Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen JANGAN SALAHKAN WAKTU
Cerpen JANGAN SALAHKAN WAKTU
0 Komentar | Dibaca 1293 kali
SAHABUDDIN @elsah
05 September 2014

Ellsah (Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang).

Perkawinan Basse dengan Baso dijamin berlimpah berkah,karena mulai dari penetapan jadwal pernikahan orang tua kedua belah pihak telah mendatangi beberapa orang pintar meramal waktu.”Waktu yang terbaik adalah malam ke-14 di bulan Syawal”,kata Salasa seorang dukun di kampungnya.”Jangan coba-coba mengadakan pesta pada sembarang waktu karena bisa berakibat buruk”,sambungnya. Orang tua kedua belah pihak sepakat memakai malam ke-14 bulan Syawal sebagai waktu pernikahan karena waktu tersebut disepakati oleh lima orang dukun dan tiga orang pinter.Pernikahan diwaktu yang terbaik tersebut dijamin mengundang berkah,rezki mempelai akan melimpah,pernikahan akan langgeng,bebas dari segala macam kesialan.Demikianlah kepercayaan sebagian besar masyarakat yang berlaku secara turun temurun.
Untuk lebih menjamin berkahnya pernikahan Basse dengan Baso maka terlebih dahulu diadakan acara “annyangko bala”,agar segala bahaya bisa menjauhi rumah tangga mereka,diadakan “assuro ammaca” dengan mempersembahkan sesajian kepada arwah keluarga yang telah diam di alam sana,untuk para penghuni kuburan dan tempat keramat agar mereka ikut merestui dan tidak datang mengganggu hajatan keluarga Basse dan Baso.”Appaenteng Pangngadakkan” pun dilakukan sebagai kewajiban keluarga Basse dan Baso dan sebagai tanda bahwa kedua mempelai adalah keluarga bangsawan.Kerbau dihias lalu diarak mengelilingi mempelai kemudian disembelih yang darahnya dipersembahkan kepada “Patanna Pangngadakkan” sebagai penguasa tertinggi,pemberi berkah dan yang bisa membuang kesialan.
Selama tiga malam diadakan acara “Barzanji” yaitu pembacaan kisah hidup Nabi Muhammad SAW yang dikarang oleh Syekh Jafar al Barzanji secara bejamaah usai Shalat Isya yang masyarakat mempercayainya sebagai amalan wajib pelengkap pesta yang diyakini dapat mendatangkan berkah dan membuang kesialan. Dua malam berturut-turut Basse di-“korongtigi”.Dirias secantik-cantiknya lalu duduk di ruang pelaminan yang dipandu oleh “anrong bunting”.Setelah diasapi dupa beberapa kali putaran maka satu persatu hadirin dipersilahkan mendekati Basse untuk menyampaikan “korongtigi”,yaitu meletakkan ramuan daun pacar pada muka dan leher Basse.Basse tidak peduli siapa yang datang menyentuh kulit muka dan lehernya,mukhrim atau bukan mukhrim ?.”Ini kan adat jangan dihubung-hubungkan dengan agama”,kata Sangkala saat kukatakan bahwa haram hukumnya menyentuh wanita yang bukan mukhrim.Aku cuma diam mendengar alasan adat aturan agamapun dilanggar.
Sebagai keluarga kaya,pesta Basse tergolong paling meriah di dikampungnya,berbagai hiburan dipertontontonkan dari lomba karaoke sampai ke lomba domino.Hadiahnya tak tanggung-tanggang.Juara I Domino dan karaoke diberi 1 buah televisi 21 inci.musik elekton menghibur selama 2 malam dan pada malam terakhir dihadirkan hiburan spesialis yaitu “saweran” yang mengahadirkan artis-artis forno,yang membuat para pengilanya bergoyang-goyang mengikut birahinya disemangati oleh pasukan-pasukan iblis.Usai pesta suami Sumi,Mari’ masuk rumah sakit karena sakit perut akibat terlalu banyak minum ballo tetapi dukun mengatakan bukan pengaruh ballo tetapi “Patanna kampong” yang marah karena lupa dikirimi sesajian.
Setahun kemudian,Basse telah memiliki momongan.Bocah laki-laki hasil perkawinannya dengan kekasihnya Baso.Namun,ada sedikit yang berubah pada diri Basse.Dia yang dulu montok kini tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit.”Kenapa nubegitu Nak Basse,bilang-bilang kalau sakit nanti dibawa ke dokter”,Tanya Sumi,orang tua Basse.”Basse Cuma bisa menjawab dengan air mata yang menganak sungai di kedua bola matanya,lalu memeluk ibu kesayangannya.”Maafkan aku Amma’ mungkin aku salah memilih pasangan hidup”,ungkap Basse lalu melepas tangisnya.Sumipun lalu berusaha menenangkan anaknya.”Memangnya kenapa dengan Daeng Basomu ?”Tanya Sumi.”Sepertinya berpisah lebih baik daripada terus bertahan dalam derita batin,Daeng Basoku ternyata tidak seperti yang kukira dulu waktu kami pacaran,selama kami bersama Daeng Basoku tidak pernah menampakkan tanggungjawabnya sebagai suami selain dari membuat anak,dan paling menyiksa batinku,Amma karena prilakunya yang buruk.Daeng Basoku suka berjudi,minum minuman keras,main perempuan dan suka memukulku”.Jawab Basse.
“Kenapa bisa jadi begini,pernikahanmu dilakukan pada waktu yang sangat baik,Semua orang menjaminnya sebagai waktu yang membawa berkah.Waktu air adalah waktu terbaik dalam melangsungkan pernikahan karena waktu air membuat rezki mengalir seperti air”,ujar Sumi pada Basse sepulang dari pengadilan yang mensahkan perceraiannya.Basse telah resmi secara hokum dan secara adat sebagai janda.Kedua Orang tua Basse,Sumi dan Mari’,selalu bertanya-bertanya mengapa ritual tolak bala atau buang sial yang dilakukannya tidak ada yang berhasil.Mengapa perkataan dukun dan orang pintar yang pernah kudatangi tdak ada yang benar.Rumahn tangga Sumi berantakan,kehidupannya sengsara,”Mana rezki yang melimpah itu ?”teriak Sumi tak sanggup menahan emosinya.
“Allah telah menetapkan segala sesuatu pada diri makhluk-Nya”,demikian kata Ustaz Herman dalam TV Islam yang terdengar di telinga Sumi.Sumipun lalu mendekat ke layar TV,sepertinya tertarik pada perkataan Ustaz.”Dalam Quran Surat Al Hadid ayat 22 Allah berfirman bahwaTiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.Yang ditetapkan oleh Allah pasti terjadi dan yang tidak ditetapkan oleh Allah pasti tidak akan terjadi.”Kalau Allah menghendaki suatu nikmat pada diri seseorang maka tidak ada yang bisa menghalanginya dan kalau Allah menghendaki keburukan maka tidak ada yang bisa menolaknya”,sambung Ustaz Herman yang mengutif Firman Allah.
“Manusia hendaknya berusaha meraih kenikmatan dunia atau menolak suatu keburukan dengan cara-cara yang disyariatkan Allah”,sambung Ustaz Herman yang membuat Sumi betah di depan TV.”Dalam Al Surat Al Qashshas ayat 77 Allah mendorong kita untuk mengejar kenikmatan akhirat tetapi jangan melupakan kenikmatan dunia.Oleh karena itu,Allah menyediakan bagi kita waktu,yaitu siang yang terang benderang sebagai waktu untuk bekerja mencari rezki dan malam yang gelap sebagai waktu untuk istrahat.Semua waktu yang diciptakan oleh Allah untuk manusia dan yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang sial atau yang rugi hidupnya”tambah Ustaz.Sumi terus mengikuti pengajian yang dilakukan oleh TV Islam,ada ketertarikan Sumi pada topik kajian kali ini,sampai akhirnya pemirsa diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.
Sumipun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.”Ustaz,saya Nyonya Sumi dari Sulawesi Selatan,saya mau ternyata apakah dalam Islam dikenal waktu baik dan waktu sial?”,Tanya Sumi.”Bu Sumi,Islam adalah agama yang sempurna.Islam Tidak mengajarkan waktu sial.Semua waktu adalah baik,yang sial adalah manusia yang menyia-nyiakan waktu”,jawab Ustaz.”Dalam sebuah hadis Qudsi Allah telah menyatakan kekecewaannya terhadap manusia yang mencela-cela waktu karena waktu itu adalah ciptaan Allah.Oleh karena itu,Rasulullah SAW melarang kita umatnya mencela-cela waktu’,tambah Ustaz.”Tapi ustaz banyak dukun dan orang pintar di kampungku yang mengatakan bahwa ada waktu baik dan ada waktu sial dan kadang terbukti,Ustaz ?”Sumi balik bertanya.”Bu,sebagai umat Islam,mana yang kita percaya Allah dan Rasul-Nya atau dukun atau orang pintar itu ?”,ustazpun balik bertanya.”Tentu Allah dan rasul-Nya,Ustaz !”,jawab Sumi.”Kalau percaya pada Allah dan rasul-Nya maka jangan percaya dukun dan orang yang dianggap pintar itu.Bu,orang pintar itu adalah ulama atau ilmuan yaitu orang yang memiliki banyak ilmu yang diperolehnya melalui belajar atau menempuh pendidikan,kalau perkataannya tanda dasar ilmu atau hanya berdasarkan prasangka itu bukan orang pintar tetapi orang bodoh.Hati-hatiki Bu bertanya pada dukun atau paranormal,karena Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa bahwa barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari,barang siapa yang mempercayai dukun berarti kufur terhadap Al Quran yang diturnkan kepada Nabi Muhammad SAW”,jawaban ustaz yang membuat Sumi lanjut bertanya.
“Jangan salahkan waktu atas perceraian anak Ibu,kesialan bukan terletak pada waktu,melainkan terletak pada menantu Ibu.Menantu Ibu memiliki prilaku buruk yang mendatangkan kesialan dalam berumah tangga.Sampai kapanpun rumah tangga anak Ibu akan selalu sial selama suaminya itu tidak merubah sifat-sifatnya,karena Allah dalam Surat Arrad ayat 11 telah menyatakan tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu berusaha merubah apa yang ada pada dirinya”,jawab Ustaz yang membuat Sumi menjadi percaya bahwa bukan waktu yang sial tetapi manusia yang memiliki sifat-sifat yang sial.”Kalau begitu aku yang sial selaman ini karena sangat mempercayai takhyul-takhyul yang tenyata cuma bualan berdasarkan prasangka semata,begitulah kalau tidak memahami agama dan hanya bisa ikut-ikutan pada kepercayaan dan amalan orang banyak”,batin Sumi.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ZUBAIDAH

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0