Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen DALAM IMPIAN PERUBAHAN
Cerpen DALAM IMPIAN PERUBAHAN
1 Komentar | Dibaca 498 kali
SAHABUDDIN @elsah
03 September 2014

Oleh:Sahabuddin (Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang)

Sepuluh tahun kutinggalkan negeriku Bumi Turatea mengadu nasib di negeri orang pada sebuah sekolah di perbatasan negara.Kutinggalkan tanah kelahiranku bersama istri dan anakku demi menemukan sebuah kemerdekaan dan keadilan.Kutinggalkan tanah yang telah membesarkanku,yang di atasnya aku hidup dalam penjajahan dan ketidakadilan.Kurasa tak ada lagi harapan mengejar cita-cita di bumi kelahiranku.Delapan tahun aku mengabdi sebagai guru honorer namun tetap saja selalu menjadi guru hononer dengan gaji yang hanya cukup untuk asap motor.Aku kalah uang dalam kompetisi CPNS dan kalah pendekatan dalam kompetisi data base.Aku dikalahkan oleh tetanggaku yang tidak pernah honor tapi masuk data base dengan masa kerja 6 tahun.”Kapan dan di mana kerjanya itu Baso ?”,protes ayahku saat mendengar Baso telah diangkat menjadi CPNS.Lebih mengherankan ayahku karena Baso yang tidak pernah didengarnya kuliah atau KKN kini telah memakai gelar sarjana.”Kita hanya bisa bersabar ayah,di era golobalisasi dan otonomi ini apa saja bisa terjadi”,jawabku berusaha menenangkan ayahku yang merasa sia-sia menyekolahkanku sampai ke bangku kuliah.”Ini sangat tidak adil”,ujar ayahku.”Tidak adil bagi kita,tapi adil bagi orang lain, Ayah”,tambahku.
Ayah dan Ibu menyetujui bila aku membawa istriku ke Kalimantan.Kuberharap di sanalah aku bisa merdeka dan kurasakan hidup dalam keadilan.Di Bumi ini,aku merasa terjajah oleh sebuah dinasti.Sebagai guru honorer hidupku tertekan terutama menjelang pemilukada.Aku bersama honorer lainnya menjadi alat politik oleh calon Bupati tertentu.Kami dimobilisasi dalam kepentingan politik.Kami diharuskan mengikuti gerak jalan santai yang ujung-ujungnya adalah mengikuti deklarasi calon Bupati dan Wakil Bupati.”Syukur deh dapat baju seragam gratis”,ungkapku pada teman sehonorer.”Siapa bilang gratis,kita enakan pake bajunya tapi bendaharawan sekolah yang pusing menyusun LPJ-nya,karena baju itu dibebankan kepada masing-masing sekolah”,sanggah Ina,seorang bendaharawan Sekolah,yang ikut dalam deklarasi.Semua tenaga honorer harus hadir dan mendukung calon yang telah ditentukan,kalau tidak ?”jangan harap akan terangkat menjadi CPNS”,kata Pak Dirga,Kepala Sekolahku.”Kalian juga harus berusaha membantu saya mendapatkan suara karena kalau tidak saya juga terancam akan dicopot dari jabatan saya,apakah kalian tidak mau melihat lagi saya di sekolah ini ?”,sambung Pak Dirga.”Sudah ada kepala sekolah yang mutasi menjadi guru bantu karena ketahuan mendukung calon lain”,tambahnya.”Kalau begitu kita dipaksa Pak untuk memilih ?”,ujarku.”Begitulah kalau mau selamat”,jawab Pak Dirga.”Wah,kita ini terjajah di negeri sendiri,padahal demokrasi itu bebas Pak ?”,ungkapku.”Ya, teorinya demikan,tapi prakteknya dikondisikan”,jawab Pak Dirga.
Setelah setahun menjdi guru honorer di salah satu SMP di perbatasan,akupun ikut kompetisi CPNS,alhamdulillah tanpa berusaha menyuap buaya saya bisa lulus.Kujalankan tugas dengan penuh semangat dan rasa syukur kepada-Nya.Kugapai berbagai prestasi sebagai guru dan kuangkat nama sekolahku melalui prestasi siswaku,sampai akhirnya pihak pemerintah daerah memberi kepercayaan padaku menjadi kepala sekolah di tempat aku mengabdi,menggantikan kepala sekolahku yang naik jenjang menjadi pengawas pendidikan atas prestasinya sebagai kepala sekolah terbaik.Pengawas pendidikan di perbatasan ini benar-benar berkompeten.Mereka diangkat menjadi pengawas bukan karena masyarakat menolaknya sebagai kepala sekolah atas kinerjanya yang buruk,melainkan karena prestasinya dan dianggap bisa membina para pendidik di lapangan.
Sepuluh tahun aku mengabdi dan membangun karier di negeri orang.Namun,tidaklah kuanggap sebuah prestasi bila hanya itu terjadi di negeri orang.Yang kuanggap prestasi apabaila aku sanggup berkarya di negeri sendiri,membesarkan tanah kelahiranku.Akhirnya setelah kutahu negeriku Bumi Turatea telah melakukan perubahan dalam kepemimpinan bupati yang baru maka akupun membawa keluargaku pulang ke tanah kelahiran.
Bumi Turatea benar-benar telah berubah.Pasar yang semrawaut lagi kotor kini telah rapi dan bersih.Jalanan yang yang dipenuhi kios lagi gelap di malam hari kini telah bersih dan terang.Kuteringat sepuluh tahun yang lalu,jalanan kota di malam hari menjadi gelap karena pemerintah daerah tidak sanggup menyalahkannya,akibat tidak sanggup membayar tunggakan rekening listrik di PLN.”Pak, kalau kotanya mau menyalah maka beli saja kabel dan kami bantu aliran listrik”,ucap seorang pejabat dari kabupaten sebelah dengan nada mengejek.
Sepulang dari Kalimantan,aku ditempatkan di sebuah sekolah dekat perbatasan Bantaeng.Alhamdulillah sepanjang sawah yang kulewati sudah menghijau dan padinya telah menguning siap panen.Wajah para petani nampak berseri-seri sedang menghalau burung-burung pipit yang berusaha mengambil rezkinya di persawahan petani.Kuteringat sepuluh tahun yang lalu,sawah-sawah di sepanjang jalan yang kulewati ini kering dan petani nampak lesu dengan mata yang memandang kosong.”Alhamdulillah Nak sudah beberapa tahun ini sawah-sawah di Capponga ini sudah dipanen dua kali,pertama dengan padi dan kedua dengan jagung kuning”,ungkap Mappi seorang petani Capponga pada suatu hari.”Air ini darimana Pak ?”,tanyaku.”Dari Bendungan Kareloe .Berarti pemerintah pusat telah mempercayai pemerintah daerah kita untuk membangun Bendungan Kareloe.Seandainya dulu mantan Pejabat Pemerintah daerah yang lalu tidak menyelewengkan dana pembangunan Bendungan Kareloe mungkin daerah kita ini telah lama maju.”Alhamdulillah bila Bupati Pak Siap bersama wakilnya Pak Bisa mampu mengembalikan kepercayaan pusat untuk memberikan kembali dana pembangunan Bendungan Kareloe yang sebelumnya hanya menjadi janji-janji politik.Namun buktinya nol.
Kuperhatikan rumah-rumah panggung penduduk,tidak kulihat lagi tangga khusus jalan motor naik ke rumahnya.”Alhamdulillah Jeneponto yang dulu bukan lagi Jeneponto sekarang,kalau dulu kita dijajah oleh koloni pencuri,sekarang kita aman.Dan yang lebih menggembirakan lagi di daerah ini tidak didengar lagi kasus korupsi karena para korupter telah terinspirasi oleh koloni pencuri,bahwa pencuri yang tidak berpendidikan saja bisa sadar apalagi kita yang berpendidikan”,ungkap Rahmat teman honorerku sepuluh tahun yang lalu yang kini telah menjadi PNS.
Aku kembali ke negeriku semata-semata untuk menghabiskan waktuku mengabdikan diri di tanah kelahiran,makanya aku tidak mempersoalkan bila di Bumi Turatea ini aku kehilangan jabatan sebagai kepala sekolah.Kujalankan tugasku dengan penuh semangat memajukan daerah ini.Sebulan aku mengabdi di bumi ini,aku telah merasakan bahwa di dunia pendidikanpun telah banyak mengalami perubahan.Aku tidak melihat lagi guru-guru yang bolos karena kepala sekolahnya benar-benar disiplin dibanding sepuluh tahun yang lalu,justru kepala sekolahlah yang memberi contoh pada guru-guru untuk bolos.Pengawas pendidikan sewaktu-waktu datang memantau tugas guru,dibanding dulu yang cuma satu kali dalam satu semester dan bahkan ada yang cuma satu kali dalam setahun,itupun hanya datang mencari-cari kekurangan guru dan pergi tanpa solusi.Dan tidak kulihat lagi kepala sekolah memberi uang transpor kepada pengawas,karena pengawas telah sadar bahwa pemerintah menggajinya untuk tugas sebagai pengawas,jadi merasa kurang halal kalau menunggu lagi uang transpor dari sekolah yang dikunjunginya.
Di kantor dinas pendidikanpun alhamdulillah telah mengalami perubahan.Kepala Dinas Pendidikan adalah benar-benar pejabat yang berkompeten,berpengalaman dan berlatarbelakang pendidikan.Beliau adalah mantan kepala sekolah yang prestasi dan beberapa tahun mengabdi di kantor Dinas Pendidikan yang melewati beberapa jenjang jabatan.Beda dulu yang kepala dinasnya bukan dari orang pendidikan tapi orang yang sengaja dipasang untuk kepentingan politik,makanya pendidikan di daerah ini tidak mengalami kemajuan,melainkan menyuburkan kecurangan dalam pengelolaan dana BOS.Urusan administrasi di kantor Dinas Pendidikan pelayanannya lancar,cepat dan gratis.Tidak ada lagi pungutan-pungutan liar yang dikeluhkan oleh guru-guru seperti sepuluh tahun yang lalu.Masih membekas di ingatanku saat aku sibuk mengurus SK Honorer untuk kelengkapan mengurus data base.Aku hampir gagal mendapatkan satu SK gara-gara uangku tidak cukup,untung aku berkenalan seorang wartawan,padanyalah aku meminta bantuan untuk mendapatkan satu SK,tapi semua itu sia-sia,aku gagal masuk data base,aku dikalahkan oleh honorer siluman.
Bumi Turatea telah berubah seperti impianku.Beberapa mingggu yang lalu masyarakat daerah ini telah melakukan pesta syukuran karena baru saja menerima piala Adipura,kita sudah berhasil mengungguli Kabupaten Bantaeng yang sebelumnya sebagai penerima adipura.Bupati baru saja menerima penghargaan dari Presiden RI sebagai Bupati yang berhasil memajukan pendidikan,agama dan kesehatan di daerahnya.Pendidikan berjalan sebagaimana mestinya,ijazah sarjana diperoleh melalui jalur kuliah bukan dengan jalur uang seperti yang biasa dulu terjadi.Agama benar-benar telah dipahami dan diamalkan oleh masyarakat sehingga daerah ini sudah bersih dari warung-warung sex,bersih dari musik saweran.Para pejabat benar-benar beriman dan bertakwa,sehingga sekarang kita tidak mendengar lagi berita tentang kepala sekolah yang menyunat dana bantuan siswa,atau pejabat yang melakukan korupsi.Masjid-masjid telah ramai dengan jamaah shalat,yang tidak seperti dulu jemaah shalatnya hanya beberapa orang kakek.
Kurasakan keamanan dan ketertiban di daerah inipun berubah.Masih kuingat sepuluh tahun yang lalu,para penjahat terutama pencuri ternak dan kendaraan bermotor benar-benar menjajah masyarakat.Demi keamanan sepeda motor beberapa masyarakat yang tidak mau berurusan dengan pencuri terpaksa menyimpan motornya di atas rumah panggung.Pencurian ternak dan kendaraan bermotor merajalela.Tapi sekarang memasuki priode kedua kepemimpinan Pak Siap dan Pak Bisa masyarakat merdeka dari penjajahan para pencuri.”Dulu Nak,saya tidur sama ranjang dengan Amma Idamu,Amma Idamu tidur bersama anak sedangkan saya tidurka di bawah rumah menjaga kuda,tapi sekarang saya bisama tidur lagi bersama Amma idamu”,ungkap mangnge tetangga belakang rumahku pada suatu ketika.
Bumi Turatea telah berubah dalam kepemimpinan Pak Siap dan Pak Bisa yang sudah hampir habis masa jabatannya.Mudah-mudahan kemajuan yang dialami Bumi Turatea ini bisa dipertahankan dan lebih ditingkatkan oleh pejabat Bupati penerusnya.”Kabarnya,anak Pak Siap bakal maju menggantikan ayahnya ?”,ujar Akbar,guru olah raga di sekolahku.”Siapa saja boleh kalau memang mampu,asal jangan dipaksakan seperti anak bupati dulu yang dipaksakan,akibatnya orang lain yang dibuat susah dan menanggung kerugian.Sebaiknya beri dulu kesempatan bagi anak untuk berkarya dan berprestasi,jangan jadikan pemerintahan daerah ini sebagai dinasti keluarga”,jawabku.Lalu kuakhiri pembicaraan karena bel tanda jam istrahat telah berakhir.Saatnya melanjutkan tugas.(Jeneponto,2014)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "Cerpen DALAM IMPIAN PERUBAHAN"

  1. ZAMPERGOL, S. Pd

     |
    September 3, 2014 at 8:23 pm

    Terima kasih anda mengingatkan saya dan semua untuk tidak tersesat di bumi yang fana ini, karena ada kehidupan yang jauh lebih baik kekal dan abadi. QUR’AN”AKHIRAT LEBIH BAIK DARI PADA DUNIA MU”

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ASEP PERDIANSYAH

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  3
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0