Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Guru yang Pandai atau Guru yang bisa Mengajar?
Guru yang Pandai atau Guru yang bisa Mengajar?
1 Komentar | Dibaca 1300 kali
May Zulaikha @lebuayq
21 April 2014

Guru yang Pandai atau Guru yang bisa Mengajar? Smile.  Guru yang baik adalah harus  memiliki keduanya. Guru tersebut harus pandai dan bisa membagi kepandaiannya itu kepada siswanya. Pandai dalam arti yang relatif. Yaitu setidaknya, sang guru harus menguasai bahan yang di ajarkannya. Lebih baik lagi kalau guru tersebut mengetahui segala yang berhubungan dengan bahan yang diajarkannya di tambah dengan pengetahuan-pengetahuan umum lainnya.

Mengajar membutuhkan Keahlian

Banyak orang yang pandai, memiliki pengetahuan luas, penuh ide tetapi tidak bisa mengajar, membagi ilmunya atau berbagi ide dengan orang lain.  Guru adalah profesi yang sangat kompleks. Karena guru tidak hanya mempunyai kewajiban untuk mengajar, tetapi juga harus bisa memotivasi dan menginspirasi murid-muridnya dan orang-orang di sekitarnya. Seperti gambaran situasi di bawah ini.

~Sejak kecil, ketika saya bercita-cita ingin menjadi guru, orang tua saya melarang. Meski beliau tahu saya selalu mendapatkan nilai terbaik di kelas, pandai di segala bidang, tetapi saya mempunyai satu kekurangan, yaitu tidak bisa membagi pengetahuan pada orang lain dengan baik dan benar.  Saya mungkin bisa mengerjakan segala tugas yang di berikan pada saya dengan baik dan sempurna. Tetapi ketika saya harus mengajari orang lain agar bisa mengerjakan tugas tersebut seperti langkah-langkah yang saya lakukan saya mengalami kesulitan.  Sejak itu, walaupun saya sangat ingin menjadi guru, saya hanya memendamnya dalam hati saja. Karena saya tahu bahwa saya tidak akan bisa mengajari orang lain dengan baik.~

Tidak banyak orang pandai yang menyadari bahwa mereka tidak memiliki bakat mengajar. Dan walaupun seberapa kuat mereka berusaha memupuk agar bakat itu muncul dalam dirinya, tetap saja dia tidak bisa. Karena meski panggilan nuraninya adalah menjadi guru, tetapi dia merasa tidak berhak mempora-porandakan sistem pendidikan demi hasrat dirinya.

Ada lagi masalah yang lebih besar. Yaitu seseorang yang tidak pandai dan pengetahuannya sedikit tapi memilih untuk menjadi guru dan mengajar. Kasus