Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN WAHIDI’S METHOD
PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN WAHIDI’S METHOD
0 Komentar | Dibaca 2550 kali

BEST PRACTICE GURU
DALAM TUGAS PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN PENDEKATAN WAHIDI’S METHOD

OLEH
AGUS WAHIDI, S.Pd, M.Pd
NIP. 197508252006 04 1005
GURU KIMIA SMA NEGERI 1 SINGKAWANG

DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN MENENGAH
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2014

LEMBAR PENGESAHAN

Naskah esay karya guru yang berjudul ” Guru Sejati adalah Guru Berprestasi”.
Penulis : AGUS WAHIDI, S.Pd, M.Pd
Jabatan : Guru Mata Pelajaran Kimia
Kota Singkawang
Provinsi Kalimantan Barat
Benar-benar merupakan karya asli saya dan tidak merupakan plagiasi. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa karya ini merupakan hasil plagiasi, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Menyetujui dan Mengesahkan :
Singkawang, 12 Mei 2014

Kepala Sekolah Penulis,

Helmi MK, S.Pd, M.Pd Agus Wahidi, S.Pd, M.Pd
NIP. 195604051977031014 NIP. 197508252006041005

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah S.W.T dan Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad S.A.W . Saya bersyukur karena dapat menyelesaikan pembuatan makalah penelitian ini. Hal ini tidak lepas dari kuasa Allah dan karunia Nya yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya pada alam pikiran saya, kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan karya ini.
Saya sadar pengetahuan saya masih perlu ditambah lagi dan karya ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan dan perlu perbaikan. Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada :
Helmi MK, S.Pd, M.Pd , selaku Kepala Sekolah SMA Negeri1 Singkawang.
Rekan-rekan guru SMA Negeri 1 Singkawang.
Sutardi, S.Si, M.Sc sebagai mitra penulisan LKS Solusi Mahir KImia
Saya sadar karena manusia jauh dari kesempurnaan, tapi saya berusaha untuk menuju pada kesempurnaan. Jadi dengan tulisan ini semoga bermanfaat bagi pembacanya. Saya selalu terbuka jika ada kritik dan saran dalam rangka perbaikan tulisan ini.
Semoga Allah memberkahi segala amal dan ibadah kita . Amin.

Singkawang, 5 Mei 2014

Agus Wahidi, S.Pd, M.Pd

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
ABSTRAK v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
PENDAHULUAN 1
LATAR BELAKANG MASALAH 1
IDENTIFIKASI MASALAH 4
PENDEKATAN MASALAH 5
MANFAAT 5
PEMECAHAN MASALAH 6
HASIL YANG DICAPAI 10
SIMPULAN DAN SARAN 12
DAFTAR PUSTAKA 13
LAMPIRAN –LAMPIRAN 14

PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN PENDEKATAN WAHIDI’S METHOD

ABSTRAK, penulisan makalah ini berdasarkan pengalaman pribadi melakukan pembelajaran kimia di SMA Negeri 1 Singkawang kelas 10 tahun pelajaran 2012 / 2013. Penulis melakukan kajian terhadap beberapa metode dan model pembelajaran. Pembelajaran kimia yang penuh dengan konsep dan fakta serta prosedur perlu adanya modifikasi metode pembelajaran menyenangkan, pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran konsep yang kemudian disebut sebagai Wahidi’s Method .
Wahidi’s Method mempunyai sintaks atau prosedur sebagai berikut : (1) Siswa mempelajari peta konsep yang tersaji dalam buku teks yang dibuat oleh guru dalam 4 atau 5 kelompok, (2) Siswa membuat definisi tiap-tiap konsep yang ada dalam peta konsep di awal materi pembuka di buku teks dengan durasi waktu dan skor penilaian , (3) Siswa menjelaskan/ membuat narasi peta konsep buta, (4) siswa mempelajari narasi alur peta konsep yang sudah dikonfirmasikan oleh guru secara keseluruhan dari semua anggota kelompoknya, (5) Secara acak siswa dari perwakilan kelompok untuk menjelaskan narasi dan definisi tiap konsep yang ada. (6) Siswa mengikuti kompetisi dengan mengajukan perwakilan kelompoknya yang dianggap mumpuni oleh anggota kelompoknya.
Hasil yang dicapai ternyata mendapatkan pengaruh yang signifikan dilihat dari uji T berpasangan pada pretes 1 dan 2 dengan post test 1 dan 2. Pendekatan hasil modifikasi dari berbagai bentuk model pembelajaaran yang disebut Wahidi’s Method berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
Kata kunci : Wahidi’s Method, Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran Menyenangkan, Pembelajaran Konsep


PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN PENDEKATAN WAHIDI’S METHOD
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Belajar yang efektif menuntut komunikasi pembelajaran yang efektif, menurut I wayan Santyasa[1] komunikasi dalam pembelajaran adalah guru, bahan ajar, media pembelajaran, tujuan pembelajaran dan peserta didik. Guru sebagai pemegang kunci dalam komunikasi pembelajaran harus mampu mengolah komponen komunikasi dalam pembelajaran yaitu pembelajaran yang sesuai dengan potensi peserta didik dan memanfaatkan media secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam suatu bentuk atau model pembelajaran.
Joyce da Weil (2000) dalam Syaiful Sagala [2] mengemukakan ada empat kategori yang penting diperhatikan dalam model mengajar yaitu model informasi, model personal, model interaksi dan model tingkah laku. Model-model tersebut dikonvergensikan menjadi (1) model behavioral (belajar tuntas, belajar kontrol diri sendiri, simulasi, belajar assertif) (2) Model Pemrosesan Informasi (Inkuiri, advance organizer, penyeimbangan berpikir) dan (3) Model-model lainnya.
Hasil penelitian Ovi de Decroly [2] menyatakan tentang metode pembelajaran yakni (1) metode global, hasil yang diperoleh dari observasi dan tes, menunjukkan bahwa anak mengamati dan mengingat secara global. Mengingat secara keseluruhan dulu baru bagian-bagiannya. (2) Anak-anak mempunyai minat yang spontan (sewajarnya). Hal ini mengungkapkan bahwa proses berpikir dan belajar siswa dimulai dari konsep-konsep yang umum lebih mudah dari pada belajar konsep-konsep yang khusus, sehingga aplikasi dalam metode pembelajaran perlu memperhatikan struktur hierarkis suatu konsep, dan saling keterkaitannya satu dengan yang lainnya. Siswa akan lebih mudah memahami dan mengamati konsep jika sudah terpandu oleh sebuah peta konsep.
Pembelajaran kimia dirasakan bagi peserta didik menjadi beban karena hanya sekumpulan fakta dan data yang harus dihapal oleh peserta didik yang tidak mempunyai makna. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang sesuai dengan kinerja otak manusia, sehingga tidak membebani peserta didik [3]. Pembelajaran harus mempunyai makna, karena pembelajaran bukan hanya sekedar kumpulan informasi yang harus dipelajari peserta didik yang tidak ada keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Pembuatan bahan ajar oleh guru sebaiknya memperhatikan prinsip belajar efektif ini. Belajar kimia tidak lepas dari rumus, konsep, hukum dan hitungan yang terkadang dirasakan peserta didik jika tidak berkaitan dengan dirinya atau permasalahan yang dihadapinya setiap hari maka menjadi beban bagi peserta didik yang harus dihafal. Bahan ajar pelajaran kimia sebaiknya memiliki makna dan disesuaikan dengan kinerja otak.
Nilai ujian nasional pada matapelajaran kimia di Kalimantan Barat program IPA tahun 2011 adalah 8,08 dan pada tahun 2012 adalah 8,38. Daya serap mata pelajaran kimia pada ujian nasional tahun 2012 ( Balitbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) pada jenjang SMA pada standar kompetensi lulusan (SKL) yang berkaitan dengan koloid yaitu : Mendeskripsikan sistem dan sifat koloid serta penerapannya. secara nasional adalah 90,30 %, sedangkan untuk tingkat provinsi Kalimantan Barat adalah 78,62 %. Data ini menggambarkan bahwa matapelajaran pada pokok bahasan Hidrokarbon di tingkat SMA di Kalimantan Barat masih rendah dibandingkan tingkat nasional. Materi Hodrokarbon adalah materi yang penuh dengan konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan realita siswa. Tetapi hal ini di Kalimantan barat masih rendah tingkat prestasinya ini menunjukkan kemampuan siswa di Kalimantan barat masih kurang dalam penguasaan konsep sehingga perlu pembelajaran yang berbasis pembelajaran konsep yang dapat mengatasi kelemahan ini yaitu belajar dengan peta konsep.
Bahan ajar sebagai salah satu komponen pembelajaran kimia berperan dalam keberhasilan belajar siswa. Bahan ajar ikut menstimulus pola pikir siswa dalam proses belajar. Bahan ajar yang dapat berperan aktif dalam pembelajaran dalam penyusunannya harus memperhatikan selain aspek konten juga aspek konteksnya agar bahan ajar dapat melatih siswa dalam melatih ketrampilan komunikasi dan berpikir. Aspek konten bahan ajar sudah banyak diolah dan dikelola oleh para pakar yang mengeluarkan beberapa buku bahan ajar, tetapi masih jarang yang mengupas tentang konteks bahan ajar yang relevan dalam kaitannya penggunaan bahan ajar. Cara penggunaan bahan ajar memerlukan metode pembelajaran yang sesuai sehingga optimal pencapaian hasil belajarnya. Suatu bahan ajar yang bagus tetapi dalam penyampaiannya menggunakan metode yang kurang sesuai hasilnya tidak sesuai. Bahan ajar yang dilengkapi dengan peta konsep memberikan panduan siswa untuk memahami dan menghafal secara global konsep yang akan dipelajari sesuai dengan penelitian Ovide Decroly [2].
Pada kurikulum 2013, peserta didik dituntut aktif dalam pembelajaran sehingga peserta didik harus dapat mengkomunikasikan hasil belajar baik secara tulisan maupun lisan. Namun kenyataan yang ada, peserta didik sulit untuk aktif karena keterbatasan kemampuan berkomunikasi sehingga guru yang aktif dalam pembelajaran. Untuk mengurangi keadaan ini, maka peserta didik perlu dibiasakan mengkomunikasikan secara lisan dan tulisan idenya kepada orang lain sesuai dengan penafsirannya sendiri sehingga orang lain dapat menilai dan memberikan tanggapan terhadap penafsirannya. Mendengarkan pikiran orang lain dan penjelasan tentang alasan mereka memberikan kesempatan untuk mengembangkan pemahaman mereka sendiri. Karena itu, perlu dikembangkan kemampuan komunikasi peserta didik dalam berkomunikasi pada setiap pembelajaran dan menjadi tantangan bagi setiap guru kimia. Tantangannya adalah “Bagaimana mengembangkan Pembelajaran Kimia yang multi representasi dapat meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik?”.
Peta konsep sebagai bentuk media pembelajaran, alat assesment diagnostik, formatif dan bisa juga digunakan untuk sumatif (Dennise Goodrum dalam Learning By Doing) dalam pengembangannya masih jarang digunakan untuk pendekatan pembelajaran. Peta konsep dapat menjadi pemandu alur berpikir yang sudah dikembangkang Tony Buzan dengan istilah Mind Map yang mampu memacu kreativitas otak manusia dan menimbulkan jutaan ide dari seorang manusia yang dikenal dengan berpikir radian.
Kemampuan siswa banyak belum tergali dengan pembelajaran yang monoton ceramah dan cenderung satu arah dari guru. Pengemasan pembelajaran dapat ditingkatkan efektifitasnya dengan melihat dari berbagai sisi yaitu dari konteks dan kontennya. Pembelajaran yang memperhatikan sisi konteks dan konten adalah pembelajaran yang dikenal Quantum Teaching dengan ciri khasnya TANDUR (Tanamkan Alami Namai Demonstrasikan Ulangi dan Rayakan). Prinsip ini perlu dikembangkan dengan berbagai model pembelajaran . Tapi sayang guru lebih cenderung berpikir praktis dan masih terdominasi oleh mitos bahwa pembelajaran yang baik adalah kelas diam, tidak ramai, siswanya tidak ada yang berani berbicara sehingga kemampuan komunikasi dari siswa banyak terjajah. Perasaan takut membajak kreatifitas siswa dalam berekspresi terutama dalam berpikir dan berkomunikasi.
Pendekatan pembelajaran hasil modifikasi dari beberapa model sudah saatnya dilakukan oleh guru. Celah antara hasil penelitian dari beberapa ahli tentang pembelajaran harus terhubung dan terimplementasikan dalam praktik sehari-hari dari tugas guru dalam mengajar. Guru yang langsung menghadapi kondisi siswa dituntut profesional dengan beberapa kajian dan penelitian yang relevan mengambil dan memodifikasi sesuai dengan kondisi real siswa yang ada.
Penulis menawarkan suatu metode yang merupakan modifikasi dari beberapa model pembelajaran yaitu Pembelajaran kooperatif, Pembelajaran menyenangkan (Quantum Learning) dan Pembelajaran Konsep ( Peta Konsep). Metode ini dinamakan dengan metode Wahidi’s Method karena penulis mencari nama metode dari beberapa teori dan model pembelajaran yang dikemukakan ahli belum ada sehingga dinamai Wahidi’s Method. Hal ini tidak terlalu berlebihan karena sudah saatnya guru berani punya ide sendiri dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai meskipun itu hasil dari modifikasi model pembelajaran yang sudah ada. Penulis mencobakan metode ini beberapa kali dalam materi yang berbeda dan kelas berbeda. Penulis melakukan analisis data statistic untuk mengetahu signifikansi pengaruh pembelajaran dengan menggunakan Wahidi’s Method.
Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang ada maka dapat identifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut :
Pembelajaran kimia masih banyak yang monoton dilakukan oleh guru.
Guru sebagai komponen kunci masih kurang kreatif memanfaatkan komponen lain dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Materi kimia yang berupa konsep dalam penyampaiannya bagi siswa membosankan.
Pemanfaatan model dan media pembelajaran untuk mengatasi kurangnya kemampuan komunikasi dan berpikir kritis siswa masih belum banyak dilakukan oleh guru.
Mata pelajaran kimia yang memiliki konsep yang terstruktur dan saling terkait dalam penyampaiannya masih belum optimal.
Pembelajaran kimia belum dapat menjawab kebutuhan penguasaan pengetahuan modern dan teknologi canggih karena pembelajarannya masih belum kontekstual.
Peta konsep sebagai metode, media dan evaluasi pembelajaran masih jarang digunakan, hanya sebagai pelengkap dalam buku teks.

Pendekatan Masalah
Dengan melihat permasalahan di atas yang harus disikapi dan ditindak lanjuti dengan segera karena menyangkut generasi bangsa yang kreatif dan berpikir kritis maka perlu suatu pendekatan pembelajaran yang mengharmonikan semua komponen pembelajaran yaitu konten dan konteks. Konten (bahan ajar yang terstruktur dan komprehensif) dapat dipandu dengan peta konsep dan konteks (Suasana, metode penyampaian, waktu, dan media) dapat diharmonikan dengan pembelajaran model Quantum Learning. Modifikasi model QL dengan berbasis peta konsep yang selanjutnya disebut Wahidi’s Method ini tidak memerlukan biaya yang besar hanya bermodalkan kejujuran dan ketulusan seorang guru untuk menyelami dunia siswanya sehingga faktor emosi siswa dapat dikelola oleh guru supaya tidak ada beban, dan potensi otak manusia yang cenderung berpikir radian dapat diharmonikan dengan peta konsep supaya terarah, terstruktur, dan terpacu menemukan konsep-konsep baru. Kemampuan komunikasi anak dapat meningkat dengan pola pikir yang jelas tergambar pada peta konsep, anak tinggal menghubungkan ide-ide atau gagasan yang menjadi bahan baku dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis.
Manfaat
Manfaat pembelajaran kimia dengan pendekatan Wahidi’s Method adalah memberikan alternative model pembelajaran bagi guru untuk mengembangkan kemampuan penguasaan materi pelajaran yang terstruktur dan integratif tetapi tetap menyenangkan bagi siswa. Penguasaan materi dengan peta konsep yang komprehensif mencakup materi dengan peta sehingga mudah terdiagnosis dan terevaluasi capaian belajar siswa.
Memberikan solusi untuk mengatasi miskonsepsi dalam pembelajaran kimia. Miskonsepsi yang datang karena pengetahuan anak sebelumnya dapat terdiagnosis dengan peta konsep sejak dini sehingga guru dapat mengkonfirmasi pengetahuan anak dengan menyenangkan.
Memberikan masukan pada pihak terkait dalam melaksanakan pelatihan atau diklat bagi pengembangan profesi guru. Memberikan masukan kepada kepala sekolah untuk mengadakan supervisi dalam kelas agar keterbajakan otak oleh emosi yang ketakutan dalam pembelajaran terdeteksi sedini mungkin.

PEMECAHAN MASALAH
Masalah yang tergambar pada identifikasi masalah di atas maka penulis memberikan gambaran pemecahannya yang dilakukan di SMA Negeri 1 Singkawang kelas XI IPA, yaitu dengan memodifkasi pembelajaran Quantum Learning dengan berbasis Peta Konsep untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dan berpikir kritis siswa yang selanjutnya disebut Wahidi’s Method ini tidak memerlukan biaya yang besar hanya bermodalkan kejujuran dan ketulusan seorang guru untuk menyelami dunia siswanya sehingga faktor emosi siswa dapat dikelola oleh guru supaya tidak ada beban, dan potensi otak manusia yang cenderung berpikir radian dapat diharmonikan dengan peta konsep supaya terarah, terstruktur, dan terpacu menemukan konsep-konsep baru. Kemampuan komunikasi anak dapat meningkat dengan pola pikir yang jelas tergambar pada peta konsep, anak tinggal menghubungkan ide-ide atau gagasan yang menjadi bahan baku dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis.
Langkah-langkah yang dilakukan penulis terbagi menjadi 3 tahapan yaitu tahapan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap persiapan penulis merancang skenario pembelajaran atau RPP dan Instrumen Penilaian. Pada tahap pelaksanaan penulis melakukan pembelajaran seperti yang sudah direncanakan pada skenario pembelajaran. Pada tahap akhir yaitu evaluasi penulis melakukan penilaian dengan tes kognitif yaitu dengan soal.
Pada tahap persiapan.penulis melakukan preview kepada siswa tentang karakternya dan latar belakang jejak akademiknya dari berbagai sumber yaitu dengan angket untuk mengetahui sejauh kreativitas siswa dalam belajar kimia pada umumnya, dan kemampuan akademik siswa dengan menggunakan nilai raport sebelumnya. Penulis melakukan kajian ilmiah dari berbagai literature tentang beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut sehingga didapatkan suatu metode yang merupakan modifikasi dari Quantum learning, cooperative learning, dan Conseptual Learning. Modifikasi ini menggabungkan teknik dan prinsip pembelajaran yang menyenangkan terbebas dari tekanan emosi yang menghambat kreativitas dan aktivitas otak [5] dari Quantum learning, pembelajaran yang mengembangkan dari interaksi social yang dapat menghasilkan pengetahuan baru dari cooperative learning, dan perangsangan penemuan konsep-konsep baru dari belajar konsep dengan peta konsep.
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai scenario pembelajaran quantum learning dengan peta konsep, yang didalamnya terkandung sintaks pembelajaran model Quantum Learning [4] mempunyai ciri utama yaitu yang dikenal dengan istilah TANDUR ( Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan). Ciri utama model Quantum Learning diintepretasikan dalam suatu tahapan pembelajaran sebagai berikut : Fase 1, pembuatan kesepakatan dan penataan lingkungan belajar yang terbebas dari hambatan pembelajaran. (suasana menyenangkan dengan menyapa dan menanyakan kondisi suasana hati siswa dengan pertanyaan “ Are You Happy To Day?”, komunikasi terbuka dengan memberikan informasi ringan tentang diri guru atau yang dialami guru sebelum masuk kelas, saling memiliki dengan membangkitkan semangat siswa bahwa saya (guru) disini adalah sebagai orang tua siswa yang kedua jadi saya bertanggung jawab pada keberhasilan anda belajar di sini). Fase 2, menghadirkan pengalaman umum yang dapat dialami siswa tentang hidrokarbon yang dipakai dalam dunia industri papan, pangan dan pakaian. Fase 3, memberi nama atau kata kunci (symbol) kepada suatu pengetahuan dari pengalaman umum yang dihadirkan dalam bentuk catatan atau peta pikiran. Guru menuliskan pokok gagasan/ ide/ konsep dalam betuk peta buta tanpa proposisi, siswa mencari kalimat/ proposisi yang sesuai dan hasilnya siswa dapat menghafalkan dan memahaminya tentang peta konsep hasil gambaran siswa selama 10 menit. Fase 4, melakukan presentasi peta konsep pada fase 3. Fase 5, siswa mendiskusikan peta konsep yang sudah dikonfirmasikan dengan kelompok lain, kemudian anggota kelompok mengulangi lagi peta konsep yang sudah dilengkapi dengan proposisinya di depan kelas dan guru memberikan skoring sebagai wujud penghargaan terhadap hasil yang dicapai siswa . Fase 6, memberi pengakuan atau penghargaan hasil presentasi dengan cara membuat kompetisi antar kelompok untuk mencari siapa siswa yang dapat dengan sempurna menjelaskan kembali alur peta konsep dan penjelasan definisnya secara sempurna dengan permainan sistim gugur sehingga siswa terpacu untuk tampil menjadi yang terbaik dengan pemberian gelar “ The King of Chemistry”. Pada akhir pembelajaran siswa yang dinobatkan jadi The King of Chemistry diberikan tepuk tangan dan tangannya di angkat seperti pemenang dalam pertandingan tinju.
Skenario pembelajaran secara teknik dari Wahidi’s Method adalah sebagai berikut :
Siswa mempelajari peta konsep yang tersaji dalam buku teks yang dibuat oleh guru dalam 4 atau 5 kelompok (maksimal 6 orang dalam tiap kelompok). ( Penulis sudah menyiapkan buku teks yang disusun sendiri yang berjudul Solusi Mahir Kimia terbitan Media Karya). (Mengamati)
Siswa membuat definisi tiap-tiap konsep yang ada dalam peta konsep di awal materi pembuka di buku teks dengan durasi waktu dan skor penilaian sebagai berikut :
Waktu 15 menit 30 menit 45 menit 60 menit 75 menit
Skor 90 80 70 60 50
(Tujuan penskoran dari waktu penyelesaian tugas membuat definisi adalah untuk memacu siswa mengoptimalkan kemampuan mencari bahan yang ada baik dari buku teks yang tersedia maupun internet dan menghindari hambatan tidak seriusan dari siswa). (Menanya dan Mengumpulkan data)
Siswa menjelaskan/ membuat narasi tentang peta konsep yang ada dibuat sebuah peta konsep buta (hanya terdapat kotak-kotak konsep kosong yang bernomor) dari tiap kelompok menyampaikan satu orang wakil untuk menjelaskan (pemilihan perwakilan tujuannya untuk menumbuhkan sikap musyawarah untuk mufakat, menggali jiwa kepemimpinan dalam suatu kelompok). Dalam langkah ini juga dilakukan penilaian dengan cara menghitung kotak konsep yang dijelaskan dengan narasi dari peta konsep buta dengan pedoman penskoran sebagai berikut: Nilai = (jumlah konsep yang dijelaskan dengan benar)/(jumlah konsep total)×100.
(Mengasosiasikan dan Mengkomunikasikan)
Berikutnya siswa mempelajari narasi alur peta konsep yang sudah dikonfirmasikan oleh guru secara keseluruhan dari semua anggota kelompoknya dengan cara diskusi dalam kelompok, dan jika diperlukan siswa dapat bertanya pada guru.
Secara acak siswa dari perwakilan kelompok untuk menjelaskan narasi dan definisi tiap konsep yang ada. Penilaian dilakukan dengan ketentuan nilai perwakilan yang maju adalah untuk nilai kelompok jadi siswa dalam kelompok harus saling bekerja sama supaya semua dapat maksimal dalam menjelaskan.
Siswa mengikuti kompetisi dengan mengajukan perwakilan kelompoknya yang dianggap mumpuni oleh anggota kelompoknya. Kompetisi ini berupa permainan tebak konsep. Siswa menunjukkan letak konsep dalam peta konsep buta yang diajukan oleh kelompok lawannya. Jika ada yang salah maka kelompok tersebut gugur dalam permainan. Wakil dari kelompok yang menang diberikan gelar “ King of Chemistry”.
Tahap pelaksanaan, guru menerapkan skenario yang sudah dibuat. Pada tahap ini terdapat kendala yaitu ada beberapa siswa yang masih canggung atau malu-malu dan kurang lancar dalam berkomunikasi terutama dengan menggunakan bahasa Indonesia karena setiap hari kebanyakan menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Tionghoa dan dayak, sehingga ketika menceritakan atau menjelaskan presentasi peta konsep banyak menimbulkan gelak tawa dari siswa atau kelompok lain. Hal ini penulis atasi dengan terus memberikan suport kepada yang kurang lancar berbahasa Indonesia dengan sanjungan yang membangun mental siswa seperti “ Aksen bahasa anda seperti Profesor, lanjutkan…Presentasi anda ..!!! Silahkan..”. Kendala lain adalah terbatasnya waktu yaitu 2x 45 menit, terkadang penulis over time sehingga lebih 5 menit, hal ini dapat mengganggu kestabilan dan sistem pengaturan jadwal dengan pelajaran lain.
Tahap evaluasi, guru memberikan tes prestasi yang berupa peta konsep kosong, siswa mengisi konsep konsep yang masih kosong dan memberikan penjelasan dengan cara membuat narasi yang ditulis menceritakan secara lengkap tentang peta konsep materi hidrokarbon. Dalamn tahap ini ditemukan bahwa siswa yang tadi kurang lancar berbahasa Indonesia ternyata dapat menuujukkan tulisan yang lengkap narasinya. Pada materii lain dengan menggunakan pembelajaran dan pendekatan yang sama siswa yang kurang lancar dalam komunikasi sudah mulai lancar dan mau bersosialisasi dengan kawan-kawannya. Penulis meminta kepada siswa untuk menuliskan harapan dan saran serta kritikan selama mengikuti pembelajaran kimia denganquantum learning berbasis peta konsep.
HASIL YANG DI CAPAI

DITINJAU DARI SISI KOGNITIF SISWA
Pembelajaran dengan model dan pendekatan ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, hal ini dibuktikan dengan adanya kemampuan menulis laporan praktikum siswa yang sistematis dengan bahasa yang runut. Sosialisasi dari beberapa siswa yang dulunya tidak bisa aktif dalam diskusi di kelas sudah mulai menunjukkan keberanian dalam menyampaikan pendapat pada waktu diskusi. Hal ini sisi kognitif siswa mengalami perkembangan yang signifikan dari tinjau observasi dalam diskusi.
Dari segi kognitif diperoleh dari hasil ulangan harian pada beberapa materi ditunujkkan dengan grafik histogram sebagai berikut :

Gambar 1. Grafik Ulangan harian Materi Hidrokarbon
Dari grafik diatas tergambar nilai sebelum pembelajaran dilakukan (Pretes) dibandingkan sesudah pembelajaaran (Pretes) pada pembelajaran materi Hidrokarbon menunjukkan perbedaan yang signifikan yaitu tergambar dari beda rerata yang signifika berbeda dengan nilai p<0,05 ( Ada Perbedaan rerata yang signifikan antara pretes 1dan pretes 2 dibandingkan postes 1 dan postes 2).
Paired Samples Test
Paired Differences t Df Sig. (2-tailed)
95% Confidence Interval of the Difference
Mean Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper
Pair 1 Pretest_1 – Post_1 -37.941 17.932 4.349 -47.161 -28.721 -8.724 16 .000
Pair 2 Pretest_2 – Post_2 -25.000 13.844 3.176 -31.673 -18.327 -7.871 18 .000
Tabel 1. Uji T berpasangan nilai kognitif siswa

Grafik yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dari metode ini adalah pada gambar 2. Prestasi anak dari sisi kognitif siswa terdapat perbedaan yang signifikan dari mean sebelum perlakuan (pretes 1 dan 2) dan sesudah perlakuan (post tes 1 dan 2).

Gambar 2. Grafik Means Pretest dan Post test
DITINJAU DARI SISI AFEKTIF SISWA
Dalam pembelajaran siswa yang jarang bicara didepan forum semua termotivasi harus mampu bicara didepanforum dan didorong oleh anggota kelompoknya. Sikap berani bicara depan forum nampak dari beberapa siswa yang yang pendiam sudah mulai mau bersosialisasi dengan kawannya.
Pada langkah pembelajaran yang pertama yaitu siswa mempelajari peta konsep yang tersaji dalam buku teks yang dibuat oleh guru dalam 4 atau 5 kelompok (maksimal 6 orang dalam tiap kelompok) yang merupakan kegiatan mengamati, maka disini siswa meningkat kreativitas, rasa ingin tahu, dan kemampuan untuk mencari jawaban dari suatu pertanyaan terlatih. Siswa yang melakukan kegiatan ini dari observasi yang dilakukan adalah 36 siswa (90 %). 2 orang siswa melakukan kegiatan tapi tidak terlalu menujukkan antusiasmenya, hal ini teramati oleh observer. 2 orang siswa tidak melakukan kegiatan ini. Dengan langkah ini mewajibkan siswa untuk mengamati dengan cara mencari literature. Dan dipacu kreativitasnya untuk menafsirkan peta konsep yang tersedia dalam buku. Peta konsep sering jarang dipedulikan oleh guru atau siswa, hal ini disebabkan belum merasakan manfaat dan pentingnya dalam mempelajari materi pelajaran. Pemahaman akan lebih mudah jika siswa mengetahui lebih dahulu secara global, yaitu dengan memahami peta konsep.

No Kegiatan: Aspek yang Diamati Pengamatan
B C K
1 Siswa mempelajari peta konsep yang tersaji dalam buku teks yang dibuat oleh guru 36
(90%) 2
(5%) 2
(5%)
2 Siswa membuat definisi tiap-tiap konsep yang ada dalam peta konsep di awal materi pembuka di buku teks dengan mencari literature dari buku dan internet. 36
(90%) 2
(5%) 2
(5%)
3 Siswa menjelaskan/ membuat narasi tentang peta konsep yang ada dibuat sebuah peta konsep buta 35
(87,5% ) 3 (7.5%) 2
(5 %)
4 Siswa mempelajari narasi alur peta konsep yang sudah dikonfirmasikan oleh guru secara keseluruhan dari semua anggota kelompoknya dengan cara diskusi dalam kelompok 38
(95 %) 2
(5 %) 0
(0%)
5 Secara acak siswa dari perwakilan kelompok untuk menjelaskan narasi dan definisi tiap konsep yang ada 40
(100 %) 0
(0 %) 0
(0 %)
6 Siswa mengikuti kompetisi dengan mengajukan perwakilan kelompoknya yang dianggap mumpuni oleh anggota kelompoknya. Kompetisi ini berupa permainan tebak konsep 30
(75 %) 6
(15 %) 4
(10%)

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN
Pendekatan hasil modifikasi dari berbagai bentuk model pembelajaaran yang disebut Wahidi’s Method berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
SARAN
Guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter dan kondisi sekolah masing-masing. Metode Wahidi’s Method di sekolah SMA Negeri 1 Singkawang mungkin sesuai, kemungkinan di sekolah pada daerah atau jenjang lain lain mungkin berbeda.
Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang reliabilitas metode ini untuk dikembangkan diberbagai sekolah di daerah yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Santyasa, I.W. “Landasan Konseptual Media Pembelajaran”. Didownload http://www.freewebs.com/santyasa/pdf2/MEDIA_PEMBELAJARAN.pdf alamat situs media pembelajaran. 2007
[2] Syaiful Sagala, “Konsep dan Makna Pembelajaran”. Bandung. Alfabeta. 2010
[3] Tony Buzan, “ Gunakan Memori Anda”. Diterjemahkan oleh Alexander Sindoro. Interaksara. Batam. 2006
[4] DePorter Bobbi, Reardon Mark, Nourie Sarah Singer , “Quantum Teaching: Mempraktikan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas”. Diterjemahkan oleh Ary Nilandri. Bandung. Kaifa. 2010
[5] Yovan P. Putra. Memori dan Pembelajaran Efektif. Bandung. Yrama Widya, 2008


LAMPIRAN – LAMPIRAN
ANALISIS PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR KELAS X
SILABUS KELAS X
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
LKS SOLUSI MAHIR KIMIA (DI AMBIL HANYA PADA POKOK BAHASAN HIDROKARBON DAN MINYAK BUMI)
DAFTAR NILAI SISWA

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

HAYATUN

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0