Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen KISAH CINTA SEORANG PEREMPUAN
Cerpen KISAH CINTA SEORANG PEREMPUAN
2 Komentar | Dibaca 912 kali
ELINUS WARUWU @elinuswaruwu
07 September 2014

KISAH CINTA SEORANG PEREMPUAN
Oleh Elinus Waruwu, S.Pd

Aku seorang laki-laki yang meniti pendidikan di negeri orang. Selaku dari Nias yang masih kaku dan sangat menjaga nilai-nilai adat Nias yang selalu susah dalam pergaulan. Kuceritakan pengalaman hidupku bertemu dengan seorang perempuan cantik dari suku Batak kepadaku. Sesungguhnya, sebagai laki-laki normal jelas aku tertarik kepada perempuan yang kumaksud. Dan hal itu, aku tampil apa adanya, selama satu sekolah 1986-1989 aku menunjukkan rasa simpatik kepada perempuan itu. Dan walaupun aku tertarik kepada perempuan itu, aku sesungguhnya belum ingin mencintainya apalagi jatuh cinta, untuk dapat memilikinya.

Sejauh itu, aku hanya menganggap dia sebagai teman baik dari antara banyak kawan lainnya. Kebaikan-kebaikanku rupanya menjadi pemicu hingga akhirnya dia jatuh cinta kepadaku. Inilah kisah pengalaman nyata, aku berteman dengan lawan jenis yang berbeda. Aku tidak mempunyai keinginan untuk mencintai dirinya, tetapi kebaikanku diartikan lain. Aku dianggapnya sebagai pasangan cinta sementara aku sendiri hanya biasa-biasa.

Secara singkat perempuan itu bernama Asti (nama samaran), dia hebat dan mempunyai beberapa keunggulan dibanding perempuan lain. Di kelas dia masuk rangking sepuluh besar. Pernah menjadi juara I lomba balap sepeda 30 kilometer. Ia mendapat piala dan sejumlah uang. Saat itu tahun 1988, dia menyerahkan hadiah yang diterimanya itu, dan sejumlah uang juga diberikan kepadaku. Aku hanya memegang sementara lalu memuji kehebatannya, dan dia sangat bahagia. Ketika hadiah itu kuserahkan kepadanya kembali, dia bilang agar aku menyimpannya sebagai tanda cintanya padaku. Akupun mengatakan sudah menerimanya, dan meminta disimpannya saja. Aku katakana padanya, laki-laki tidak cocok sebagai bendahara, tetapi perempuan itu pas dan sesuai.

Tanpa putus asa, aku diajaknya menonton di bioskop. Aku tahu bioskop saat itu adalah tempat memutar film-film percintaan. Aku tolak secara halus karena aku tidak ingin terjebak dalam cintanya. Aku tahu juga bahwa dia sangat berharap mengikuti ajakannya. Dia bercerita bahwa belum pernah berduaan dengan laki-laki, apalagi menonton di bioskop. Hal itu aku jadi sadar bahwa kami sama-sama polos dalam pengalaman menonton, dan tidak pernah mengalami hal menonton yang unik seperti di bioskop. Kukatakan kepadanya, bahwa baguslah tidak menonton karena belum ada pengalaman untuk itu. Tapi dia mendesakku. Katanya, “Kita coba dong, Bang. Aku ingin sekali ditemani Abang!”

“Tidak bisa, Asti. Aku bukan tipe laki-laki yang suka hal-hal seperti menonton. Apalagi hanya berdua, kita bisa terjebak dalam percintaan terlarang.” jawabku. “Apakah Abang tidak cinta kepadaku?” selidiknya.

Lama sekali aku menjawab pertanyaannya itu. Aku bingung. Kalau aku katakan, tidak! Maka aku bisa bayangkan betapa kecewa dan hancur ha