Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen SILUMAN DI BAWAH MERAH PUTIH
Cerpen SILUMAN DI BAWAH MERAH PUTIH
0 Komentar | Dibaca 1009 kali
SAHABUDDIN @elsah
05 September 2014

Oleh: Elsah (Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang)

Senyum mentari di pagi hari membuatku semakin bersemangat mempersiapkan segala perlengkapan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Negaraku dan kemerdekaan bangsaku yang ke-69,yang jatuh pada 17 Agustus 2014.Umbul-umbul dan bendera merah putih sejak tiga hari yang lalu telah mewarnai tanah airku yang membuat negeri yang kubanggakan ini semakin mempesona.Berbagai kegiatan kepemudaan telah dilakukan menyambut pesta tahunan ini ,dari lomba tingkat kanak-kanak sampai ke tingkat kakek-kakek.
Negeriku Indonesia.Negeri yang besar,yang kaya alamnya,kaya ilmuan,kaya pakar,kaya pengamat,kaya pengemis dan kaya siluman: ada tikus siluman, ada honorer siluman serta ada veteran yang kucurigai juga siluman.”Indonesia terkenal kaya alamnya, yang membuat bangsa-bangsa Eropa berlomba-lomba menguasai Indonesia,tetapi mengapa kini bangsa Eropa jauh lebih maju daripada bangsa kita ?”,Tanya Bagas,siswaku beberapa waktu yang lalu saat berdiskusi kelompok pada Mata Pelajaran PPKn.”Indonesia memang kaya alamnya tetapi kurang didukung oleh sumber daya manusia yang handal,terutama kualitas sebagian penyelenggara Negara yang bermental tikus, prestasinya hanyalah memperkaya diri dengan menguras uang rakyat”,jawab Irma,ketua Kelompok Nusa.”Kalau begitu tepat donk program Pak Joko untuk mengadakan revolusi mental bagi bangsa Indonesia”,sanggah Saleha ,anggota Kelompok Bangsa.”Iya tepat,cuma yang menjadi masalah apakah bangsa kita mau dan bisa direvolusi mentalnya ?”,jawab Irma.
Pukul 09 pagi, lapangan Lumang Panawang sudah dipenuhi para peserta upacara. Lapangan Lumang Panawang pada tahun ini ditetapkan sebagai tempat dilangsungkannya upacara peringatan HUT RI tingkat kecamatan tempat aku mengabdi, dan aku bertugas sebagai Seksi Foto-Foto. Lumang Panawang adalah nama tokoh pejuang kemerdekaan yang gagah berani,taat beragama, jujur,pantang menyerah dan sportif dalam kompetisi. Adalah pemimpin pemuda saat pertempuran di atas Bukit Karampuang.
Upacara tahun ini lebih meriah dan lebih istmewa dari tahun sebelumnya. Pelaksana upacara adalah wajah-wajah baru termasuk aku yang baru dilantik sebagai Kepala Perbukuan di sekolahku. Inspektur upacara adalah Pak Camat yang baru dilantik, Pembukaan UUD 1945 dibaca oleh Pak Kancan yang juga baru dilantik. Dihadiri pula oleh kepala sekolah yang baru dilantik, juga seluruh CPNS yang baru lulus dari tenaga honorer K-2,baik yang honorer benaran maupun yang honorer siluman. Mereka berbaur menjadi satu dengan seragam yang sama sehingga tiada lagi perbedaan antara yang benaran dengan yang siluman,senyumnya pun sama dan dengan semangat yang kerja yang masih mengebu-gebu.Upacara dihadiri pula oleh seluruh anggota veteran,baik veteran dari yang tertua sampai yang termuda. Merekapun berbaur menjadi satu dengan seragam yang sama ala serdadu.
Yang sangat menarik perhatianku dalam upacara tahun ini adalah Barisan Veteran.Kuteringat pada kakekku yang kini jasadnya telah terkubur di Taman Makam Pahlawan Tolo.”Kalau saja kakekku masih hidup,tentu diapun berada di barisan itu bersama dengan teman seperjuangannya”,batinku.Kakekku gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di atas Bukit Karampuang yang dijadikan sebagai benteng pertahanan.Aku bangga pada barisan veteran-veteran karena mereka bagian dari sejarah bangsa ini yang membuat kita bebas dari para penjajah.Kubayangkan betapa mereka bersemangat melawan para penjajah demi kemerdekaan anak dan cucu-cucunya,agar kelak anak dan cucu-cucuya bisa menikmati nikmatnya hidup dalam kepemimpinan bangsa sendiri.”Kalau saja kakekku ada di barisan veteran itu tentu fisiknya sudah lemah untuk berdiri mengikuti upacara bendera”,batinku.Kuperhatikan satu persatu anggota veteran itu.Nampaknya mereka beragam,ada yang seusia almarhum kakekku,ada seusia ayahku yang kelahiran tahun 1940 dan ada seusia saudara tertuaku yang kelahiran 1960.Tidak ada yang seusia anak tertuaku yang kelahiran 2000.
Kuteringat pada Buku Sejarah bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda dan sekutunya terjadi antara tahun 1945-1950.Tragedi Bukit Karampuang terjadi pada 1947.Kampung Palajau,Lassang-lassang dan sekitarnya dibumihaguskan oleh Pasukan Belanda pada 1947.Kalau para anggota veteran seusia ayahku itu benar-benar ikut berjuang,berarti mereka adalah para pejuang cilik yang masih berusia antara 5-10 tahun.”Wah sungguh hebat mereka”,batinku.”Pantas mereka masih hidup karena para Penjajah tidak tega menembak mati pejuang yang masih anak-anak”,batinku lagi.Tapi bagaimana dengan mereka yang masih mudah yang seusia dengan saudara tertuaku ?.’ Apakah mereka berjuang sejak masih bayi atau sejak masih dalam kandungan ?,apakah pada saat masih bayi sudah sanggup angkat senjata atau memasak di dapur umum ?”,pertanyaan inilah yang menghantui pikiranku dan akhirnya merasa kasihan pada Negara yang terbebani membalas jasa perjuangan mereka yang kalau ternyata sebuah tipuan.Kasihan rakyat yang harus membayar pajak untuk menggaji mereka.Negara telah terbebani hutan luar negeri sebesar lebih dari 2.000 trilyun rupiah , untuk membangun Negara,menggaji pegawai pemerintahan dan terbebani pula untuk menggaji veteran-veteran siluman ?.
Tujuh belas Agustus telah berlalu.Namun, barisan veteran yang mengikuti upacara Panawang masih di pikiranku.”Anto’,kita itu pejuang di daerah ini,apakah Baso,Bosso,Basse dan Bollo itu juga ikut berjuang ?”. Tanyaku pada Anto’ Laja saudara kandung kakekku yang masih hidup.”Kalau Baso dan Basse itu masih anak-anak yang seumuran dengan anakmu, Dirga”,jawab Anto’ Laja.”Jadi mereka belum ikut berjuang,Anto ?”,tanyaku.”Jawab sendiri, apakah anak-anak seumuran Dirga sudah bisa ikut berjuang ?,tentu belum kan ?,kalaupun ikut dalam medan perjuangan bukan untuk berjuang tetapi ikut pada ibunya karena ibunya adalah juru masak pasukan waktu itu,kalau Bosso dan Bollo,wallahu a’lam yang saya tahu bahwa keduanya masih dalam kandungan”,ungkap Anto’ Laja yang bisa kusimpulkan bahwa mereka yang ikut menikmati gaji veteran ada yang tidak ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan ”Ini pasti veteran siluman”,batinku.
“Kita itu orang beruntung karena menerima gaji veteran,Daeng Baso”,ungkapku saat bertamu ke rumah Baso.”Alhamdulillah,Nak kalau memang rezeki pasti tidak akan ke mana”,jawabnya.”Masih kiingatki bagaimana kisah perjuanganta melawan Belanda ?” tanyaku.Baso diam sejenak lalu berkata,”Saya sudah lupa Nak,gara-gara pernah sakit keras,Anto’ Lajamu itu yang lebih tahu kisah pemberontakan melawan Belanda”,jawab Baso.Kuingat Baso pernah bercerita padaku bahwa saat perang kemerdekaan dirinya masih anak-anak yang sembunyi bila mendengar bunyi tembakan.
Lain lagi jawaban yang kuperoleh dari Bosso dan Bollo,anggota veteran yang sebaya dengan kakak tertuaku,yang kata Anto’ Laja mereka masih dalam kandungan. ”Namanya saja usaha,dan ada yang bisa mengurus”,jawabnya. ”Samaji CPNS K-2 ada yang tidak honor juga bisa tonji lulus CPNS dan kenapa kau urusi semua ini ?”,tambahnya. ”Tidakji,cuma mauka juga uruskangi veteran kakakku yang tidak punya pekerjaan dan tidak punya suami kasihan”,jawabku.”Gampangji,siapkan saja persyaratannya nanti saya bantuki nguruskangi”,balas Bosso yang sudah beberapa tahun menerima gaji veteran.”Pernahjaki ikut berperang ?”,tanyaku pada Bosso.Bosso tersenyum lalu menjawab “Tidak,tetapi pernahkah melihat orang yang berperang”,jawabnya yang membuatku hanya bisa geleng kepala.Kalau Bollo masyarakat pada heran karena juga menerima SK veteran yang secara kasat mata masih tergolong muda.
Kasihan negaraku,selain harus memikirkan utang luar negeri yang amat gede,memikirkan pembangunan dan kesejahteraan rakyat,juga harus memikirkan gaji veteran-veteran yang mungkin sebagian adalah siluman.”Seharusnya pemerintahan sudah menghentikan pengangkatan anggota veteran atau teliti karena banyak di antara mereka yang sepertinya menipu dengan memalsukan data atau membuat keterangan palsu”, ungkap Mappi seorang rakyat kecil yang peduli nasib bangsa saat kusilaturahim di rumahnya usai lebaran.”Bukan saya iri pada mereka,cuma saya kasihan pada negara,rakyat yang membayar pajak dan juga kasihan pada mereka sendiri bila mereka mati dan harus mempertahankan seluruh gaji yang diterimanya kalau ternyata mereka menipu negara ”, tambahnya tambahnya lalu mengusabkan ‘nauzubillah’.”Tidak malukah pada mereka yang berbaris di taman makan pahlawan yang benar-benar berjuang ?,atau mereka yang benar-benar berjuang tetapi tidak menerima gaji veteran karena tidak ada uang untuk mengurus SK veteran ?”,ujar Mappi dengan semangat nasionalisme.
“Bendera merah putih itu berkibar bukan dengan uang,melainkan dengan pengorbanan harta,jiwa dan raga oleh para pejuang kita yang kalau saja masih hidup sekarang tentu sudah tua rentah,fisiknya tidak akan seperti lagi dengan Baso dan Basse,apalagi Bosso dan Bollo”,tambahnya.”Kita lihat saja nanti Daeng Mappi kabarnya pemerintah akan membentuk Komite Pahlawan Indonesia atau KPI yang akan mengungkap siapa veteran betulan dan siapa yang siluman.Katanya veteran yang terbukti siluman akan dijeblos ke penjara dan didenda mengembalikan seluruh uang negara yang pernah diterima selama menjadi veteran karena telah menipu negara dan menipu rakyat”,ungkapku”Bagusmi itu kalau begitu,tap bagaimana dengan yang sudah mati ?”,Tanya Mappi.”Ya,itu urusan Allah,Daeng Mappi”,jawabku.Sambil memandang bendera itu Mappi beruacap “Kepada anggota veteran benaran kami ucapkan terima kasih dan semoga perjuangannya bernilai ibadah di sisi Allah dan gaji yang diterimanya mengandung berkah dan bagi yang ternyata siluman bertaubatlah sebelum mati”.(Agustus 2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Erlina Sugito

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  7
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0