Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Informasi Umum

Beranda / Informasi Umum / NYANYIAN SUNYI JEJAK KARTINI “untuk sebuah masa yang tak akan pernah habis”
NYANYIAN SUNYI JEJAK KARTINI “untuk sebuah masa yang tak akan pernah habis”
0 Komentar | Dibaca 980 kali

KARTINI

 

PANGGIL AKU, KARTINI SAJA!

Pergeseran waktu dan psikis pemikiran Kartini berangsur semakin terlihat setelah memasuki masa remajanya di Jepara. Mengapa bisa demikian? Apakah yang menyebabkan hal tersebut? Sejak kecil Kartini dikenal sebagai pribadi yang kritisi, khususnya kepada adik-adik dan kakaknya R.M. Sosrokartono. Rukmini, Kardinah, Kartini, mereka dikenal sebagai tiga serangkai yang mempunyai tujuan bersama dalam membebaskan deskriminasi perempuan dan menyelamatkan penderitaan rakyat pri-bumi. Kartini adalah putri dari sosok seorang ibu bernama Ngasirah anak mandor pabrik gula di Mayong Jepara. Kartini adalah ke-lima dari sebelas bersaudara kandung dan tiri. Keberadaan Adat kolonial di tanah Jawa yang sangat kental mengharuskan seorang Bupati harus beristerikan seorang bangsawan. Oleh karena itu, Ayahandanya memutuskan menikah lagi dengan seorang anak bangsawan asal Raja Madura bernama Raden Ayu Sosroningrat. Melihat dan merasakan hal tersebut hati dan pikiran Kartini berontak serta terguncang, sekaligus menjadi babak baru munculnya pemikiran-pemikiran yang idealis dan realis.

Sejak usia kanak-kanak Kartini sudah mengenyam bangku pendidikan, walaupun hanya di sekolah rendahan Europe Lagere School (ELS) milik pemerintah Hindia Belanda. Itu hanyalah bagian kecil dari cita-cita Kartini yang sangat tinggi untuk dapat meneruskan ke negeri Eropa seperti halnya kakaknya, namun bak buah simalakama karena Ayahandanya tidak mengizinkannya. Perhatikan kutipan surat beriikut ini,

“bocah perempuan masuk sekolah! Itu adalah pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan negeriku. Lihatlah, adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah.” (surat kepada Estella Zehandelaar, Jepara, Mei 1899).

Kartini dikenal sebagai sosok perempuan yang mempunyai idealis tinggi serta sosialis. Hingga tidak banyak sahabatnya di sekolah yang mengucilkan beliau. Hidup dengan tekanan diskriminasi adat jawa yang sangat kental bukanlah hal mudah bak membalikkan telapak tangan. Itulah yang sedang dilalui Kartini masa itu. Masa kepedihan dan menyakitkan, hingga pada usia dua belas tahun, Beliau harus masuk ke dalam tembok kamar selama empat tahun. Seperti halnya yang telah diutarakan dalam penggalan suratnya,

“gadis-gadis kecil muda harus tinggal di rumah,  hidup dalam pengucilan keras dari dunia luar sampai waktunya tiba seorang pria menyeretnya alias mempersuntingnya, tanpa mereka tahu dan kenal sebelumnya, siapa pria itu dan bagaimana kepribadiaanya” (surat kepada Estella Zehandelaar, 25 Mei 1899).

Memahami kutipan tersebut jelaslah sangat menggoncang hati seorang Kartini muda. Trinil begitulah panggilan akrab Ayahandanya semasa kecil. Kartini sosok yang patuh dan taat dengan segala sesuatu yang dikatakan oleh Ayahandanya. Tidak pernah membantah sedikit pun walaupun itu menyakitkan. Melihat psikis Kartini yang semakin terdesak oleh kondisi saat itu, membuat Beliau tidak tinggal diam begitu saja. Ketika badannya mulai tidak dapat melihat dunia luar, maka penanya lah yang berbicara mengutarakan segala kondisi sosial dan psikis yang sedang beliau rasakan. Selama empat tahun di dalam pingitan telah banyak pena yang dikirimkan kepada para sahabatnya di Belanda dan Eropa. Kartini mendeskripsikan keadaan adat di tanah Jawa yang sangat tertekan, ras, budaya, dan golongan yang membuat lubang deskriminasi khususnya bagi kaum perempuan pri-bumi. Selain itu, banyak artikel-artikel beliau yang dimuat di surat kabar milik Hindia Belanda. Peranan Kartini dalam menyoroti segala hal ternyata disambut baik oleh bangsa Hindia Belanda dan Eropa yang ikut merasakan kepedihan keadaan adat di tanah Jawa, hingga banyak responden yang mengirimkan surat kepada beliau. Beberapa diantaranya adalah Nyonya Ovink seorang asisten residen dari negeri Holland, Dr. N. Andriani seorang ahli bahasa, Estella Zehandelaar, Van Kol, Anne Glaser, Letcy. Mereka merupakan sahabat pena Kartini sekaligus rekan Ayahandanya di Jepara. Salah satu mereka yaitu Letcy, teman karibnya ketika Kartini menuntut ilmu di sekolah rendahan (ILS), bahwa Dia menawarkan untuk sekolah ke HBS dan ke Eropa. Namun Kartini hanya terdiam dan mengucapkan beberapa patah kalimat, “Letcy, jangan kau tanyakan apa yang aku mau, tapi tanyalah apa yang aku boleh”. Sepenggal jawaban itu memberikan argumen untuk berpikir bahwasannya Kartini masih belum diperbolehkan untuk meneruskan sekolah yang lebih tinggi oleh Ayahandanya. Selalu ditentang dan tidak pernah diizinkan, cukup tinggal di rumah dan menunggu sesesorang untuk mempersuntingnya kelak.

Gambaran kejiwaan Kartini sangat menggangu kondisi sosial saat itu, sedangkan hasrat untuk terbebas dan memperbaiki sangat kuat. Kartini sangat meyakini bahwa peranan perempuan itu sangat penting dan memberikan perubahan yang lebih daripada itu. coba perhatikan kutipan surat berikut ini,

“…kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami ingin menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Melainkan karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan pertama kali ke dalam tangannya; menjadi ibu sekaligus pendidik manusia yang pertama…” (surat kepada Prof. Dr. G.K Anton dan Nyonya, 1902).

Keberadaan Kartini pada usia remaja beranjak dewasa menjadi pelopor yang kuat dalam menentukan identitas serta jati dirinya. Sampailah dia diboyong ke Rembang oleh Bupati Rembang, yang tidak lain adalah suaminya R.A. Joyodiningrat. Tudak ada yang berbeda, masih gigih dalam berjuang, mendidik, dan mengajarkan ilmu kehidupan kepada anak-anak pri-bumi. Goresan penanya bak mata air yang tak henti-hentinya mendapat simpatis publik, serta mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah kaum emansipasi di tanah air.

“aku bangga, namaku disebut senafas dengan rakyatku, karena di sanalah tempatku untuk seterusnya” (Rembang, Kartini).

Figur Kartini masakini, masih adakah? Dan apakah hanya tinggal revolusi yang berjalan, lalu mati, dan lenyap begitu saja? Mahakarya (buku) itu menjadi petunjuk yang luar biasa, khususnya bagi kaumnya. Banyak yang bisa kita petik dan lakukan untuk menghormati, mengenang, serta memaknai esensi beliau. Sebagai sumbangsih perempuan sepanjang masa.

“…Berjuanglah dan menderitalah, demi kepentingan yang abadi” (Kartini, 21 Juli 1902).

Selamat Hari Kartini ke-135 tahun, 21 April 2014

(HABIS GELAP, TERBITLAH TERANG Via Toat Kurniawan).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Rhedjozt

Manusia yang masih sibuk berusaha memperbaiki kekurangan sehingga bisa disebut manusia biasa.
Daftar Artikel Terkait :  4
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0