Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Ketika SMS Tak Dijawab Oleh Orang Penting
Ketika SMS Tak Dijawab Oleh Orang Penting
0 Komentar | Dibaca 1037 kali

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminar nasional “Mewujudkan Guru Profesional, Sejahtera, dan Terlindungi untuk Pendidikan Bermutu,” tepatnya pada tanggal 15 Maret 2014 di Gedung KORPRI Slawi – Tegal. Pembicara saat itu Dr. H. Sulistyo, M. Pd (Ketua Umum PB PGRI, anggota DPD RI)

Beliau bercerita tentang perjalanan hidupnya sejak menjadi guru SD hingga menjadi dosen dan pejabat. Saya sempat terharu dan terkagum-kagum, apalagi saat ia menceritakan perjalanan cintanya dengan sang kekasih yang terputus hanya gara-gara ia seorang guru SD.

Berlanjut kepada cerita perjuangannya yang begitu hebat untuk guru, aku pun semakin kagum padanya, apalagi pemaparan beliau yang sangat piawai tentang persoalan pendidikan, di antaranya tentang delapan standar pelayanan minimal rendah (khususnya pendidik dan tenaga kependidikan), regulasi sistem pendidikan (UU Sisdiknas, Desentralisasi), komitmen dan konsistensi (problem implementasi, anggaran rendah, lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilihat hanya sebelah mata), dan lain-lain yang dikupasnya dengan jelas.

Menurutnya, sekarang guru harus kreatif, tidak monoton pada satu kurikulum. Bahkan, masih kata beliau, perubahan kurikulum di kelas harus ada. Dengan begitu, peserta didik tidak akan jenuh dengan pembelajaran yang diberikan guru.

Yang menggembirakan, sertifikasi guru juga berkat perjuangan beliau melalui PGRI. Mudah-mudahan para guru yang sudah sertifikasi bisa merasakan kesejahteraannya, terutama para guru penerima tunjangan sertifikasi 2013 yang sedang ditunggu-tunggu saat ini, yang menurut berita akan cair di akhir bulan Maret 2014 sekarang ini. ^_^

Ujung dari seminar nasional tersebut,  Pak Sulistyo mengajak peserta seminar untuk memilihnya di pemilu 9 April 2014 nanti, sebagai caleg DPD RI kembali. “Apakah kalian tega membiarkan saya kalah?” begitu pertanyaannya yang diulang-ulang kepada peserta seminar yang disambut dengan gelak tawa. Sebagai guru yang sudah melihat sepak terjangnya dan perjuangannya selama ini untuk guru, rasanya memang tidak tega membiarkannya kalah di pemilihan legislatif nanti.

Sebelum ku mengenal sosok beliau, saya sudah punya pilihan untuk caleg DPD RI nanti. Tapi sejak ku mengikuti seminar itu, rasanya tidak tega juga jika ku tak memilih Pak S