Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Kang Abik dan Ayat-Ayat Cinta-nya
Kang Abik dan Ayat-Ayat Cinta-nya
0 Komentar | Dibaca 1151 kali

Dalam acara buka bersama Metro TV bersama Uje, Kang Abik (Habibur-rahman el-Shirozy) bercerita tentang ‘kecelakaan’ yang memutuskannya menjadi novelis. Selidik punya selidik, ternyata Kang Abik tidak pernah memiliki cita-cita serius menjadi seorang penulis. Semua atas kehendak dan rahasia Allah.

Setelah lulus dari Fakultas Hadits Universitas Al-Azhar, remaja masjid di kampungnya (Semarang) meminta Kang Abik membaca kitab kuning sebagai kegiatan rutinan. Tentu saja, remaja masjid ini tertarik karena nama besar Al-Azhar. Kang Abik menjadi istimewa setelah melanglang buana ke negeri piramida. Kang Abik pantang menolak permintaan berdakwah. Akhirny, remaja masjid memilih sendiri kitab yang akan dibaca (dikaji), yaitu Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali.

Kang Abik bercerita saat launching Ngaji Bidayatul Hidayatul ratusan remaja antusias hadir. Namun, minggu berjalan menjadi bulan, dan bulan terus berjalan, peserta Ngaji Kitab tinggal 5 (lima) orang, para penggagas acara itu sendiri. Tentu saja, mereka merasa gagal dan malu kepada Kang Abik, kemudian berkata, “Apakah Kang Abik masih mau mengkhatamkan Bidayah dengan 5 peserta?” Kang Abik menjawab, “Hanya seorang pesertapun saya sanggup.”

Akhirnya, Kitab Bidayatul Hidayah khatam. Maka, seperti tradisi Ngaji Kitab dibuatlah acara khataman dalam bentuk Pengajian Akbar. Eh, ratusan remaja yang bolos ngaji, tiba-tiba nongol lagi. Tidak ada yang salah, bukan? Tidak ada yang perlu dicela bagi Kang Abik.

Bukankah yang datang pengajian kemudian tertidur dijanjikan nilai yang sama dengan yang terjaga? Demikian juga yang hanya mampu mendengarkan al-Qur’an dijanjikan pahala yang sama dengan yang membaca. Tentu saja, yang mendengar pengajian dengan serius dan membaca al-Qur’an memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Nah, khusnudzan saja, semoga Allah memberikan pahala khatam Bidayah kepada seluruh yang hadir.

Lalu, apa hubungannya dengan novel monumental tadi? Begini, setelah kegagalan majelis Kitab Kuning tadi, Kang Abik merenung serius. Dakwah model apa yang cocok bagi para remaja. Ingat, mereka tidak tinggal di pesantren yang terikat dengan mengaji dan mengaji. Mereka remaja yang bebas memilih apa yang mereka suka. Akhirnya, Kang Abik mengadakan observasi ringan. Diketahuilah Kang Abik bahwa remaja menyukai dua hal, komik dan novel-novel cinta. Itulah bacaan para remaja, bukan kitab-kitab fiqh, tafsir ataupun tasawuf yang tebal-tebal. Mereka menyukai bacaan ringan yang menghibur dan menyentuh perasaan.

Remaja sedang menghadapi masa pubertas, masa ketertarikan dengan lawan jenis, masa cinta monyet, dan masa mendefinisikan diri. Maka, yang mereka butuhkan adalah cerita-cerita, tokoh-tokoh, dan imaginasi-imaginasi untuk menjadi patron (teladan) dan nilai bagi kehidupan mereka.

Maka, bulatlah hati Kang Abik untuk menulis sebuah novel inspiratif. Namun, Kang Abik harus berani melawan arus. Sebagai pendakwah, dia harus menulis novel percintaan Islami yang saat itu bukan merupakan trend bagi penerbit. Teringatlah Kang Abik dengan sebuah cerpen yang ditulisnya di Mesir. Berbekal Bismillah terbitlah Ayat-Ayat Cinta yang diluar dugaan menjadi salah satu novel paling laris dengan genre baru, cinta ala mahasiswa Al-Azhar.

Keberuntungan Kang Abik berlanjut, novel Best Seller-nya kemudian muncul di Bioskop dalam bentuk film yang tidak kalah laris. Kang Abik pun tiba-tiba kebanjiran job dari permintaan menjadi pengajar (dosen), pembicara, bahkan pembuatan serial TV (termasuk mengaudisi para pemain, lho?). Lalu, bermunculanlah beragam novel dengan tema Cinta Islami, dari cinta ala pesantren, cinta ala ustadz/ustadzah, cinta ala aktivis kampus, dan sebagainya dari banyak penulis baru. Nah, itu kan kayak amal jariyah bagi Kang Abik. Semuanya berawal dari ratusan anak yang bolos Ngaji Kitab Bidayatul Hidayah.

Nah, kalo dakwah gagal seharusnya Pak Ustadz tidak boleh marah-marah, dia harus lebih kreatif lagi menjawab metode dakwah bil-hikmah wal mauidzotul hasanah (dengan hikmah dan nasehat yang baik) yang direkomendasikan al-Qur’an. Itulah hasil perjuangan yang ikhlas dan tidak kenal menyerah. Akhirnya, Allah membuat segalanya menjadi manis dan indah.

Siapa ingin menyusul, Kang Abik? (http://solorayaonline.com/2012/08/22/kang-abik-dan-ayat-ayat-cinta-nya/)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Kharisa Ayu

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  23
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0