Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / DEFINISI MENULIS
DEFINISI MENULIS
1 Komentar | Dibaca 1282 kali

Menulis sebagai Kekuatan Mengendalikan Emosi Diri
Dr. James W. Pennebaker pernah melakukan riset terhadap sejumlah mahasiswa di beberapa tempat di Amerika dengan terapi menuliskan pengalaman traumatis mereka. Sebagian besar hasil tulisan adalah kisah penganiayaan anak, perkosaan, konflik keluarga, percobaan bunuh diri, dan sejenisnya. Setelah riset itu, Pennebaker menyimpulkan bahwa orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan pengingkatan kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah yang remeh (Hernowo,2003:30).
Selain melalui terapi menulis, Dr. Pennebaker pun menerapi pasiennya dengan terapi berbicara. Hasil yang diperoleh memang tidak jauh berbeda. Pasien merasa kelegaan luar biasa setelah melakukan terapi. Namun, jelas antara terapi menulis dan berbicara ada perbedaannya. Jika dalam terapi menulis pasien cukup membutuhkan pensil, kertas dan tempat sunyi untuk menulis, dalam terapi berbicara pasien membutuhkan tape recorder dan suara keras untuk mengeluarkan emosinya. Perbedaan lainnya adalah terapi menulis lebih mampu mengeluarkan ganjalan emosi sekecil apa pun.
Emosi menurut KBBI adalah (1) luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat dan (2) keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan) atau juga diartikan sebagai kecerderungan yang bersifat subjektif. Menulis dengan mengalirkan emosi yang dipendam berarti mengikat makna dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang ke dalam tulisan.
Tulisan yang lahir dari gagasan berupa luapan emosi ini tentu saja bukanlah tulisan yang telah tertata. Karena pada hakikatnya tujuan menulis seperti ini adalah untuk mengeluarkan emosi negatif dalam diri.
Pada awalnya, siapa pun harus memulai tulisan dengan sesuatu yang didasarkan pada pengalamannya. Untuk mencerdaskan keterampilan menulisnya, seseorang harus mengikuti saran dari Dr. Pennebaker tadi, dengan mengeluarkan sisi kehidupan traumatisnya dalam bentuk tulisan emosional.
Konsep menulis dengan meluapkan emosi tadi dalam buku “Quantum Writing” disebut dengan menulis untuk diri sendiri (2003:59-81). Konsep menulis untuk diri sendiri dapat tertuangkan melalui sebuah media yang disebut dengan catatan harian atau diary. Secara tidak sadar orang yang sering melakukan terapi menulis diary akan terbiasa menata emosi dan keterampilan menulisnya. Sebagian besar isi tulisan dalam diary biasanya berupa pengalaman buruk atau traumatis. Oleh karena itu, setelah melakukan terapi menulis untuk diri sendiri, seseorang akan terbebas dari beban trauma yang dimilikinya seperti pendapat Dr. Pennebaker bahwa ‘…menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik’ (Hernowo,2003:38).
Selain melalui media diary, terapi menulis pun dapat melalui media surat. Penelitian ini menerapi siswa Sekolah Dasar dengan menuliskan pengalaman, cita-cita serta harapannya dalam secarik surat. Dalam sehelai surat, selain siswa menulis untuk diri sendiri berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, siswa pun belajar untuk berbagi pengalaman kepada orang lain (menulis untuk orang lain). Tentu saja konsep menulis untuk orang lain di sini sangat sederhana. Siswa tidak akan dibelenggu oleh serentetan teori menulis yang akan mematikan imajinasi deskriptif mereka karena karangan yang dituntut adalah argumentatif, eksposisi, atau narasi. Siswa pun tidak dibelenggu oleh kebakuan atau ejaan kata dan kalimat.
Menulis surat juga berarti mengaktifkan kecerdasan siswa dalam berempati kepada orang lain. Siswa dituntut untuk menggunakan kata-kata yang santun dan sopan karena surat akan dikirimkan kepada orang lain. Selain itu, menulis surat juga merupakan salah satu terapi menulis efektif agar suatu hari kelak siswa telah terbiasa berhadapan dengan kertas kosong dan pena untuk menuliskan hal-hal yang lebih rumit.

3. Menulis sebagai Media Pengembangan Imajinasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ke-3, kata imajinasi bermakna daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Masih menurut sumber yang sama, imajinasi juga bermakna “khayalan”. Mengembangkan imajinasi berarti memproses daya pikir (angan-angan) dan khayalan menjadi nyata dan berkembang seperti benar-benar berada di depan mata.
Dalam buku “Menulis dengan Emosi”, Carmel Bird pernah mengutarakan kiat agar tulisan kaya imajinasi. Berikut petikan tulisannya yang merupakan balasan surat untuk Virginia, “Dunia imajinasi dibangun dari hal-hal yang kita temukan dalam dunia keseharian. Robin Klein mengatakan bahwa setiap hari dia mendaftar setidaknya lima hal yang dia lihat, dengar atau alami pada hari itu. Dari bahan mentah hal-hal dalam hidupnyalah, dia memulai membangun karya-karya imajinasi” (2001:96).
Menjaring imajinasi melalui pikiran, mengikatnya, kemudian menuliskannya kembali dalam untaian kalimat adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. Dalam KBBI kata kreativitas dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk menciptakan daya cipta. Daya cipta di sini dapat diartikan sebagai gagasan atau ide. Orang yang kreatif artinya orang yang selalu memiliki ide atau gagasan baru yang menggugah. Berbicara tentang kreativitas dalam menulis dan imajinasi yang berkualitas, maka akan merujuk pada sosok spesial yang memiliki semua aspek tadi, yaitu anak-anak.
Menurut Joni Lis Efendi dalam “Dirimu Harta Karun yang Tak Ternilai” dijelaskan bahwa anak-anak adalah sosok yang memiliki segudang kreativitas dan imajinasi. Jika diperhatikan, anak-anak cenderung cepat bosan dengan mainan yang mereka miliki. Artinya dalam waktu yang relatif singkat, seorang anak telah mampu mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya tentang mainan tersebut (2004:46).
Berkaitan dengan tulisan anak-anak, Deporter dan Hernacki, penulis buku “Quantum Learning” memuji kemahiran menulis anak-anak. ‘ …anak-anak adalah penulis alamiah yang masih polos yang selalu mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Apa yang mereka tulis kerap sekali begitu segar dan mendalam. Tulisan mereka dapat membuat orang-orang di sekitar mereka melihat segala sesuatu dengan cara yang tidak pernah menyerah dan pernah menganggap gagasan mereka bodoh, kurang pas, atau tidak layak. Selalu ada perjuangan bagi anak kecil yang lugu itu’ (Efendi,2004:47-48).
Menulis surat (korespondensi) adalah salah satu media terapi imajinasi dan kreativitas anak. Imajinasi anak akan berkembang ketika dia membayangkan sosok sahabat pena yang berada jauh di pelosok nusantara. Mereka pun bisa berkreasi dengan kreativitas tidak terhingga mereka bagaimana caranya agar sahabat pena mau membalas surat atau bagaimana cara agar dapat menambah sahabat pena yang baru.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "DEFINISI MENULIS"

  1. Zein

     |
    August 29, 2014 at 3:30 pm

    Oleh Sebab itu, ayo perbanyak menulis.

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

oejaoier

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0