Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Grebeg Suran, Melestarikan Keramahan Wali Songo
Grebeg Suran, Melestarikan Keramahan Wali Songo
0 Komentar | Dibaca 1098 kali

Laa ikraha fid-diin (Tidak ada paksaan dalam agama, al-Baqoroh : 256), kiranya ayat ini konsisten diamalkan para wali dalam proyek besar Islamisasi di Nusantara. Agama tidak cukup mewadahi arti kata ad-diin yang seringkali dimaknai pandangan hidup, sistem, bahkan ideologi.

Maka selama 13 tahun di Makkah, 360 buah patung yang menghiasi Ka’bah tidak pernah diganggu Kanjeng Nabi. Setelah hijrah di Madinah dan berhasil memenangkan berbagai pertempuran (Badar, Uhud, dan Khandaq), Kanjeng Nabi pun sama sekali tidak berniat melakukan agresi terhadap 360 berhala penguasa Ka’bah, walaupun umat Islam pun sholat dan berhaji di Ka’bah. Baru setelah tahun ke-8 Hijriyah dengan peristiwa pembebasan Kota Makkah, 360 berhala diruntuhkan dengan sukarela atas inisiatif penduduk Makkah sendiri. Saat itu, penduduk Makkah berbondong-bondong masuk Islam yang diceritakan dalam ayat waro aitan-nasa yad-huluna fii dinillahi afwajan (dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, an-Nashr : 2)

Dakwah Damai Tanpa Intimidasi

Dakwah damai, penuh rahmat, tanpa paksaan dan menjaga harmoni sosial budaya inilah yang dipraktekkan langsung cucu Kanjeng Nabi Maulana Malik Ibrahim di Jawa. Sifat pendakwah bukanlah melakukan pertentangan kelas sosial dalam masyarakat, namun merangkul dan melindungi seluruh komponen dan kekayaan sosial masyarakat. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran, 159). Intinya, manusia ber-Tuhan (sholat, puasa, dzikir, dan lainnya) tidak boleh dalam paksaan, intimidasi, bahkan agresi (serangan). Manusia, hanya boleh dipaksa untuk tidak boleh berbuat kejahatan keduniaan (mencuri, membunuh, dan lainnya). Ibadah yang dalam paksaan, bukan atas dasar kesadaran, keinginan, dan keikhlasan, tidak bernilai di sisi Allah. Hanya dengan inilah, janji Islam rahmatan lil ‘alamiin (Islam sebagai kasih sayang terhadap seluruh umat dan seluruh makhluk) akan terwujud. Rahmat (kasih sayang) yang dijanjikan Allah, bukan paksaan dan intimidasi.

Hal itu terlihat jelas dengan sikap ramah Kanjeng Nabi dengan seluruh kelas sosial, termasuk pencuri dan penzina. Untuk seorang yang ketagihan berbuat kriminal, Kanjeng Nabi hanya berwasiat kejujuran. Sikap ramah serupa juga dipraktekkan Kanjeng Sunan Bonang ketika mendidik Kanjeng Sunan Kalijogo muda yang gemar mencuri harta kedua orang tuanya untuk bersedekah. Kemudian, Kanjeng Sunan Kalijogo memilih menawarkan beragam kesenian yang ber-Ketuhanan secara damai untuk memberi ruh baru (Islam) bagi kebudayaan Jawa. Tidak ada intimidasi, Islam di Jawa berkembang atas dasar kesadaran.

Tak heran, bila 350 tahun dijajah Belanda dengan membawa proyek Gospel (penyebaran agama), Islam Nusantara sama sekali tidak goyah. Tidak ada pemurtadan besar-besaran seperti di India (setelah runtuhnya Dinasti Mughol oleh Inggris) dan Spanyol (runtuhnya Dinasti Umayyah). Islam yang diwariskan Wali Songo memang ‘tidak berkerudung’ secara fisik, namun terbukti lebih berkerudung keimanan dalam hatinya. Sekali lagi, beragama adalah tanpa paksaan dan intimidasi.

Grebeg Suran dan Wadah Keberagaman

Keramahan Kanjeng Nabi yang dilanjutkan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo, inilah yang ingin kami warisi. Mereka yang berbeda dengan kami, bukan untuk dibenci, dijauhi, dijelek-jelekkan, dilaknati terlebih diintimidasi. Jika demikian sikap kita dalam melihat perbedaan, maka yang lahir adalah ketegangan sosial, perpecahan, permusuhan, bahkan perang saudara. Kerukunan sosial yang selama ini telah terbangun tiba-tiba hancur, karena datangnya sebuah agama yang hanya menghendaki keseragaman. Agama yang melahirkan bencana sosial.

Kata Kanjeng Nabi, Allah bersama persangkaan hambanya. Kami yakin, jika kita berprasangka baik terhadap saudara kita lainnya, maka Allah akan menyambungkan kita dalam kasih sayang. Wa kadzalika ja’alnakum ummatan wasathan ( dan demikian, Kami telah menjadikan kalian umat yang tengah-tengah –adil/toleran-, al-Baqoroh, 143). Nah, cita-cita kami ingin mengembangkan kelompok tengah ini, mengembangkan sikap toleran (tasamuh), dan menolak sikap ekstrem (keras dan kasar). Ummatan wasathan dibuktikan dengan kemampuannya menjangkau warna-warni keberagaman kelompok masyarakat. Seperti juga rahmat Islam, dibuktikan dengan rasa kasih sayang dipancarkan dari seorang pendakwah.

Kanjeng Sunan melahirkan wayang kulit, sebagai kritik terhadap sikap ekstrem pengharaman mutlak gambar dan patung, tanpa melihat konteks pelarangan pengunaan gambar dan patung di zaman Kanjeng Nabi. Wayang kulit bukan gambar manusia, sebab tidak ada manusia dengan rupa fisik baik seperti Semar dan Arjuna. Kami tidak membenci kebudayaan modern, dari musik keroncong, melayu hingga beragam musik populer. Kami hanya ingin meniru Kanjeng Sunan, yang memberikan ruh ke-Tuhanan dalam seluruh kebudayaan modern kita. Ketuhanan berhak dan wajib dijadikan dasar dalam setiap gerak bermasyarakat sebagai perwujudan Pancasila.
Terakhir, menjadi wajib untuk setiap masyarakat memiliki wadah rekonsiliasi (kerukunan) untuk menjaga persatuan, harmoni, dan kesejukan berkehidupan. Nah, kami bersama Bapak Kepala Desa mengijtihadkan (menawarkan) Grebeg Suran ini sebagai wadah keberagaman dan kebersamaan untuk menjadi salah satu benteng pengikat persaudaraan warga desa Baturan. Tanpa adanya instrumen sosial seperti ini, kerukunan masyarakat akan terkikis individualisme dan mudah sekali dipecah belah dengan isu dan provokasi.
Akhirnya, niat kami hanya untuk meninggikan agama Allah yang menghendaki kasih sayang dan perdamaian. Kami undang seluruh warga untuk berpartisipasi dan melestarikan Grebeg Suran, baik hadir sebagai pengunjung Bazar dan Pentas Seni, memberikan satu bungkus door prize, tampil sebagai bintang tamu di panggung, menjadi donatur, hingga masuk dalam kepanitiaan

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....
Tags :  

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

KARINA APRIANTI

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0