Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Hati Yang Bersih
Hati Yang Bersih
0 Komentar | Dibaca 480 kali

Saat ditunjuk oleh Yayasan menjadi Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), program pertama saya adalah sholah dhuha berjamaah tiap pagi. Idealisme saya, madrasah harus berciri dengan pembiasaan amaliyah. Namun, di hari pertama program itu berjalan, saya baru memahami bahwa mengajar anak-anak selepas usia balita, jauh lebih sulit dibandingkan mengajar anak usia SMK. Sebelum ditunjuk menjadi Kepala Madrasah dadakan, saya mengajar di SMK Swasta selama tiga tahun.

Pertama, tidak ada murid SMK yang ramai. Jika ada, satu rombel yang terdiri dari lima belas siswa itu, dengan sebuah tatapan mata selesai sudah masalah. Kedua, tidak ada siswa SMK yang hobi menangis.

Hari pertama, sebelum sholat dhuha dimulai yang direncanakan dengan membaca surat-surat pendek secara berjamaah sambil menunggu siswa-siswa lain yang antri wudhu, kacau balau.

Sebagai guru MI dadakan, saya shock hebat. Kemudian, saya berteriak beberapa kali untuk menguasai keadaan. Tapi gagal. Semakin gagal saat sholat dimulai. Siswa membaca niat dengan gaduh, dan saya seolah-olah membaca Al-Fatihah sendirian. Di belakang saya, hingga rekaat pertama selesai, kegaduhan belum selesai. Siswa-siswa yang telat bergabung, menambah runyam cerita.

Saya telah kehilangan sholat saya. Hati galau menguasai seluruh gerakan sholat. Takbir saya yang super keras, gagal total. Selesai sholat, saya berdiri memberikan cerita singkat dan nasehat. Kegaduhan belum berhenti. Saya terpancing, untuk kembali berteriak. Namun tiada hasil. Satu siswa kacau, seluruh jamaah dhuha berantakan. Satu siswa melakukan dorongan, tiba-tiba shaff bubar.

Hari kedua dan ketiga gagal. Kegaduhan itu mereda, setelah saya dibantu oleh salah seorang guru sebagai pengawas. Tetap saja dibutuhkan beberapa teriakan agar anak-anak belajar mengerti sholat. Yang paling membuat meradang, beberapa siswa kelas VI menjadi biang keladi.

Memilih Bahagia

Namun beberapa teriakan itu membuat hati saya kotor. Saya tersadar, jika saya terus berteriak untuk menertibkan siswa, maka diri saya akan rusak. Kesalahan saya, berteriak dengan marah dan jengkel. Bahkan yang benar, berteriak tanpa kemarahan pun tetap akan merusak hati dan jantung saya. Saya berteriak dengan nada petugas rantib. Marah itu penyakit berbahaya bagi jiwa. Marah sebatas kecewa dan tidak puas pun penyakit serius bagi kesehatan. Jika tidak waspada, ketidakpuasan akan berubah menjadi kelelahan mental tak terobati.

Saya tersadar, setelah saya mengucap takbir dengan menghela nafas panjang. Kecewa dengan celotehan para siswa. Bagaimana sholat tanpa hati gembira akan diterima Tuhan? Jika demikian terus, saya merusak diri sendiri. Saya yang dididik untuk memiliki karakter al-inshof (kerelaan hati), dengan mudah menangkap sebuah tanda. Saat hati panas, saya mulai tersesat dari kebenaran. Kejengkelan itu akan mengganggu fungsi hati, baik hati dalam makna ruhani dan hati dalam pengertian organ tubuh. Bagaimana hati yang kotor dapat memberikan pencerahan kepada seluruh penghuni madrasah? Untungnya, di minggu kedua saya berhasil mengambil kesimpulan ini.

Di titik ini, saya mengerti penyebab darah tinggi, serangan jantung hingga stroke.

Ada satu hal yang tidak benar-benar saya mengerti tentang anak-anak, mereka dalam fase bermain. Saya hanya punya satu memori, masa SD (bukan MI) saya yang hormat kepada guru. Saya hanya punya satu memori, siswa-siswa SD satu kelas yang menunduk terdiam, saat Ibu Warti melotot galak. Bukan hanya saya yang melotot, di madrasah ini seluruh guru melotot. Sayangnya, beberapa siswa super yang tidak mengerti arti guru melotot.

Kemudian, saya memilih berdamai untuk memiliki hati yang bersih. Memilih saya harus tetap sehat lahir dan batin. Jika tidak, saya akan kehilangan kebahagiaan hidup, saat setiap jam tujuh pagi masuk masjid madrasah. Saya ingin berbagi kebahagiaan. Saya harus belajar ikhlas dan sabar dalam dimensi baru.

Saya mencoba lebih banyak tersenyum, mencoba menghayati menjadi seorang ibu penyayang yang digambarkan dalam sinetron-sinetron. Ibu yang saya banggakan, cukup galak mendidik putra-putranya. Tidak ada putri cantik di keluarga kami.

Saya juga memilih kata maklum dengan kejahilan anak-anak sebagai bagian fase kebahagiaan hidup mereka. Anak-anak yang bahagia adalah anak-anak yang ‘puas bermain’. Saya juga memilih kata maklum, setelah mewancarai wali kelas masing-masing. Bertanya siapa orang tua anak-anak hiperaktif itu, kehidupan ekonomi, dan keseharian mereka.

Hari itu Sabtu, saya di-futukh (dibukakan) pengertian oleh Tuhan. Siswa kurus kecil hiperaktif itu dengan lincah memegang cangkul dan sabit membersihkan rumput halaman sekolah. Dia salah satu pusat kegaduhan di masjid dan di kelas. Namun, dia tampil sebagai profesional tukang rumput di kerja bakti pagi. Setiap hari anak itu mencari rumput untuk kambingnya. Jika musim tanam tiba, dia memegang cangkul turun ke sawah, dan ibunya sakit cukup serius.

Kabar baiknya, dua bulan kemudian, sholat dhuha berjamaah berlangsung jauh lebih menggembirakan. (http://solorayaonline.com/2012/12/20/hati-yang-bersih/)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ASEP SATRIA DWI HANGGARA

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  2
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0