Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Mengharap Berkah Langit (Suara Mahasiswa Seputar Indonesia)
Mengharap Berkah Langit (Suara Mahasiswa Seputar Indonesia)
0 Komentar | Dibaca 395 kali

Energi masyarakat untuk mempertahankan kerinduannya terhadap supremasi hukum kiranya hampir habis mewujud dalam pesimisme dan apatisme. Ibarat orang kasmaran, masyarakat yang menggantungkan harapan terlalu tinggi pada janji-janji reformasi, tatkala putus harapan itu, pedihnya pun meninggalkan sayatan di hati. Reformasi hanya membuat kita semakin miskin, saling berkelahi, dan menjadikan negeri jauh dari berkah Tuhan. Hutan-hutan kita terbakar, sungai-sungai kita mengering, hujan pun kita nanti dengan doa-doa pengharapan, bahkan perut bumi kita penuh dengan siksa dan karma.

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Kampanye pemberantasan korupsi SBY-Kalla memang luar biasa, tetapi stigmam sebagai negeri koruptor belum hilang, masih hitam. Jangankan bangsa lain, bangsa kita sendiri pun masih apatis, ragu-ragu dengan kebersihan dirinya sendiri. Secara terang-terangan di depan SBY, para investor tidak berminat dengan Indonesia. Menurut mereka, Vietnam lebih menjanjikan. Kekayaan alam kita gagal menjadi daya tarik tertutupi ketamakan kita menghisap bangsa sendiri. Korupsi begitu problematis, mengakar, mencengkeram sebagai lingkaran setan.

Memang banyak koruptor dikejar, ditangkap dan dipenjara, namun banyak pula yang tiada jelas kabarnya. Mungkin ada keberpihakan, mungkin dekat dengan kepentingan kekuasaan. Mereka yang ditangkap hanyalah tumbal, jauh dari kekuatan politik di tingkat birokrasi. Oknum? Ya, negara kita terlalu banyak oknum abdi negara. Sedikit sekali, abdi negara sejati. Abdi negara yang harus berkorban, gajinya seringkali macet, diutang oleh negara.

Hidup semakin getir. Krisis tidak membuat hati bangsa ini menjadi lembut, insyaf dan semakin sederhana. Perasaan kita begitu rumit, menghitung-hitung, menghitung luka, menghitung dendam, menghitung bagian dan ketamakan. Akhirnya, bangsa ini mengalami kebusukan. Kita sulit untuk saling memaafkan, saling mengambil dan memberi yang terbaik untuk bangsa.

Kapan sebagai bangsa kita akan melakukan pertaubatan agung?Kiranya, SBY perlu menggelar acara pertaubatan nasional. Ya, kita belum pernah mengadakan penyucian diri. Hanya Arifin Ilham yang mencoba melembutkan hati dengan memuji-Nya. Menyebut-nyebut nama-Nya, mengusir setan dari hati, mengharap berkah darin langit agar bumi kita kembali menjadi penuh berkah. Tiada lagi gunung api di dasar bumi yang muntah menelan rumah-rumah kita. Agar hujan, segera turun kembali.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

AngelHutabarat

Bekerja walaupun dibalik layar
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0