Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen UJIAN NASIONAL
Cerpen UJIAN NASIONAL
0 Komentar | Dibaca 2162 kali
SAHABUDDIN @elsah
03 September 2014

Oleh: Sahabuddin (Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang

Pukul dua belas siang rumah Ayu bagai keluarga yang baru kematian salah seorang anggotanya,jeritan tangis memenuhi ruangan sampai terdengar ke telinga tetangga.Rumah Ayu dipenuhi siswa yang berseragam SMP beramai-ramai melampiaskan kesedihannya gara-gara dinyatakan tidak lulus dalam ujian nasional.Siapa sangka,Ayu yang sehari-hari di sekolahnya dikenal sebagai siswa berprestasi baik di bidang akademik maupun ekstrakurikuler ternyata tidak lulus dalam ujian nasional.Ayu dikalahkan oleh Wahyu,seorang siswa yang selalu merepotkan guru dan orang tuanya karena kebodohan,kebolosan dan kenakalannya.Nilai hariannya hanya pada batas standar,itupun distandarkan agar bisa naik kelas.Sebab kalau tinggal kelas,maka bisa pindah sekolah lain,akibatnya jatah dana BOS berkurang.
Seorang sepupu Ayu marah dan bermaksud menyerang guru yang mendatangi rumah Ayu,untung ada seorang warga yang cepat mencegahnya.”Apa salahnya Ayu sehingga tidak lulus padahal rangking satu ???”,teriak Daeng Nyau’.”Guru bodoh,mengapa Wahyu yang diluluskan sedangkan Ayu tidak ???”,tambahnya.Masyarakat sekitar SMP Ujung yang tidak mengerti sistem ujian nasional banyak yang menyalahkan guru,bahkan diantaranya ada yang mengatakan bahwa guru SMP Ujung sudah gila karena siswa yang terbelakang seperti Wahyu diluluskan sedangkan Ayu yang sudah dikenal masyarakat sebagai siswa berprestasi tidak diluluskan.Masyarakat selalu membandingkan Ayu dengan Wahyu karena kedua bertetangga dengan prestasi yang berjauhan beda.
“Maaf,Pak bukan guru yang menentukan kelulusan,tetapi …”,”tetapi siapaaa ???”,teriak Daeng Nyau memotong pembicaraan Pak Nasir.”Mana mungkin orang lain yang menentukan kelulusan,sedangkan yang mengajar guru SMP Ujung”,sambung Daeng Nyau.”Memang betul Pak,kami yang mengajar Ayu selama tiga tahun,tapi aturan Ujian Nasional yang menetukan kelulusan.Seandainya kami yang menetukan kelulusan,tidak mungkin Wahyu akan lulus sedangkan Ayu tidak.Kita juga Pak,menganggap aturan itu tidak adil,masa kita yang disuruh mengajar,mendidik atau melatih,baru pihak luar yang tidak mengenal sehari-harnya siswa yang menetukan kelulusan”,ungkap Pak Nasir.”Tapi mengapa Wahyu bisa lulus ?’, Daeng Nyau balik bertanya disamping orang tua Ayu yang hanya bisa menangis dan memeluk putri kesayangannya.”Itu juga yang kami tidak mengerti,dan itulah salahnya aturan karena menentukan kelulusan pada siswa-siswa yang tidak dikenal kesehariannya di sekolah”,jawab Pak Nasir.”Sebenarnya kamipun tidak setuju dengan aturan Ujian Nasional yang menetukan kelulusan,karena merasa kewenangan kami dilanggar,tapi apa mau dikata,ini kemauan Menteri Pendidikan,kami hanya bisa mengikuti aturan yang ada”,sambung Pak Nasir.”Di Indonesia ini,bukan hanya Ayu yang bernasib seperti ini,tetapi ribuan siswa lainnya yang menjadi korban kebijakan ujian nasional.
“Ujian nasional adalah kebijakan Menteri Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini,sebagai bagian dari Peraturan Standar Nasional Pendidikan.Dengan ujian Nasional,pemerintah dapat mengukur kualitas pendidikan di setiap daerah dan di setiap lembaga pendidikan”,demikian arahan Bapak Kepala SMP Ujung dihadapan dewan guru dalam rapat pembentukan Panitia Ujian Naional.”Kebijakan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa,sepertinya kurang tepat dan kurang adil”,Ujar Pak Anwar,guru Matematika saat diberi kesempatan berbicara.”Apanya yang kurang tepat dan tidak adil Pak ?”,tanya Kepala Sekolah.”Kurang tepatnya,karena dalam kurikulum,pendidikan ditekankan pada tiga aspek,yaitu pengetahuan,sikap dan keterampilan.Guru diberi tugas dan kewenangan menilai siswa pada tiga aspek tersebut.Sehingga yang bisa dinyatakan lulus apabila siswa telah menemuhi standar penilaian pada ketiga aspek tersebut,tapi kenyataannya dalam ujian nasional hanya satu aspek yang dinilai,yaitu pengetahuan,yang lainnya tentu tidak dinilai.Sedangkan tidak adilnya,adalah pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional memberlakukan standar nasional pendidikan pada semua sekolah yang menjadi dasar pelaksanaan ujian nasional,namun perhatian pemerintah pada sekolah-sekolah pelaksana ujian nasional tidak sama,hanya berapa sekolah dalam satu daerah yang diperhatikan sebagai Sekolah Standar Nasional dengan dukungan dana yang lebih dari sekolah lainnya yang berstandar kabupaten bahkan standar kecamatan.Sedangkan soal-soal ujian nasionalnya diberlakukan seragam.Maunya bedakan soalnya antara sekolah standar dengan non standar,sekolah kota dengan sekolah desa.Kalau sekolah standar nasional dipertandingkan dengan sekolah non standar,sekolah kota dipertandingkan dengan sekolah desa sudah pasti sekolah desa yang tertinggal,tapi gilanya,justru sekolah desa yang menang dalam ujian nasional,siswanya bisa lulus 100 persen,padahal kalau dilihat dari fasilitas dan tenaga pendidiknya jauh tertinggal”,Ungkap Pak Anwar.
“Gilanya lagi Pak”,tambah Pak Anwar,”justru siswa yang kesehariannya tertinggal meraih nilai tertinggi dalam ujian nasional”.”Kita sekarang tidak perlu melihat kenyataan di lapangan,melainkan melihat apakah pelaksanaan ujian nasional sebagai sebuah proyek nasional bisa terlaksana dengan sukses,termasuk di sekolah kita ini,kita diberi tanggung jawab untuk mensukseskan pelaksanaan ujian nasional dan yang terpenting adalah bagaimana supaya siswa kita lulus 100 persen,karena bila banyak siswa kita yang tidak lulus maka yang dianggap gagal adalah kepala sekolah,dan juga masyarakat akan ragu menyekolahkan anaknya di sekolah kita,jadi bagaimanapun caranya,siswa kita harus lulus 100 persen”.
“Seperti biasa Pak kita adakan les sore bagi siswa kelas IX untuk mata pelajaran yang diujian nasionalkan dan tentunya disediakan Buku Bimbingan Menghadapi Ujian Nasional seperti tahun lalu”,usul Pak Kasim,guru Bahasa Indonesia.”Tidak perlu les Pak,karena siswa banyak yang bolos bahkan ada siswa yang tidak pernah ikut les lulus juga.Hal ini tentu berpengaruh pada siswa sekarang,karena mereka sudah tahu bahwa siswa yang bolos,nakal atau tidak ikut les bisa lulus”.Ungkap Pak Asis,guru Bahasa Inggeris.Pak Amir,guru IPA diam saja.Dia tinggal menunggu keputusan rapat.Jadi atau tidak jadi ujian nasional tidak menjadi masalah bagi Pak Amir yang penting dia sudah memperoleh tunjangan sertifikasi guru.Begitupun guru lainnya no comment,karena mereka tidak memiliki beban terhadap mata pelajaran yang diajarkannya.Pak Budi,guru PKN juga no commen walau dalam hatinya tidak setuju dengan sistem ujian nasional yang menentukan kelulusan siswa,karena sejak ujian nasional digelar dengan hanya empat mata pelajaran yang diujikan,maka perhatian siswa terhadapan mata pelajaran non UN berkurang,sikap sikap semakin sulit dikendalikan,bahkan siswa yang berpacaran sudah berani berciuman di lingkungan sekolah,karena menganggap guru PKN atau guru Pendidikan Agama tidak bisa lagi berbuat apa-apa,beda dengan dulu keduanya bisa ikut menentukan ketidaklulusan bilamana moral siswa tidak mencapai standar.
Menjelang pelaksanaan ujian nasional,pihak sekolah mengadakan sosialisasi dengan orang tua siswa.Kepada mereka disampaikan aturan ujian nasional dan diharapkan agar mendorong anaknya untuk belajar baik-baik terutama mata pelajaran IPA,Matematika,Bahasa Inggeris dan Bahasa Indonesia.”Pak,dari hati saya sangat mempercayakan guru-guru disekolah ini untuk membimbing anak saya agar bisa lulus ujian nasional,bagaimana saya bisa mendorong anak saya belajar kalau anak saya jarang tinggal di rumah,lagi pula susah diatur”,ungkap salah seorang orang tua siswa.”Kita yang ngatur saja Pak,saya tidak berjanji tapi kalau anak saya lulus,saya akan memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih saya kepada guru-guru di sekolah ini”,tambah yang lainnya.”Pengalaman yang lalu,sekolah ini mampu meluluskan seluruh siswanya,maka insya Allah ujian tahun ini seluruh siswa sekolah ini akan lulus”,sambung yang lainnya,yang disambut “amiiin” oleh hadirin lainnya.”Tahun lalu beda sekarang,kalau tahun lalu hanya 4 paket,sedangkan sekarang 20 paket”,balas Kepala Sekolah.”Tapi guru itu pemikir,pasti memiliki banyak cara untuk meluluskan siswanya,kalau banyak siswa yang tidak lulus di sekolah,tentu yang malu adalah gurunya juga”,balas hadirin yang duduk paling depan.
Kepala sekolah dan wakil yang mendampinginya menggeleng-geleng kepala mendengar ungkapan-ungkapan orang tua siswa yang seakan-seakan tidak tahu aturan ujian nasional,yang ditahunya bahwa anak-anaknya harus lulus seperti tahun-tahun sebelumnya.”Kalau bisa saya usulkan,kita adakan di sekolah ini zikir dan barzanji bersama agar anak-kita bisa lulus”,usul seorang hadirin yang memakai peci putih,”Betul sekali Pak Imam,kita adakan zikir dan barzanji”,ujar seorang lainnya.”Apa hubungannya Pak menggelar acara barzanji dengan ujian nasional,bukankah barzanji itu adalah pembacaan sejarah Nabi sedangkan ujian nasional adalah menguji hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan disekolah”,tanya guru PKN yang tidak setuju bila ujian nasional dihadapi dengan menggelar barzanji.”Barzanji itu mendatangkan berkah maka sangat cocok dilakukan agar seluruh siswa kita mendapat berkah dan lulus dalam ujian nanti”,jawab Pak Imam.Kepala sekolahpun lalu mempertimbangkan usulan hadirin yang dipanggil Pak Iman.”Betul sekali usulan Bapak,oleh karena itu kita putuskan untuk mengadakan zikir dan barzanji bersama antara orang tua,guru,staf TU dan siswa calon peserta ujian nasional,masing-masing orang tua membawa ala kadarnya,seperti onde-onde,pisang atau kue lainnya”,kata Kepala Sekolah.”Bisa mengundang dukun,Pak Kepala ?”,usul seorang hadirin yang duduk paling belakang.”Barangkali tidak perlu meminta bantuan dukun,kita percayakan saja pada Allah yang menentukan segala-galanya,lagipula kalau mengundang dukun pasti mengeluarkan biaya,mana ada dukun yang gratis.”jawab Kepala Sekolah.”Lagi pula dukun itu tidak bisa merubah ketetapan Allah,hanya main untung-untungan”,tambah Pak Budi.
Ujian nasional berlangsung dengan lancar dan sukses.Seluruh siswa merasa puas karena bisa menjawab seluruh soal ujian yang diajukan pemerintah.Basri yang tidak pernah ikut lespun tidak mengalami kendala dalam ujian.Kepuasan dan kegembiraan memuncak ketika siswa membuka amplop pengumuman yang dibagikan kepala sekolah. ”Alhamdulillah,tahun ini sekolah kita erhasil lulus 100 persen,dan kita patut berbangga karena sekolah kita berhasil masuk tiga besar peroleh nilai ujian nasional tingkat provinsi”,ungkap Kepsek saat mengucapkan kata perpisahan kepada siswanya.Setelah itu seluruh siswa berhamburan ke jalan raya mewarnai baju dan rambut lalu mengadakan pawai di jalan raya.Para pengguna jalan lainnya hanya bisa menggeleng-geleng kepala menyaksikan generasi muda yang belum mengenal bahaya ngebut.Mereka bangga karena berhasil lulus dalam ujian nasional dengan standar nasional.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

lelianana

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0