Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Film

Beranda / Film / Nilai Pendidikan Dalam Film I Not Stupid Too
Nilai Pendidikan Dalam Film I Not Stupid Too
1 Komentar | Dibaca 3493 kali

I Not Stupid Too adalah judul sebuah film Singapura yang menggunakan bahasa Mandarin dan Inggris. Film ini sangat menarik karena mengandung humor yang dapat mengundang penontonnya tertawa, juga mengandung nilai – nilai pendidikan yang dapat mengkritisi para Guru, Orangtua, dan tentunya siswa. Sebagai seorang Guru, saya sangat menganjurkan film ini ditonton oleh para guru dan orangtua, sehingga kita dapat melihat karakter anak – anak jaman sekarang, dan bisa menggunakan metode pengajaran yang tepat kepada mereka. Film ini juga mengetengahkan fakta yang aktual tentang kehidupan anak – anak jaman sekarang, sehingga tidaklah tepat jika kita masih terus terpaku pada metode – metode pangajaran jadul (Jaman Dulu).

Ketika pertama kali saya menonton film ini, hampir dalam setiap adegannya mengundang saya untuk tertawa terbahak – bahak, tetapi di samping itu saya pun disadarkan dari kesalahan – kesalahan yang saya lakukan selama ini sebagai seorang guru. Karena itu saya pun berpikir bahwa semua teman – teman guru yang lain perlu mendapatkan asupan gizi yang sama dari film ini sehingga kehidupan di sekolah bisa kembali sehat.  Ada beberapa point penting dari film ini yang berhasil saya petik yakni;

  1. Banyak Guru menerapkan metode yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa dan tuntutan jaman.
  2. Ketika menemukan siswa memperoleh nilai yang rendah, Guru langsung menjatuhkan vonis kepada siswa dan mencap siswa sebagai bodoh, tanpa memberi motivasi kepada siswa untuk memperbaharui nilainya di kemudian hari.
  3. Banyak guru beranggapan bahwa memarahi dan memberi hukuman adalah cara untuk mendidik para siswa.
  4. Siswa sekarang bukanlah siswa tahun 80-an, dan 90-an yang menganggap guru sebagai Tuhan Allah, karena itu guru tidak boleh terlalu bersikap otoriter terhadap siswa.
  5. Guru tidak boleh mengukur kemampuan siswa dari segi akademik semata, tetapi juga dari bakat – bakat yang mereka miliki. Perhatian terhadap bakat mereka akan mampu menunjang kemampuan akademiknya.
  6. Orang tua juga mendapat peran yang sama untuk mendidik anak-anaknya.
  7. Orang tua yang tidak mampu mendidik anak –anaknya akan berdampak pada pendidikan anak di sekolah.

Sering sekali muncul wacana bahwa anak itu nakal karena pada dasarnya memang nakal. Namun kita tidak bisa menyangkal bahwa anak menjadi nakal karena pendidikan yang tidak tepat. Pendidikan yang tidak tepat di rumah, akan menjadikan anak sebagai pemberontak baik terhadap ibu dan/atau ayahnya. Pemberontakan ini bisa terjadi dalam dua bentuk; pertama, pemberontakan yang aktif, di mana anak secara terang – terangan melakukan perlawanan kepada kedua orang tuanya. Kedua, pemberontakan yang pasif di mana anak menunjukkan kepatuhan kepada orang tuanya karena takut, tetapi justru melampiaskan kemarahannya kepada orang yang dianggapnya lemah seperti adik, teman sekolah, dan bahkan guru yang lemah.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan tentu akan menemukan siswa dengan kondisi kepribadian tersebut. Tanggung jawab sekolah adalah memberikan pendidikan yang tepat kepada siswa. Pendidikan yang tepat di sekolah seharusnya menjadi obat untuk menyembuhkan pola kepribadian yang dibentuk di rumah. Dalam kenyataan, siswa cenderung merasa bahwa Guru tidak ubahnya dengan orang tua mereka yang selalu memvonis dan menghukum. Lebih parahnya lagi banyak guru yang mendapat tugas tambahan sebagai wali kelas memilih – milih siswa untukdijadikan anak walinya. Guru tidak bisa memilih untuk mendidik siswa yang dianggapnya baik sedangkan tidak mendidik yang dianggapnya nakal. Pemisahan seperti ini justru menimbulkan diskriminasi terhadap siswa. Siswa yang nakal akan semakin merasa dianaktirikan dan pemberontakan pun akhirnya meluas.

Bercermin dari film I Not Stupid Too maka kita sebagai guru harus berkembang sesuai tuntutan jaman. Siswa berubah, kita pun berubah dengan metode yang bervariatif sehingga siswa tidak merasa bosan di kelas dan mengganggap kita sebagai momok yang menakutkan. Yang perlu diingat pula bahwa pendekatan yang baik untuk siswa jaman sekarang adalah penelusuran bakat dan kemampuan atau dengan kata lain mulailah dari apa yang mereka sukai. Lalu, kurangi kekerasan baik fisik maupun verbal, perbanyaklah pujian kepada para siswa, berilah penghargaan yang sesuai bagi mereka yang berhasil dan Jangan pernah menjadi seorang dictator bagi siswa.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "Nilai Pendidikan Dalam Film I Not Stupid Too"

  1. Robert Davis Chaniago

     |
    May 2, 2014 at 1:32 am

    Mohon untuk kedepannya, tambahkan “featured images” untuk mem-visualisasikan artikel anda agar terlihat menarik, serta jangan lupa untuk melengkapi parameter wajib lainnya seperti mengisikan kategori sesuai tema artikel Anda, menambahkan tags, memberikan keterangan sumber gambar dst.

    Terima kasih telah berkontribusi dalam SIAP Wacana, jadikanlah portal ini sebagai sarana untuk berbagi ilmu & berbagi pengetahuan dalam memajukan Pendidikan di Indonesia.

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

MOH. HOLIK

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0