Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Hati Yang Bersih
Hati Yang Bersih
0 Komentar | Dibaca 531 kali

Saat ditunjuk oleh Yayasan menjadi Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), program pertama saya adalah sholah dhuha berjamaah tiap pagi. Idealisme saya, madrasah harus berciri dengan pembiasaan amaliyah. Namun, di hari pertama program itu berjalan, saya baru memahami bahwa mengajar anak-anak selepas usia balita, jauh lebih sulit dibandingkan mengajar anak usia SMK. Sebelum ditunjuk menjadi Kepala Madrasah dadakan, saya mengajar di SMK Swasta selama tiga tahun.

Pertama, tidak ada murid SMK yang ramai. Jika ada, satu rombel yang terdiri dari lima belas siswa itu, dengan sebuah tatapan mata selesai sudah masalah. Kedua, tidak ada siswa SMK yang hobi menangis.

Hari pertama, sebelum sholat dhuha dimulai yang direncanakan dengan membaca surat-surat pendek secara berjamaah sambil menunggu siswa-siswa lain yang antri wudhu, kacau balau.

Sebagai guru MI dadakan, saya shock hebat. Kemudian, saya berteriak beberapa kali untuk menguasai keadaan. Tapi gagal. Semakin gagal saat sholat dimulai. Siswa membaca niat dengan gaduh, dan saya seolah-olah membaca Al-Fatihah sendirian. Di belakang saya, hingga rekaat pertama selesai, kegaduhan belum selesai. Siswa-siswa yang telat bergabung, menambah runyam cerita.

Saya telah kehilangan sholat saya. Hati galau menguasai seluruh gerakan sholat. Takbir saya yang super keras, gagal total. Selesai sholat, saya berdiri memberikan cerita singkat dan nasehat. Kegaduhan belum berhenti. Saya terpancing, untuk kembali berteriak. Namun tiada hasil. Satu siswa kacau, seluruh jamaah dhuha berantakan. Satu siswa melakukan dorongan, tiba-tiba shaff bubar.

Hari kedua dan ketiga gagal. Kegaduhan itu mereda, setelah saya dibantu oleh salah seorang guru sebagai pengawas. Tetap saja dibutuhkan beberapa teriakan agar anak-anak belajar mengerti sholat. Yang paling membuat meradang, beberapa siswa kelas VI menjadi biang keladi.

Memilih Bahagia

Namun beberapa teriakan itu membuat hati saya kotor. Saya tersadar, jika saya terus berteriak untuk menertibkan siswa, maka diri saya akan rusak. Kesalahan saya, berteriak dengan marah dan jengkel. Bahkan yang benar, berteriak tanpa kemarahan pun tetap akan merusak hati dan jantung saya. Saya berteriak dengan nada petugas rantib. Marah itu penyakit berbahaya bagi jiwa. Marah sebatas kecewa dan tidak puas pun penyakit serius bagi kesehatan. Jika tidak waspada, ketidakpuasan akan berubah menjadi kelelahan mental tak terobati.

Saya tersadar, setelah saya mengucap takbir dengan menghela nafas panjang. Kecewa dengan celotehan para siswa. Bagaimana sholat tanpa hati gembira akan diterima Tuhan? Jika demikian terus, saya merusak diri sendiri. Saya yang dididik untuk memiliki karakter al-inshof (kerelaan hati), dengan mudah menangkap sebuah tanda. Saat hati panas, saya mulai tersesat dari kebenaran. Kejengkelan itu akan mengganggu fungsi hati, baik hati dalam makna ruhani dan hati dalam pengertian organ tubuh. Bagaimana hati yang kotor dapat memberikan pencerahan kepada seluruh penghuni madrasah? Untungnya, di minggu kedua saya berhasil menga