Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 DI DAERAH
PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 DI DAERAH
1 Komentar | Dibaca 2717 kali

KURIKULUM 2013:SIAP TAK SIAP, HARUS SIAP

 

            Meski kehebohannya sudah sejak tahun lalu, bahkan dibeberapa daerah sudah diberlakukan, namun untuk dunia pendidikan di Kalimantan Barat pada umum nya Kurikulum 2013 baru disosialisasikan baru-baru ini, dimna bulan Juli 2014 nanti pada saat Tahun Ajaran 2014/2015 di mulai, Kurikulum 2013 wajib diberlalukan serentak diseluruh tingkatan sekolah di Indonesia. Bulan-bulan ini sosialisasi kurikulum untuk guru sudah digalakan, ada yang diadakan oleh Dinas Pendidikan, ada yang melalui MKKS,MGMP bahkan dilakukan secara swadya mandiri oleh sekolah tersebut.

Karena betapa pentingnya pemahaman konsep tentang esensi kurikulum bagi guru dalam tugas kesehariannya dalam manajemen pembelajaran di kelas berhadapan dengan siswa nya. Tentu kebijakan tersebut harus di sambut oleh siapa pun yang ada dalam dunia pendidikan baik itu siswa sebagai, guru, lembaga pendidikan, orang tua siswa dan bahkan masyarakat umum sendiri. Dilihat dari dasar hukumnya, Kurikulum 2013 dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Mengapa Kurikulum Harus Diganti?

            Tentu dalam benak sebagian masyarakat bertanya,mengapa kurikulum selalu diganti?atau sesuai pemeo yang berkembang “ganti menteri,ganti kebijakan,ganti kurikulum?”, banyak sekali pertanyaan bahkan pada awal rancangan nya Kurikulum 2013 juga dibuat uji publik agar masyarakat bisa bertanya, berargumen, mengkritisi bahkan bisa memberikan solusi untuk kesempurnaan kurikulum pengganti Kurikulum Standar Isi 2006 tersebut. Sebagai sebuah kebijakan baru, tentu akan mendapat respon yang luas dimasyarakat, baik itu resfon positif dengan mendukungnya, bahkan resfon negatif tentu tak bisa di elakan.

Mengenai makna perubahan kurikulum, bila kita bicara tentang perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa kurikulum digunakan. Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam proses pembelajaran. Kurikulum dapat juga dilihat sebagai produk yaitu apa yang diharapkan dapat dicapai siswa dan sebagai proses untuk mencapainya. Keduanya saling berinteaksi. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

            Kurikulum 2013, tentu lahir bukan karena sekedar ingin trend mengganti sebuah kebijakan, tapi sebuah keharusan tuntutan keadaan Indonesia kini dan mendatang. Karena dengan merubah kurikulum kita berharap ada perubahan dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan merupakan salah satu factor penting untuk mendukung bangsa yang berkualitas dan bangsa yang maju,bangsa yang maju dapat dilihat banyak penduduk-penduduk bangsanya bermutu dalam pendidikan sehingga dapat memberikan manfaat pada Negara sendiri dan mengakat nilai derajat bangsa itu sendiri. Bedasarkan survey United Nations Educational Scientific and Cultural Organization(UNESCO), menyatakan perkembangan pendidikan diwilayah Asia Pasifik  untuk Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 sedangkan penilaian data Kualitas pendidik di Indonesia menduduki peringkat level 14 dari 14 Negara masih berkembang . Padahal,jika  kita dapat bandingkan Negara Indonesia sebagai Negara memiliki Sumber segala Potensi dengan Negara Vietnam sebagai Negara baru merdeka,Negara ini sudah menduduki tingkat atas dua tingkat dari indoensia didapati ukur dalam pendidikannya dengan masyrakat pandai membaca lebih cepat,sedangkan jika Indoensia diukur dengan Perkembangan Pendidikan tingkat dunia Indonesia menduduki peringkat 39 dari 42 negara berkembang didunia

            Perubahan kurikulum juga bukan sekedar karena peringkat kualitas pendidikan kita yang rendah, tetapi juga tantangan masa depan yang semakin kompleks, tahun 2020-2030 kita akan berhadapan dengan Bonus Demografi dimana jumlah usia produktif akan menjamur, daya saing dituntut tinggi, jika kualitas pribadi manusia Indonesia rendah akan menjadi bencana. Oleh karenanya proses pendidikan tidak hanya sekadar mempersiapkan anak didik untuk mampu hidup dalam masyarakat kini, tetapi mereka juga harus disiapkan untuk hidup di masyarakat yang akan datang yang semakin lama semakin sulit diprediksi karakteristiknya. Dalam kajian sosiologis, kesulitan memprediksi karakteristik masyarakat yang akan datang disebabkan oleh kenyataan bahwa di era global ini perkembangan masyarakat tidak linier lagi. Perkembangan masyarakat penuh dengan diskontinuitas. Oleh karena itu, keberhasilan kita di masa lalu belum tentu memiliki validitas untuk menangani dan menyelesaikan persoalan pendidikan masa kini dan masa yang akan datang.

Esensi Kurikulum 2013.

Pada dasarnya Kurikulum 2013 menuntut banyak perubahan mulai dari jumlah mata pelajaran, manajemen sekolah dan guru, pengadaan buku dan silabus hingga penerapan sistem pembelajaran berbasis tematik integratif. Sistem pembelajaran berbasis tematik integratif ini telah dijalankan di banyak negara, seperti Inggris, Jerman, Prancis, Finlandia, Skotlandia, Australia, Selandia Baru, sebagian Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan Filipina. Penambahan jam belajar di sekolah dianggap masih sesuai karena dibandingkan negara lain, Indonesia terbilang masih singkat durasinya untuk anak usia 7-9 tahun. Semua unsur yang berperan di dalamnya harus mau berubah dan bekerjasama demi menjawab tantangan zaman. Dilihat dari strategi, kurikulum baru ini akan menekankan pada model pembelajaran tematik yang mengarah pada pendidikan karakter. Pendidikan bersifat tematik menitikberatkan pada mata pelajaran yang membentuk sikap untuk siswa sekolah dasar (character building), mengasah keterampilan untuk siswa SMP, dan membangun pengetahuan untuk siswa SMA.

Perbedaaan yang signifikan pada kurikulum baru, adalah adanya pengurangan mata pelajaran dan penambahan jam belajar. Ada empat elemen perubahan dalam Kurikulum 2013, yakni Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi (kompetensi inti dan kompetensi dasar), Standar Proses, dan Standar Penilaian. Kemudian, jumlah mata pelajaran untuk anak SD yang semula 10 mata pelajaran dipadatkan menjadi 6 mata pelajaran, yaitu Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Seni Budaya. Bahasa Inggris termasuk dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang Merah Remaja (PMR), UKS, dan Pramuka. Sementara, untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak tujuh mata pelajaran dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 10 mata pelajaran.

Empat mata pelajaran yang dulu berdiri sendiri, yaitu IPA, IPS, muatan lokal, dan pengembangan diri, di kurikulum baru SD akan diintegrasikan dengan enam mata pelajaran lainnya. Untuk mata pelajaran IPA akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Mata pelajaran IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Sedangkan mulok dan pengembangan diri akan dikaitkan dengan Seni Budaya Di tingkat sekolah menengah atas, penjurusan dihapuskan sehingga pelajar bisa memilih mata pelajaran yang diminatinya. Metode pengajaran dibuat untuk merangsang keaktifan siswa..

Pemadatan mata pelajaran akan membuat kurikulum ini mengharuskan anak-anak belajar lebih lama di sekolah. Untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam seminggu bertambah menjadi 30-32 jam seminggu. Sedangkan untuk kelas IV-VI yang semula belajar selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah menjadi 36 jam per minggu. Selain itu administrasi pembelajaran juga berubah, administrasi pembelajaran yang paling penting adalah silabus dan RPP. Untuk silabus sudah disiapkan oleh pemerintah, sehingga guru tinggal membuat RPP. Di dalam pembuatan RPP hal penting yang harus ditulis adalah proses pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan menyimpulkan.

Penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Dalam penilaian autentik tidak hanya mengandalkan tes tulis, tapi banyak jenis model tes misal porto folio. Salah satu perbedaan kurikulum 2013 dengan kurikulum terdahulu adalah model rapor. Pada kurikulum sebelumnya skala nilai dari 0 hingga 100, sedangkan untuk aspek afektif menggunakan huruf A, B, C, D. Pada kurikulum 2013 skala nila tidak lagi 0 – 100, melainkan 1 – 4 untuk aspek kognitif dan psikomotor, sedangkan untuk aspek afektif menggunakan SB = Sangat Baik, B = Baik, C = Cukup, K = Kurang. Skala nilai 1 – 4 dengan ketentuan kelipatan 0,33.

Bagaimana menyikapi perubahan kurikulum?

            Sebagai sesuatu yang baru, Kurikulum 2013 dalam implementasinya nanti pada awalnya pasti akan ada maslah, dalam kajian sosiologis ada teori perubahan Multilineal diamana setiap perubahan akan membawa dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Sudah barang tentu kita berharap penerapan kurikulum baru membawa dampak yang positif bagi peningkatan kualitas anak bangsa kedepan, memberikan bekal yang signifikan dalam mengarungi masa depan. Tentu ada pihak-pihak yang siap tidak siap, harus siap menjalankan dan melaksanakan kurikulum baru tersebut.

Pihak yang paling penting dan harus memahami Kurikulum 2013 adalah Guru, padahal menutut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) perubahan kurikulum 2013 dalam penyusunan nya sejak awal tidak pernah melibatkan guru. Mengapa guru menjadi pihak yang penting? Karena guru adalah pihak yang mengimplementasikan kurikulum dalam satuan pendidikan. Hakikat kurikulum itu ada pada guru, jika guru tidak bisa mendalami kurikulum yang berlaku, maka tujuan pendidikan yang diinginkan tidak akan tercapai. Sebaik apapun kurikulum tersebut, tidak akan membuahkan hasil jika guru tidak mampu melaksanakannya. Kurikulum 2013, sebenarnya merupakan suatu konsep kurikulum yang mendorong pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa dituntut untuk aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran dan guru dengan segala keilmuannya tidak hanya berperan sebagai pengajar tapi dituntut untuk menjadi inspirator. Pembelajaran lebih mengoptimalkan daya pikir dan kreativitas siswa untuk menambah keterampilan dan pengetahuannya, belajar menemukan melalui eksperimen. Perbedaan yang mendasar dengan kurikulum sebelumnya adalah, guru tidak lagi menerapkan metode berceramah dan bukan hanya satu-satunya sumber pengetahuan, bisa saja siswa mendapatkan pengetahuan dari sumber lainnya, seperti dari internet. Dapat kita bayangkan jika masih ada guru yang “buta kayu” dengan perkembangan teknologi internet dan masih menggunakan cara-cara lama dalam proses belajar mengajarnya.

Peran Sekolah baik milik pemerintah maupun swasta amat vital dalam implementasi kurikulum baru, karena diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan guru dalam melaksanakan proses KBM, serta menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan lembaga pendidikan. Orang tua juga siswa juga harus memahami Kurikulum 2013 dimaksud, dengan mengetahui orang tua dapat mendukung dan memberikan pemahaman kepada anaknya bagaimana perkembangan pelajaran yang di dapat, serta kegiatan ekstra yang diwajibkan seperti Pramuka dan PMR, orang tua haruslah mendukung. Steakholder berikutnya yang tak kalah penting adalah pemerintah. Peran pemerintah pusat maupun daerah bukan hanya berperan memberikan kewajiban pendanaan untuk operasional sekolah dan tunjangan guru sebagaimana diamanatkan UUD 1945, tetapi juga regulasi atau kebijakan-kebijakan yang berpihak dalam peningkatan dunia pendidikan di daerah. Kita berharap kepada para pemimpin yang baru duduk hasil Pileg 2014 lalu dapat melakukan analisis SWOT terhadap dunia pendidikan di daerah yang masih mengalami kendala dan merumuskan regulasi dalam peningkatan dunia pendidikan.Semoga

           

                                                            (Ahmad Satim,staf pengajar SMA N 1 Sintang)

 

_

“ganti menteri,ganti kebijakan,ganti kurikulum?”

/b

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 DI DAERAH"

  1. Rizki Megawati

     |
    June 26, 2014 at 7:59 am

    Semangat Indonesia..

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Raden Sudrajat

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0