Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / MEDIA PEMBELAJARAN—>Putu Astawan
MEDIA PEMBELAJARAN—>Putu Astawan
0 Komentar | Dibaca 1182 kali

MEDIA PEMBELAJARAN

 Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Jadi media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, yang dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan murid sehingga mendorong proses belajar pada dirinya.

Banyak batasan yang dikemukakan oleh para ahli media, antara lain:

  • Gagne dalam Sardiman (1990 : 2) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam ligkungan murid yang dapat merangsangnya untuk belajar.
  • Sardiman (1990 : 2) media adalah bentuk-bentuk komunikasi tercetak ataupun audio visual serta peralatannya.

Pengertian Media dalam Pembelajaran adalah:

  1.  Media yang penggunaanya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pembelajaran, yang biasanya sudah dituangkan dalam GBPP dan dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar (Santoso S. Hamidjojo).
  2. Peralatan fisik untuk membawakan atau menyampaikan isi
  3. Pembelajaran, kedalamnya termasuk buku, film, kaset vidio, sajian slide, radio, LCD dan sebagainya.

Penggunaan media secara kreatif dapat memungkinkan murid untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik dan meningkatkan performance murid sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Macam-macam Media Pembelajaran

Macam-macam Media Pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar, dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain-lain. Model grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
  • Media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat, model penampang, model susun, model kerja.
  • Media proyeksi seperti slide, flimstrip, penggunaan OHP, LCD.
  • Penggunaan lingkungan sebagai media pendidikan.

Fungsi Media Pembelajaran

Fungsi media pembelajaran diantaranya:

  1. Memperjelas dan memperkaya / melengkapi informasi yang diberikan secara verbal.
  2. Meningkatkan motivasi dan perhatian murid untuk belajar
  3. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyampaian informasi.
  4.  Menambah variasi penyajian materi
  5. Pemilihan media yang tepat akan menimbulkan semangat, gairah, dan mencegah kebosanan murid untuk belajar.
  6. Kemudahan materi untuk dicerna dan lebih membekas, sehingga tidak mudah dilupakan murid.
  7. Memberikan pengalaman yang lebih konkrit bagi hal yang mungkin abstrak.
  8. Meningkatkan keingintahuan murid.
  9. Memberikan stimulus dan mendorong respon murid.

Peranan Media Pembelajaran

Media mempunyai peranan yang cukup berarti dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya:

  • Mengatasi masalah keterbatasan ruang kelas.

Seperti model misalnya, digunakan karena obyek asli tidak mungkin dapat ditunjukkan dimuka kelas. Misalnya karena terlalu besar, terlalu kecil, terlalu rumit, terlalu berat dan lain sebagainya.

  • Mengatasi masalah letak geografis.

Misalnya untuk daerah pegunungan yang jauh dari pantai, untuk memperlihatkan laut digunakan media film, kaset video.

  • Mengatasi gerak benda yang terlalu cepat atau terlalu lambat, padahal geraknya ini yang jadi pusat perhatian kesulitan ini dapat diatasi dengan memutar rekaman film atau video yang diperlambat atau dipercepat.

Manfaat Media dalam Proses Belajar Mengajar (PBM)

Manfaat penggunaan media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar murid dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada bebrapa alasan mengapa media pendidikan dapat berkenaan dengan manfaat media pendidikan dalam proses belajar murid antara lain :

  1. Bahan  pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh para murid, dan memungkinkan murid menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
  2. Metode belajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga murid tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
  3. Murid lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan.
  4. Pengajaran akan lebih menarik perhatian murid sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut :

  1. Memperjelas penyajian pesan
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra
  3. Mengatasi sikap pasif anak didik seperti : menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan, dan memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya
  4. Mengatasi sikap yang unik pada setiap murid dimana lingkungan dan pengalaman murid yang berbeda sehingga dengan menggunakan media dapat memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.

Pemilihan Media Pembelajaran

Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam usaha memilih media pengajaran yakni :

  1. Dengan cara memilih media yang telah tersedia dipasaran yang dapat dibeli guru dan langsung dapat digunakan dalam proses pengajaran. Pendekatan ini sudah tentu membutuhkan biaya untuk membelinya, lagi pula belum tentu media itu cocok buat penyampaian bahan pelajaran dan dengan kegiatan belajar yang dilakukan oleh murid.
  2. Memilih berdasarkan kebutuhan nyata yang telah direncanakan, khususnya yang berkenaan dengan tujuan yang telah dirumuskan secara khusus dan bahan pelajaran yang hendak disampaikan.

Media pembelajaran merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar. karena itu dalam pemilihan media yang akan digunakan seorang pengajar harus melihat semua komponen dari perencanaan pembelajaran seperti tujuan, materi, pendekatan dan metode, serta bentuk evaluasinya, termasuk juga kedalam kriteria ini tingkat perkembangan intelektual murid.

  • Tujuan

Media pembelajaran hendaknya sesuai dengan pencapaian tujuan pembelajaran.

  • Materi pembelajaran

Media yang dipilih harus sesuai dengan isi pembelajaran dalam arti relevan, tidak “out of date”.

  • Pendekatan / metode

Pemilihan media perlu disesuaikan dengan metode pembelajaran yang dipilih, misalnya metode demonstrasi, diperlukan jenis media lebih banyak dari metode ceramah.

  • Evaluasi

Sebenarnya evaluasi mengukur keberhasilan tujuan, karena itu media yang dipilih selain mengacu pada tujuan, terkait juga pada evaluasi yang digunakan.

Hasil Belajar

Sadirman (2003 : 39), mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil dari sesuatu kegiatan yang dikerjakan, diciptakan yang menyenangkan hati yang telah diperoleh dengan keuletan kerja. Pendapat ini juga lebih condong untuk menempatkan hasil belajar itu pada kondisi kondisi hasil yang telah atau bisa diperoleh dalam suatu kurun waktu yang ditentukan.

Sudjana (1988 : 49) mengemukakan 3 tipe hasil belajar yakni:

  •   Tipe hasil belajar bidang kognitif mencakup:

–      Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan yakni cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya factual, disamping pengetahuan mengenai hal-hal yang perlu diingat seperti batasan, peristilahan, pasal, bab, ayat, rumus, dan lain-lain.

–      Tipe hasil belajar pemahaman (comprehention) dari segi bacaan, penafsiran dan ekstrapolasi yakni kesanggupan meramalkan sesuatu atau memperluas wawasan.

–      Tipe hasil belajar penerapan (aplikasi), yakni kesanggupan menerapkan, dan mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dan situasi yang baru.

–      Tipe hasil belajar analis, yakni kesanggupan memecah, mengurangi suatu integrasi (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti, atau mempunyai tingkatan/hirarki

–      Tipe hasil belajar sintesis, yakni kesanggupan menguraikan suatu integrasi menjadi bagian yang bermakna (menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas)

–      Tipe hasil belajar evalusai yakni kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan kriteria yang dipakai.

  •   Tipe hasil belajar bidang afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai
  •    Tipe hasil belajar bidang psikomotor, tampak dalam bentuk keterampilan (skill), kemampuan bertindak individu (seseorang).

Suatu proses belajar menagajar dikatakan baik, bila proses tersebut dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif serta efisien. Syarat utama untuk sukses tidaknya pengajaran itu ialah “hasilnya”, menurut Sardiman A. M. (1992: 49) mengatakan bahwa hasil pengajaran dikatakan baik apabila memiliki ciri-ciri:

  1. Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh murid. Dalam hal ini guru akan senatiasa menjadi pembimbing dan pelatih yang baik bagi para murid yang menghadapi ujian. Kalau hasil pengajaran itu tidak bertahan lama dan lekas menghilang maka hasil pengajaran itu berarti tidak efektif. Guru harus mempertimbangkan berapa banyak dari yang diajarkan itu masih akan diingat kelak oleh subjek belajar, setelah lewat satu minggu, satu bulan, satu tahun dan seterusnya.
  2. Hasil merupakan pengetahuan “asli” dan “otentik”. Pengetahuan proses belajar mengajar itu bagi murid seolah-olah telah merupakan bagian kepribadian bagi diri setiap murid, sehingga akan dapat mempengaruhi pandangan dan caranya mendekati suatu permasalahan. Sebab pengetahuan itu dihayati dan penuh makna bagi dirinya.

Dalam proses belajar mengajar banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar. Menurut Sumadi Suryabrata (1981: 53) faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya dapat berupa faktor-faktor psikologi, sosial dan non sosial. Faktor psikologi berupa IQ, sikap, motivasi, kreatifitas, konsep diri dan lain-lain. Faktor fisiologi dapat berupa indra, kesehatan dan lain-lain. Sedangkan faktor sosial berupa lingkungan belajar.

Masalah – Masalah Dalam Belajar

Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh seseorang murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.

Aktivitas mempelajari bahan belajar tersebut memakan waktu. Lama untuk mempelajari tergantung pada jenis dan sifat bahan. Lama mempelajari juga tergantung pada kemampuan murid. Jika bahan belajarnya sukar, dan murid kurang mampu, maka dapat diduga bahwa proses belajar memakan waktu singkat. Aktivitas belajar dialami oleh murid sebagai suatu proses, yaitu proses belajar sesuatu. Aktivitas belajar tersebut juga dapat diketahui oleh guru dari perlakuan murid terhadap bahan belajar. Proses belajar sesuatu dialami oleh murid dan aktivitas belajar sesuatu dapat diamati oleh guru.

Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang pandai atau cerdas.

Pada dasarnya, masalah-masalah belajar dapat digolongkan atas:

  1. Sangat cepat dalam belajar, yaitu murid-murid yang tampaknya memiliki bakat akademik yang cukup tinggi, memiliki IQ 130 atau lebih, dan memerlukan tugas-tugas khusus yang terencana.
  2. Keterlambatan akademik, yaitu murid-murid yang tampaknya memiliki inteligensi normal tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara baik.
  3. Lambat belajar, yaitu murid-murid yang tampak memiliki kemampuan yang kurang memadai. Mere4ka memiliki IQ sekitar 70 – 90 sehingga perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan bentuan khusus
  4. Penempatan kelas, yaitu murid-murid yang umur , kemampuan, ukuran, dan minat-minat sosial yang terlalu besar atau terlalu kecil untuk  kelas yang ditempatinya.
  5. Kurang motif dalam belajar, yaitu murid-murid yang kurang semangat dalam belajar, mereka tampak jera dan malas.
  6. Sikap dan kebiasaan buruk, yaitu murid-murid yang kegiatan atau perbuatan belajarnya berlawanan atau tidak sesuai dengan seharusnya seperti suka marah, menunda-nunda tugas, belajar pada saat akan ujian saja.

Murid-murid diatas perlu mendapatkan bantuan dari guru agar mereka dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan belajar mereka secara baik dan terarah. Pada gilirannya mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dalam pengajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Aa Karnaen. 1980. Azas-Azas Media Pengajaran. Bandung: IKIP.

Arbi M. 1985. Media Pendidikan Dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Jakarta: P2LPTK.

Arief S. Sardiman, dkk. 1990. Media Pendidikan. Jakarta: Pustekkom Dikbud dan Rajawali.

Cece Wijaya, Tabrani Rusyan. 1991. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Engkoswara.1984. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara.

Nuryani Y. Rustaman, dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Universitas Pendidikan Indonesia: JICA.

Margareth E. Bell. G. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV Rajawali.

Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono 2006.     Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

indieoska

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0