Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen MASJID MENANGIS
Cerpen MASJID MENANGIS
0 Komentar | Dibaca 654 kali
SAHABUDDIN @elsah
07 September 2014

Hatiku bergetar saat kudengar suara tangis yang menggema dan menyayat hati.Suara tangis yang berada di luar rumah.Kutatap jam dinding kamarku.Waktu telah menunjutkan pukul setengah empat dinihari.Sebagaimana biasa akupun meninggalkan mimpi-mimpiku untuk memulai aktivitas hidup sebagai seorang hamba.Hatiku mendengar bisikan bahwa masjid yang ada di kampungku sedang menangis.”Masjid menangis ?”,hatiku bertanya keheranan.”Mengapa masjid bisa menangis ?’. Bisikan itu menjawab “Masjid Kampung Beru menangis karena ditinggalkan oleh jemaahnya”.”Allah sangat kecewa terhadap orang-orang yang mengaku Islam namun sombong terhadap Allah”,lanjut bisikan itu.”Bagaimana kami dibilang sombong terhadap Allah ?’,hatiku bertanya.”Bagaimana tidak sombong,setiap hari lima kali Allah menyeru di masjid memanggil kalian beribadah di rumahnya tapi adakah kalian di kampong ini yang tersentuh hatinya untuk memenuhi panggilan Allah itu ?,kalian semua sombong karena tidak ada lagi orang dewasa di kampung ini yang mau mengumandangkan azan,kalian semua gengsi,yang ada Cuma bocah kecil yang belum tahu apa-apa. Apa yang kalian sombongkan dihadapan Allah,nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan,kalian semua sehat,kuat dan diberi rezki yang melimpah,semua itukah yang membuat kalian tidak mau berkunjung ke rumah-Nya,untuk bersujud di hadapan-Nya ?.Kalian semua musyrik karena lebih menghargai panggilan manusia daripada panggilan Allah,buktinya kalau Allah memanggilmu ke rumah-Nya beribadah dengan balasan pahala yang melimpah kalian semua pada malas dan banyak alasan, tetapi kalau manusia yang memanggil kalian ke rumahnya untuk melakukan barzanji atau mengaji untuk orang mati dengan imbalan sepotong kue dan secangkir kopi,kalian semua berlomba-lomba sampai berdesak-desakan di rumah orang tersebut.Tidakkah kalian pikir bahwa panggilan Allah untuk beribadah di rumah-Nya sangatlah mulia,menenuhinya adalah sangat utama.Allah dan Rasul-Nya telah menjamin balasan yang sempurna bagi tamu-tamu Allah,tetapi undangan sesamamu untuk barzanji di rumahnya adakah jaminan keutamaannya kecuali akan mendatangkan penyesalan bagimu kelak”.Lanjutnya.”Tidakkah kalian mau menjadi tamu Allah,menjadi tamu presiden saja kalian bangga,apalagi bila menjadi tamu Allah,mana akalmu ?”.
Akupun menjadi malu dan bersedih karena sudah lama tidak memenuhi panggilan Allah ke rumah-Nya yang sudah jelas sebagai tempat yang penuh kemenangan.Walau hatiku selalu ada di masjid saat tiba waktu shalat,namun selalu saja menangis karena kutak bisa lagi menjadi tamu Allah,kutak bisa lagi shalat bersama dengan malaikat di rumah Allah, kutak bisa lagi mengumadangkan azan yang disaksikan oleh para malaikat dan seluruh makhluk yang mendengar azan. Fisik tak sanggup lagi membawaku ke masjid.Walau Allah menyuruhku beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuanku,namun akupun iri pada umat lainnya yang diberi kesehatan dan kekuatan serta pandai bersyukur dengan senantiasa memenuhi panggilan Allah,merekalah orang-orang yang tak mengecewakan Allah,merekalah orang-orang yang bebas dari kemunafikan.Aku malu kepada Allah karena kutak sanggup lagi memenuhi panggilan-Nya.Karena maluku kepada-Nya sehingga aku tak berani memenuhi panggilan pemerintah untuk mengikuti sertifikasi yang sudah tiga kali memanggilku.Bagaimana bisa kupaksakan diri ikut sertifikasi sedangkan panggilan Allah ke rumah-Nya tak bisa kupaksakan diri,padahal kalau saja aku mau memaksakan diriku ikut sertfikasi itu bisa kulakukan dengan meminta bantuan orang lain,tapi tidak kulakukan karena malu kepada Allah.
Aku tinggal di sebuah desa.Rumahku berada di pusat pemerintahan desa,dekat dengan kantor desa.Di depan kantor desa ada semua masjid yang dibangun oleh ratusan orang dewasa yang beragama Islam.Masjid di kampungku ini selalu menjadi perhatian warga kampung sebelah,karena setiap Subuh,kecuali Minggu terdengar suara anak kecil seumur 10 tahun mengumandangkan azan Subuh,anak kecil ini mempunyai dua jemaah yang keduanya mantan kepala desa,yang satunya telah berbau tanah dan yang satunya masih berbau segar dan telah terpilih menjadi wakil rakyat.Kecuali Subuh,anak kecil ini minta pada ayahnya agar shalat di rumah saja,alasananya Minggu adalah hari libur dan ayahnyapun setuju dengan maksud agar anaknya tidak merasa dipaksa.Anak kecil itu bersemangat mengumandangkan azan,selain karena tertanam nilai agama dari ayahnya bahwa Allah menyanginya,malaikat bersahabat dengannya,malaikat selalu mengawalnya dan setan-setan takut padanya,juga karena seorang jemaahnya rutin memberinya pembeli bakso sepuluh ribu setiap bulan setiap kalian menerima gaji pensiunnya.
Masyarakat kampungku semuanya ber-KTP Islam dan dianugerahi Allah nikmat yang cukup. Selain sehat dan kuat,juga kehidupan ekonomi yang memadai.Tapi yang cukup mengherankan bila kita mecoba shalat di masjidnya,ya ampun, kemana semua orang-orang Islam.”Iyek,ada semuaji di rumahnya,mereka adalah jemaah Ramadhan,nanti Ramadhan baru bermunculan”,jawabku saat seorang tamu bertanya sepulang shalat Subuh.’Astagfirullah,tidakkah mereka bersyukur atas kesehatan dan kekuatan yang diberikan Allah padanya,tidakkah mereka tahu bahwa azan itu adalah undangan Allah,tidakkah mereka tahu bahwa kitapun kalau undangan tidak dipenuh akan kecewa apalagi Allah ?”,ujar tamuku itu,”Andaikan mereka mencoba menggunakan akalnya,mereka akan merasakan bahwa segala yang ada padanya itu dari Allah,mereka menjadi pegawai atau pekerja karena Allah,dalam urusan pekerjaan Allah memberi kemudahan,kesehatan dan kekuatan untuk pergi mencari rezki walau dalam jarak yang demikian jauh,tetapi mengapa memenuhi panggilan Allah untuk beribadah di masjid sangat berat padahal jarak rumahnya dengan masjid amat dekat,Cuma sekali langkah.Apa salahnya Allah sehingga kalian semua tidak mau memenuhi undangan-Nya padahal semua ibadahmu adalah untuk kebaikan dirimu sendiri ?”,tambahnya.”Tdakkah mereka tahu bahwa shalat berjamaah di masjid keutamaannya 27 derajat dari shalat di rumah ?.Tidakkah mereka tahu bahwa Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa yang berat bagi orang munafik adalah shalat Subuh dan Isya.Jadi kalau tidak mendidrikan shalat Subuh dan Isya berarti termasuk orang munafik dan shalat yang paling utama bagi laki-laki adalah di masjid.
Masyarakat Islam di kampungku adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi adat. Adat jauh lebih dihormati daripada syariat agama.Terbukti bila ada acara barzanji,orang berbondong-bondong sampai berdesakan tapi kalau panggilan shalat berjamaah, masjid menjadi kosong.Suatu pemandangan terburuk yang pernah aku lihat adalah saat seorang imam menggelar acara barzanji untuk kepindahan ke rumah barunya.Masjid yang di samping rumah Pak Iman kosong karena semua jemaah menggelar shalat berjamaah di rumah Pak Imanm,hanya satu orang yang shalat di masjid,itupun dianggap sebagai orang gila,padahal tidak ada dasar syariat bahwa shalat berjamaah di rumah baru mengandung berkah ketimbang shalat berjamaah di masjid. “Baguski tawwa kalau rumah baru diisi dengan shalat berjamaah dan barzanji berjamaah,bisa mendatangkan berkah”,kata istriku waktu kukatakan bahwa salah kalau shalat berjamaah di masjid kita tinggalkan demi memenuhi undangan seseorang untuk shalat berjamaah di rumahnya.Shalat berjamaah di masjid itu adalah seruan Allah dan Sunnah Rasulullah,apakah kita akan meninggalkan seruan Allah demi memenuhi seruan manusia ?.”Siapa yang bilang rumah akan membawa berkah bila diadakan shalat berjamaah ?”, tanyaku namun tak dijawab istriku.
“Mengapa tidak ikut shalat Magrib berjamaah di rumah Pak Imam,Jufri ?”,tanyaku saat bertemu dengan Jufri,seorang pemuda yang aktif mengikuti pengajian.”Saya cuma takut saja,karena kita hanya disyariatkan mendirikan shalat berjamaah di masjid,bukan di rumah,kecuali kalau tidak ada masjid”,jawab Jufri yang ternyata sepaham denganku.”Berarti tidak ikut makan di rumah Pak Imam ?”,tanyaku.”Rezki itu urusan Allah,jadi kalau tidak makan di rumah Pak Imam gara-gara tidak ikut shalat berjamaah dan barzanji itu berarti tidak ada rezkiku di rumah itu,ternyata Allah telah menyiapkan rezkiku di rumahku”,jawabnya.
Sejak hatiku mendengar masjid menangis,aku menjadi malu,takut dan resah,maka kuundang tokoh-tokoh masyarakat,tokoh agama dan pemerintah desa untuk duduk berdiskusi tentang kondisi umat yang penyakitnya semakin parah.Ya,bukan hanya aku yang sakit di kampong ini tetapi sebagian besar masyarakat pun sakit dan bahkan penyakitnya lebih parah karena mereka sakit dari segi keimanan dan ketakwaan.Dari diskusi tersebut dibuat kesepakatan-kesepakatan dan aturan desa,antara lain: masyarakat penerima beras miskin,askeskin yang tidak pergi shalat berjamaah di masjid akan dicabut kupon atau kartunya,masyarakat yang tidak tidak shalat berjamah di masjid tanpa alasan syarii tidak dilayani urusannya oleh pemerintah desa/dusun,tidak diurusi urusan perkawinan dan kematiaannya,tidak diadakan barzanji di rumahnya.Kesepakatan itupun diumumkan di masid.Disepakati pula akan mengadakan majelis taklim yang mengajiannya setiap minggu.Dalam diskusi tersebut disepakati pula memperbahari pengurus dan petugas masjid.Ditetapkanlah Mappi sebagai imam,Mangnge sebagai doja dan Mangngurangi sebagai juru azan.Sebagai motivasi bagi pegawai masjid ini,maka disepakati bahwa bila ada orang mati di kampung ini maka barang-barang sedekah berupa temapat tidur,kursi dan lainnya diserahkan kepada mereka secara bergiliran.Ditetapkan pula dalam diskusi itu Marre sebagai ketua remaja masjid yang sebelumnya adalah pemimpin jemaah peminum ballo.
Sejak berlaku kesepakatan di atas,masjid Kampung Beru pun ramai jemaah pada setiap waktu shalat.Mappi yang sebelumnya hanya datang kalau Ramadhan karena mengincar zakat fitrah kini menjadi jemaah sejati.Mangnge yang sebelumnya hanya datang kalau Ramadhan karena ada sajian buka puasapun semakin rajin.Begitupun Marre,dengan aktifnya di masjid,dia menjadi lupa pada jemaah yang dipimpinnya akhirnya club peminum ballopun bubar.Daeng Bata,orang tua yang selama ini dikeluhkan warga karena ucapannya yang suka menyinggung akhirnya menjadi santun dan masyarakat pun menjadi senang berjamaah dengannya.Tak terdengar lagi suara anak kecil yang mengumadangkan azan karena warga telah menjadi malu bila anak kecil yang azan.Pemudapun berebutan mengumandangkan azan karena telah menyadari keutamaan mengumandangkan azan di masjid.
Sejak itu tak pernah kudengar lagi masjid Kampung Beru menangis, yang kudengar hanyalah alunan bacaan Al Quran oleh Risman,seorang santri Pesantren yang kini telah menjadi mubalig muda yang lagi naik nama,ya selevel dengan uztad Maulana yang selalu melawat di Trans TV setiap pagi.Kini masjid Kampung Beru telah tersenyum setiap aku lewat di depannya.Tidak ada lagi kesombongan,pemerintah dan rakyat,PNS dan karyawan swasta,pedagan atau petani bersujud bersama di hadapan Allah di dalam masjid.Barisan laki-lakipun semakin bertambah,sedangkan jemaah wanita hanya beberapa orang dan itu tidak menjadi masalah karena wanita tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang ke masjid,dan sebaik-baik shalat bagi wanita menurut Rasulullah SAW adalah di rumah,kecuali shalat Id semuanya diperintahkan ke tempat shalat id. (Palajau,Mei 2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Dedy Iswana

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  8
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0