Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Penyebab Orang-orang Asia Kurang Kreatif
Penyebab Orang-orang Asia Kurang Kreatif
0 Komentar | Dibaca 941 kali

Sejarah telah membuktikan bahwa pendidikan merupakan alat yang sangat penting yang dapat mengubah ‘nasib’ suatu bangsa. Bila sistem pendidikan, sistem pengajaran dan kurikulum ‘keliru’ maka akan keliru pula hasilnya. Atas dasar ini, penulis menganggap penting untuk membagikan isu mengenai kekeliruan (kesalahkaprahan) sistem pengajaran di negara-negara Asia. Artikel ini dikutip dari Email yang diterima penulis dari seorang teman, teman tersebut menerima dari temannya yang lain, dengan kata lain, Email berantai yang sumbernya berasal dari Singapura (demikian menurut “katanya”). Penulis berharap masalah ini dapat menjadi bahan pemikiran dan syukur bila dapat mengubah paradigma para Pengambil Kebijakan dan Pengambil Keputusan Pelaksanaan. Akhirnya, penulis mengharapkan terjadinya perubahan mendasar dalam sistem dan metode pengajaran di Indonesia sehingga diharapkan generasi Indonesia mendatang akan lebih berkualitas dan tangguh daripada generasi sebelumnya.

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi best seller (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang budaya dan sistem pendidikan di negara-negara Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang. Dalam bukunya beliau mengemukakan antara lain:

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir dan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk Perguruan Tinggi, dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan menghafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4