Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Slank Pesantren dan Niat Baik
Slank Pesantren dan Niat Baik
0 Komentar | Dibaca 1063 kali

Ada fenomena menarik akhir-akhir ini, salah satunya Slank. Siapa tidak tahu Slank, group band yang sudah cukup tua ini memang fenomenal. Semua pecinta konser musik tahu, kalo Slanker dengan Orang Indonesia (Iwan Fals) merupakan kelompok fans yang sangat loyalis. Berbeda dengan kebanyakan group band lain, seolah Slank mampu membentuk sebuah watak, jiwa, dan identitas berbeda di kalangan fans. Bukan sekedar lagunya, namun citra diri personel Slank yang sering tampil apa adanya (tanpa banyak polesan) menjadi magnet para fans untuk menjadi bagian dari jati diri Slank.

Ada fenomena apa? Slank masuk pesantren. Slank dalam rangkaian tour-nya selain manggung akan mengunjungi pesantren. Lho, apa ada pesantren yang mau dikunjungi Slank? Nah, bulan lalu Slank manggung di Solo, sebelum ke kota lain, Slank sowan ke Ponpes Al-Muayyad Mangkuyudan Solo. Nah, kalo diliat foto liputan di Solopos, Slank tampil apa adanya tuh. Gak harus pake surban, dan lain-lain. Slank pun diterima pihak pesantren dengan apa adanya, ala kesederhanaan pesantren. Pesantren kan ga punya ruang lobi kayak hotel bintang lima ataupun pendopo Bupati yang wah! Jadi, Slank diajak melihat kebersahajaan ala pesantren.

Jangan heran. Inilah sebenarnya watak asli pesantren. Ramah kepada siapapun. Pesantren punya pegangan dakwah sederhana dari Kanjeng Nabi, Basyyiruu wala tunaffiru (Berilah kabar gembira dan jangan kau buat lari). Kayak cerita Kang Abik di depan, bukan memarahi dan menyalahkan ratusan remaja yang bolos Ngaji, misal dengan cap malas, pemuda setan, dan lain-lain. Intinya jangan dibuat lari. Kalo lari? Sama dengan tugas dakwah gagal dunk.

Kayak Kanjeng Nabi yang sholatnya super lama bersama para sahabat pilihannya. Namun, saat seorang sahabat menjadi imam dan sholatnya super lama di tempat lain, dan membuat jamaah lari, Kanjeng Nabi belain yang lari dan menegur sahabat yang sholatnya kepanjangan ini. Maksudnya, liat-liat dunk, kalo sholat di depan orang awam jangan samain sholat di depan orang-orang yang sudah terbiasa dengan mujahadah.

Coba bayangin, kalo dulu para Wali dan Sunan tiba-tiba datang dan nawarin jubah dan kerudung, pasti tidak ada yang masuk Islam. Namun, yang ditawarin adalah solusi, bantuan, kabar gembira. Kalo dateng-dateng ngancem, siapa yang tidak marah? Katanya Islam itu rahmat, berkah, dan kebaikan. Mana, buktinya?

Kayak Kang Abik, dahulu para Wali dan Sunan datang kemudian bertanya kebutuhan masyarakat. Jadi yang dilihat adalah kebaikan yang telah dilakukan masyarakat, bukan kesalahannya. Masyarakat diajak untuk menambah-nambah kebaikan, jika sudah siap imannya, pelan-pelan kejahatan akan ditinggalkan. Kebaikan pun harus perlahan-lahan untuk sampai kepada kebaikan yang lebih berat. Maka dipilih yang mudah-mudah dulu. Yang penting, ruang kebaikan telah kita bukakan, telah kita tunjukkan.

Bukankah syarat diterimanya ibadah karena ikhlas? Ibadah tidak boleh dipaksa-paksa, terus menerus diancam. Kalo takut sama ancaman Allah, oke. Tapi kalo takut karena paksaan manusia, percuma juga, ibdahnya ga dicatat pahala kok. Selama dosa itu bukan kriminal, maka pendekatan hati dipilih oleh pesantren. Kalo kriminal udah beda, urusan polisi tuh. Maksudnya Kia, Ustadz, hingga AA tidak berhak main kasar sendiri.

Bukan hanya Slank, di Anteve dalam acara Ramadhan ini, Fadli Padi terlihat tampil di Pesantren Al-Shiddiqiyah. Kalo diperhatiin, tampil di depan masjid. Lain lagi di Trans TV, Andre OVJ dan Wendy Cagur belajar mengaji bersama Ustadz Pantun, Uje, dan lainnya. Uje bilang di Metro TV, bukankah Allah mendahulukan perintah mengajak kebaikan (ma’ruf) baru disusul perintah meninggalkan kemungkaran. Ayatnya, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar. Kita jadikan jargon, amar ma’ruf nahi munkar.

Kebaikan sekecil apapun harus kita sampaikan, baik kepada Slank, Fadlyi, Andre, Wendy, dan lainnya. Mereka punya hak dibukakan jalan untuk menjadi Muslim yang paripurna. Mereka punya hak untuk menapaki jalan hidayah yang tidak membuat mereka lari. Yuk, mulai dari kecil-kecil, jika kita ikhlas, maka akan membawa kepada kebaikan selanjutnya.

Jika ada yang protes itu hanya kepura-puraan, pencitraan dan aji mumpung cari uang saja (komersialisasi agama), sah-sah saja. Namun, ibadah atau riya’ bedanya hanya di kedalaman hati, gerkan hati, niat. Pesantren memulai dari niat ikhlas itu, niat yang diyakini akan berakhir dengan happy ending. Jangan takut berniat baik.

Tahu Wali Band? Siapa sangka personil wali ahli mengaji, punya ilmu ngajar tajwid di Trans TV. Ga malu-maluin dengan namanya, Wali. Siapa tahu setelah pulang dari pesantren, Slank bikin album religi atau bikin masjid. Bukankah suara Fadli Padi tidak kalah hebat saat berduet dengan Maher Zein? (http://solorayaonline.com/2012/08/03/slank-pesantren-dan-niat-baik/)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....
Tags :  

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Hamzah Ismail

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  2

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0