Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Menjadi Bangsa yang Lebih Berbudaya
Menjadi Bangsa yang Lebih Berbudaya
0 Komentar | Dibaca 783 kali

oleh : Gerald Sebastian Davis (GER)
Indonesia merupakan negeri yang terkenal dengan kebudayaannya. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Budaya yang kita kenal itu merupakan budaya yang sifatnya fisik dan konkret.Indonesia juga mempunyai kebudayaan non- fisik yang terkenal di dunia Internasional. Keramahan budaya timur merupakan kesan pertama yang terlukis kepada setiap orang asing yang berkunjung ke negara kita.
Walaupun kita terkenal dengan keramahan, ternyata masih ada masalah yang dialami oleh kebudayaan non- fisik. Kita melihat atau bahkan melakukan hal yang menjadi masalah itu tanpa kita sadari. Orang Indonesia sudah menganggap itu sebagai rutinitas. Inilah yang menyebabkan negara kita tertinggal dari negara-negara lain. Apa sebenarnya masalah dengan kebudayaan non- fisik kita?
Sebenarnya, masalah kebudayaan non- fisik kita terletak pada tingkah laku yang masyarakat anut dalam kesehariannya. Di zaman modern ini masyarakat terpengaruh akan budaya buruk yang menguasai diri setiap individu. Budaya buruk dapat dikelompokkan dalam kelompok etika, spirit, dan globalisasi.
Kehidupan manusia adalah kehidupan yang mempunyai kebiasaan. Kebiasaaan merupakan suatu tindakan yang bersifat kontinyu. Saat ini umumnya kebiasaan orang Indonesia, dikenal sebagai kebiasaan buruk. Contoh konkret yang terjadi di lapangan seperti tidak memperhatikan orang yang sedang berbicara. Hal ini jelas bertentangan dengan kebiasaan timur yang dikenal mengusung prinsip saling menghormati. Contoh lain adalah kebiasaan berkata kasar. Perkataan tersebut celakanya sudah mendarah daging, bahkan balita pun tahu dan menirukan kebiasaan buruk itu. Hal-hal seperti ini merupakan masalah besar yang sampai saat ini belum menemui titik terang.
Masalah dalam kebudayaan non- fisik juga terjadi pada spirit masyarakat yang tidak terbentuk dengan baik. Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya penyebab pengangguran bukan karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan semata, tetapi karena tidak adanya spirit kerja keras dari masyarakat itu sendiri. Penulis menemui di lapangan, para pengangguran akan bersantai-santai jika sudah mendapatkan uang walaupun sangat sedikit dan uang itu akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang ‘tidak perlu’ seperti membeli rokok dan secangkir kopi. Selain itu contoh lain terdapat pada tindakan suap. Sekarang, timbul presepsi dalam masyarakat bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan uang, sekalipun itu melanggar hukum. Hal ini merupakan ancaman-ancaman yang akan dihadapi di masa mendatang.
Selain itu, globalisasi juga menimbulkan masalah yang besar. Seperti yang kita tahu, globalisasi merupakan masalah dalam kebudayan non- fisik yang paling sering kita rasakan. Penyebabnya adalah masuknya budaya asing yang lama-kelamaan dapat melunturkan kebudayaan kita. Kebudayaan asing tersebut seperti mengikuti gaya bicara yang kurang sopan, memanggil orang tua dengan nama, mengkonsumsi minuman beralkohol dan sebagainya. Hal ini tentu bertentangan juga dengan kebudayaan timur.
Namun, kita tidak usah bingung mengatasi hal-hal ini karena masih ada solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya solusi dari semua masalah ini ada dalam pendidikan. Pendidikan dianggap bisa mengatasi masalah ini karena pendidikan merupakan fondasi dalam kepribadian seseorang. Tetapi bagaimana pendidikan berperan dalam masalah ini?
Pendidikan mempunyai beberapa peran dalam mengatasi masalah ini. Peran tersebut merupakan peran mendasar dari pendidikan itu sendiri. Peran pendidikan dalam mengatasi masalah ini meliputi knowing, judging, dan acting.
Knowing merupakan tahap yang pertama. Pendidikan harus memberi tahu, apa masalah yang sedang dihadapi bangsa ini. Dengan melihat fenomena yang ada, observasi, dan tindakan pengamatan lain, siswa dapat mengetahui realitas yang ada. Selain itu pendidikan juga diwajibkan memberitahu variabel-variabel yang ada dan cara-cara masalah kebudayaan tersebut dikontekskan.
Judging merupakan tahap selanjutnya. Pendidikan selain mengajak untuk mengetahui, juga mengajak untuk memutuskan. Pendidikan berfungsi sebagai wadah pengambilan keputusan siswa. Siswa harus bisa menentukan pilihan terbaik dari dampak negatif tadi serta memberi tahu semua resikonya.
Acting merupakan tahap terakhir. Pendidikan memberikan arahan kepada peserta didik untuk bertindak menyikapi masalah tersebut. Siswa diajak untuk berbuat yang terbaik bagi diri masing-masing, lalu berbuat yang terbaik juga bagi orang lain. Bentuknya bisa dalam pendirian individu, ajakan, slogan, perbuatan konkret, dan sebagainya.
Masalah yang timbul harus dibenahi. Tadi sudah dipaparkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebudayaan non-fisik di negeri kita ini. Sudah saatnya kita merubah semuanya, memperbaiki diri kita dan lingkungan kita. Oleh karena itu, keinginan yang kuat harus ada dalam diri kita serta kerinduan kita terhadap majunya Indonesia. Marilah berubah mulai dari sekarang!

Gerald Sebastian Davis
Pelajar, Jakarta

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Dedy Iswana

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  8

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0