah. bagi tmn tmn perjuangan dan satu status sama guru honor…mudah2an stelah…pilpres dan siapapun yg memimpin…nantinya. .memprhatikan nasib para guru honor baik di sekolah swasta dan negeri…untuk diberi kesempatan selksi CPNS atau langsung diangkat sbagai PNS…amin atau inpassing yg sudah turun sK uga tuun dananya…

  5. ASTRI AHADIYATI

     |
    July 11, 2014 at 7:46 pm

    saya merasa haru dengan cerita munih………saya juga honorer atau GTT di sebuah SMP negeri. meski saya seorang sarjana, mengajar full, bekerja rajin, mengerti iptek namun tes CPNS hanyalah sebuah keberuntungan…..kadang hati menanggis karena diskriminasi, tak ada kesejahteraan yg memadai, tunjangan tak diusulkan, bahkan diangkat jd PNS sepertinya hanya mimpi yg entah bisa terrealisasi atau tidak….. apa bedanya kami GTT yg dinegeri? kadang ada rasa iri dengan guru2 swasta yg bisa mendapatkan tunjangan sertifikasi dan inpasing….. kami yg GTT di negeri tidak bisa mendapatkan tunjngn sertifikasi….kenapa?entahlah……mungkinkah ada keadilan? selamat kepada bu munih……. saya sebagai GTT di negeri diangkat jd PNS pun belum tentu, dapat tunjangn sertifikasi pun tidak…….Ya Allah berilah pemimpin bangsa yg adil….. semua guru bisa dapat tunjngn sertifikasi baik PNS nonPNS…karena kami adalah team yg berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa….. kalaupun GTT di sekolah Negeri tidak bisa jadi PNS tapi paling tidak kami bisa juga mendapatkan tunjngan sertifikasi dan inpasing agar kami juga sejahtera….

  6. RIBASUKI,S.Pd.SD.

     |
    August 20, 2014 at 11:20 pm

    Maju trus honorer abdikan diri pada bumi pertiwi cerdaskan anak negri,semoga kita segera dianugerahi sebagai pegawai negeri amin

  7. NENG YATI SUMIATI

     |
    August 22, 2014 at 2:25 pm

    Sungguh sangat mengharukan..memang menjadi seorang CPNS itu sudah merupakan mimpi setiap guru honorer..termasuk saya…tetapi kita semua hanyalah seorang manusia yang hanya diwajibkan untuk berusaha semaksimal mungkin dan tentunya berdoa semoga Alloh SWT bisa mentakdirkan menjadi seorang PNS…seperti perjuangan Munih ini adalah semua karna takdir Alloh SWT…. “…..Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap…(Q.S Alam Nasyrah : 9)

  8. Ubaidillah, S.Pd.I

     |
    October 2, 2014 at 3:53 pm

    Terima kasih teman-teman sudah membaca tulisan ini, semoga bermanfaat 🙂

  9. ZAINATIR RAIYAH

     |
    October 3, 2014 at 7:28 am

    Mengharukan….smoga niat dan keiklasan kita dalam mendidik diberi ganjaran oleh yang kuasa dengan yg setimpal, amin….

  10. SUKIRNO

     |
    November 12, 2014 at 8:50 am

    Ya Allah 20 th itu masa yg tidak tidak sebentar… kemanalah pemerintah??? atau apa krna ulah pihak2 yg tak bertanggung jawab…. semua akan ada balasanny bagi yg menzolimi hak hak bu Munih… duhai bu sungguh tiada tara kesabaranmu….

  11. BISRI MUSTOFA

     |
    December 5, 2014 at 6:44 am

    sebagai Guru harus berniat mentrasfer ilmu kepada siswa dg ikhlas tanpa pamrih…., manakala blm ikhlas yg terjadi hanyalah rasa sakit & berat ketika mengajar,….
    memilih sebagai guru berarti siap berjuang karena pahala yg didapat sama seperti org berjihad fisabilillah…syurga jaminananya….

    semangaattt….!!!

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

SRI SULIS SETIAWATI

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  2
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0