Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Informasi Umum

Beranda / Informasi Umum / NYANYIAN SUNYI JEJAK KARTINI “untuk sebuah masa yang tak akan pernah habis”
NYANYIAN SUNYI JEJAK KARTINI “untuk sebuah masa yang tak akan pernah habis”
0 Komentar | Dibaca 1116 kali

KARTINI

 

PANGGIL AKU, KARTINI SAJA!

Pergeseran waktu dan psikis pemikiran Kartini berangsur semakin terlihat setelah memasuki masa remajanya di Jepara. Mengapa bisa demikian? Apakah yang menyebabkan hal tersebut? Sejak kecil Kartini dikenal sebagai pribadi yang kritisi, khususnya kepada adik-adik dan kakaknya R.M. Sosrokartono. Rukmini, Kardinah, Kartini, mereka dikenal sebagai tiga serangkai yang mempunyai tujuan bersama dalam membebaskan deskriminasi perempuan dan menyelamatkan penderitaan rakyat pri-bumi. Kartini adalah putri dari sosok seorang ibu bernama Ngasirah anak mandor pabrik gula di Mayong Jepara. Kartini adalah ke-lima dari sebelas bersaudara kandung dan tiri. Keberadaan Adat kolonial di tanah Jawa yang sangat kental mengharuskan seorang Bupati harus beristerikan seorang bangsawan. Oleh karena itu, Ayahandanya memutuskan menikah lagi dengan seorang anak bangsawan asal Raja Madura bernama Raden Ayu Sosroningrat. Melihat dan merasakan hal tersebut hati dan pikiran Kartini berontak serta terguncang, sekaligus menjadi babak baru munculnya pemikiran-pemikiran yang idealis dan realis.

Sejak usia kanak-kanak Kartini sudah mengenyam bangku pendidikan, walaupun hanya di sekolah rendahan Europe Lagere School (ELS) milik pemerintah Hindia Belanda. Itu hanyalah bagian kecil dari cita-cita Kartini yang sangat tinggi untuk dapat meneruskan ke negeri Eropa seperti halnya kakaknya, namun bak buah simalakama karena Ayahandanya tidak mengizinkannya. Perhatikan kutipan surat beriikut ini,

“bocah perempuan masuk sekolah! Itu adalah pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan negeriku. Lihatlah, adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah.” (surat kepada Estella Zehandelaar, Jepara, Mei 1899).

Kart