Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Keterampilan Minimal yang Harus Dikuasai Guru
Keterampilan Minimal yang Harus Dikuasai Guru
0 Komentar | Dibaca 1527 kali

Keterampilan Minimal yang Harus Dikuasai Guru
Berbagai langkah yang harus ditempuh oleh guru dalam membentuk dirinya sebagai pendidik yang utuh kerap kali mengikis. Keberadaan sebagian guru tetap pasrah terhadap nasib yang akan menjemput diri dan pendidikan. Tawaran solusi untuk mengembangkan dan meningkatkan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik yaitu dengan memiliki skill dan kapabilitas. Dua kata yang besar kemungkinan banyak memengaruhi eksistensi guru dalam mendidik. Menurut kamus besar Indonesia, keterampilan/skill adalah penguasaan terhadap suatu bidang sedangkan kapabilitas adalah kesanggupan . Jadi skill mengacu pada objek dan sasaran yang akan dikerjakan sedangkan kapabilitas adalah terhadap keadaan emosional. Skill dan kapabilitas guru adalah keahlian dan kemampuan guru yang menandakan kesanggupannya terhadap tugasnya dan menguasai terhadap bidang pendidikan yang terkait dengan tugas guru dalam mengajar, mendidik dan membimbing.
Sedangkan bidang pendidikan yang merupakan sasaran guru adalah peserta didik, pembelajaran serta sarana dan prasarana sebagai alat penunjang. Pada sasaran peserta didik,guru perlu memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik hingga mampu melahirkan tekhnik dan cara mengembangkan dan memperdayakan peserta didik. Pada proses pembelajaran guru bisa memahami apa saja yang perlu di praktekkan dan di lakukan oleh guru pada waktu mengajar yang terkait pembelajaran. Sehingga materi bisa di serap secara terperinci dan tanpa menimbulkan kendala. Sedangkan pada sarana dan prasarana seorang guru perlu mengindentifikasi dan mengklasifikasikan sarana dan prsasarana yang ada di sekolah untuk menunjang keberhasilan pembelajaran dan dicapainya tujuan intruksional, guru dimotivasi untuk menggunakan fasilitas yang ada agar siswa bisa menyadari penuh terhadap teori pengajaran yang ada, bahkan semua kebosanan dan kejenuhan dapat dimusnahkan melalui pengaturan sarana dan prasarana. Tidak berlebihan kalau Oemar Hamatik (Din Samsudin, 35) mengajukan tiga alternatif pendekatan bagi guru yang bisa digunakan dalam menyusun strategi pembelajaran, pendekatan yang berpusat pada siswa dan pendekatan yang berorientasi pada kehidupan masyarakat.
Skill dan kemampuan pada saat ini mungkin dirasa kurang begitu membentang pada pendidikan persekolahan karena kurangnya kesadarn guru akan tangung jawabnya. Pihak pemerintah berharap agar para guru bisa mentransfer ilmu pengetahuannya dan keterampilannya kepada peserta didik agar memiliki jiwa yang cinta nusa bangsa. Sementara pihak orang tua berkeinginan agar anaknya bisa menjadi orang yang sukses, bahagia dan sejahtera sepanjang hidupnya melalui didikan dan bimbingan guru yang bertumpu pada modal pengetahuan, sikap dan perilaku yang baik dan memilii keteramoilan dan kecakapan hidup yang memadai. Sedangkan peserta didik itu sendiri menaruh harapan besar terhadap guru agar dalam proses interaksi edukatif terlaksana dengan sempurna dan tidak berpotensi masalah siswa mempunyai perasaan yang mendalam tehadap proses belajar, pembelajaran supaya mengedepankan asas demokratisasi motivasi dan inovasi yang berujung pada pembelajaran bermakna dan menyenangkan. Sebagai tenaga pendidik bagi seorang guru dituntut untuk bisa profesional dan tampil menarik, berwibawa serta bersahaja. Sehingga siswa belajar dengan nyaman, antusias dan disingkirkan dari kebosanan.
Dengan sejumlah harapan yang ada dimungkinkan bagi guru untuk senantiasa dinamis dalam memenajemen diri sebelum bersentuhan paa siswa. Skill dan kapabilitas dapat dijadikan pijakan kuat bagi guru untuk direalisasikan secara pasti, diantaranya yaitu:
1. Menjelaskan
Pendidikan erat kaitannya dengan proses pembelajaran sedangkan menjelaskan pembelajaran berarti mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana secara sistematis, sehingga dengan mudah materi dapat dipahami oleh siswa. Guru dituntut agar merinci, menerangkan dan memahamkan . Beberapa konsep, hukum dan prinsip sehingga dapat menimbulkan rangsangan daya pikir peserta didik.
Penjelasan guru inti dari pembelajaran, kalau menggunakan tekhnik pembelajaran berpusat pada guru. Karena lebih banyak mentransfer pengetahuannya kepada siswa. Siswapun senantiasa menerima dan berusaha agar tidak kehilangan sinyal dalam memahami materi. maka perlu bagi guru selain penjelasan menyesuaikan dengan latar belakang siswa, dalam menjelaskan guru tidak bertele-tele dan mengarang persoalan lain yang melanglang buana dan tidak ada hubungan dengan materi. Introspeksi diri menjadi penting bagi guru sebab terkadang banyak siswa mengeluh dengan penjelasan yang panjang dan ilmiah tetapi menimbulkan keresahan yangmenurut guru baik dan positif tetapi siswa sulit memahami, sedangkan jika penjelasan sulit ditangkap berarti pembelajran berjalan dengan gagal.
2. Bertanya
Skill dan kapabilitas bertanya adalah mengkomunikasikan kembali isi materi dengan mengajukan pertanyaan dan meminta jawaban siswa. Guru tidak selamanya menjelaskan, sesekali menghidangi pertanyaan perlu dilakukan. Sehingga tercipta suasana ruang kelas yang hidup dengan aksi dan reaksi dan tanya jawab. Bertanya bukanlah hal yang gampang tetapi memerlukan ketepatan, pengaturan urutan dan pemusatan pertanyaan.
Semakin tinggi bobot pertanyaan yang diajukan dan dapat dijawab dengan porsi yang cukup oleh peserta didik membuat persoalan materi jauh dari kendala. Hanya supaya pertanyaan agar dapat dipahami seorang guru tidak perlu memperpanjang hingga berpuluh-puluh kata yang diajukan tetapi singkat, tepat dan menantang.
Dr. I.G.K wardani menawarkan tambahan wacana tentang pertanyaan yaitu bertanya lanjutan. bertanya dasar meliputi : pemusatan perhatian, pemberian acuan dan pemberian waktu berfikir dengan jawaban giliran sedangkan bertanya lanjutan penggunaan pertanyaan melacak dan mengubah tingkat pertanyaan.

3. Memberikan Penguatan (Reinforcement)
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat menigkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Penguatan dalam pembelajaran bumbu penyedap rasa agar merangsang minat belajar siswa, siswa yang aktif memberikan kontraksi dan berani mengungkapkan gagasannya atau rangkai perilaku sesuai dengan keinginan guru berhak mendapatkan reinforcement.
keberadaan psikis siswa menjadi sasarannya, karena di saat penguatan diberikan dengan hangat dan sesegar mungkin seorang siswa akan tergundah memotivasi dirinya untuk mgulangi kembali perilakunya. Inilah salah satu bentuk pembangunan karakter siswa. Tetapi guru yang mahal akan penguatannya, acuh tak acuh terhadap respon siswa petaka besar pembelajaran bisa saja terjadi. Hendaknya guru bisa membesarkan semangat siswa disaat keaktifannya memuncak melalui menguatan verbal maupun nonverbal.
4. Mengelola Kelas
Kegiatan mengelola sebuah kelas merupakan kegiatan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi efektif dan efisien (Nana Sudjana).
Tenda utama sekolah dapat memaksimalkan pengajaran adalah di dalam kelas. Sedangkan prinsip siswa kelas indah menewan ilmu merayap dengan mudah. Seorang guru perlu melakukan pengajaran yang antusias yang penuh semangat dan pengaturan tempat duduk siswa di sesuaikan dengan karakteristiknya. Pengkondisian kelas dapat pula dilakukan dengan memasang beberapa iklan dan gambar yang merangsang daya pikir siswa. Keluwesan guru dalam menjalankan tugas dan menggunakan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa salah satu modal dalam mengelola kelas.
5. Mengadakan Variasi
Menurut (Wardani) variasi dalam pembelajaran dimaksudkan agar terhindar dari rasa jemu, jenuh, dan menoton dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Guru yang terampil melakukan variasi mengajar berdampak positif terhadap siswa. Mulai dari pelajaran yang mudah dicerna sampai pada taraf menyenangkan siswa pada pelajaran tersebut. Adapun variasi yang bisa dipraktekkan oleh guru. Variasi dalam gaya mengajar (suara , gerak, posisi, dan kontak pandang), dan variasi pola interaksi dan kegiatan (klasikal, kelompok, dan diskusi atau demonstrasi).
Nampaknya siswa selalu berharap demikian yaitu belajar 3S (santai, serius dan sukses) dan guru perlu mengadakan pemvariasian gaya mengajar. Bisa dibayangkan kalau semua guru mampu memvariasikan mengajarnya maka kuantitas dan kualitas peserta didik cenderung meningkat.
6. Membuka dan Menutup Pelajaran
Skill dan kapabilitas ini menjadi dambaan siswa karena ketika guru terampil membuka dan menutup pelajaran motivasi dan perhatian siswa senantiasa dipertahankan terhdap isi pelajaran, keliru melangkah dalam membuka dan menurtup pelajaran, minat dan kesiapan akan kabur tanpa bayangan. Membuka pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan penuh perhatian pada diri siswa sedangkan menutup pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti dari pelajaran.
Dalam membuka hendaknya dengan sambutan yang hangat, semangat dan bersahaja dan menjauhkan diri dari berburuk sangka, cemberut dan marah-marah yang tidak ada akar permasalahannya sehingga siswa merasa di hargai keberadaannya. Pada saat menutup pelajaranpun dengan emosi yang stabil, tidak menampakkan kebosanannya serta pamit dengan baik yang akan menimbulkan respeksitas seorang guru.
7. Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
kegiatan ini terjadi dalam konteks pelajaran klasikal di dalam kelas. Seorang guru mungkin menghadapi banyak kelompok kecil serta banyak siswa yang diberi kesempatan belajar secara kelompok maupun perorangan. Penguasan skill dan kapabilitas ini memungkinkan guru mengelola kegiatan secara efektif dan efisien serta memainkan perannya sebagai organisator kegiatan pembelajaran. Sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, penyedia materi, pendiagnosis dan pemberi bantuan kepada siswa sesuai dengan kebutuhan (Wardani 2010).
8. Membimbing Diskusi Kelompok Kecil.
Diskusi kelompok kecil merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran yang penggunaannya cukup sering diperlukan. Kelompok kecil dalam kelas melibatkan 3-9 orang siswa, berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal, artinya setiap anggota dapat berkomunikasi langsung dengan anggota lainnya.
Senada dengan perkembangan jaman yang kian mempesat tuntutan untuk memiliki skill dan kapabilitas menjadi krisial bagi guru untuk dijalankan. Indikator perkembangan jaman telah merambah luas di area pendidikan persekolahan, berbagai tantangan muncul dengan hadirnya berbagai tekhnologi yang dijadikan sumber belajar siswa seperti: komputer, layar lebar (LCD) bahkan jejaring internet sudah tidak asing lagi di sekolah-sekolah. Siswa kini lebih percaya dan lebih berminat pada media elektronik sebagai media pembelajaran, sehingga seorang guru, karena guru yang hakiki adalah insan pendidik bukan alat melainkan hanya instrumen pembelajaran.
Alasan lain guru supaya memilki skill dan kapabilitas pada perkembangan jaman adalah keseimbangan hak dan kewajiban guru. Sering didengungkan di berbagai media dan kegiatan bahwa kalau ingin hidup mewah, kaya dan bahagia bidiklah visi menjadi guru. Terbukti perjalanan guru pasca disahkannya UU no. 14 tahun 2005 kesejahteraan guru lebih ditingkatkan. Pemerintah harus menyerah dengan perjuangan PGRI yang terus berjerih payah memenangklan hak-hak guru untuk direalisasikan. Dulu guru-guru melakukan demonstrasi untuk mengaduh nasibnya kepada pemerintah karena insentif yang di peroleh kurang begitu memuaskan. Haris Supratno dalam orasi ilmiahnya melafadkan prospek guru dimasa depan akan lebih baik bila dibandingkan pada saat ini akan dilihat dari 3 aspek yaitu melalui peningkatan profesionalisme, pemberian perlindugan pada saat menjalankan profesinya, dan pemberian kesejahteraan pada guru. terbukti guru lebih banyak mendapat tunjangan, bahkan yang namanya program sertifikasi menghasilkan satu kali gaji pokok. Terlepas dari kesejahteraan, guru jangn mau melihat sebelah mata hanya pada haknya, kewajibannyapun perlu ditingkatkan dan dikembangkan dengan salah satunya menguasai skill dan kapabilitas dalam mengajar. Jangan malah dilirik profesi lain yang berpoteni masalah karena tidak seimbangnya antara porsi hak dan kewajibannya.
Dengan skill dan kapabilitas pula dapat membetahkan dan menyamankan diri peserta didik dalam menempuh pendidikan. Siswa yang butuh akan penghargaan dan pemberdayaan senantiasa direspon secara maksimal oleh guru. Perasaan menyenangkan dalam proses pendidikan ternyata membuahkan hasil yang maksimal terhadap pemuasan isi dan materi pendidikan. Kalau guru telah memiliki skill dan kapabilitas isi atau materi pelajaran bagi peserta didik bagaikan menu utama dalam hidangan yang sudah siap santap. Andaikan tiap guru seperti itu maka semua output pendidikan akan lebih terjamin kualitasnya. Sesuai pituah perdana menteri Vietnam “Dipundak gurulah peserta didik dibentuk”. Tetapi guru yang apriori terhadap skill dan kapabilitasnya esensinya ingin menghancurkan dan mencuramkan wajah pendidikan. Dan pendidikan tidak pernah lagi menghasilkan induvidu yang cerdas, tetapi individu yang malas yang sebenarnya bermula pada keberangkatan guru dalam meniti rel-rel pendidkan . Jika seorang guru berangkat karena panggilan jiwa maka segala usaha untuk meningkatkan mutu dirinya demi pendidikan pasti dimanifestasikan dalam bentuk tindakan.
Begitu mahalnya harga jual skill dan kapabilitas guru hingga harus berakibat vatal terhadap lapisan pendidikan , jika hal itu terjadi, kompetisi yang kian memanas saat ini menunjukkan rambu-rambu pada guru utuk senantiasa dapat mengkontruksi kembali nilai-nilai keprofesionalannya melalui menghidupkan kayu bakar skill dan kapabilitas.
DAFTAR PUSTAKA

Supriadi, D. 1998. Manajemen dan Kepemimpinan. Jakarta: Depdikbud.
Tilaar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Indonesia Tera.
Musaheri. 2007. ke-PGRI-an. YOGJAKARTA. Diva press.
Musaheri. 2006. Perkembangan peserta didik untuk memiliki kompetensi pedagogik. YOGYAKARTA. PUSTAKA PELAJAR
Samsudin, Abin. 2006. Pengantar pendidikan. JAKARTA. UT (Universitas Terbuka)
Sudjana, Nana.1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung. Sinau Baru

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

jskueoloau

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Kategori

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0