Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Membina Keluarga Samara (Sakinah Mawaddah Warahmah)
Membina Keluarga Samara (Sakinah Mawaddah Warahmah)
0 Komentar | Dibaca 1689 kali
HUSNIJAL @husnijal05
30 July 2014

Keluarga Samara adalah sebuah keluarga dimana suami telah merasa puas terhadap istri dan anak-anak, dan sebaliknya, anak istrinya pun bahagia hidup dengannya.Karena diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungan.
keluarga Samara (sakinah mawaddah warahmah) mustahil didirikan atau dibina oleh seorang gadis atau seorang bujangan. Keluarga samara cuma dapat didirikan atas pernikahan yang sah, antara laki-laki dengan seorang perempuan. Pernikahan ini bermula dari sebuah janji yang sudah berazam untuk mengarungi kehidupan bersama.Janji itu disebut dengan akad dan dalam AL Qur’an Allah SWT menyebutnya dengan mìi tsaqon ghalidzo (perjanjian yang kuat, An-Nisa,21)
Seseorang dikatakan telah berazzam untuk menikah yaitu ketika Allah SWT mengetuk pintu hatinya, mengingatkan bahwa telah tiba waktunya ia menikah. Allah pertemukan ia dengan pasangannya dan muncul niat untuk menikah dengannya.Dan ini luar biasa, sulit untuk tidak dikatakan bahwa semua ini merupakan ketentuan-Nya.
Bila masa itu telah datang tidak ada uang, tidak direstui orang tua, tinggal di pondok ladang, bahkan ada yang dikejar dengan parang, no problem, nikah itu akan jadi juga.Tidak satu jalan ke Roma, tidak bisa kawin di tempat pasangan ini akan kawin lari.
Dikatan begitu karena banyak diantara pemuda-pemudi belum terketuk hatinya untuk nikah meski kehidupannya telah mapan dan berwajah menawan. dan sebagian dari gadis-bujang tersebut sudah berkeinginan untuk nikah atau merit itu tapi belum ada yang datang padanya,
Sebuah akad pernikahan hanya berlangsung dalam beberapa saat. Namun perjanjian ini sangat berat (tidak enteng) dan memuat könsekueni besar.
Bayangkan hanya dalam hitungan detik saja telah terjadi penyerahan tanggung jawab dari orang tua kepada seorang laki-laki(selanjutnya disebut suami) atas kehidupan seorang perempuan (istri), suami bertanggung jawab memelihara kehidupan mahkluk hidup yang bernama perempuan itu, memenuhi seluruh kebutuhan baik lahir maupun batin(materi, seksual, moral, intelektual, spritual dan ideologis). Demikian juga sebaliknya, istri-pun bertanggung jawab / punya kewajiban terhadap suaminya.Apa yang jadi kewajiban suami jadi hak istri dan apa yang jadi kewajiban istri jadi hak suami.
Salah satu diantara nilai plus agama Islam dibanding agama lainnya, adalah sosok rasulullah yang dapat dijadikan suri teladan yang baik. Khususnya dalam membina keluarga sakinah ini.
Tidak ada kehidupan membujang/menggadis seperti yang ada di agama-agama tetangga dalam Islam. Islam anjurkan menikah.
Banyak upaya yang dapat dilakukan pasangan untuk membina keluarga sakinah, seperti membaca artikel-artikel Islami tentang kehidupan Rasulullah SAW, dan sharing atau tukar pikiran dengan orang-orang terdekat kita.
Dalam suatu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, diantara kami siapakah yang paling disayangi ,? Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.”Setelah itu dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah cincin kepada istri-istrinya seraya berpesan agar tidak memberitahukan kepada istri-istri yang lain. Lalu pada suatu hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.”Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.
Masih banyak kisah teladan lainnya. Insyaalah dengan didikan agama sebuah keluarga akan dapat merasakan kebahagian, meskipun hidup sederhana, karena pernikahan biasanya bukan akhir dari masalah tapi, awal dari masalah-masalah. Lebih-lebih bila sudah punya anak, si istri biasanya kelihatan amburadul, wajah kusam, gigi tidak disikat lagi, rambut tidak disisir, pakayan lusuh, menggendong anak kesana-kemari.
Menurut sebuah sumber keluarga sakinah adalah keluarga dengan enam kebahagian.
Pertama, kebahagiaan finansial. Kepala keluarga wajib mencukupi kebutuhan nafkah istri dan anak-anaknya dengan berbagai usaha yang halal. Kebahagiaan finansial adalah ketika kebutuhan asasi seperti sandang, papan dan pangan, serta kebutuhan seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dapat dipenuhi. Sehingga keluarga itu dapat hidup normal, mandiri, bahkan bisa memberi.
Kedua, kebahagiaan seksual. Sudah menjadi fitrahnya, dalam kehidupan rumah tangga suami istri ingin meraih kepuasan seksual. Islam menuntunkan agar istri senantiasa bersiap memenuhi panggilan suami, tapi juga diajarkan agar suami selalu memperhatikan kebutuhan seksual istri. Ketika sepasang suami istri secara bersama dapat mencapai kepuasan seksual, maka mereka akan merasakan kebahagiaan seksual. Terlebih bila dari aktifitas seksual itu kemudian terlahir anak. Dengan pendidikan yang baik tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah, kebahagiaan akan semakin memuncak.
Ketiga, kebahagiaan spiritual. Salah satu kewajiban bersama suami istri adalah melaksanakan ibadah-ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Ketika sebuah keluarga terdiri dari pasangan suami istri yang rajin beribadah, dan dalam moment-moment tertentu memenuhi anjuran Allah dan Rasul-Nya untuk melaksanakannya secara bersama, seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya, maka kehidupan rumah tangga itu akan dihiasi oleh suasana religius dengan aura spiritual yang kental. Mereka merasakan secara bersama nikmatnya beribadah kepada Allah. Inilah yang disebut kebahagiaan spiritual.
Keempat, kebahagiaan moral. Suami wajib menggauli istri dengan ma’ruf. Istri juga wajib bersikap sopan dan patuh kepada suami. Suami istri bersikap sayang kepada anak-anak, sementara anak wajib bersikap hormat kepada kedua orang tuanya. Ketika pergaulan antar anggota keluarga, juga dengan karib kerabat dan tetangga, senantiasa dihiasi dengan akhlaq mulia, akan terciptalah kebahagiaan moral.
Masing-masing akan merasa nyaman dan tenteram tinggal di rumah itu. Rumah akan benar-benar dirasakan sebagai tempat yang memberikan ketenangan, bukan sebaliknya. Keresahan yang membuat para penghuninya tidak betah tinggal di sana.
Kelima, kebahagian intelektual. Untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya menurut tolok ukur Islam, juga untuk mampu mengatasi secara cepat dan tepat setiap problematika keluarga yang timbul, diperlukan pengetahuan akan ara’ (pendapat), afkar (pemikiran) dan ahkam (hukum-hukum) Islam pada pasangan suami istri. Maka menuntut ilmu (tsaqofah Islam) adalah wajib.
Ketika, sepasang suami istri memiliki pemahaman dan ilmu Islam yang cukup sedemikian kebutuhan untuk hidup secara Islami dan menjawab setiap masalah tercukupi, mereka akan merasakan suatu kebahagiaan karena hidup akan dirasakan terkendali, terang dan mantap. Pengetahuan memang akan mendatangkan kebahagiaan. Sebagaimana kebodohan mendatangkan kesedihan. Inilah yang disebut kebahagiaan intelektual.
Keenam, kebahagiaan ideologis. Keluarga dalam Islam bukan hanya dibentuk untuk memenuhi kebutuhan individu, tapi juga memuat misi keumatan. Yakni sebagai basis para pejuang Islam dalam usahanya menegakkan risalah Islam. Dengan misi itu, berarti masing-masing anggota keluarga diarahkan untuk memiliki peran yang nyata dalam dakwah. Termasuk anak-anak yang terlahir dididik untuk menjadi kader dakwah yang tangguh di masa mendatang

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ISTIANAH MARIYAH ULFAH

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0