Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Catatan Kecil untuk Calon Konselor Sekolah
Catatan Kecil untuk Calon Konselor Sekolah
0 Komentar | Dibaca 650 kali

Beberapa tahun terakhir ini, penyimpangan perilaku para remaja makin membuat miris. Berita tentang pelajar melakukan aksi brutal ataupun aksi yang menyimpang lainnya seringkali menghias media cetak maupun media elektronik. Kasus- kasus itu seperti, aksi pornografi, aksi pencabulan, aksi pemerkosaan, aksi bunuh diri, aksi pembunuhan, aksi perampokan dan sebagainya.
Zaman memang sudah berubah eranya. Penyimpangan perilaku remaja masa kini berbeda jauh dengan penyimpangan perilaku remaja beberapa dekade lalu. Tidak dipungkiri, adanya kemajuan teknologi disamping membawa dampak positif bagi remaja (baca: membuat remaja berpikir kritis ), juga membawa dampak negatif bagi mereka yang kurang bisa memanfaatkan adanya teknologi. Misalnya, dengan adanya komputer, anak bisa makin kreatif dalam berpikirnya, namun jika tidak didukung dengan kepribadian yang baik, kekreatifan itu justru bisa merugikan diri sendiri juga orang lain.
Pun dengan adanya internet, media ini mempermudah setiap insan manusia memperoleh informasi dan berhubungan dengan orang lain tanpa batas jarak dan waktu. Namun seringkali yang terjadi, justru penggunaan internet disalahgunakan, misalnya menjadikan internet sebagai media pencarian informasi yang sifatnya negatif, menjadikan internet sebagai media untuk menyebarkan gambar atau video yang kurang layak dikonsumsi, menjadikan internet sebagai media untuk mengerjakan tugas sekolah dengan cara tidak sportif, hanya copy dan paste saja. Semua itu membuat pengertian bahwa seiring kemajuan zaman berbanding lurus dengan perubahan perilaku remaja yang makin maju, makin beragam dan makin membutuhkan penanganan cerdas karena sebagian dari mereka menunjukkan degradasi moral yang kian parah.
Terjadinya degradasi moral inilah yang memicu pemerintah untuk menggalakan pendidikan berkarakter. Oleh sebab itu Guru Bimbingan dan Konseling (BK) atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan konselor sekolah banyak disorot publik, karena tanggung jawabnya dalam membentuk karakter bagi konseli ( istilah yang lebih dikenal untuk peserta didik yang menjadi siswa bimbingan konselor sekolah).
Pentingnya peran konselor kenselor dalam membentuk karakter konseli belumlah bisa dilakukan dengan optimal. Fungsi konselor sekolah masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Mereka masih menganggap bahwa konselor sekolah adalah guru yang hanya menangani siswa bermasalah saja. Anggapan seperti itu tidak hanya muncul dari masyarakat umum dan orangtua siswa, dikalangan gurupun masih ada yang beranggapan bahwa konselor sekolah identik dengan urusan siswa yang berperilaku menyimpang. Padahal sejatinya, tugas konselor sekolah tidak hanya sekedar mengatasi masalah , melainkan juga sebagai tempat untuk pengembangan diri atau soft skill konseli.
Tak hanya stigma sebelah mata yang (masih) ditemui, kenyataan yang lain adalah masih banyak konselor sekolah yang dasar ilmunya tidak sesuai dengan ilmu yang diambil saat kuliah, misalnya guru TIK atau guru Bahasa Indonesia yang merangkap menjadi konselor sekolah. Alhasil mereka, tidak paham apa yang harus dilakukannya, akibatnya hanya seputar penanganan konseli bermasalah yang dilakukan. Pun masih ada konselor sekolah berperan sebagai “polisi sekolah” untuk menegakkan kedisiplinan dan memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar. Justru realita inilah yang memperenggang jarak antara konseli dengan konselor sekolah. Para konseli menjadi takut kepada konselor sekolah dan makin enggan berkomunikasi denganya karena frame yang terbentuk dalam diri mereka, konselor sekolah adalah guru yang menangani pelanggaran aturan sekolah.
Semua itu merupakan catatan penting bagi oleh calon konselor sekolah. Perlu digarisbawahi pula bahwa apa yang dipelajari di kampus kerap kali berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Ilmu yang diperoleh di kampus hanya sebatas bekal saja karena lebih banyak teori daripada prakteknya. Jadi jangan dulu menghembuskan napas kelegaan untuk gelar sarjana yang baru disandang, di tambah tawaran menjadi konselor sekolah yang telah antri di depan mata.
Sebaliknya, setiap calon konselor sekolah perlu menyiapkan diri dan menyiapkan mental menjadi manusia pembelajar lagi sekaligus agent of change. Saatnya melakukan perubahan positif yang bisa menyadarkan dunia bahwa konselor sekolah adalah sabahat bagi konseli. Sahabat yang bisa menjadi motivator, memberi semangat positif kepada konseli. Saat konseli jatuh terpuruk dalam kegundahan hati, disitulah konselor ada sebagai motivator. Saat konseli tergelincir dalam perbuatan yang menyimpang, disitulah konselor ada sebagai motivator. Saat konseli terkucilkan dari teman-temannya, disitulah konselor ada sebagai motivator.
Untuk itu kiranya diperlukan kedekatan dengan konseli. Bangun kepercayaan terlebih dahulu pada diri mereka bahwa konselor sekolah bukanlah sosok yang perlu ditakuti dan dijauhi, melainkan sebagai sosok yang semestinya didekati dan dijadikan tauladan, selalu siap siaga untuk membantu konseli. Tak ada efeknya memberikan motivasi kepada para konseli jika mereka tak kenal apalagi tak percaya dengan konselornya. Dengan membangun hubungan kedekatan, maka rasa saling percaya akan tumbuh, inilah modal utama yang sangat penting untuk dipunyai seorang konselor sekolah.
Penulis ambil contoh pada kisah nyata yang dialami Safrina Rovasita, penyandang CIPI ( Celebral Palsy), yaitu kelainan otak yang menyebabkan kelayuan / stroke kecil sehingga penderita tidak senormal anak-anak seusianya. Ia menuturkan bahwa semasa SMA dirinya tidak tidak mempunyai teman, kecuali konselor sekolah dan buku-buku di perpustakaan. Semua teman-teman menghindar darinya. Bila istirahat tiba, ia menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan atau menemui konselor sekolah sebagai tempat berlabuh berbagi cerita. Ia terkesan dengan konselor sekolahnya . “ Guru BK-ku ( baca: konselor sekolah) baik hati. Ia yang menguatkan perasaan dan mendukungku”, ungkapnya yang telah melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Pendidikan, UNY ( majalah Psikologi Plus, Oktober 2007)
Kisah tersebut adalah contoh konkrit fungsi konselor, sahabat sekaligus motivator. Kecerdasan pikiran penting dimiliki konselor sekolah, namun kecerdasan emosi lebih penting untuk mengoptimalkan pemberian layanan terbaik yang memuaskan konseli. Lebih dari itu, kecerdasan spiritual juga tak kalah penting sebagai dasar dan kontrol dalam bersikap. Dunia pendidikan masih sangat membutuhkan peran konselor sekolah. Ayo tunjukan semangat juangmu untuk menjadi konselor sekolah handal dan professional. Kembangkan bekal ilmu yang telah diperoleh dibangku Perguruan Tinggi dan bermetamorfosislah menjadi sosok konselor sekolah yang diharapkan. Tabik !

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

LISTIANI

Saya hanya seorang guru yang amat mencintai dunia pendidikan walaupun basic saya bukanlah kependidikan guru ...
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0