Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Hidayah Datang, Penjara jadi Pesantern
Hidayah Datang, Penjara jadi Pesantern
0 Komentar | Dibaca 641 kali
HUSNIJAL @husnijal05
24 August 2014

DIHUKUM di dalam lembaga pemasarakatan/ Lapas Muara Padang , Sumatra Barat, Indonesia, lebih kurang selama lima bulan, karena sebuah perkara ringan yang dibesar-besarkan. Menjadi peratara datangnya hidayah. Lantaran banyaknya hidayah dan yang didapat selama ditahanan, Penjara itupun dijadikan tempat belajar agama, penjarapun terasa menjadi Ponpes alias Pondok Pesantren. Bukan itu saja, sebagian besar penghuni lapas dan masyarakat tetap memihak dan memilihnya sebagai anggota DPRD Kota Padang periode 2014-2019. Ketika hari kebebasannya, ratusan warga dan simpatisan menunggunya, sampai jalan raya Lapas Muara Padang antri penuh sesak, Ini namanya Sengsara membawa nikmat.
Hal inilah yang dirasakan oleh salah seorang putra terbaik Kabupaten Pasaman Barat, sebagaimana disampaikanny a di Balerong gedung pertemuan kantor bupati Kabupaten Pasaman Barat Sumatra Barat Indonesia, Jum’at 22 Juli 2014. Disela-sela acara Silaturrahim, syukuran, pembekalan Da’i Nagari, dan dilanjutkan dengan acara bubar (buka bareng).

Menurut penulis, ini luar biasa sekali, patut dan bagus dijadikan pelajaran. Didalam Lapas Hari-hari dilaluinya dengan ibadah. Seperti holat berjamaah, sholat duha, sholat tahajut dan puasa Sunat Senin –Kamis, ini namanya nikmat yang begitu besar, padahal diluaran sebelumnya tidak pernah dikerjakan.Bahkan. Diantara sesama penghuni lapas terjalin persaudaraan / ukuwah Islamiah yang akrab. Dan niat jadi anggota dewan tetap tercapai.

Menjelang buka bareng, salah seorang Da’i , menyampaikan tausiah berjudul ” Kewajiban Anak Kepada Orang Tua setelah beliau meninggal dunia.”
Pertama : Memandikan dan mensucikannya. Sangat banyak diantara manusia yang ogah memandikan dan mensucikan mayat orang tuanya, diserahkannya saja kepada imam khatib atau petugas masjid. Dengan berbagai alasan, seperti karena ia orang kaya berpangkat, merasa gengsi. Karena alasan tidak tahan meihat jazad orang tuanya, karena sedag berobat pantang melihat mayat, Padahal itu semua alasan yang dibuat-buat. Penyebab sebenarnya karena jijik. Meskipun haji, dermawan, puasa tidak pernah tinggal, sholat tidak pernah tinggal, jika tidak mau memandikan dan mensucikan orang tuanya , dia itu anak DURHAKA.
Kedua : Mensholatkan dan mengimami
Ketiga : Tetap menjalin ukuwah dengan sudara.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Hj. ULPAH HASANAH, S.Pd.I

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0