Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Kekerasan Seksual pada Anak Harus…..Stop !!!
Kekerasan Seksual pada Anak Harus…..Stop !!!
0 Komentar | Dibaca 1286 kali

Supaji Alatas M.Pd
Guru SMP N I Tambak-Bawean-Gresik

Dikejutkan sekali bila orang tua mendengar putranya bermasalah,walaupun masalah itu sekecil apapun, bahkan lebih kaget lagi jika sang buah hati dari bapak/ibu, terdengar sakit dan kesehatannya kurang baik disebabkan karena kekerasan seksual yang tidak amoral, kejadian ini sungguh memalukan dunia pendidikan yang ada di Indonesia yang selama ini dikenal dengan “bermoral dan berbudaya” kali ini slogan kalimat itu musna bak asap terbang dari kepulan sang smoker, jika budaya hilang itu sedikit tidak kita persoalkan namun jika moral yang tidak dikedepankan itu sudah batas-batas kehanjuran norma-norma bangsa kita.
Bagamana menyikapi dari adanya kejahatan seksual yang terjadi di Jakarta International School (JIS) yang selama ini lembaga pendidikan tersebut dibangga-banggakan oleh wali murid yang mengidam-idamkan putra/putrinya bisa masuk di sekolah tersebut, apakah tidak menyakitkan hati wali murid yang putranya dianiaya /kekerasan seksual.
Langkah yang harus dilakukan oleh orang tua korban pada pasca kejahatan seksual di sekolah adalah dengan mengedepankan anak mengenal ilmu agama, larangan, hukuman dan akibat melakukan perbuatan yang selalu merugikan banyak orang, terutama hal seksual yang baru-baru dialami di Jakarta Internasional School (JIS), termasuk mengawasi anak kita dengan siapa mereka bergaul/berteman baik dilingkungan sekolah, maupun dilingkungan masyarakat terdekat.
Pasca kejahatan seksual di Jakarta Internasional School (JIS) pemerintah harus mempunyai peran penting sebab pendidikan selama ini merupakan pilar majunya generasi muda demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.
Wajar jika salah satu dari wali murid mengusulkan hukuman yang paling berat terhdap pelaku “cleanning service” yang ada di Jakarta Internasional School (JIS) adalah “hukuman mati” agar menjadi jera terhadap pelaku berikutnya, namun bagi saya secara pribadi “hukuman mati” tidak semudah begitu saja kita usulkan, karena menghilangkan satu nyawa bukanlah Falsafah bangsa kita, itupun sangat tidak manusiawi, pandangan “hukuman mati” kita lihat dari beberapa sisi bagi pelaku kekerasan seksual, Bangsa kita adalah bangsa berdasarkan hukum bukan bangsa berdasarkan mematikan apalagi sampai ”hukuman mati”.
Sulit rasanya untuk memulihkan trauma yang dialami oleh korban kekerasan seksual didunia pendidikan karena selama ini korbang kekerasan seksual secara usia masih begitu mudah, berbeda dengan yang dialami orang yang sudah dewasa, pemikiran anak usia dini apalagi seusia taman kanak-kanak (TK) sampai usia sekolah dasar (SD) daya ingatannya peka dan selalu mengingat kejadian yang dialami apalagi menyangkun prilaku negatif, sekarang bagaimana membangun kembali masa depan mereka? apa yang seharusnya dilakukan? Membangun kembali korban kekerasan seksual ibarat menanam padi diladang yang tandus, bagaiman ladang yang tandus itu bisa berair? Tentu diairi supaya ada airnya dan padi tumbuh dan subur, pikiran anak diusia 5 sampai 10 tahun mirip dengan lahan yang tandus, cara terbaik kita sirami hati mereka/sikorbang dengan air rohani dekatkan mereka dengan agama, berikan bacaan yang mengasikkan dan mengarah pada kebajikan dengan diawasi orang tua, supaya kembali membangun masa depan yang cemerlang,
Berawal dari kejadian yang menimpa siswa Jakarta International School (JIS) perlukah anak seusia SD sudah saatnya diberikan pendidikan seks di sekolah?.Se-usia siswa SD pendidikan seks sungguh tidak pantas diberikan, kendati diberikan tentu tidak membawa perubahan pada mereka, justru cenderung akan mengetahui, mempelajari dan mencoba akhirnya menjadi terbiasa (semoga tidak begitu) yang sangat ditekankan adalah memberikan mereka pelajaran Agama dari lokasi waktu 2 jam pertemuan/minggu menjadi 4 jam pertemuan/minggu dengan perpaduan kurikulum berkarakter.
Pro dan kontra terhadap pelaku kekerasan seksual sepantasnya mendapatkan sanksi untuk menghentikan “Kekerasan Harus …. Stop !!!” bukan dengan “hukuman mati” yang diberikan pada pelaku kejahatan seksual tersebut, karena agama manapun tidak memberikan hukuman mati, terhadap prilaku seksual, kejadian pro pada wakil ketua MPR “hukuman mati” karena hal tersebut desakan dari pihak luar, bukan hukuman yang dipatenkan oleh undang-undang di negara kita.Kontras dengan “hukuman mati”wajar diutarakan dan menolak oleh ketua Komnas Anti kekerasan perempuan “Yunianti Ch, disamping tidak membawa dampak jera justru menambah beban di dunia pendidikan kita.Sekarang bagaimana yang harus dilakukan oleh pihak pemerintah supaya pelaku kekerasan seksual dapat berhenti ? cara yang terbaik hukuman 15 sampai 20 tahun dan denda 100 juta sampai 500 juta rupiah.Semoga pendidikan Indonesi Bangkit tidak ada lagi pelecehan, kekerasan dan amoral hal seksual

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

swaklseirj

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0