Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Di batas senja.
Di batas senja.
0 Komentar | Dibaca 492 kali
Neo Tan @neotan
06 July 2014

S
enja itu tak seperti biasanya.Seluruh penghuni hutan di negeri topeng itu, tak lagi mengeluarkan suara mereka,Untuk mengiringi pulangnya sang penguasa langit keperaduannya.

Entah mengapa, Semua membisuh. Namun, dibalik dinding itu Sang waktu selalu sibuk memutar jarinya menjemput malam yang kian larut.

Entah mengapa,Hatiku semakin sedih menatap langit yang tak mau mengeluarkan sahabat bintangnya untuk menemani hidupku malam itu.
Seperti sayur tanpa penyedap, hidupku hampa tanpa kedamaian.

AKU benci! kehidupan di negeri itu. seolah-olah, semua tak mau mengerti perasaan-ku.

Semua kerja dan usaha yang kulakukan selama ini, Seakan-akan dibawah pergi oleh malam yang kian pekat. Semuanya serba salah di mata mereka.

Aku bingung, Putus Asa, Bimbang dan Ragu untuk melakukan semua itu kembali.
Bekerja bagi mereka? “Tidak! Tidak!” kataku “cukup!”

Semua yang kulakukan bagai garam ditabur kelaut.
Sakit rasanya menikmati senyum dalam penderitaan-ku, selama ini.

Negeri topeng itu, Seakan – akan menjadi hantu bagiku. Yah, mereka ada.

Dan keadaan yang selalu memaksa-ku untuk memakai topeng senyum-ku, Untuk menutupi semua penderitaan yang selama ini aku jalani.

“Malam tak adil.” Seakan-akan ia suka membagi penderitaannya dengan-ku. Tapi, “mengapa aku yang dipilinya? Apa salah-ku?”

Aku merasa hidup-ku gelap, tanpa cahaya. Harapan yang sudah aku dambakan selama ini, ternyata seperti mimpi yang tak pernah kembali. “Wahai malam,lepaskanlah Aku dari dekapanmu.”

Pintahku, sambil berdiri dari tempat duduk-ku. Malam itu, hening, sepih, dan tak berbintang.

Tibah – tibah, suara orang itu menyadarkan aku dari lamunan-ku sambil berteriak histeris.
dengan mengeluarkan kata-kata yang tak sedap di dengar oleh semua mahkluk yang ada di situ, termasuk kuping-ku .
Sebut saja orang itu “ESPA” ( bukan nama sebenarnya ). Semua yang kudengar malam itu, membuat hatiku membengkak.

Seperti roti yang di panggang dalam oven yang bersuhu 180 derajat celcius, Aku berpasrah, sambil mendengar dengan setia kata-kata yang di mainkan oleh ESPA.

Setelah merasa puas dengan semua kata yang di keluarkan pada-ku, ESPA pun berlalu, bersama angin malam yang terus bertiup menghadirkan hawa dingin malam itu.

Hening sudah suasana malam itu. Hidupku benar –benar hancur di injak- injak oleh ESPA, seperti sendal di kakinya.

Malam semakin larut, udarapun semakin dingin. Suara nyanyian anak-anak penghuni negeri itu Terdengar sayup-sayup di bawa kaki gunung melengkapi suasana malam yang suram itu, dalam kehidupan-ku.

Sambil diiringi suara jangkrik Penghuni hutan negeri itu, Seakan-akan mengantar semua insan negeri itu Untuk melepaskan kelelahan mereka di peraduan masing-masing, setelah seharian bekerja.

Demikian aku, melangkah dengan letih tanpa daya menuju istanah kecil-ku,
Untuk melepaskan semua kepenatan-ku. diatas perahu kecil-ku yang siap melaju kepulau kapuk Demi menanti hari baru, di seberang malam.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Muhammad Yusuf, S.Pd.

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0