Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen MUSLIMAH DI NEGERI ADAT
Cerpen MUSLIMAH DI NEGERI ADAT
0 Komentar | Dibaca 751 kali
SAHABUDDIN @elsah
05 September 2014

DSC_0001158

Oleh :Elsah (Staf Perpustakaan SMPN 2 Tarowang)
Sejak aktif mengikuti pengajian pada salah satu orangnisasi Islam yang diikutinya,Mirda,seorang gadis belia yang sedang menimbah ilmu dibangku Aliyah,berubah drastis dalam urusan agama.Selain rajin membaca Al quran dan buku-buku agama,rajin shalat tahajjud dan dhuha,berpakaian muslim dengan jilbab yang menutupi dadanya seperti yang disyariatkan Allah.Namun,yang membuat heran dan kadang memompa darah kedua orang tuanya adalah Mirda sudah mulai mengganggu amalan rutin orang tuanya yang sudah turun temurun seperti membakar dupa setap malam Senin dan malam Jumat ,selalu mendatangi dukun dalam segala urusan,rutin setiap tahunnya “assuro ammaca” untuk arwah “patanna butta”,”patanna jeknek”,”patanna anron pare”,”patanna panggadakkang” dan istilah Makassar lainnya,jimak-jimak yang dipakai ayahnya”,dan sebagainya yang berkembang dalam sebagian masyarakat Islam.Mirdapun selalu menyinggung shalat ayahnya yang bolong-bolong,itupun hanya di rumah,puasa ayahnya yang hanya 9 hari dalam sebulan,zakat orang tuanya yang diserahkan pada guru tarekatnya.
“Mirda,dimanako itu berguru seperti itu sehingga kamu sudah berani melarang-larang kami melakukan apa yang sudah biasa dilakukan oleh orang tua bahkan nenek-nenek kami,kamu itu sudah memasuki aliran sesat”,ujar Haji Hamid saat mendengar omongan Mirda.”Tapi semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam,Tetta,bahkan termasuk memperduakan Allah”,jawab Mirda.”Apa kau bilang ?,memperduakan Allah,aku yang lebih tahu daripada kamu tentang Allah,semua yang kami lakukan hanyalah kepada Allah”,balas Haji Hamid.”Betul kepada Allah,Tetta,tetapi dengan cara selain yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya jadi samajaki memperduakan Allah karena telah memperduakan ajaran-Nya”,sambung Mirda.”Eh,Mirda kita semua ini ahlusunnah waljamaah,yaitu golongan yang dijamin masuk surga”,sambung Pak Hamid.”Tidak begitu yang dikatakan ahlusunnah waljamaah,Tetta.Ahlusunnah waljamaah itu adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah Al Quran dan Hadis serta berjemaah dalam kebenaran,bukan ahlusunnah waljamaah kalau melakukan larangan sunnah dan berjemaah dalam kesesatan”,tutup Mirda.”Percuma berdebat dengan orang yang tidak memahami agama,Ya Allah,tunjukilah kedua orangtua dan saudara-saudaraku ke jalan yang benar”,batin Mirda.
Setahun kemudian,Mirda telah tamat di Aliyah.”Tetta,kipikir-pikirmi dulu untuk menerima lamaran Robi,karena saya mau kuliah”,ungkap Mirda ketika ayahnya menyampaikan bahwa Robi,anak Haji Mansur,seorang pengusaha kaya dikampungnya bermaksud melamar Mirda,Kedua orang tua Mirda setuju,sedangkan Mirda tentu tidak setuju,karena Mirna sudah mengenal Robi sebagai seorang pemuda yang gemar berjudi,play boy dan gemar minum minuman keras.”Haji Mansur sekeluarga itu orang baik,saya tidak sampai hati menolak lamarannya,dan masalah keinginanmu untuk kuliah itu nanti kamu sampaikan pada Robi dan haji Mansur”, ungkap Pak Hamid.”Iya,Nak,kami sangat senang bila kamu mau kawin dengan Robi,apalahi Robi seorang sarjana dan telah lulus K-2”,tambah Daeng Te’ne,istri Haji Hamid."Ha..haa…sarjana ?,sarjana yang tidak pernah kuliah itu Tetta ?,K-2 yang tidak pernah honor ?,hebaaaat !",ujar Mirda."Yang penting dia bergelar sarjana dan sebentar lagi akan menjadi PNS",balas Daeng Te'ne."Itu menipu negara,Amma !",sambung Mirda lalu meninggalkan tetta dan ammanya dan masuk ke kamarnya.
“Sebulan kemudian,”Pokoknya kau harus kawin dengan Robi,titik !!!”,ujar Haji Hamid yang membuat Mirda hanya bisa menangis.Tak ada tempat mengadu dalam keluarga.Mirda tidak bisa berbuat apa-apa karena dia amat takut mengecewakan atau durhaka pada orang tuanya,”Ya Allah,kalau Robi itu jodohku maka perbaikilah prilakunya,dan kalau bukan jodohku maka halangi perkawinanku”pinta Mirda pada Allah usai shalat Tahajjud.Baso,kakak tertua Mirda juga senang bila Robi menjadi iparnya,karena Baso adalah anggota Robi dalam club “ballo mania” sebuah arganisasi pengemar minuman keras yang dikampungku disebut ballo.Masalah ballo dan makanan pelengkapnya tidak menjadi masalah bagi Robi,itulah yang membuat Baso ingin dekat dengan Robi.
Seminggu kemudian,”Tetta,Amma’,telah kupenuhi permintaanta untuk menerima lamaran Robi,tapi ada juga yang aku minta”,kata Mirda,”Apa yang kamu minta,Nak ?”,Tanya Haji Hamid dan Daeng Te’ne hampir bersamaan.”Aku minta Tetta,Amma,untuk perkawinanku nanti tidak ada acara yang melanggar syariat Islam,seperti "appaenteng panngadakkan"(ritual penghormatan kepada benda-benda pusaka),tidak mendatangi dukun siappun,tidak mendatangi tempat keramat apapun,tidak ada acara assuro ammaca untuk patanna butta,pattanna anrong pare,dan lainnya,kalau tidak dipenuhi maka jangan salahkan aku bila perkawinanku nanti gagal”,pinta Mirda yang disertai ancaman.Namun,ancaman itu sepertinya didak berhasil menggoyangkan iman kedua orang tuanya.”Itu tidak mungkin,Mirda.Apa kata keluarga besar kita bila tidak melakukan adat seperti itu,kami takut mendapat kutukan nenek moyang dan celaan masyarakat kita “,jawab Haji Mansur,”Istigfarki Tetta,hanya kepada Allah kita takut,semua yang Tetta takuti itu tidak bisa berbuat apa-apa,tidak bisa menghukum kita.Allah akan melindungi kita bila hanya takut kepada Allah”,bantah Mirda.”Tidak Nak,kami takut,kami tidak mau seperti Pak Sumar,yang gila gara-gara meninggalkan tradisi orang tuanya”,sambung Daeng Te’ne.Mirdapun diam “percuma berdebat dengan orang yang tidak memahami agama”,batin Mirda.
Seminggu kemudian,semuanya dijalani Mirda dengan terpaksa.Acara appaenteng pangngadakkanpun dilakukan.Mirda dan Robi duduk beralas tikar di sebuah kebun.Rombongan pakaian adatpun mulai menari yang diiringi “ganrang”.Daeng Tobo,seorang dukun dan tokoh adat memulai acara.Kerbau yang akan disembeli diarak mengelilingi calon penganting sebanyak 7 kali. Mirda hanya bisa beristigfar menyaksikan semua itu.Mirda tahu bahwa ujung-ujung dari acara ini adalah mempersembahkan kerbau itu pada "patanna pangngadakkan" (roh yang diwakini pemiliik benda-benda pusaka) yang Mirda sendiri tidak tahu siapa orangnya dan di mana tempatnya.Cuma dukun itu pernah bilang bahwa patanna pangngadakkan tinggal di puncak gunung Bawakarang. “Dengan mempersembahkan kerbau padanya,maka mereka akan menjamin keselamatan dan rezki kita”,kata dukun itu.”Ini pasti persembahan kepada berhala,Allah telah menyatakan bahwa binatang yang disembeli atas nama berhala haram dimakan dagingnya,betapa banyak tamu yang akan makan daging haram”,batin Mirda.
Walau berat bagi Mirda,namun demi ayah dan ibunya prosesi berjalan lancar.Mirda hanya bisa beristigfar saat acara "korongtigi".Mirda tahu bahwa membuka aurat di depan lelaki yang bukan mukhrim adalah dosa,apalagi satu persatu laki-laki itu menghampirnya lalu menyentuh dahi dan lehernya bersama ramuan daun pacar.”Ya Allah,siapa yang akan tanggung dosa semua ini,ampunilah aku karena aku hanya menyenangkan hati kedua orang tuaku”,batin Mirda.
Sebulan kemudian,seluruh acara perkawinan Mirda telah usai,Mirda telah dikembalikan ke rumahnya setelah menyelesakan acara “Akbangngi matoang”,Mirda telah dimandikan oleh "anrong bunting" (pengasuh penganting) dan dukung langganan orang tuanya.Setiap penganting yang berhasil dimandikan oleh dukun Daeng Tobo akan dijamin langgeng,mudah rezki dan selamat dunia akhirat.Demikianlah kepercayaan masyarakat kampong Mirda.Telah sebulan berjalan Mirda menjadi istri Robi.Berbagai gejolak telah dirasakan Mirda namun tak seorangpun tempat curhatnya kecuali kepada Allah.”Tidak usah ragukan rumah tangggamu dengan Robi,Nak.Waktu yang kamu pakai menikah itu adalah waktu yang paling baik,semua orang pintar yang saya datangi sepakat dengan waktu itu,mereka juga menjamin bahwa Robi memiliki sifat yang baik,setia dan penyayang”,ungkap Daeng Te’ne.
Tapi,tidak seperti itu yang dirasakan Mirda.Suami Mirda selain suka minum minuman keras,suka berjudi,juga tidak shalat dan banyak larangannya yang membuat Mirda tersiksa.Robi suka marah bila diingatkan untuk shalat,bila diingatkan dosa berjudi dan minum-minuman keras,bila diingatkan untuk membuang jimat-jimatnya.Malas kerja dan selalu pulang tengah malam membuat Mirda semakin tersiksa,ditambah lagi larangan Robi supaya Mirda buka jilbab bila keluar rumah agar kelihatan cantik dan melarang Mirda mengikuti pengajian kelompoknya.”Sabarlah Mirda,semua ini cobaan dari Allah bagimu,kalau kamu bisa bersabar atas keburukan suami,maka kelak kamu akan bersama dengan Aisyah,istri Firaun di surga,kata Uztazah Wahidah saat Mirda mencoba curhat padanya.”Tetaplah pada jalan Allah dan doakan selalu suamimu agar Allah memberinya petunjuk,karena hanya Allahlah yang berkuasa memberi pentunjuk kepada yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya”,tambah Ustazah Wahidah.”Apakah kita harus tetap berbakti pada suami yang berperlaku buruk ?”,Tanya Mirda.”Ya,seharusnya begitu dan kalau kamu bersabar berbakti kepada suami maka Allah akan melipatgandakan pahala kesabaranmu,ingat Mirda Allah beserta dan mencinta orang-orang yang sabar”,jawab Ustazah Wahidah.
Setahun kemudian,Mirda telah dikaruniai seorang anak.Anaknya lucu sehingga menjadi hiburan dan pelipur Mirda.Namun,Bayinya itu tidaklah mampu menghilangkan siksaan batin Mirda,karena Robi selalu berlaku kasar padanya,bahkan tidak segan-segan memukulnya bila Mirda mengingatkannya untuk shalat saat Robi pulang dalam keadaan mabuk atau kalah berjudi.Penderitaan Mirna menjadi sempurna saat tersebar berita bahwa Robi berselingkuh dengan perempuan lain sekampungnya sendiri.Mirda berusaha keras untuk bersabar,disembunyikan kesedihannya,sampai akhirnya Mirda tertimpah penyakit akibat sengsara batin.Oleh ibunya dibawanyalah Mirda ke rumah dukun untuk berobat padahal di kampungnya ada seorang dokter.Diambillah sebungkus rokok dan koret api lalu dukun itupun menyampaikan bahwa Mirda kemasukan arwah "patanna jeknek" (Roh penguasa air) dan patanna mata alloa (roh penguasa matahari).”Itulah sebabnya Mirda merasakan sakit kepala,panas tetap kakinya dingin”,kata dukun itu.Mirdapun diobati ala dukun,diberi air minum yang sudah dimantrai,dan diperintahkan orang tua Mirda untuk membuat sesajen yang akan dipersembahkan kepada patanna jeknek dan patanna mata alloa.
Sebulan kemudian,penyakit Mirda semakin parah,karena penyakitnya yang seharusnya ditangangi secara medis malah ditangani secara non medis.Namun kedua orangtua dan mertuanya lebih percaya pada dukun langganannya.Mirda pasrah saja pada penyakitnya.Hanya bisa beristigfar setiap kali diobati oleh dukun,”Ya Allah,semua pengobatan ini bukan atas kehendakku,aku bukanlah hamba-Mu yang percaya pada dukun,ampunilah aku.Bila kematian itu adalah yang terbaik bagiku maka lakukanlah yang terbaik itu dan bila kesembuhan itu adalah terbaik bagiku maka sembuhkanlah aku”,doa Mirda.”Tetta,Amma,mana semua yang kalian janjikan padaku,waktu yang baik,dukun yang baik,dan semua yang kalian lakukan untuk membuang kesialan dalam rumah tanggaku.Itu semua tidak terbukti,yang kuperoleh hanya kesialan,aku sial telah bersuami dengan seorang setan.Kebahagiaan yang kalian janjikan itu ternyata hanyalah kesengsaraan yang kuperoleh.Maafkan Mirda Tetta,Amma bila lebih duluan meninggalkan kalian”,kata Mirda sambil becucuran air matanya.Kedua orang tuanyapun menangis dan merasa bersalah.Kedua orangtua Mirdapun menyesal telah mengawinkan anaknya dengan Robi yang dari awal sudah diketahui prilakunya.Sejak sakit,Robi tidak ketahuan kemana rimbahnya.Kedua orang tua Robi sangat menyesal karena telah dimusuhi oleh menantu yang sangat dibanggakannya.
Seminggu kemudian,”Tetta,Amma,Allah telah memberiku kabar bahwa tidak lama lagi kita akan berpisah,Allah akan membawaku pergi ke tempat yang tenang dan damai untukku.Maka sebelum kupergi meninggalkan Tetta,Amma,maka kutitip anakku kepada kalian,didik dan besarkanlah dia.Masukkanlah dia nanti disekolah pesantren”,kata Mirda dalam kondisi yang semakin lemah.”jangan berkata begitu,Nak,kau akan sembuh”,kata Daeng Te,ne lalu memeluk anaknya,”Maafkan aku dan tettamu Nak yang telah memaksamu untuk kawin dengan Robi,kami sangat menyesal,Nak”,sambung Daeng Te’ne.”Jangan disesali yang telah ditakdirkan Allah,Amma !,aku tidak menyalahkan siapa-siapa,aku hanya mohon kepada Tetta dan Amma agar meninggalkan kepercayaan-kepercayaan dan amalan sesat yang selama ini dilakukan,semua itu termasuk mempersekutukan Allah,adalah dosa besar yang membuat kita masuk neraka,bertaubatki Amma,Tetta,lalu pelajari agama Islam yang benar agar tidak tertipu oleh setan”,kata Mirda."Dukun itu adalah pasukan-pasukan setan untuk menyebarkan kesesatan",sambung Mirda.Haji Hamid dan Daeng Te’ne hanya bisa diam,tak berani lagi mengertak anaknya.Mereka mulai kagum dan percaya pada ketekunan beragama dan kesabaran Mirda menghadapi ujian Allah.”Laa ilaaha illallah”,ucap Mirda mengahiri hidupnya.Daeng Te’ne langsung menjerik menangis memeluk anak kesayangannya yang telah pergi menghadap Tuhannya.Rasa bersalah dan kebencian pada Robi meliputi dirinya,apalagi Robi tidak hadir saat kepergian istrinya.
”Ya Allah,selamatkanlah anakku,masukkanlah dia ke dalam surga-Mu dan ampunilah aku yang telah memaksakan kehendak kepada anakku,bimbinglah aku pada jalan-Mu yang benar”,doa Haji Hamid pemakaman Mirda.Nampaknya doa Pak Mirda dikabulkan Allah.Pak Hamid selalu memimpikan Mirda datang membacakannya Al Quran dan hadis terjemahan.”Ya Allah,ampunilah dosa-dosa dan aku bertaubat dari kesyirikan yang telah aku lakukan”,doa Haji Hamid setiap kali memipikan Mirda.Sejak itu,terbukalah hati Haji Hamid pada kebenaran dan menggalkan kepercayaan dan amalan warisan nenek moyang yang telah menyesatkannya.Dibuanglah berhala-berhala yang tersimpan di rumahnya,dibuanglah jimak-jimak yang diikat dipinggangnya dan ditinggalkanlah persembahan-persembahan pada berhala-berhala.(Palajau,Juni 2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ISTIANAH MARIYAH ULFAH

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0