Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Tips & Trik

Beranda / Tips & Trik / Kisah Nyata Melayani dengan Hati
Kisah Nyata Melayani dengan Hati
0 Komentar | Dibaca 1041 kali
ELINUS WARUWU @elinuswaruwu
07 September 2014

SUKSES MELAYANI DENGAN HATI Oleh Elinus Waruwu, S.Pd.   Sukses adalah keberhasilan mencapai sesuatu harapan dan merupakan dambaan setiap insan manusia. Keinginan manusia selalu berusaha mencari kebahagiaan dengan berupaya menghasilkan kesejahteraan berupa penghasilan dan kedudukan yang tinggi. Menurutku, bila dasar kesuksesan diketahui maka sukses bagi seseorang tidaklah masalah, bahkan sangat memotivasi diri untuk mencapai hal-hal bermanfaat. Sayang, arti sukses dalam realitas kehidupan setiap orang beragam juga. Ada yang positif dan pelbagai hal negatif. Memang benar tidak ada kesuksesan bagai membalikkan telapak tangan, kesuksesan membutuhkan proses yang panjang dan perlu belajar dari pengalaman. Sering dalam mencapai kesuksesan, orang mendefenisikan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Aku ingin menceritakan pengalaman sukses itu dengan menuliskannya melalui cerita panjang yang kualami sendiri dalam artikel ini. Dan barangkali ini bisa memotivasi, setidaknya memberikan masukan yang berarti dalam perjalanan hidup, khususnya sebagai anak sekolah dan guru. Aku akan shering tentang pengalaman masa lalu yang pernah dialami dari kecil, masa remaja, hingga setelah berpuluh tahun menjadi guru di tingkat Sekolah Dasar (SD) atau 24 tahun sudah menjalani profesi sebagai guru. Pada saat kelas III SD hingga lulus SMP dan SPG, aku bercita-cita menjadi seorang misionaris yang disebut Pastor. Hidup sebagai Pastor bagiku adalah panggilan yang memberikan kebahagiaan untuk mencapai kesuksesan. Menjadi Pastor ini berarti mengabdikan diri untuk menjalankan nilai-nilai keyakinan dalam keagamaan (katolik), menghayati panggilan Tuhan secara khusus, dan memilih hidup untuk tidak berkeluarga. Sayangnya aku  lahir di tengah keluarga miskin. Ayahku meninggal tahun 1970, dan umurku saat itu masih 1 tahun.  Cita-citaku menjadi Pastor itu tidak terwujud. Justuru aku jatuh cinta kepada anak-anak didikku sendiri tahun 1989 – 1992 dan ingin memiliki anak seperti mereka. Inilah proses yang panjang aku goreskan pengalamanku itu dari masa kecil hingga menjadi seorang guru Sekolah Dasar.   Pengalaman Masa Kecil Ibuku mengurus aku dan kedua saudaraku laki-laki dengan melatih menjadi petani sukses. Sebelum berangkat ke sekolah aku harus menderes karet, dan setelah melihat ketinggian matahari di ufuk timur mencapai tinggi daun tertentu sekian derajat sebagai pengganti menentukan waktu (jam), berarti sudah waktunya menghentikan kegiatan menderes karet. Aku berlari, mandi di air pancur  atau sejenis sumur di ladang. Kehidupan seperti itulah membuat diriku terlatih bekerja keras. Sepulang sekolah aku mengumpulkan hasil getah karet yang dideres, dan hal itu berlangsung beberapa tahun. Hasil dari menderes karet yang menghasilkan getah itulah yang menyambung kehidupan nafkah keluargaku. Selain dari menderes karet, aku dilatih Ibuku untuk kerja ke kebun. Membuka lahan untuk kebun ubi jalar dan ketela pohon sudah tidak asing bagiku. Ubi yang ada selain untuk dikonsumsi/ dimakan juga dijadikan makanan ternak ayam. Jadilah aku pemelihara ayam di kampung, ratusan ayamku tidak terhitung banyaknya. Aku ingat persis, ada satu ekor ayamku yang hanya seekor induk menetas seluruh telurnya yang diperam 22 butir menjadi anak ayam.  Itu kesuksesan pertama bagiku menjadi peternak ayam di kampung. Ramainya anak-anak ayamku itu menambah semangatku untuk belajar di sekolah. Kadang untuk menghafal pelajaranku di sekolah, kukantongi catatan-catatan penting yang kubuat malam hari, dan kuselipkan membacanya sambil memberikan makan ayam. Jadi kuingatlah satu peribahasa untuk itu, “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Aku merasakan bahwa dalam satu waktu aku mampu menyelesaikan dua sampai tiga pekerjaan sekaligus. Aku terbiasa bekerja keras sejak kecil, membuatku kadang keras kepala juga dalam hal-hal yang prinsipil. Bila aku katakan tidak maka hal itu pasti tidak. Andai aku katakan ya, sudah pastilah itu ya dan tidak bisa ditawar-tawar. Perjuangan yang memang memakai hati aku rasakan memberikan hasil yang tidak sedikit.  Aku melakukan kerjaku itu semua karena aku menyadari dalam hati bahwa diriku orang kecil yang harus tahu diri karena tidak mempunyai Ayah sebagai andalan. Bisa dibayangkan bahwa wajah sang Ayah tidak kukenal dan foto tidak ada juga pada jaman itu, dan sangat jarang ada tukang potret.  Dan begitulah aku hidup penuh perjuangan masa kecil yang suram. Hidupku tidak punya arah dan cita-cita yang jelas, selain hanya demi mempertahankan diri tidak mati di tengah-tengah dunia ini. Banyak yang prihatin atas keadaan keluarga kami, dan orang sekitar juga tidak bisa buat apa-apa. Nasib hampir semua sama saja, menderes karet, sepakat berangkat pagi-pagi buta dari desa Hayo, sekitar jam 4 pagi pakai obor melewati Idanosara, mengangkut hasil getah karet sekitar 8 kilometer jalan kaki naik dan turun gunung, menuju tempat penjualan getah karet, menjadi pengalaman menarik yang selalu ceria dapat dilakukan. Pernah ketika Ibuku harus tinggal saat musim panen di sawah aku dipaksa pergi ke sekolah. Sekitar 4 kilometer harus jalan kaki dan melewati jalan setapak yang penuh lumpur dan kubangan kerbau. Aku berjalan menuju ke sekolah dengan pensil pendek yang sudah dipotong-potong oleh Ibuku karena harus dihemat. Dan ketika itu aku hanya membawa buku sehelai, dilipat, dan dipeniti di kantong baju agar tidak jatuh dan hilang. Di perjalanan menuju kampung aku tersepak oleh seorang Ibu lain yang menuju ke sawah karena tidak tampak di antara tingginya lalang. “Kau ini Elinus ?” serunya setelah ditabrak. “Iya, Bu!” jawabku setelah Ibu itu tampak. “Waduh, maaf ya Nak. Tidak kelihatan dirimu yang kecil ini, lalang lebih tinggi darimu, semoga kamu berhasil, Nak.” Kata Ibu itu disertai doa dan rasa sangat kasihan padaku. Aku tidak peduli, lalu bangkit dan berjalan terus menuju sekolah agar tidak terlambat. Hasil perjalanan empat kilometer dengan mendaki gunung dan melalui lalang-lalang yang tinggi itu, aku keringat dan basah kuyub sampai ke kampung. Tentu aku malu ke sekolah, lalu buka baju, jemur 15-20 menit, dan pakai baju lagi dan segera menuju ke sekolah. Ini pengalaman yang amat menyedihkan dalam hidup, maka kadang membuatku malas ke sekolah. Tapi, hal itu tidak bisa ditawar-tawar dari pihak Ibuku, aku harus sekolah. Bila aku malas, Ibu siap merajam pakai sapu lidi, maka aku tidak pernah punya kesempatan bermalas-malas, daripada aku dipukul lebih baik aku basah kuyub mengikuti aturan dari Ibuku. Umur kelas III SD sudah berani berjalan sendirian menempuh hutan belantara dan menantang resiko tinggi sebagai anak kecil. Tetapi barangkali itulah yang memotivasi diriku semakin kuat, mengalami ejekan teman-teman hampir tidak peduli bagiku. Aku melihat diriku sebagai pejuang kecil yang gagah menembus rintangan hutan belantara yang memiliki medan berat. Satu pengalaman menarik. Setiap hari, kami tidak pernah berangkat ke mana-mana kalau tidak berdoa. Maka doa-doa Ibuku terus menggema dalam telingaku, “Tuhan, jadikanlah anak-anakku menjadi anak yang baik dan berhasil…” Lalu kuingat semua hal itu dalam perjalanan hidupku yang sunyi sepi dan tidaklah banyak pikiranku yang lain-lain. “Tuhan… tolonglah aku dalam perjalanan yang jauh ini…” Hanya kata-kata itu begitu menguatkan daku dan akhirnya sampai pula ke sekolah. Pengalaman hidup selama di SD itu, menempah diriku untuk berani menghadapi resiko apapun dalam hidup. Ketika pulang sekolah, aku tersenyum sendiri, lalu aku sering bernyanyi bahkan kadang berteriak-teriak pula. Sering orang sekitarku heran, ada apa gerangan? Sesudah kurenungkan itulah semangat hidup gembira yang harus memotivasi diriku. Ada tekad membara, “aku maju demi membela kehidupan ini !”   Pengalaman Masa Remaja Pengalaman masuk sekolah dan memulai belajar di SMP Bersubsidi Bunga Mawar Gunungsitoli – Nias, sebuah sekolah katolik yang dinomorsatukan dan bergengsi, dikagumi masyarakat yang terkenal di seluruh pelosok pulau Nias, membuat diriku frustrasi di kota. Ada dua goncangan yang kualami. Pertama, ketika aku menerima raporku semester pertama di mana hanya terdapat tiga nilaiku yang bertinta hitam atau nilai 6 yaitu Agama, PMP, dan Penjas. Sementara, nilai-nilai yang lainnya dicap/ ditulis dengan tanda berani alias tinta merah.  Maklumlah aku belajar menyesuaikan diri belajar bahasa Indonesia, ini hal baru bagiku. Sementara kawan-kawanku hampir semua tidak kesulitan, mereka banyak mengetahui apa yang ditanya dalam materi pelajaran itu. Aku…, jangankan tahu jawaban atas pertanyaan 5-10 uraian itu, mengerti maksud soal pertanyaan saja aku sudah bingung tujuh keliling. Nah wajarlah aku merasa diri bagai telur busuk yang tidak menetas menjadi anak ayam. Aku terpukul dengan nilaiku itu, merasa diri dalam kegagalan dan kucoba belajar keras mengejar ketertinggalanku. Hasil perjuanganku kupetik ketika naik kelas saat menerima rapor semester II, nilai raporku meloncat di atas rata-rata 7 koma sekian. Bagiku hal itu tidak masuk akal, rupanya anak desa bisa juga melampaui kepintaran orang kota. Aku memang membaca dan menghafal. Aku berjuang membuktikan perjuangan diriku masa kecil. Aku bertekad maju dan kemajuan itu, membuat aku tidak bisa tidur bila belum menghafal pelajaran yang diujikan. Aku pernah bersembunyi belajar di WC ketika tinggal di asrama Donbosco untuk menghindari ejekan teman-teman. Banyak temanku memperhatikan aku serius belajar, dan bila aku terus belajar, aku digoda. Dan hal itu membuat diriku malu, lalu diam-diam belajar ketika mereka tidak ada bersamaku. Aku mencuri-curi waktu untuk membaca dan membaca. Pernah ada Bapak Guruku yang mengajar IPS, Geografi, Sejarah, dan Ekonomi.  Pada pelajaran ekonomi ini, kami belajar pertanian. Guruku yang satu ini digelar sebagai guru pelit dalam memberikan nilai, dan tidak pernah memberikan nilai di atas 7,0. Asalkan sedikit saja kita salah, nilai dalam satu soal hanya setengah atau 0,5. Jarang mendapat nilai penuh. Rata-rata kalau dibaginya hasil ulangan paling tinggi 5,5 dan sangat jarang di atas nilai 6. Aku melihat dan merasakan hal itu amat mengecewakan. Apa yang dijelaskannya memang seperti dihafal, Guru yang satu ini tidak pernah melihat buku kalau menerangkan pelajaran. Tetapi pernah kucermati, kata-katanya memang persis seperti tertulis dalam buku. Nah kugarislah hal-hal yang diterangkannya itu, kemudian diam-diam aku hafal seperti dia juga hafal kata demi kata. Maka ketika suatu kali ulangan aku sudah hafal betul jawaban pertanyaannya. Salah satu yang kuingat, “Sebutkan 5 cara menanam cabai !”  Nah rupanya hasil penjelasannya itulah persis keluar dan aku hafal-hafal persis kata  hingga membentuk kalimat yang tepat. Alhasil Guru itu amat terkejut, tidak satupun yang salah dari jawabanku dan aku mendapat nilai 8,5. Satu prestasi yang mencurigakan dicontek dari buku. Aku dipanggil sendirian di kantornya, dan diuji secara lisan sesuai pertanyaan dari soal ulangan itu. Aku dengan lancar saja menjawab semua, dan Guruku itupun bingung. “Jadi, kau hafal semua jawaban ini?” tanya Guruku itu. “Iya, Pak… Aku memperhatikan tekanan-tekanan inti pelajaran saat Bapak menerangkannya, lalu kutandai sebagai hal yang harus dihafal,” jawabku. Singkat cerita, Guruku itupun salut dan membawa aku ke kelas serta mengumumkan sebagai nilai terbaik ulangan Ekonomi.  Guruku itu mengatakan baru sekali ini aku menemukan siswa yang hafal semua butir-butir jawaban yang aku tanyakan, biasanya tidak hafal semua.  Guruku itu pula meminta maaf kepadaku, karena pikiran atau dugaannya kepadaku bahwa aku pastilah menyontek dari buku, sebab persis kalimat dalam buku itu dijawab demikian. Lalu setelah mengetes ternyata memang benar dihafal semua.  Akupun puas, lalu ketika pulang dari sekolah, aku hanya tersenyum-senyum.  Rupanya kejujuran hatiku telah diuji dalam hal ini, mengatakan benar ya benar juga. Kalau tidak betapa malunya diriku. Teman-teman yang suka mengejekku, akhirnya menundukkan kepala dan mengakui kesungguhan hatiku itu dalam hal belajar. Kedua, kesulitan yang menggoncang perjuanganku. Saat aku tidak makan dalam sehari. Hal ini terjadi akibat kepolosanku dalam ketulusan menolong family keluarga dekat dengan Ibuku. Aku bersama satu kamar, dan beras selalu ada pada awal bulan. Memasak sendiri adalah sudah biasa, tetapi family dari Ibuku yang kesulitan belum ada kiriman dari kampung mengeluh kepadaku. Dengan polosnya akupun membuat catatan utang, dan memberikan berasku untuk mereka. Akibat dari menolong itu, pada pertengahan bulan berjalan berasku sudah ludes dan habis di goni. Ketika aku mengeluh dan meminta agar familyku itu berusaha mencari jalan keluar, tidak satupun yang peduli dan mau menolong. Jadilah aku pernah mengalami nasib buruk tidak makan dalam sehari. Malamnya pun aku cari jalan keluar. Kudengar ada tawaran menjual es di terminal bila laku 10 batang maka aku diberi jatah 1 batang. Jadilah aku menjadi penjual es batangan, berangkat pagi sampai malam menjajakan es dari gang ke gang. Dari pintu ke pintu, dan terakhir paling lama berjualan es di terminal. Puluhan kawan-kawanku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak malu lagi, mungkin sekitar 3 hari bolos dan tidak masuk sekolah. Maka ketahuan oleh temanku, dan sampailah laporan ke sekolah kepada Wali Kelas, guruku. Aku dipanggil, dan berterus terang. Aku ceritakan apa yang terjadi dan kualami. Akhirnya, aku diminta sekolah kembali dan dalam pergulatan batin, antara jualan es atau sekolah. Ini juga, sudah detik-detik terakhir dalam perjuangan karena sudah kelas III SMP. Aku sudah bisa cari uang dengan jualan es, aku mulai banyak tahu di mana letak-letak atau tempat yang cocok didekati, kedai A ini dan itu sudah kucermati akan lakunya es yang kubawa. Dan begitulah beberapa bulan berlangsung, setelah pulang sekolah aku jualan es untuk mempertahankan hidup di kota itu. Teman-teman sebayaku tenang-tenang menikmati hidup bersama orangtua, aku justuru ditipu oleh familyku dengan meminjam berasku lalu tidak dibayar kembali. Aku hidup dalam perjuangan berat, anehnya aku sedemikian susahnya tidak pernah tidak berdoa kepada Tuhan. Aku selalu menyerahkan bebanku itu kepada Tuhan, dan selalu memohon belaskasihan-Nya. Seorang temanku menjadi penolong, dia bernama Masa’aro Zega yang selalu naik sepeda ke sekolah. Kudekati dan mulai bertanya-tanya. Dari hasil shering, aku bertanya apakah boleh main ke rumahnya. Aku diijinkan, dan jadilah aku main ke rumahnya. Saking laparnya, aku langsung ke dapurnya, dan kerak nasi yang ada di periuknya kukorek untuk makan mengisi perut yang kosong itu. Aku berhasil kenyang dari kerak nasi itu, dan temanku itupun terheran-heran. “Ada apa denganmu ini?” Memang aku tidak berterus terang, kusembunyikan perasaanku saat itu. Tapi dia penasaran dan mencecerkan banyak pertanyaan padaku. Diambilnya nasi di lemari makannya dan diberikan kepadaku. Tentu kulahap rejeki itu, sambil berdoa agar Tuhan membalas kebaikannya itu padaku. Akhirnya kami akrab dan jadilah teman susah dalam perjuangan. Aku diajak ke kampungnya naik sepeda sekitar 15 kilometer dari kota menuju ke arah utara. Sesampai di kampung temanku itu, aku diperkenalkan kepada orangtuanya, aku diterima sebagai anak, dan jadilah aku turut membantu mereka menderes karet. Tentu sudah biasa, maka aku begitu lihai mengerjakan pekerjaan itu. Ibu dari temanku itu sampai keheranan, dan mempertanyakan diriku siapa. Dalam waktu singkat, kebun karet selesai kami deres, dan saat kembali ke rumah saat sarapan makan ubi terjadilah dialog di antara kami. Ibu temanku itu sangat gembira, dan meminta agar sering datang bila ada waktu libur ke rumahnya. Setiap kami berangkat ke kota, ikan asin yang digoreng dan disambal selalu menjadi makanan favorit disiapkan Ibu temanku itu untuk kami bawa ke kota. Rasanya aku hidup bahagia bersama keluarga itu. Maka sering sekali aku menolong temanku itu, karena kemampuan belajarnya memang jauh lebih lemah dariku. Kadang aku seperti guru menjelaskan pelajaran itu di rumah bersamanya, tetapi toh dia kesulitan juga memahami pelajaran. Aku sangat kasihan memang, lalu berapalah waktu bisa kubantu dia belajar bersama, akupun butuh waktu khusus belajar sendiri. Inilah persoalan dan masalah, sehingga kalau ada tugas, dia ketergantungan dengan jawaban-jawabanku. Akupun menjelaskan, tetapi dia tidak bisa, lalu jalan terakhir adalah memberikan buku pelajaranku buatnya dan dia menyontek semua jawabanku itu.   Pengalaman Disiplin dan Kejujuran Hati Sekarang aku ingin bercerita sebagai seorang guru atau calon guru. Tiga tahun belajar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dari tahun 1986 – 1989 hampir tidak menemui kesulitan berarti. Aku diasuh seorang Pastor dari Jerman dengan didikan hati yang mendalam. Sepulang sekolah, aku diminta bekerja sebagai tukang cuci pakaian, menjemur, menyetrika, menyapu lantai rumah, menyiapkan sprei dan membersihkan kamar tamu di rumah biara. Sesekali membersihkan parit, dan bila ada waktu tersisa aku diperkenankan atau boleh bekerja di kebun. Menanam cabe, sayur dan palawija lainnya yang memungkinkan. Aku dihargai 1 jam dengan uang lembur Rp 240, 00. Tiga bulan tidak pernah mengambil uang lembur itu, membuat Pastor heran. Sebab anak-anak yang lain, semua mereka pada ambil sebagai uang kantong. Aku jelas tidak suka jajan dan hanya kalau ada yang sangat-sangat penting baru aku mengeluarkan uangku. Hidup hemat itu, membuat aku tak pernah mengambil uang lembur. Dalam sehari rata-rata aku bisa bekerja 4 jam di biara atau rumah Pastor itu. Ada 2 Pastor yang suka denganku di biara itu, yakni P.Christian Brochmann OFM Cap dan P.Polykarp Geiger OFM Cap. Kedua misionaris ini menjadi pengganti orangtuaku. Apa saja yang kuminta dari mereka, pastilah dikabulkan. Beli baju, buku, pulpen, penggaris, dan kebutuhan lainnya mereka penuhi secukupnya.  Di sini diriku belajar disiplin yang tinggi. Kalau aku terlambat datang ke biara itu, aku sudah dicari, sehingga dipastikan begitu selesai dari sekolah, aku langsung makan siang, dan menuju biara tempat kerjaku. Aku tidak pernah mengambil uang lembur atau gajiku itu, maka setelah dikumpulkan kartu kerja lembur yang selalu ditandatangani sebelum meninggalkan tempat kerja oleh salah seorang dari Pastor itu, akhirnya aku disodorkan buku tabungan untuk ditandatangani. Maka jadilah aku menabung, seluruh uang lemburku masuk tabungan. Anehnya, selama tiga tahun aku tidak pernah tanya berapa dan tidak tahu jumlahnya seberapa banyak. “Kamu tidak pernah mengambil uang lembur, kenapa?” tanya Pastor itu. Aku jawab dengan hati jujur, “Benar, Pastor. Setiap kali aku minta uang kepada Pastor beli buku dan kebutuhan lainnya selalu diberi, yah untuk apa?” aku balik bertanya. Memang semua kebutuhanku sabun, selop, sepatu, sampai yang kecil-kecil bila kuminta  tidak pernah dipertanyakan. Kedua Pastor itu seakan sudah mempercayai semua apa yang kukatakan dan minta. Ini jarang kita menemukan orang seperti itu. Kalau seandainya kita menipu, bisa saja. Tapi anehnya aku juga berkata jujur, yah ini sikap malaikat dari surga. Hahahaha… aku ketawa sendiri bila kukenang akan hal itu. Aku pernah menemukan banyaknya uang di kantong celana Pastor ini, dan sempat pula kurendam dalam baskom cucian. Pastilah aku merasa bersalah, dan takut. Ketika menemukan hal itu, aku berpikir bagaimana cara menebus kesalahan ini. Aku tidak habis akal, aku jemur di teras biara, kujempit dengan batu-batu kecil. Ketika Pastor itu keluar dari kamarnya, ketahuanlah uang itu memenuhi pekarangan. Aku dipanggil, dan ditanyakan. “Dari mana uang sebanyak ini?” tanya P.Polykarp. “Maaf Pastor, aku sudah bersalah, rupanya aku lupa memeriksa di kantong Pastor yang mau dicuci itu ada uang. Sudah sempat aku rendam di baskom…” jelasku.  Tahu apa yang terjadi ? Pastor Polykarp itu justuru membenarkan aku. Dan dia mengatakan bahwa dia yang salah. “Apa saja yang masuk di kamar cuci, yah… harus dicuci. Jadi uang ini sudah dicuci, untunglah kamu ada sebagai penyelamat. Kamu tidak salah, Pastor yang salah…” jelasnya padaku. Lanjutnya, “Yah sudah, nanti kalau sudah kering kumpulkan semua dan bawa ke kamarku.” Ketika aku bawa uang itu ke kamarnya. Aku sekali lagi meminta maaf kepadanya. Dan dengan cepat dia memuji  kejujuranku. Katanya, “Aku yang berkuasa di biara ini, tidak satupun yang bisa menghukum aku. Sekarang kamu yang menghukum Pastor, katakan, Pastor sudah salah, dan hukumannya apa?” katanya dengan serius sekali. Jelaslah aku bingung. Aku yang merasa bersalah, lalu aku disuruh menghukumnya. Waduh… campur aduk pikiranku. Dan ketika aku menjelaskan aku yang salah, hal itu tidak bisa diterimanya. Aku justuru yang benar.  Akhirnya  kami berdebat-debat, dan tidak mau dia menyalahkan aku. Di sini ada pembelajaran baru bagiku. Pastor itu memaksa aku harus menghukum dirinya, dan aku bingung, tidak tahu harus bersikap bagaimana.  Aku tahu, dia sangat sayang kepadaku, maka aku diangkatnya sebagai Pimpinan untuk menghukum dirinya, dan ini sulit kuterima. “Begini saja, uang ini seharusnya sudah dicuci, itu berarti yah… sudah tidak ada lagi uang ini. Lalu Pastor sudah bersalah, yah harus dihukum.” katanya tegas. Aku tetap pada pendirian, tidak akan menghukum Pastor itu. Maka akhirnya, dia ambil satu lembar 20 ribuan lalu dimasukkan di kantongku. Dan dikatakan, “Ini hukuman Pastor…” Sekali lagi aku mengelak dan lama terjadi tawar-menawar di antara kami. Karena aku tidak mau ambil satu senpun dan aku merasa bersalah karena tidak memeriksa kantong celananya sebelum merendam pakaian dan uang itu. Pastor itu tidak merasa puas, dan bertanya kepadaku, “Jadi, kalau aku bersalah di biara ini, kamu biarkan? Tidak berani kamu hukum? Nah kalau semua Pastor melakukan hal itu di biara ini, lalu bagimana, siapa yang menghukum mereka karena tidak disiplin?” Aku jadi sadar kata-katanya itu, dan akhirnya lembaran 20 ribu yang sudah masuk-keluar dari kantongku entah sudah berkali-kali itu, dalam keadaan terpaksa aku menerimanya. Dari kejadian itu, aku sungguh-sungguh belajar bagaimana menempatkan diri seharusnya dalam bersikap disiplin. Orang-orang Jerman sungguh-sungguh sangat disiplin. Jangankan menyalahkan diri orang, bila dirinya salah tetap bersalah, dan dinyatakan salah. Mereka sungguh-sungguh objektif dalam menilai sesuatu. Seandainya sikap ksatria mereka itu bisa kita warisi, betapa dunia kesuksesan ini indah kita rasakan. Kenyataan, kita orang Indonesia, tidak pernah refleksi atas kesalahan yang kita lakukan. Kalau kita salah, lalu membenarkan diri sendiri. Rasa ego yang tinggi itu sulit dihapus dalam sikap pribumi. Aku banyak belajar dari pengalaman mereka, cara mendidik kita agar bisa bertanggungjawab  didasari dari pelayanan hati yang terdalam. Pengalaman Awal Menjadi Guru Aku memang unik dari segi pengalaman mengajar. Kenapa? Yah, aku sudah memulai jadi guru ketika duduk di bangku sekolah kelas II SPG. Hal itu terjadi setelah Pastor Polykarp Geiger OFM Cap meminta kepadaku menjadi guru sekolah minggu di gereja Stasi Santu Petrus Mela. Bermula aku belajar mengajari anak-anak sekolah minggu bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan. Tidak pernah dibayar gaji dalam hal pengabdian itu, hanya memberi pelayanan hati yang tulus saja. Lama-lama kuajari anak-anak itu cara-cara berdoa, memimpin doa, dan memberikan renungan. Yang membuat menarik adalah adanya gambar-gambar yang setiap minggu dibagi-bagikan kepada anak, melalui gambar itu lalu disuruh anak berbicara dengan apa yang dilihatnya dalam gambar. Umur anak sekolah minggu itu beragam, mulai dari TK sampai kelas I SMP. Anak-anak yang pintar itu aku pergunakan untuk mengajari yang kecil-kecil. Dan benar saja, caraku itulah yang membuat isi gereja kecil itu semakin banyak dan ramai. Aku gembira sekali, sebab kalau mereka sudah pulang kami beramai-ramai membersihkan dan menyapu gereja itu sebagai kerja konkrit yang bisa diberikan untuk kebahagiaan Tuhan dan sesama kaum dewasa. Sekali sebulan ada penghargaan kepada anak-anak yang rajin membersihkan gereja. Penghargaan berupa hadiah benda-benda rohani gereja. Tindakan ini sangat dihargai oleh anak-anak, bila mereka diberi hadiah maka semakin termotivasi untuk datang ke gereja. Bahkan, aku menyaksikan sendiri banyak di antara anak-anak itu sudah duluan datang ke gereja dan barulah aku datang. Ini semakin memotivasi diriku untuk rajin datang lebih awal minimal setengah jam aku berusaha sudah datang sebelum acara dimulai. Kebiasaan itu menjadi teladan dan ditiru juga oleh anak-anak. Aku menyimpulkan, bahwa bila seorang guru rajin mempersiapkan dirinya, maka anak-anak juga turut serta mengikuti aturan. Jadi, di sini kita tidak boleh hanya mendikte peserta didik. Namun anak-anak itu butuh keteladanan yang baik dan dengan gampang pasti mereka ikuti.   Jatuh Cinta Dunia Pendidikan Banyak sekali guru yang terpaksa melakukan tugas sebagai guru adalah untuk mendapatkan gaji atau upah. Ini sikap yang salah dan tidak perlu dijadikan contoh bila telah memilih profesi sebagai guru. Ada sikap yang salah di mana menjadi guru sekaligus pengusaha/ pedagang. Secara tidak sadar manusia itu memiliki dua cinta yakni cinta menjadi guru 50 % dan sayang untuk berdagang 50 %. Inilah yang sering kita dengar dalam lagu cintaku terbagi dua. Nah, sikap demikian terjadi karena tuntutan kebutuhan yang dilihat masih kurang memadai sebagai guru. Dan menurutku, bila cinta sudah terbagi dua, hasil optimal dalam mendidik dan mengajar juga akan terbagi-bagi dan sulit untuk mencapai kesuksesan. Baiklah pilih salah satu saja sehingga tidak dimadu menjadi dua. Pengalamanku, ketika tahun pertama ditugaskan menjadi guru Sekolah Dasar rasanya semakin memberi angin segar bagiku. Aku semakin melihat tugas guru itu adalah mulia. Pada tahun pertama aku mengajar 1989 dan ditugaskan sebagai guru kelas III yang mengajar semua bidang studi sesuai dengan kurikulum pada saat itu, kecuali pendidikan Agama dan Pendidikan Jasmani (Penjas). Banyak kenangan manis yang membentuk jati diriku sebagai guru di kelas pertama mengajar. Relasi dengan kepala sekolah, guru-guru, orangtua, dan siswa-siswi sangat baik. Bahkan sulit melupakan murid-murid pertama di kelas III itu, mereka terus kuingat sampai sekarang seperti Irene Gunawan, Emily Lis, Denny Sukuanto  Olga Nauli, Inggrid, Budi Polin, Sliky Lis, Lisa Julianti Tan, Jimmy, Diana, dan banyak nama lain yang kesemuanya murid-murid pintar dan punya kedekatan batin dengan guru-gurunya. Murid-murid kelas III tahun 1989 itu merupakan anak didikan pertama bagiku, peserta didik itu punya semangat juang yang tinggi dalam belajar, dan sangat akrab dengan guru. Kisah pernah membonceng beberapa orang murid dengan sepeda entah karena tak ada yang jemput, lalu mengantar mereka ke rumahnya menjadi kenangan manis bagiku sebagai guru. Bahkan aku pernah diajak jalan-jalan ke Poncan, kenangan pertama kalinya menginjak kaki di pulau tersebut, pernah mengunjungi murid yang sakit walau tidak membawa apa-apa, dan banyak hal lainnya yang kualami bersama anak-anak didik itu. Bagiku, mengajar tahun pertama itulah mulai tumbuh benih rasa cinta kepada anak-anak, sehingga cita-citaku yang dulunya ingin menjadi Pastor berubah dan ingin punya anak seperti mereka anak didik (murid) itu. Pada tahun 1990 anak didik pertama ini naik ke kelas IV. Hatiku merasa kehilangan. Beberapa malam aku sulit tidur dan mengingat-ingat mereka, inilah jatuh cinta dunia pendidikan pertama. Ada niat hati agar aku mengikuti mereka (murid-murid) naik kelas, dan itu muncul tanpa disadari. Aku sangat berkeinginan mengikuti mereka naik kelas. Perasaan luar biasa itu kualami berhari-hari, teringat, dan terbayang, ketegasan di mana pernah mengusir anak di ruang belajar, dan akhirnya jadi renungan mendalam yang  sulit kulupakan. Ada perasaan bersalah, berdosa dan macam-macam. Beberapa kali aku mengusik keadaan sulit tidur itu, tetapi bermalam-malam aku semakin terbayang–bayang sampai larut malam memikir-mikirkan mereka, bagaimana peserta didik itu pernah kuperlakukan. Ada kedekatan batin di luar yang biasa, sepertinya sulit bagiku mengutarakannya dengan kata-kata karena mereka itu di satu sisi dipandang sebagai murid, dan dari segi lain sudah dianggap anak sendiri. Di saat-saat ujian atau ulangan mereka diberlakukan sebagai murid perlu disiplin dan tidak boleh menyontek, namun saat-saat belajar adalah lebih dari sebagai murid yaitu anak sendiri. Aku mengingat dan mengenang peserta didik itu, apa ilmu yang telah kumiliki sebagai seorang guru telah kucurahkan sesuai kemampuan yang ada. Perasaan-perasaan mengenang peserta didik itu terus terjadi walaupun mereka sudah naik kelas. Sehari, dua hari, tiga hari… bahkan beberapa bulan adik-adik kelasnya mulai menggantikan posisi kehadiran itu. Rasa kehilangan itu berlangsung kurang lebih tiga bulan. Aku bangkit dan sadar bahwa murid pertama itu bukan yang terakhir, toh bisa berganti juga. Bagiku kebahagiaan bersama murid perdana itu seperti direbut sesaat, terlebih bahwa aku harus memulai mendidik dari awal, yaitu adik kelas berikutnya. Aku cukup kewalahan karena harus memulai dari nol, namun aku mulai dapat menguasai perasaan. Dengan mendoakan  mereka agar berhasil apa adanya, sekalipun tidak bersamaku di kelas itu lagi. Tahun kedua TP 1990/1991 mulai babak baru dan aku yakin beberapa tahun berikutnya adalah tahun emas bagiku dalam hal mengajar. Banyak hal pengalaman mengesankan yang dapat kupetik dari peserta didik itu, kepolosan, dan keluguan murid itu mendorongku untuk tidak ragu-ragu melangkah dan berprofesi sebagai pengajar dan pendidik.   Kisah Surat Pertama Satu contoh kenangan yang sulit dilupakan dari banyak pengalamanku yaitu sepucuk surat dari seorang anak didik. Peristiwa itu kurang lebih empat bulan setelah berlalu kenaikan kelas. Aku dikejutkan sepucuk surat dari Singapura, lagi-lagi kisah ceritera murid yang pertama. Inilah surat pertama yang pernah aku terima setelah mengabdi menjadi Guru di SD RK No.4 Sibolga. Rupanya kesan selama setahun aku telah mengajar sebagai guru, juga kontak dirasakan sulit terlupakan oleh muridnya, dan masih diingat lagi di luar negeri sana ketika telah pindah. Anak itu bercerita tentang keberadaannya di sana yaitu ingin belajar bahasa asing Bahasa Inggris, dia punya cita-cita tinggi, yaitu bila telah pandai berbahasa asing, maka dapat membantu ayahnya dalam mengembangkan usaha. Anak itu bernama Emily Lis. Satu hal yang dapat kuingat, bahwa anak yang namanya Emily Lis itu sangat pintar, empat buah majalah yang memuat soal-soal empat puluhan seperti Bobo, Cerdas itu dapat diselesaikannya dalam seminggu dan selalu diberikan kepadaku selaku guru untuk diperiksa dan dinilai. Tugas-tugas atau PR lainnya selalu siap dikerjakan. Dan itu terjadi di kala duduk di bangku kelas tiga SD, kalau sekarang, mungkin empat buah buku sudah bisa diringkas dalam seminggu. Aku sendiri yakin sekali dengan kemampuan peserta didik seperti itu. Dan lain lagi dengan Irene Gunawan (informasi terakhir sudah menjadi dokter) yang selalu bersaing dan tak pernah mau mengalah dalam belajar. Punya semangat tinggi sekalipun masih muda.  Aku berharap bila suatu saat mereka baca tulisanku ini, nama SD RK No. 4 Sibolga menjadi memori tersendiri yang dapat mereka ingat dan kenang dalam kesuksesan dan keberhasilan.   Rentetan Kesuksesan yang Telah Diraih Kesuksesanku dalam menjalani profesi sebagai guru boleh dikatakan sederhana saja. Hanya satu kunci dalam melaksanakan tugasku sehari-hari, yakni melayani dengan hati. Menurutku, dengan mengajar dan mendidik dengan hati yang tulus dan ikhlas, maka akan mencapai suatu keberhasilan yang bermafaat. Guru dan semua orang bila dapat melakukan pelayanan hati yang baik, bisa dipastikan akan mencapai kepuasan batin tersendiri seperti kisah yang kututurkan dan kualami dari kecil hingga telah menjadi guru SD. Guru yang baik hendaknya mampu memberikan keteladanan 24 jam. Artinya kepribadian guru harus dapat digugu dan ditiru dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik. Dan apa yang dialami mampu ditulis dan dikerjakan dengan baik. Selama telah mengabdikan diri sebagai guru, beberapa hal yang telah aku peroleh antara lain sebagai berikut. Memperoleh sertifikat KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR BAGIAN DASAR dari Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Sibolga tahun 1993. Memperoleh Certificate dari Organizing Committee Head Jakarta, Beloved Chilren Foundation tahun 1997. Memperoleh Surat Keterangan dari Pemimpin Proyek Pelita Diklat sebagai Guru Tutor tahun 2001 di Hotel Dainang Kota Sibolga. Aku juga meraih Juara I dalam mengikuti Penataran Guru-guru Tingkat I Provinsi Sumatera Utara, tentang Pendidikan Budi Pekerti, yang kala itu mewakili Kota Sibolga dari tanggal 14-23 September 2003. Meraih Juara I Lomba Pidato antara OKP dan SMU se-Kota Sibolga dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2003. Memperoleh Sertifikat sebagai peserta Lokakarya Kurikulum Berbasis Kompetensi Sibolga, 29 Maret 2004. Selain itu, aku memperoleh Sertifikat dinyatakan sebagai Pelopor Pendidikan Budi Pekerti oleh Panitia Nasional Lomba PPKN + Budi Pekerti LIPI  Jakarta, 2 Agustus 2004. Memperoleh Sertifikat Pelatihan Dasar Pastoral Keadilan dan Perdamaian Jakarta, 18 Nopember 2004. Memperoleh Sertifikat sebagai Peserta Kapitel Nasional OFS I di Indonesia Muntilan, 4 Juli 2005. Seterusnya, aku memperoleh Piagam Penghargaan sebagai Guru Terbaik di Tingkat Sekolah Sibolga, 25 Nopember 2005. Memperoleh Sertifikat sebagai peserta Seminar Nasional Pendidikan dan Peningkatan Kwalitas SDM Medan, 6 Juli 2006.  Memperoleh Sertifikat sebagai peserta Seminar Pendidikan Sibolga, 18 Nopember 2006. Mengikuti dan memperoleh Sertifikat sebagai peserta Workshop Komitmen Pegawai/ Guru Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga, 6 Agustus 2007. Memperoleh Piagam Diklat Peningkatan Disiplin Peraturan Baris Berbaris Sibolga, 28 Agustus 2007. Meraih Juara I Guru SD Berprestasi se-Kota Sibolga Tahun 2007 sekaligus mewakili kota Sibolga ke tingkat Provinsi. Kisah prestasi itu sebenarnya bagiku hanya kebetulan saja. Di mana pada hari pertama ujian tertulis aku harus puas pada peringkat keempat. Namun, saat ujian hari kedua dengan presentase karya tulis, wawancara, dan ujian komputer menaikkan peringkat diriku sebagai yang terbaik dari 10 peserta yang masih diperkenankan ikut seleksi hari kedua. Hal itu memberikan kesan yang amat berharga padaku, keberuntungan saat ujian hari kedua, menggembirakan hatiku tanpa percaya bahwa akhirnya aku ditetapkan sebagai pemenang utama. Kemudian, aku memperoleh Sertifikat sebagai Peserta Diklat KKG Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Medan, 16 Nopember 2007. Memperoleh Sertifikat sebagai Pelopor Pengembangan Kreativitas Anak Jakarta Desember 2007.  Memperoleh Sertifikat sebagai Guru Koordinator pelopor pengembangan dan kemajuan bahasa Inggris pada Lomba Bahasa Inggris Tertulis Jakarta, Desember 2007. Memperoleh Sertifikat sebagai Peserta Kapitel Nasional OFS II di Indonesia Sukabumi, 6 Juli 2008. Memperoleh Sertifikat Diklat KTSP Angkatan I Sibolga, Juli 2008. Selanjutnya, aku meraih Juara III Olimpiade Guru SD/MI Bidang Studi Bahasa Indonesia Sibolga, 14 Nopember 2008. Memperoleh Surat Keterangan sebagai Peserta Pelatihan Penulisan Naskah Soal UASBN SD/MI Medan, 4 Maret 2009. Memperoleh Piagam penghargaan sebagai Peserta Orientasi Minat Baca Bagi Guru Sibolga, 20 Mei 2009. Memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan dinyatakan Lulus dalam Kegiatan Program Pendampingan KTSP di KKG/ MGMP Medan, 28 Mei 2009. Memperoleh Sertifikat sebagai Koresponden Majalah Warta Keuskupan Sibolga, 22 Nopember 2009. Aku juga telah meraih Juara II Olimpiade Guru Tingkat SD/MI Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sibolga, 15 Desember 2009. Memperoleh Sertifikat Pelatihan Kelompok Kerja Guru Sibolga, 10 Desember 2009. Memperoleh Sertifikat sebagai Narasumber pada kegiatan pengumpulan data lapangan penelitian Studi Asppek Sosial Ekonomi Paska Tsunami Sumatera Utara, 10 Juni 2010. Dalam mengikuti sertifikasi, aku Lulus Sertifikasi yang diselenggarakan Universitas Negeri Medan (Unimed) dari 9 – 18 Nopember 2011 dan dinyatakan sebagai Guru Profesional bidang tugas Guru Kelas SD. Dari 80 orang yang mengikuti Diklat PLPG itu, kami yang dinyatakan lulus murni hanya 38 orang. Aku turut serta beruntung dari sekian banyaknya teman.  Desember 2011 aku mengikuti lomba menulis resensi buku tingkat guru SD, hasilnya Juara I menerima sertifikat dan uang pembinaan 1 juta. Awal Tahun 2012 dengan waktu terburu-buru karena tidak ada yang mewakili sekolah kami sebagai Guru Berprestasi aku dipanggil oleh Kepala Sekolah dan menjadi utusan sekolah. Hasilnya hanya bisa meraih Juara II saja. Walaupun belum meraih juara pertama tetapi setidaknya aku telah berpatisipasi menunjukkan bahwa diriku sungguh-sungguh sukses melayani dengan hati. ***   Beberapa karyaku lainnya dapat juga dibaca dan dilihat di : http://www.elinus.waruwu.org/search/label/Pendidikan http://www.kompasiana.com/dashboard/elinuswaruwu https://www.facebook.com/elinus.waruwu

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ROBI KURNIAWAN

Born in Payakumbuh, 11 juni 1978. Married with Ciciek Humaira Lubis, i've a son named Muhammad Ramadhan Alq ...
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0