Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / MENYOAL PROFESIONALISME GURU: TANTANGAN, HAMBATAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA
MENYOAL PROFESIONALISME GURU: TANTANGAN, HAMBATAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA
1 Komentar | Dibaca 5028 kali

MENYOAL PROFESIONALISME GURU:
TANTANGAN, HAMBATAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA
OLEH.
ALI HARSOJO, M.Pd.
Guru SDN Pajagalan 2 Kecamatan Kota Sumenep

ali h

Abstrak :
Gambaran guru profesional dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 dinyatakan bahwa kedudukan guru merupakan jabatan profesional yang dibuktikan dengan sertifikasi sebagai wujud pengakuan akan kualifikasi dan kompetensi. Oleh karena itu guru yang profesional harus mampu meningkatkan kualitas pendidikan melalui proses tugas dan fungsinya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,pengarah, pelatih, penilai, dan evaluator peserta didik yang efektif.

KATA KUNCI : Undang-undang, profesional, sertifikasi.

Pendidikan merupakan sarana untuk memajukan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya peranan pendidikan sangat penting dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Seringkali permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari diupayakan pemecahannya melalui jalur pendidikan yang ada. Namun kualitas pendidikan juga menuntut tanggung jawab dan peran serta dari semua pihak. Agar dapat dicapai kualitas seperti yang diharapkan, maka pendidikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan ditentukan banyak komponen. Komponen pendidikan tersebut antara lain : guru, peserta didik, kurikulum atau program pendidikan, tujuan, fasilitas, dan manajemen pendidikan. Masing-masing faktor itu saling berhubungan erat. Setiap faktor harus dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya.
Salah satu bagian dari komponen pendidikan dewasa ini yang penting adalah guru yang profesional. Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 (pasal 1 ayat 1) dinyatakan bahwa : guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah. Guru profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai oleh keahlian baik dalam materi maupun metode, rasa tanggung jawab, pribadi, sosial, intelektual moral dan spiritual, dan rasa kesejawatan yaitu rasa kebersamaan di antara sesama guru. Sementara itu, perwujudan unjuk kerja profesional guru ditunjang dengan jiwa profesionalisme. Jiwa profesionalisme yaitu sikap mental yang senantiasa mendorong untuk mewujudkan diri sebagai guru yang profesional. Selain itu kualitas profesionalisme dapat ditunjukkan melalui pola pikir dan perilaku kerja sebagai berikut : (1) Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. (2) Meningkatkan dan memelihara citra profesi. (3) Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya. (4) Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi. (5) Memiliki kebanggaan terhadap profesinya.
Pola pikir dan perilaku kerja tersebut semestinya menginternal dalam diri seorang guru, namun realita dan fakta berbicara lain. Kompas tanggal 20 September 2010 dalam salah satu pemberitaannya mengatakan guru-guru di jenjang sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang berperan besar untuk mendukung pendidikan dasar berkualitas justru tertinggal secara akademik, bahkan dari sekitar 1,48 juta guru SD yang ada saat ini, sekitar 25 % berpendidikan SMA. Kondisi guru yang masih jauh dari kualifikasi profesional tersebut berdampak pada proses pembelajaran yang seharusnya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, dan menyenangkan masih jauh dari harapan. Begitu pun suasana pendidikan yang menantang dan memotivasi siswa kreatif belum dapat diterapkan.
Profesionalisme guru kini menjadi sesuatu yang mengemuka ke ruang publik seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Oleh banyak kalangan mutu pendidikan Indonesia terutama SD dianggap masih rendah karena beberapa indikator antara lain : Pertama, lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya kompetensi yang dimiliki. Bekal kecakapan yang diperoleh di lembaga belum memadai untuk digunakan secara mandiri, karena yang terjadi di lembaga pendidikan hanya transfer of knowledge semata yang mengakibatkan anak didik tidak inovatif, kreatif bahkan tidak pandai menyiasati persoalan seputar lingkungannya. Kedua, masih cukup banyak masalah dan kendala yang berkaitan dengan pola pikir dan perilaku guru yang rendah yaitu (1) Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. (2) Meningkatkan dan memelihara citra profesi. (3) Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya. (4) Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi. (5) Memiliki kebanggaan terhadap profesinya.
Kesuksesan pendidikan dasar bukan sekadar menghadirkan anak-anak usia wajib belajat secara fisik di sekolah. Tantangan terberat justru memastikan anak-anak usia wajib belajar ini mendapatkan layanan pendidikan bermutu yang membuat mereka mampu mencapai tujuan belajar, menyelesaikan sekolah, dan memiliki kemampuan menghadapi masa depan. Untuk mencapai pendidikan dasar yang berkualitas, guru mempunyai peran penting dan strategis. Kita membutuhkan guru yang terlatih baik dan memiliki motivasi tinggi. Namun hal yang paling menyulitkan para guru adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan untuk berbuat normatif ideal dengan suasana kehidupan masa kini yang ditandai dengan pola-pola kehidupan yang materialistis, individualistis, kompetetitif, konsumtif, dan sebagainya. Tentu ini sangat berimbas pada peran dan tugas guru sebagai pendidik yang profesional.
Beberapa tantangan dan hambatan menjadi guru yang profesional antara lain :
1. Tugas-tugas administrasi guru yang dianggap memberatkan. Sebagian guru beranggapan bahwa merasa cukup lama dan berpengalaman menjadi guru, semuanya sudah dimengerti dan hapal di “luar kepala”. Akibatnya, sebagian besar tugas administrasi dibuat dengan setengah terpaksa hanya untuk menyenangkan hati atasan.
2. Minimnya niat guru untuk menjadi guru yang profesional (pasrah dengan kemampuan dan keadaan). Ada anggapan bahwa guru berprestasi maupun tidak berprestasi pun gajinya sama, inilah yang membuat sebagian guru kurang termotivasi untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pendidikannya.
3. Kurangnya memanfaatkan waktu di sekolah untuk bertukar pengalaman dengan guru sejawat tentang pengalaman-pengalaman proses belajar mengajar (PBM) yang baik. Guru beranggapan kewajiban atau tugasnya hanya sekadar mengajar di kelas, tanpa mau mengembangkan aspek lainnya yang berkaitan dengan peningkatan atau pengembangan kualitas akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan tanpa malu-malu, kecenderungan guru kini ada kebiasaan yang kurang produktif di ruang guru yaitu pada saat PBM di kelas berakhir sebagian guru membahas atau bertukar pikiran tentang hal-hal yang tidak ada kaitannya dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran melainkan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pola – pola kehidupan materialistis, konsumtif, ngegosip, membicarakan kelemahan orang lain, dan sejenisnya.
4. Kurangnya minat guru untuk berinovasi. Guru beranggapan bahwa apa yang sudah dilakukan pada PBM di nilai masih baik dan tidak ada kendala. Hal inilah yang membuat merasa nyaman dan tidak perlu “aneh-aneh” dalam memberikan pendidikan pada siswa.
5. Kurang tersedianya fasilitas pendidikan yang menunjang PBM. Akibatnya pelaksanaan PBM berjalan kurang efektif dan cenderung penyampaian materi bahan ajar dari guru tidak berkembang dengan semestinya, yaitu dengan strategi pembelajarn yang inovati, bervariasi dalam alat dan media, namun cenderung monoton.
Mencermati hambatan menjadi guru yang profesional tersebut, maka perlu dicarikan upaya pemecahannya melalui berbagai kajian dan pendekatan alternatif, antara lain :
1. Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 sebagai peluang dan tantangan. Isi undang-undang ini jelas sangat berarti, karena bertujuan : (1) Mengangkat harkat citra dan martabat guru, (2) Meningkatkan tanggungjawab profesi guru sebagai pengajar, pendidik, pelatih, pembimbing, dan manajer pembelajaran, (3) Memberdayakan dan mendayakan profesi guru secara optimal, (4) Memberikan jaminan kesejahteraan dan perlindungan terhadap profesi guru. Melalui kelahiran Undang-Undang ini diharapkan mampu memberikan payung dan landasan hukum bagi terwujudnya guru profesional, guru sejahtera dan terlindungi.
2. Meningkatkan kompetensi guru sebuah keharusan “wajib” dipenuhi sebagai konsekuensi guru sebagai profesi. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Guru dan Dosen bahwa setiap guru minimal memiliki 4 (empat) kompetensi guru. Kompetensi itu adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dalam kaca pandang demikian, guru dituntut harus merealisasikan segala hal dalam kaitan pembelajaran yang lebih efektif dan berhasil. Oleh karena itu diperlukan guru yang berkompeten. Guru yang berkompeten adalah seseorang yang memiliki 10 (sepuluh) dasar kompetensi guru, yaitu : (1) Penguasaan materi. (2) Pengelolaan program belajar-mengajar. (3) Pengelolaan kelas. (4) Penggunaan media dan sumber belajar. (5) Menguasai landasan kependidikan. (6) Mengelola interaksi belajar mengajar. (7) Menilai prestasi belajar siswa untuk kepentingan mengajar. (8) Mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. (9) Mengenal dan menyelenggarakan admnistrasi sekolah. (10) Memahami prinsi-prinsip dan penafsiran hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. (Darmodihardjo, 1980 : 4).
3. Pemberian kesejahteraan guru melalaui peran serta pemerintah terus ditingkatkan. Hal ini sudah terealisir dengan adanya pemberian tunjangan profesi guru dan tunjangan fungsional. Diharapkan upaya ini mampu meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme guru dalam bekerja.
4. Pemenuhan kebutuhan fasilitas pendidikan yang memadai dan relevan dengan tuntutan dan situasi pembelajaran terkini diharapkan mampu ditingkatkan melalui perencanaan, pengeloalaan dan pemanfaatan dana yang tersedia baik dari swadaya, subsidi pemerintah misalnya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Operasional Pendidikaan (BOP), Block Grand Pendidikan, dan donasi pendidikan lainnya yang sejenis. Dengan demikian diharapkan proses kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan tujuan dapat tercapai.
5. Secara “individu maupun kelompok” harus berani memahami bahwa profesi guru itu suatu pilihan, ketika sudah memutuskan menjadi guru harus siap dengan segala konsekuensinya. Oleh karena itu guru harus memiliki pola pikir dan perilaku kerja yang maju . Hal ini dapat ditunjukkan dengan : (1) Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. (2) Meningkatkan dan memelihara citra profesi. (3) Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya. (4) Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi. (5) Memiliki kebanggaan terhadap profesinya (memiliki rasa syukur dan memaknai guru sebagai panggilan hidupnya). Semua keinginan itu dapat direalisasikan apabila ada niat dan keamauan untuk berkembang melalui berbagai kegiatan, antara lain : pendidikan dan pelatihan sertifikasi guru, kursus, seminar pendidikan dan pengembangan profesi guru lainnya.
6. Guru harus diberi ruang untuk berprestasi dan diberi apresiasi apabila dapat menunjukkan kualitas dan kompetensi di atas ketentuan standar. Ruang tersebut, misalnya pemilihan guru berprestasi, Kompetisi Simulasi pembelajara kelas yang efektif, dan lainnya. Hal ini penting untuk memotivasi kerja dan budaya kompetisi dalam tugas dan fungsinya dalam pendidikan. Pemberian ini dapat dilakukan oleh Pemerintah atau Yayasan, Sebaliknya apabila guru kurang berprestasi dan tidak mencerminkan seorang guru perlu juga diberi pembinaan dan “hukuman” dengan maksud memotivasi kembali tugas dan perannya dalam dunia pendidikan.

Untuk mewujudkan hal tersebut guru yang profesional harus mempunyai pola pikir dan perilaku kerja yang selalu berorientasi pada : (a) Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal, (b) Keinginan untuk meningkatkan dan memelihara citra profesi, (c) Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya, (d) Keinginan mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi, (e) Keinginan untuk memiliki kebanggaan terhadap profesinya (memiliki rasa syukur dan memaknai guru sebagai panggilan hidupnya). Guru yang profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode, rasa tanggungjawab, pribadi, sosial, intelektual, moral, spiritual dan kesejawatan (rasa kebersamaan di antara sesama guru).
Guru yang diharapkan dalam gambaran tersebut di atas, kiranya mampu memberikan solusi sebagai upaya dalam mengatasi hambatan-hambatan mewujudkan guru yang profesional. Dengan demikian hal-hal yang selama ini menjadi tantangan guru yaitu menjaga keseimbangan antara tuntutan untuk berbuat normatif ideal dengan suasana kehidupan masa kini yang ditandai dengan pola-pola kehidupan yang materialistis, individualistis, kompetitif, konsumtif, dan sebagainya mampu dikelola dengan bijaksana sehingga orientasi guru menjadi jelas dalam fungsi dan perannya untuk mencerdaskan anak bangsa menuju peradaban kebudayaan kehidupan yang lebih baik dan bersinergi dengan sesama (manusia dan lingkungan hidup sekitarnya).

Komptensi Guru
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, pasal 2 disebutkan bahwa Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, Kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Kompetensi yang dimaksud adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi Guru bersifat holistik.
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi :
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. beriman dan bertakwa;
b. berakhlak mulia;
c. arif dan bijaksana;
d. demokratis;
e. mantap;
f. berwibawa;
g. stabil;
h. dewasa;
i. jujur;
j. sportif;
k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
m. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
Kompetensi sosial merupakan kemampuan Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
a. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku; dan
e. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.
Keempat kompetensi di atas selanjutnya dalam Penilaian Kinerja Guru sebagaimana yang harus dilakukan terhadap guru yang tercantum dalam Permendiknas 35/2010 tentang petunjuk teknis Pelaksanaan jabatan fungsional Guru dan angka kreditnya, dijabarkan menjadi 14 sub kompetensi. Penilaiannya akan dilakukan dengan sistem paket yang terkait dalam pelaksanaan tugas utama, sebagai berikut :
A. Profesional
Kompetensi profesional merupakan kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
b. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.
B. Pedagogik
1. Menguasai karakteristik peserta didik
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
3. Pengembangan kurikulum
4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik
5. Pengembangan potensi peserta didik
6. Komunikasi dengan peserta didik
7. Penilaian dan evaluasi
C. Kepribadian
1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional
2. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
3. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru
D. Sosial
1. Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif
2. Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua, peserta didik dan masyarakat Profesional
3. Penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir dan keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu
4. Mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif
Peranan Guru sebagai Pendidik Profesional
Guru mempunyai peranan strategis dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak didik. Seiring dengan UU No 20/2003 dan ketentuan pasal 1 UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen secara tegas menentukan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Berdasarkan Permendiknas No 16/2007, agar profesional seorang guru dituntut untuk mempunyai empat kompetensi yaitu :
1. Kompetensi Pedagogik;
2. Kompetensi Kepribadian;
3. Kompetensi Sosial; dan
4. Kompetensi Profesional.
Kompetensi utama yang perlu dimiliki guru dalam meningkatkan kompetensi pedagogik adalah menguasai pengetahuan dan mempunyai kemampuan untuk mempraktikkan keterampilan dasar mengajar di kelas.
Dalam Ilmu Kependidikan dikenal adanya 8 keterampilan dasar mengajar, yaitu:
1. Keterampilan bertanya,
2. Keterampilan memberikan penguatan,
3. Keterampilan mengadakan variasi dalam cara mengajar,
4. Keterampilan menjelaskan,
5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran,
6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil,
7. Keterampilan mengelola kelas,
8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Dalam perkembangannya, profesionalitas guru menghadapi tantangan untuk mengembangkan kompetensi pedagogik dengan cara berlatih dan belajar mandiri. Khususnya dalam bidang pembelajaran, seorang guru profesional juga harus dapat menentukan dan memilih metode atau model pembelajaran yang tepat sehingga dapat menarik minat siswa terhadap proses pembelajaran baik yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas.
Sudah banyak model pembelajaran inovatif yang ada dan seyogyanya guru mencoba untuk menggunakannya dalam setiap proses pembelajaran dan bila perlu mengadakan penelitian (PTK) terhadap model pembelajaran inovatif yang baru dipraktekkannya untuk melihat apakah ada perbedaan hasil belajar siswa dari sebelum melakukan model pembelajaran inovatif dan sesudahnya.
Melalui model pembelajaran yang tepat diharapkan siswa mendapatkan pembelajaran yang bermakna dan memberikan kesan yang mendalam pada siswa, sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupannya kelak di masyarakat.Guru yang profesional dalam bidangnya, seharusnya dapat menyajikan proses pembelajaran secara menyenangkan bagi siswa, sehingga dapat memotivasi belajar siswa.
Keberanian seorang guru dalam berinovasi dan mempraktikkan keterampilan dasar mengajar akan berpengaruh secara langsung terhadap prestasi belajar siswa, juga akan membentuk karakter guru menjadi lebih kreatif, sehingga tidak hanya akan berdampak pada pola komunikasi pembelajaran, tetapi juga akan membentuk suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Seorang guru yang mempunyai tingkat profesional tinggi terhadap profesinya sebagai pendidik akan mempunyai semangat kerja yang tinggi pula. Hal ini didorong oleh cita-cita dan harapan yang ingin dicapainya. Sebaliknya seorang guru yang rendah tingkat profesioanalitasnya sebagai pendidik akan cenderung melakukan aktifitas profesinya dengan motivasi yang kurang dan tidak bersemangat.
Untuk menentukan kadar profesionalitas guru harus melalui proses pembinaan yang bertahap dan berkesinambungan baik secara formal maupun informal, melalui kegiatan yang bermanfaat untuk menambah wawasan di bidangnya sebagai pendidik, antara lain pendidikan dan pelatihan(Diklat), seminar, lokakarya, dan diskusi ilmiah lainnya.Secara individual guru juga dapat melakukan pengembangan pribadi (personal development) baik melalui KKG atau MGMP.
Bagi penyandang profesi guru, mari kita tingkatkan profesionalitas dan kinerja kita sebagai guru yang profesional dengan terus berupaya meningkatkan kompetensi, pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sehingga profesionalitas dan kinerja kita nantinya dapat menghasilkan peserta didik dan anak bangsa yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,berilmu, cerdas,kreatif, cakap dan mandiri,serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Dalam melaksanakan tugas Profesional sebagai seorang guru haruslah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Syarat utama untuk menjadi seorang guru, selain berijazah dan syarat-ayarat mengenai kesehatan jasmanai dan rohani, ialah mempunyai syarat-syarat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pembelajaran, antara lain meliputi:
a. Guru memiliki kualifikasi pendidikan yang relevan
Yang dimaksud ijazah sebagai kualifikasi pendidikan disini adalah ijazah yang dapat memberi wewenang untuk menjalankan tugas sebagai seorang guru di suatu sekolah tertentu.
b. Guru harus sehat jasmani dan rohani
Kesehatan jasmani dan rohani merupakan salah satu syarat penting dalam setiap pekerjaan. Karena, orang tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik jika ia di serang suatu penyakit. Sebagai seorang guru syarat tersebut merupakan syarat mutlak yang tidak dapat di abaikan. Misalnya saja seorang guru yang sedang terkena penyakit menular tentu saja akan membahayakan bagi peserta didiknya.
c. Guru harus bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkelakuan baik.
Sesuai dengan tujuan pendidikan,yaitu membentuk manusia susila yang bertakwa kepada TYE maka sudah selayaknya guru sebagai pendidik harus dapat menjadi contoh dalam melaksanakan ibadah dan berkelakuan baik.
d. Guru haruslah orang yang bertanggung jawab
Tugas dan tanggung jawab seorang guru sebagai pendidik,pembelajar, dan pembimbing bagi peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung yang telah di percayakan orang tua/ wali kepadanya hendaknya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, guru juga bertanggung jawab terhadap keharmonisan perilaku masyarakt dan lingkungan di sekitarnya.

e. Guru di Indonesia harus berjiwa nasional
Bangsa di indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang mempunyai bahasa dan adat- istiadat berlainan. Untuk menamakan jiwa ke bangsaan merupakan tugas yang utama bagi seorang guru,karena itulah guru harus terlebih dahulu berjiwa nasional.
Syarat-syarat di atas adalah syarat umum yang berhubungan dengan jabatan sebagai seorang guru. Selain itu, ada pula syarat lain yang sangat erat hubungannya tugas guru di sekolah, sebagai berikut :
• Harus adil dan dapat di percaya.
• Sabar,relah berkorban,dan menyayangi peserta didiknya.
• Memiliki kewibawaan dan tanggung jawab akademis.
• Bersikap baik pada rekan guru,staf di sekolah, dan mayarakat.
• Harus memiliki wawasan pengtahuan yanh luas dan menguasai benar mata pelajaran yang dibinanya.
• Harus selalu introspeksi diri dan siap mnerima kritik dari siapapun.
DAFTAR PUSTAKA

AECT, Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta : CV Rajawali, 1986.
Darmodihardjo, Kemampuan Dasar Guru. Jakarta : Depdikbud, 1980
Musaheri. 2007 Pengantar Pendidikan Jogjakarta. IRCISOD. 2007 . ke PGRI an. Jogjakarta. Diva press
Depdiknas, Panduan Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : 2006
Depdiknas, Pedoman Penghitungan Beban Kerja Guru, Jakarta : 2008
Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional
Soewadji Lazaruth, Kepala Sekolah dan Tanggung jawabnya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2000
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Wina, Sanjaya. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Prenada Media.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "MENYOAL PROFESIONALISME GURU: TANTANGAN, HAMBATAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA"

  1. Ali Harsojo

     |
    April 11, 2014 at 6:54 pm

    terima kasih untuk wacana.siap.web.id…sangat bermanfaat….untuk terus gerak maju bersama kualitas..

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Laudya Bella

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  8

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0