Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / PENERIMAAN SISWA BARU & KECEMASAN SISTEMIK
PENERIMAAN SISWA BARU & KECEMASAN SISTEMIK
2 Komentar | Dibaca 1175 kali
USMAN . J @makkiobaji
26 August 2014

Pendahuluan
“… kami mengucapkan terimakasih atas tawaran anda, tetapi kami terpaksa menolaknya. Kami telah memiliki pengalaman, dimana beberapa anak muda bangsa kami telah menempuh pendidikan di perguruan-perguruan tinggi di provinsi utara. Mereka diajar berbagai ilmu anda, tetapi manakala mereka kembali ketengah-tengah bangsa kami mereka menjadi pelari yang buruk, tidak mengenal cara hidup di dalam rimba, tidak mampu menahan dingin maupun lapar, tidak mengerti cara berburu rusa ataupun membunuh musuh, tidak bisa berbicara dalam bahasa kami dan dengan demikian mereka tidak cocok menjadi pemburu, prajurit ataupun penasehat dan ini berarti mereka tidak bisa menjadi apa-apa.”.
Kutipan di atas adalah kisah yang ditulis oleh Benjamin Franklin tentang penolakan para tetua bangsa pribumi Amerika atas tawaran pendidikan kepada anak-anak mereka di Universitas William dan Mary. Kisah di atas sebenarnya mewakili situasi pendidikan yang sementara berlangsung di negara kita ini, model didikan yang memasung peserta didik ke dalam lubang kecemasan yang begitu dalam. Pendidikan yang memanusiakan justru mengalienasi manusia dari lingkungan sosial kulturalnya, dimana mereka lahir dan dibesarkan.
Sekolah dengan begitu teganya menyeret peserta didik masuk ke dalam ruang-ruang kelas yang sempit dan menakutkan, dipaksa mengucapkan syahadat pengetahuan para guru dan melafalkan buku pengalaman bagaimana seharusnya hidup. Padahal mereka adalah anak-anak yang memiliki buku pengetahuan sendiri, mampu membedakan baik dan buruk berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka akomodasi sebelumnya. Maka, untuk pertama kalinya anak-anak mengalami ketakutan untuk hidup di dunia luar. Mereka bermasalah dengan identitas diri, konsep diri, pemenuhan cita-cita dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Modus Kecemasan
Sistem pendidikan kita dewasa ini telah beroperasi sangat jauh mereduksi peran kemanusiaan kita dari manusia yang begitu sederhana dan pasti menjadi manusia berkeinginan yang selalu diliputi kegalauan dan kecemasan akan menjadi apa. Memakai analisis Eric Fromm, bahwa era renaissance sekarang ini telah menjadikan manusia sebagai titik pusat menggantikan posisi Tuhan. Sistem pendidikan telah memutuskan rantai eksistensi kita dengan alam, mengubah nilai lokal menjadi kosmopolit, yang selalu gelisah dan memikirkan banyak urusan.
Secara sistemik, kecemasan beroperasi di sekolah-sekolah dimulai ketika anak-anak diterima di sekolah yang baru kemudian ditempatkan pada ruang-ruang kelas yang sangat sempit, disekat oleh tembok-tembok keangkuhan. Para guru dengan status dan perannya sebagai pengajar, pendidik, penilai, penentu dan penghukum atas pola pikir, nilai-nilai, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik begitu sombongnya memaksakan membaca buku pengetahuan yang dimilikinya, mereduksi pengalaman-pengalaman hidupnya sebagai pengalaman peserta didik itu sendiri. Kita para guru dengan alasan pembelajaran, berubah wujud menjadi seorang diktator walaupun dengan kadar yang lebih lunak, melupakan tanggungjawabnya untuk mengetahui dan memahami isu yang berkembang dikalangan siswa.
Terlalu polos kita mengiyakan teori tabularasa, bahwa anak-anak adalah makhluk yang bersih dan suci dimana para guru harus mengisinya dengan berbagai informasi dan pengetahuan. Para pendidik mengajarkan bahwa hidup itu sulit dan penuh persaingan yang justru akan membuat anak-anak gamang dan takut. Padahal para peserta didik adalah manusia yang memiliki kontruksi pengetahuan sendiri sehingga peran pendidik seharusnya adalah mempertemukan kontruksi-kontruksi tersebut untuk menjadi kontruksi alternatif dimana mereka dapat membangun pengetahuan baru tanpa harus kehilangan pengetahuan sebelumnya tentang dunia.
Sekolahlah yang mengacaukan peserta didik dengan tema-tema abstrak, seperti pencarian jati diri, konsep diri, pemenuhan cita-cita, dan perbaikan nasib yang lebih baik. Sekolahlah yang menjadikan peserta didik seperti anak ikan yang panik mencari arti penting air dalam kehidupannya, lupa bahwa dia sudah berada di dalam air sejak lahir. Sekolah lupa, bahwa anak-anak itu berasal dari daerah yang orang tuanya tidak pernah memikirkan harus menjadi apa karena semuanya sudah sangat jelas. Mereka adalah anak-anak petani yang diharapkan mampu bertani lebih baik. Karena sekolahlah maka insting pertanian mereka yang pasti dan sederhana itu menjadi ribet, sulit terdeteksi dan tidak pasti. Pada titik inilah kecemasan memuncak, tidak lagi menjadi manusia otentik dalam pandangan psikologi eksistensial dimana mereka menyadari keberadaan diri dan lingkungannya serta menerimanya dalam kerangka penegasan diri.
Yang jelas, kecemasan demi kecemasan terus mendera anak-anak kita selama menempuh pendidikan dibangku sekolah. Karena siswa-siswa itu adalah anak petani yang siap menjual apa saja demi keberlangsungan pendidikan anak-anaknya, maka peserta didik menjadi objek potensial bagi para tenaga pemasaran perguruan tinggi menjelang pelaksanaan ujian nasional. Tidak ubahnya dengan iklan produk kosmetik, lembaga-lembaga tersebut masuk ke sekolah-sekolah mencari pelanggang baru yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Mereka menawarkan kuliah dengan fasilitas yang mewah, administrasi yang mudah dan jaminan masa depan yang lebih cerah. Tentu saja tanpa kehadiran Tuhan, karena Tuhan masih bekerja bersama ayah membajak sawah. Celakanya, seringkali para guru mengamini dan mendorong anak-anak mengambil pilihan-pilihan tersebut karena ukuran keberhasilan sekolah adalah jumlah siswa yang terserap diperguruan tinggi.
Penutup
Akhirnya lahan-lahan pertanian hanya diisi oleh para petani tua yang masih berharap anak-anaknya berkenang memegang cangkul yang mulai tumpul. Anak-anak mereka telah disibukkan oleh mesin-mesin industri dan politik dibalik tembok kokoh persis pada saat dia sekolah dulu. Para orang tua hanya berharap pekerjaan petani yang sederhana dan pasti dapat ditemukan kembali pada halaman lowongan kerja di media cetak. “Dibutuhkan seorang petani usia 20-25 tahun, pekerja keras, otentik dan siap ditempatkan di kaki gunung Bawakaraeng”. Barangkali teriakan Sri Hastuti, siswa SMA Negeri 1 Tinggimoncong melalui puisinya “Anak Gunung Membaca Bawakaraeng” adalah refleksi keberhasilan sekolah memisahkan anak-anak dari keotentikannya sebagai manusia yang lahir dan besar di kaki Gunung.
Diantara gunung
Anak gunung mengeja setiap titisan kata
Anak gunung maknai setiap titisan kalimat
Anak gunung menela setiap titisan ilmu
Meski gemuruh angin patahkan ranting pinus
Takkan goyah maknai A…I…U…E…O
Puisi anak gunung bercerita
Sederetan kisah anak gunung
Yang memaknai hidup
Harap esok tak bersama pacul bapak lagi

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Terdapat 2 Komentar pada "PENERIMAAN SISWA BARU & KECEMASAN SISTEMIK"

  1. PUDIYARSARI PRASTYOKO

     |
    August 28, 2014 at 1:10 pm

    mengutip puisinya, bagusss bgt…. “harap esok tak bersama pacul bapak lagi”

  2. wignya susilo

     |
    September 13, 2014 at 12:44 pm

    bagus .., kultur pegunungan ” tidak sekolah tidak apa, yg penting bisa cari uang” semoga sirna..

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Nasrudin Latif

Seorang insan yang ingin senantiasa belajar agar menjadi lebih baik
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0