Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / PENDIDIKAN KARAKTER ITU DIBIASAKAN, BUKAN DIBACAKAN
PENDIDIKAN KARAKTER ITU DIBIASAKAN, BUKAN DIBACAKAN
0 Komentar | Dibaca 909 kali
USMAN . J @makkiobaji
26 August 2014

I

Isu-isu moral dikalangan remaja seperti tindak kekerasan, kebebasan seksual, penggunaan obat terlarang dan isu-isu moral yang lain tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan yang sederhana. Isu-isu ini sudah cukup serius karena terkait dengan proses regenerasi kepemimpinan nasional dimasa yang akan datang, apalagi isu-isu moral ini sudah menjurus kepada tindakan kriminial yang meresahkan masyarakat. Unjuk kekerasan antar sekolah yang berujung pada kematian adalah fenomena yang sudah lazim kita saksikan baik dalam kehidupan nyata sehari-hari maupun dalam pemberitaan di media sosial.
Menyambut hari guru yang akan jatuh pada tanggal 25 November yang akan datang, maka hendaknya semua guru harus lebih berbenah menghadapi isu-isu ini. Ini bukan berarti bahwa tugas dan tanggungjwab terhadap isu-isu moralitas remaja hanya menjadi tanggungjwab guru semata. Akan tetapi beban sebagai pendidik sangatlah besar yang mengharuskannya bekerja lebih keras guna memiliki langkah-langkah antisipatif. Bukankah menciptakan generasi unggul, cerdas, bermoral, terampil dan berwawasan kebangsaan adalah cita-cita yang hampir semua sekolah mencantumkannya sebagai visi sekolah?. Maka sudah saatnya para guru bergerak cepat mempersiapkan pendidikan karakter, atau kita akan kehilangan generasi unggul yang siap melanjutkan kepemimpinan nasional.

 

II

Lerner, Entwisle dan Mauser dalam Santrock (2003), mengatakan bahwa bahwa banyak remaja yang tidak memperoleh cukup kesempatan dan dukungan untuk menjadi orang dewasa yang lebih kompeten. Padahal masa remaja adalah tahapan transisi menuju kestatus dewasa. Sebagai remaja, akan terus melakukan pencarian dirinya sendiri, mengkritisi sikap hidup yang lama dan mencoba yang baru untuk menjadi dewasa yang lebih menetap. Untuk itu diperlukan pendidikan dan bimbingan yang cukup sehingga para siswa yang umumnya remaja memperoleh beragam pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan dalam hidup dan kehidupannya, mampu melakukan transmisi nilai-nilai dan sistem moral yang menopang struktur sosial masyarakat.
Pada wilayah inilah pendidikan karekter itu penting. Membimbing remaja untuk memahami beragam sistem nilai, adalah tugas utama kita sebagai guru. Menurut Milson & Mehlig dalam Eggen & Kauchak (2004) bahwa pendidikan karakter itu menekankan pada transmisi nilai-nilai moral seperti kejujuran dan prinsip-prinsip bermasyarakat kemudian menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam beberapa perilaku. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut adalah melalui modeling. Ditambahkan oleh Eggen & Kauchak (2004) bahwa nilai-nilai dari pendidikan karakter seperti kejujuran, kepedulian dan penghormatan terhadap sesama seharusnya mendasari struktur kelas dan interaksi dengan siswa.
Bagaimana memahamkan pendidikan karakter itu, penulis mengarah kepada pandangan Bandura dalam Wedding (2010), bahwa belajar akan sangat melelahkan, jika orang-orang hanya mengandalkan efek dari tindakan mereka sendiri untuk memberitahu mereka apa yang harus dilakukan. Untungnya, sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui pemodelan. Dengan mengamati perilaku orang lain akan melahirkan informasi yang akan dikode sebagai panduan dalam bertindak. Konsep Bandura inilah yang disebut dengan pembelajaran sosial yakni pembelajaran yang dikembangkan melalui pemodelan.
Maka tidaklah berlebihan kiranya jika penulis mengatakan bahwa pendidikan karakter itu dibiasakan dan bukan dibacakan. Masih teringat dalam benak kita bagaimana sibuknya para guru membacakan satu persatu aturan tata tertib sekolah disetiap penerimaan siswa baru. Celakanya, sebagian guru sudah beranggapan bahwa dengan dibacakannya aturan-aturan itu maka siswa sudah memahami apa yang baik dan apa yang buruk. Pandangan ini adalah pandangan yang tidak didasarkan atas pemahaman yang utuh terhadap perkembangan siswa yang senantiasa berubah menyesuaikan dengan perkembangan konsep dirinya. Artinya apa?. Aturan –aturan itu tidak cukup hanya dibacakan semata akan tetapi dilaksanakan dengan konsisten dan sepenuh hati oleh para gurunya sebagai subjek pengamatan.
Menurut Sweeney (2009), bahwa seorang siswa memiliki seorang model yang dia hargai dia hormati dalam kehidupannya. Model ini terkadang dia jadikan sebagai bagian dari identitas diri mereka dalam kehidupannya. Untuk mendorong perkembangan karakternya, maka guru dapat mengarahkan anak untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi serta membandingkan beberapa model yang mereka kagumi dalam kehidupan mereka.
Tindakan konsistensi guru dengan aturan-aturan inilah yang akan memiliki efek kontruksi kepada para siswa sebagaimana disampaikan oleh Bandura (2006) bahwa modeling adalah sarana yang dominan untuk mengajarkan gagasan dan nilai-nilai baru karena mampu mempengaruhi perubahan sosial dan fungsi pribadi seperti dalam pembelajaran, motivasi dan fungsi konstruksi sosial. Dalam masyarakat, model bertindak sebagai pemancar pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan perilaku baru. Sedangkan pengamat akan memperoleh pengalaman emosional, mampu meningkatkan strategi dan teknik untuk sukses sebagaimana yang diperagakan oleh model. Menutut Bandura bahwa jenis model yang mendominasi dalam lingkungan sosial tertentu akan menentukan kualitas manusia pada lingkungan tersebut. Model dominan akan mempengaruhi peran sosial, kekuatan hubungan, norma-norma sehingga terbentuk kesadaran masyarakat.
Modeling menjadi penting dalam proses pembelajaran karakter karena melibatkan pembelajaran sosial. Terjadi proses retensi yakni transformasi aktif dan strukturisasi peristiwa. Pembelajaran sosial menggunakan dua sistem utama yakni imaginasi dan verbalisasi. Setelah aktivitas model dikode ke dalam imaginasi kemudian diverbalisasi secara simbolis, kemudian konsep tersebut mengarahkan lahirnya sebuah tindakan (Bandura, 2004).
Dalam konteks sekolah, modeling akan memproduksi perilaku dimana konsepsi simbolik diterjemahkan ke dalam tindakan. Berdasarkan informasi pembanding dari konsep model, maka perilaku dimodifiksi untuk mencapai hubungan antara konsep dengan tindakan. Fungsi penting dari konsep modeling adalah fungsi motivasi. Dengan mengamati model maka akan menghasilkan motivasi untuk berperilaku sama dengan model. Melihat orang lain mendapatkan hasil yang diinginkan dengan tindakan mereka akan menjadi motivasi positif bagi pengamat dalam hal ini adalah siswa yang mengamati gurunya.
Kepribadian atau karakter merupakan diri kita yang sesungguhnya yang terbentuk melalui lingkungan, pendidikan dan penghayatan nilai-nilai tertentu yang ditanamkan oleh lingkungan kepada kita. Semua orang memiliki karakternya sendiri. Karakter bisa berkembang sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan, pendidikan, dan pergaulan. Karena itu, sangatlah penting bagi seseorang untuk mengembangkan pribadinya pada hal-hal yang positif. Dalam hubungannya dengan karir, mengenal karakter sangat penting bagi seseorang karena dengan mengenal karakternya seseorang bisa mengidentifikasi tipe pekerjaan yang tepat untuknya di masa depan dan dengan dapat mengembangkan karakternya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang diimpikannya.
Apa yang disampaikan oleh Bandura ini kemudian menginspiirasi kita bahwa selayaknya pendidikan model adalah segala-galanya. Guru yang harus menjadi panutan ditengah-tengah membanjirnya panutan-panutan baru yang justru meruntuhkan moralitas remaja itu sendiri. Lihatlah bagaimana film Crow and Zero dari Jepang yang mempertonkan kekerasan remaja di sekolah menjadi film wajib bagi siswa.
Jika pendidikan karakter tetap bertahan dengan polanya yang konvensional yang hanya dijadikan bahan bacaan semata maka tidak akan berimplikasi pada pendalaman nilai-nilai. Bahan bacaan itu hanya hinggap pada proses pikir dan tidak membudaya menjadi kebiasaan. Hal ini kita bisa melihat bagaimana anak-anak tetap melanggar tata tertib sekolah padahal mereka tahu bahkan hafal diluar kepala. Kita juga bisa melihat bagaimana mata pelajaran tertentu di sekolah hanya menjadi bahan hafalan dan tidak menjiwai karakter anak itu sendiri. Lihatlah bagaimana pelajaran matematika hanya menghasilkan siswa yang mampu menghafal rumus-rumus akan tetapi tidak tumbuh menjadi pribadi yang logis dan rasional sebagai jiwa utama pelajaran matematika.
Lihatlah bagaimana pelajaran PPKN hanya menjadi ajang untuk menghafal undang-undang tapi tidak menghasilkan anak-anak yang taat aturan serta bertindak dengan lebih arif dan bijaksana. Pelajaran bahasa indonesia hanya menjadi kumpula tata berbahsa akan tetapi tidak menjadikan anak-anak kita sebagai penurut yan sopan, lembut dan sederhana sebagaimana jiwa pelajaran bahasa indonesia itu sendiri.

III

Khittah perjuangan guru yang dirumuskan pada tanggal 25 November 1945 silam harus tetap terjaga. Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan adalah khittah yang harus dipertahankan, dijiwai dan dibudayakan kepada para siswa sebagai bagian dari pendidikan karakter. Guru tidak lagi membacakan pengetahuan akan tetapi membiasakan pengetahuan kepada siswa. Mari menjadi pemancar pengetahuan dan subjek pengamatan yang baik bagi siswa.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

haryono

admin on Discoffeery, Kopi Hijau 100% Asli http://remotmepetsawah.blogspot.com/2017/04/discoffeery-kopi-hij ...
Daftar Artikel Terkait :  4
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0