Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen CANGKIR KEMBAR
Cerpen CANGKIR KEMBAR
0 Komentar | Dibaca 1089 kali
SAHABUDDIN @elsah
05 September 2014

Oleh:Elsah (Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang)

Sudah lama aku mendengar cerita tentang Cangkir Kembar,namun mata kepalaku belum pernah menyaksikan bagaimana cangkir kembar itu sehingga aku hanya bisa menduga-duga bahwa cangkir kembar itu mirip dengan anak kembar siang yang cangkirnya dua dan pegangannya cuma satu.Menurut Santi, teman kuliahku,yang pernah menyebut istilah cangkir kembar,mengatakan bahwa cangkir langkah ini hanya ada di kampungnya dan khusus diperuntukkan bagi para bangsawan yang bergelar ‘karaeng’ atau bangsawan ‘daeng’ tetapi mau diperlakukan seperti karaeng,pada pesta atau jamuan yang dilakukan oleh non bangsawan yang dikampungnya diistilahkan dengan ‘golongan rakyat’.
Lima tahun kemudian temanku,Santi menggelar pesta atas pernikahan adiknya.Santi berasal dari keluarga golongan rakyat,jadi ini kesempatan bagiku untuk menyaksikan langsung cangkir kembar itu,sebagaimana yang pernah dikatakan Santi bahwa orang yang segolongannya wajib menyiapkan cangkir kembar untuk melayani minuman bagi laki-laki bangsawan kelas atas di kampungnya.”Biar anak-anak ?”,tanyaku.”Biar anak-anak kalau duduk bersama dengan bangsawan di bawahnya atau rakyat harus dilayani dengan cangkir kembar”,jawab santi.”Kalau laki-laki karaeng berjumlah sepuluh berarti harus menyiapkan sepuluh cangkir kembar dong,berarti dua puluh cangkir ?”,tanyaku lagi.”ya, begitulah”,jawab Santi.”Apakah tidak merepotkan tuan rumah ?”,tanyaku lagi.”ya tentu merepotkan tetapi apa mau dikata,adat yang memaksa kami demikian karena kalau tidak dilayani seperti itu istri mereka akan marah-marah,bahkan bisa mengamuk”,jawab Santi.”Astagfirullah,tamu yang marah-marah hanya karena pelayanan tuan rumah seperti itu,apakah mereka tidak berpendidikan sehingga masih mempertahankan adat-adat kuno yang mempertahankan kesombongan seperti itu ?”tanyaku lagi.”Tentu mereka berpendidikan bahkan sarjana namun demi kebangsawanannya,adat seperti ini harus dipertahankan”,jawab santi.”Apakah tidak ada tokoh agama yang bisa mengingatkan bahwa membangga-banggakan keturunan adalah kesombongan yang amat dibenci Allah ?”,tanyaku lagi.”Siapa sih yang berani,mereka semua kan orang besar sedangkan kami semua orang kecil,sudah lumayan sekarang dibanding beberapa tahun yang lalu kami rakyat kecil harus melayani para bangsawan dengan ‘dulang’ bagi ibu-ibunya”,jawab Santi.
Aku sengaja bermalam di kampung Santi karena kuingin menyaksikan langsung pelayanan dengan cangkir kembar itu.Sorenya aku sempatkan diri ngobrol dengan ibu-ibu keluarga Santi.”Begitulah di kampong ini kami kadang serba salah kalau mengadakan pesta karena membeda-bedakan tamu,karena yang menuntut pelayanan secara adat hanyalah orang bangsawan kampung ini,sedangkan tamu lain yang mungkin juga bangsawan kita layani dengan biasa,terkadang merekapun protes dan kalau dilayani semua seperti itu,tentu sangat merepotkan bagi kami dan kalau mereka tidak dilayani seperti itu kami yang mengadakan pesta menjadi sasaran kemarahannya”,ungkap Manta,istri Sanne padaku.”Mungkin mereka khawatir kalau tidak dilayani seperti itu,kalian tidak akan mengakui kebangswanannya”, dugaanku.” Kami sebagai rakyat di kampung ini sangat mengakui strata sosial mereka,apabila merekapun menghargai kami.Kami menghormati seseorang bukan karena gelar bangsawaannya melainkan karena budi pekertinya yang terhormat,bukankah begitu yang diajarkan agama ?.Untuk apa kita hargai namanya,kalau perbuatannya tercela dalam agama seperti pemabuk,penjudi ataupun pencuri,bukankah bangsawan yang sesungguhnya adalah keluhuran budi pekerti dan ketaatan beragamanya ?,meraka selalu merendahkan,dilarang duduk di kursi bersama mereka”,balas Manta’ sambil melihat sekelilingnya,takut jangan sampai ada yang mendengar omongannya.Dari pengakuan beberapa keluarga Santi dapat kusimpulkan bahwa pelayanan dengan cangkir kembar sebenarnya sudah ditolak oleh rakyat sebagaimana mereka telah menolak pelayanan dengan dulang,hanya karena golongan bangsawan masih berusaha mempertahankannya sehingga rakyatpun dengan terpaksa melakukannya.
Malam harinya,usai menggelar acara barzanji,ibu-ibupun sibuk menghidangkan minuman teh dan berbagai jenis kue kepada jemaah barzanji.Cangkir-cangkirpun di sebarkan,ada yang diberi satu cangkir dan tiga orang diberi dua cangkir.”Wah,inilah barangkali yang dimaksud dengan cangkir kembar”, batinku,sedangkan aku dan lainnya hanya ada satu cangkir. Kucoba kuambil satu cangkir lalu kupindahkan ke orang dekatku yang belum dapat,namun orang yang melihatku langsung mengambilnya lalu mengembalikan ke cangkir pasangannya.Orang yang diberi dua cangkirpun lalu menatapku,seakan-akan bertanya,”tidak tahu ya bahwa aku bangsawan atas di kampung ini ?”.
Usai minum teh kuperhatikan cangkir kembar yang ada di sampingku,ternyata yang mereka minum cuma satu cangkir,kalau begitu “yang secangkir itu untuk siapa ?,kalau tidak diminum berarti mubazir,bukankah agama melarang kita mubazir karena mubazir adalah teman setan ?”,batinku. ”Kiminum tehta,Kareng masih ada satu cangkir”,ucapku yang disambut tawa oleh beberapa tamu, sedangkan yang kupersilahkan cuma diam menatapku.Insiden terjadi saat acara minum teh usai.Cangkir kembar yang diangkat Sinta,sepupu Santi tiba-tiba jatuh dan mengenai kepala seorang tamu perempuan.Selain kepala tamu itu basah,cangkir pun pecah.”Kubilang memang satu saja cangkir,tapi kau bilang takut..takut..,liatmi tidak diminumji semua ”,ujar Sumi dari dalam.Tamu yang basahpun memarah-marahi tuan rumah.
Setelah tetamu pulang,kupertanyakan tetamu itu pada Santi terutama yang diberi cangkir kembar.”Kalau yang di depanmu tadi,itu Karaeng Se’re anaknya Karaeng Sirua.Kalau yang disampingya namanya Karaeng Tallu anaknya Karaeng Appa,kalau yang disampingmu namanya Karaeng Lima anaknya Daeng Ngannang,kalau yang lain-lainnya daeng-daengji semua,sedangkan yang duduk paling ujung dekat pintu adalah golongan rakyat”,jawab Santi.”Mengapa yang satu itu dipanggil karaeng padahal ayahnya cuma daeng,bukankah dalam aturan adat daerah kita yang menganut sistem patriliniar, kebangswanan anak ikut pada kebangsawanan ayah ?,kalau di kampungku, Santi, seorang anak tidak bisa digelar karaeng kalau hanya ibunya yang karaeng sedangkan ayahnya hanya daeng,berarti masyarakat di kampungmu belum mengerti adat daerah kita.Memberi gelar kebangswanan itu ada aturan adatnya,jadi kita tidak bisa seenaknya memberi gelar karaeng pada anak kalau ayahnya hanya seorang daeng apalagi kalau gelar itu bisa merepotkan orang lain untuk mendapatkan cangkir kembar,atau dengan gelar itu mereka meninggi-ninggikan dirinya lalu merendahkan orang lain”, protesku.”Yaaaa,apa mau dikata bagi rakyat seperti kami,kami tak perlu tahu apakah sesuai atau tidak sesuai dengan aturan adat yang jelas itulah yang terjadi di kampung ini”,balas Santi.
dMendengar azan Subuh di masjid masjid,akupun bangun lalu bergegas pergi ke masjid. Astagfirullah,jemaah Subuhnya tidak cukup setengah baris.”Ihh,di mana semua lelaki Islam di kampung ini,kira tadi malam banyak yang ikut barzanji ?”,tanyaku pada imam shalat.”Begitulah kampong ini,kesadaran beragamanya masih rendah,hanya kami yang bisa shalat Subuh bila diluar Ramadhan”,jawab Pak Imam.”Astagfirlullah,Allah yang memanggil umat Islam untuk beribadah di masjidnya,lalu yang memenuhinya cuma beberapa orang yang sudah berbau tanah dan seorang yang masih kencur, dibanding tadi malam jemaah barazanjinya yang berdesak-desakan ?”,ungkapan keherananku. ”Berarti kapatuhan pada adat masyarakat kampung ini jauh lebih tinggi dibanding kepatuhan pada agamanya,bayangkan kalau Allah yang memanggilnya beribadah di masjid mereka tidak mau memenuhinya,tetapi kalau sesama manusia yang memanggilnya untuk barzanji di rumahnya mereka berlomba-lomba,apakah karena di masjid tidak ada teh atau kue sehingga tidak mau memenuhi panggilan Allah sedangkan memenuhi panggilan barzanji karena ada teh dan kuenya ?,keterlaluan amat umat Islam di kampong ini,nauzubillah”,tambahku.”Mau diapai pale,kita sudah berusaha memberi kesadaran bagi mereka tetapi mereka tidak mau sadar”,balas Pak Imam dan jemaahpun bubar.
Lima tahun kemudian Santi menikah dan mengundangku.Seperti dulu,aku bersama keluargaku bermalam di rumah Santi.Cangkir kembar yang dulu terkenal di kampong ini nampaknya telah tiada.”Alhamdulillah kepala desa yang baru telah mereformasi adat dengan mempertimbangkan aspirasi golongan rakyat”,jawab Santi atas pertanyaanku.”Adat tetap ada,cuma disesuaikan dengan zaman dan tuntutan rakyat,cangkir kembar tidak dipakai lagi begitupun gelar karaeng hanya dipakai oleh seorang bangsawan yang ayahnya bergelar karaeng,dan ternyata kami lebih ihlas melayani mereka disbanding dulu yang selalu merasa terpaksa”,tambahnya.Masjidpun menjadi ramai jemaah,nampakkan kesadaran beragamanya telah tumbuh.”Alhamdulillah selama dibiarkannya jemaah tablig berdakwah di masjid ini,ilmu dan kesadaran beragama masyarakat meningkat,dibanding dulu kala menolak kehadiran jemaah tablig”,ungkap Pak Imam padaku.”Memangnya kenapa itu jemaah tablig”,tanyaku.”Saya juga tidak tahu kenapa pengurus masjid menolaknya,padahal mereka datang cuma untuk berdakwah mendorong kita untuk memakmurkan masjid bukan untuk datang menyebarkan ajaran sesat”,tambahnya.”Coba kitanya masyarakat lain yang selalu kedatangan jemaah tablig,adakah jemaah tablig itu menyebarkan ajaran sesat ?,adakah mereka memaksa kita untuk ikut dengannya ?,tidak kan ?”,balasku.”kamu juga jemaah tablig ?”,Tanya Pak Imam yang mungkin curiga karena pakaianku mirip jemaah tablig.”Bukan,tetapi mendukung usaha dakwahnya demi kesadaran beragama dan kemakmuran masjid,saya tidak terikat pada organisasi apapun,yang kulakukan adalah yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya melalui Al Quran dan hadis,makanya jangan muda berprangka buruk pada orang lain,timbanglah sesuatu menurut neraca Al Quran dan hadis,kalau ada yang sesuai kita dukung dan wajib diikut,tetapi yang bertentangan kita tolak dan tingggalkan.Jadi menerima atau menolak sesuatu harus dengan dasar ilmu,bukan dengan nafsu.(Ujung,2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Asyuni Keledar

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0