Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Tukang duku, salak, dan duren
Tukang duku, salak, dan duren
0 Komentar | Dibaca 688 kali

Mari Ketawa kali ini tidak bercerita anekdot atau sindiran kepada negeri tetangga yang bikin ngakak seperti Kisah jendral dan wartawan yang kemarin ternyata tidak lucu sama sekali. Tapi Mari Ketawa sekarang akan menceritakan tentang suka duka 3 sekawan pedagang buah dari kampung Bengek dan sekenanya di kota Batavia, pada tahun 1900-an.

Konon personil dari 3 sekawan pedagang buah ini terdiri BODONG (maaf, nama sebenarnya) yang spesialis buah DUKU. Pada rythem, eh buah SALAK dijual oleh bang MALEE (hwaaa..hahaa). Dan kapten diperankan oleh BOLOT yang selalu dagang DUREN (Apaan..??).

Ibarat buah manggis dibelah 3, ketiga pedagang buah ini selalu menjajakan buah dagangan mereka dengan cara dipikul, dari kampung Bengek, ke kota (sekarang Beos, Kota).

Hari itu “BMB” begitu sebutan 3 sekawan pedagang buah ini, berjalan beriringan, memikul buah dagangan mereka menuju ke Beos. Tapi apes tidak dapat dihindari, mereka dicegat patroli tentara Kompeni. Mereka disuruh menurunkan pikulan mereka untuk diperiksa tentara kompeni.

“God verdome..!!” bentak salah satu tentara kompeni seraya menghampiri BOLOT si pedagang duren, yang tidak mengindahkan perintah untuk menurunkan pikulan untuk diperiksa. Seketika Bolot gemeteran pakai banget, melihat itu tentara kompeni yang menghampirinya, galak banget!!. Segera dia menurunkan dagangannya, karena melihat kedua temannya, Bodong dan Malee melakukan hal demikian.

“Kalian mata-mata itu si Pitung dan si Pi’i ee??!!” begitu tanya salah satu tentara kompeni.
“Bukan tuan,. Kami bertiga hanya dagang buah, tuaan.” Jawab mereka sambil gemetaran pakai dashyat.
Tentara kompeni I : “Kalian para pribumi suka Ngebo’ong!!”.
Bodong si penjual DUKU : “Be,.benar tuan, sementara yang lain suka ngebo’ong, kami trio buah kagak tuan..”.

Tidak ingin kecolongan lagi, para tentara kompeni memeriksa dagangan trio buah dengan seksama. Tapi benar saja, mereka bertiga ini memang hanya para pedagang buah. Tetapi, bukan kompeni namanya kalau hanya sampai disitu saja. “Mereka harus diberi pelajaran keras, agar menjadi contoh bagi orang-orang pribumi!!” bisik salah satu tentara kepada komandan yang bernama Van der Busyet.

Kemudian Van der Busyet berteriak memerintahkan Bodong untuk membuka celana.
Van der Busyet : “Hey kamu, buka kamu punya celana, cepat!!”
Seorang tentara menendang Bodong “dug, wathauw..!!, cepat..!!”.
Takut bukan kepalang Bodong segera membuka kolornya. Uhh.. breunng, bau sekali.

Bodong si penjual DUKU: “Ampun tuan, saya kagak bersalah tuan, kenapa tuan kompeni hukum aye..?, tuan-tuan boleh ambil duku aye semuenye, tapi jangan hukum aye ye tuan, please..”
Van der Busyet : “Bah..!!, kalian inlander suka PHP?, sama dong. Opsir!!, Cepat kasih masuk itu buah-buah dagangannya ke dia punya lubang belakang.!!! Cepattt!!””.

Selang satu menit, terdengar raungan