Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / MEMBANGUN KEMITRAAN KOMITE SEKOLAH DENGAN KEPALA SEKOLAH
MEMBANGUN KEMITRAAN KOMITE SEKOLAH DENGAN KEPALA SEKOLAH
0 Komentar | Dibaca 2800 kali
SAHABUDDIN @elsah
02 September 2014

Oleh:Sahabuddin

(Pengurus Komite Sekolah SMPN 2 Tarowang)

A. Pendahuluan

Pada beberapa waktu yang lalu di sebuah koran mingguan yang beredar di daerah Kabupaten Jeneponto ini diberitakan tentang perseturuan antara pihak Komite Sekolah dengan Kepala Sekolah yang berakhir dengan aksi demo oleh guru-guru yang mendukung Komite Sekolah.Perseturuan adalah bukti ketidakharominisan hubungan antara pihak Komite Sekolah dengan Kepala Sekolah.Menurut media tersebut,Pihak komite sekolah bersama dengan guru-guru menuding kepala sekolah menyelewengkan dana BOS atau dalam bahasa pendemo disebut “rakus” dan tidak memberikan hak-hak guru.Adanya istilah “rakus” dan tidak memberikan hak-hak guru menjadi tanda tanya bagi penulis tentang maksud kata rakus dan hak-hak guru dalam hubungannya dengan penggunaan dana BOS.

Penulis yang pernah menjabat sebagai ketua komite SDN Palajau,sedikit menyayangkan bila terjadi kisruh antara pihak komite sekolah dengan kepala sekolah,apalagi bila guru-guru di sekolah itu terlibat aksi demo di lingkungan sekolah atau mungkin di hadapan murid-muridnya sendiri.Karena keberadaan komite sekolah adalah mitra kepala sekolah dalam mengembangkan kegiatan pendidikan di sekolah tentu diharapkan akan memanilisir munculnya masalah-masalah di sekolah.Dan sepertinya tidak ada yang perlu dipersoalkan andaikan masing-masing pihak memahami kedudukan dan fungsinya masing-masing serta terjalin kemitraan yang kokoh dan sinergitas.Dan penulis berharap kasus seperti itu tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah lainnya.Oleh karena itu melalui tulisan ini,penulis mencoba berbagi informasi dan pengalaman tentang kemitraan kepala sekolah dengan komite sekolah.

B. Kedudukan dan peran komite sekolah

Dalam era reformasi dan otonomi daerah masyarakat diharapkan lebih meningkatkan partisipasinya dalam berbagai bidang, salah satu diantaranya adalah bidang pendidikan. Perubahan sistim pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi saat ini membuka peluang masyarakat secara luas untuk dapat meningkatkan peran sertanya dalam pengelolaan pendidikan. Hal ini dapat di salurkan melalui Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah. Komite Sekolah merupakan implementasi dari SK Mendiknas Nomor 044/U/2002 yang merupakan lembaga mandiri dan non politis. Lembaga ini dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stake-holder pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggungjawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan.Pembentukan Komite Sekolah diharapkan dapat memacu usaha dalam pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini selaras dengan konsepsi partisipasi berbasis masyarakat (community-based participation) dan manajemen berbasis sekolah (school-based management) yang kini tidak hanya sebagai wacana, tetapi telah mulai diimplementasikan.

Berdasarkan prinsip desentralisasi pendidikan, sekolah mendapat kewenangan untuk merencanakan, menyusun, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi program yang telah dibuat secara demokratis. Di samping itu sekolah juga memperoleh kewenangan untuk mengelola sarana dan prasarana yang tersedia, mengelola SDM yang dimiliki, serta melibatkan kepedulian stakeholder dalam pelaksanaan pendidikan.

Berdasarkan menejemen berbasis sekolah (school-based management) pembuatan perencanaan sampai evaluasi program semestinya melibatkan komponen yang ada di sekolah. Dengan melibatkan warga sekolah diharapkan dapat tercipta team work yang kompak sehingga secara cermat keberhasilan dan kelemahan program yang telah dibuat dapat dideteksi. Sayangnya, sedikit sekolah yang melibatkan warganya dalam membuat program sampai ke evaluasi. Akibatnya, langkah-langkah yang dilakukan oleh pimpinan sekolah tidak sampai pada sasaran.

Otonom yang diberikan kepada sekolah, diharapkan dapat mendongkrak kualitas pendidikan yang sekarang lagi merosot. Peran aktif dari masyarakat dalam memajukan pendidikan sangat penting. Peran aktif masyarakat ini merupakan bentuk demokrasi berkeadilan yang bermakna, artinya masyarakat tidak hanya mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu namun masyarakat juga berkewajiban untuk ikut serta dalam menyediakan dana pengadaan, pengembangan, pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan serta peran dalam memberikan sumbangan berupa pikiran sesuai keahlian yang diperlukan untuk penyusunan program. Aspirasi dan kontribusi dari masyarakat ini pada di tingkat kabupaten/kota dapat disalurkan melalui Dewan Pendidikan, sedangkan pada tingkat sekolah melalui Komite Sekolah.

Tujuan dibentuknya komite sekolah adalah untuk mewadahi aspirasi masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan di sekolah. Di samping itu juga untuk meningkatkan tanggung jawab dan peran aktif seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, menciptakan suasana dan Kondisi transparan, serta demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu. Melalui komte Sekolah ini diharapkan peran aktif masyarakat dapat diorganisir dan disalurkan secara baik bukan berjuang secara individual seperti sekarang ini.

Komite Sekolah sebagai mitra sekolah memiliki memiliki beberapa peran,antara lain:

  1. Memberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di sekolah;
  2. Pendukung (supporting agency) baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan;
  3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi, akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan, mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.

C. Keanggotaan Komite Sekolah

Mengingat Komite Sekolah merupakan lembaga mandiri yang non profit maka sebagai konsekuensinya para anggota tidak menjadikan lembaga ini hanya sebagai lahan untuk pengumpul dana dan mencari kehidupan (penghasilan). Para anggota harus sadar bahwa Komite Sekolah merupakan tempat untuk mengabdi dan berkarya dalam memajukan pendidikan. Sangat ironis jika ada beberapa sekolah mengeluh karena sebagian dananya habis untuk gaji anggota Komite Sekolah. Tujuan dirikan Komite Sekolah sudah jelas untuk mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan (sekolah), meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan.

Keanggotaan Komite Sekolah berasal dari unsur-unsur yang ada dalam masyarakat. Anggota Komite Sekolah dari unsur masyarakat dapat berasal dari komponen-komponen sebagai berikut perwakilan orang tua/wali, tokoh masyarakat, anggota masyarakat yang mempunyai perhatian untuk meningkatkan mutu pendidikan, pejabat pemerintah setempat, dunia usaha/industri pakar pendidikan yang mempunyai perhatian pada peningkatan mutu pendidikan, organisasi profesi tenaga pendidikan, perwakilan siswa, serta perwakilan forum alumni /SMU SD/SLTP /SMK yang telah dewasa dan mandiri.

Melihat komposisi keanggotaan Komite Sekolah sangat komprehensip terdiri dari berbagai komponen masyarakat, sekarang tinggal bagaimana lembaga ini dalam menjalankan fungsi dan peranya dalam memajukan pendidikan. Ironisnya anggota Komite Sekolah yang berasal dari dewan guru kadang kurang respons terhadap permasalahan yang di hadapi oleh guru itu sendiri maupun sekolah. Hal ini disebabkan keanggotaanya dalam Komite Sekolah bukan karena ditunjuk dewan guru tetapi ditunjuk oleh pimpinan sekolah karena yang bersangkutan menduduki jabatan sebagai wakil kepala sekolah.

D. Problematika dalam kemitraan komite sekolah dengan Kepala sekolah

Berdasarkan tujuan dan perannya, Komite Sekolah memiliki peran yang strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Namun,sekarang ini sering timbul masalah yang merusak keharmonisan hubungan antara pihak Komite sekolah dengan Pihak Sekolah,antara lain:

  1. Pemikiran, pertimbangan, saran, dan kontrol yang telah dilakukan Komite Sekolah kurang mendapatkan respon atau hanya dianggap sebagai pelengkap saja oleh pengambil kebijakan di sekolah. Apalagi tidak adanya sanksi tegas untuk pihak sekolah jika tidak menjalankan saran dari Komite Sekolah. Akhirnya saran dan pertimbangan hanyalah sebagai dokumen di atas meja bagi pengambil keputusan di sekolah.
  2. Komite Sekolah dianggap belum menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal. Masih lemahnya peran dan fungsi Komite Sekolah mungkin karena Komite Sekolah merupakan lembaga baru atau karena sebab lain misalnya keanggotaan dan kualitas sumber daya manusianya masih kurang memadai. Akibatnya banyak persoalan pendidikan di sekolah dewasa ini yang tidak diketahui oleh Komite Sekolah karena sebagian mereka menganggap bahwa tugasnya hanyalah yang berhubungan dengan pengelolaan dana BOS.
  3. Pihak sekolah kurang melibatkan peran Komite Sekolah, terutama dalam hal penyusunan Anggaran Belanja Sekolah,Rencana penggunaan Dana BOS,dan tidak transparan dalam penggunaan dana BOS.Akibatnya peran Komite sekolah terbatas,munculnya kecurigaan Pihak komite sekolah dan pihak sekolahpun keberatan bila komite sekolah mencoba mempertanyakannya.Ada kepala sekolah yang menganggap bahwa Komite sekolah hanyalah pelengkap administrasi belaka.
  4. Komite sekolah tidak menjalankan fungsinya secara maksimal kecuali melengkapi administrasi sekolah atau pengukuhan kebijakan melalui tanda tangannya,yang kadang muncul masalah pada saat dimintai tanda tangan,karena ada komite sekolah yang mengharap bahkan meminta bagiannya yang dianggapnya sebagai hak,padahal Komite sekolah tidak seharusnya menunggu apa yang bisa diperoleh dari sekolah tetapi sekolahlah yang menunggu apa yang bisa diberikan oleh Komite Sekolah. Jika Komite Sekolah hanya sebagai pengukuhan kebijakan pimpinan di sekolah maka nasip pendidikan akan semakin terpuruk, masyarakat (orang tua siswa), dan warga sekolah akan menjadi korban tindakan ini. Namun sebaliknya, jika komite menjalankan peran dan fungsinya sebagai mana aturan maka kita masih mempunyai harapan, kualitas pendidikan akan semakin baik.
  5. Sebagai suatu lembaga kontrol,kadang komite sekolah menemukan sesuatu yang dianggapnya suatu penyimpangan yang dilakukan oleh pihak sekolah,namun hasil temuannya itu tidak ditanggapi oleh pihak sekolah atau pihak atasan kepala sekolah,malahan timbul kecurigaan bahwa komite sekolah ingin menjatuhkan kepala sekolah sehngga muncullah ketidakharmonisan.

E. Membangun Kemitraan Komite Sekolah dengan Kepala Sekolah

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa peran Komite Sekolah adalah sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrol (controlling agency), mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat pada lingkup satuan pendidikan (sekolah).Maka jelaslah bahwa komite sekolah merupakan mitra yang dapat berperan dalam pengembangan pendidikan di sekolah.Oleh karena itu,kedua lembaga ini hendaknya terjalin kemitraan yang kokoh dan sinergitas,antara lain dalam hal:

  1. Komite sekolah hendaknya pro aktif dalam memberi pertimbangan,artinya diundang atau tidak sewatu-waktu bisa mendatangi pihak sekolah untuk menyampaikan saran atau usulnya kepada pihak sekolah.Begitupun kepala sekolah,sewaktu-waktu bisa mengundang atau mendatangi komite sekolah.Senantiasa menghadirkan komite sekolah dalam penyusunan anggaran sekolah.
  2. Sebagai pihak pendukung,Komite Sekolah hendaknya berusaha membantu pihak sekolah mencarikan dana untuk pengemangan sekolah,bukan malah sebaliknya mengharap sesuatu dari phak sekolah.Namun demikian pihak sekolah harus mengerti juga bahwa salah satu cara mempererat kemitraan adalah mengajak duduk bersama untuk minum kopi bersama.
  3. Pihak sekolah hendaknya trasparan dalam penggunaan dana sekolah agar tidak mengundang kecurigaan bagi pihak komite sekolah.Dan sebagai pengontrol,Komite Sekolah jangan juga over kontrol yang membuat pihak sekolah merasa dicurgai atau diintrogasi.
  4. Komite Sekolah sebagai mediator hendaknya menjalankan perannya untuk memediasi pihak sekolah dengan pemerintah yang berhubungan dengan kepentingan sekolah atau berperan aktif membantu pihak sekolah menggalang masyarakat dalam penerimaan siswa baru.

F. Penutup

Peran Komite Sekolah saat ini lebih kompleks karena bersentuhan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Warga sekolah sangat menaruh harapan yang besar terhadap peran dan fungsi lembaga ini.Komite Sekolah jangan hanya sebagai pengukuhan kebijakan pimpinan di sekolah karena  pendidikan akan semakin terpuruk, masyarakat (orang tua siswa), dan warga sekolah akan menjadi korban tindakan ini. Jika komite menjalankan peran dan fungsinya sebagai mana aturan maka kita bisa berharap kualitas pendidikan akan semakin baik. Untuk membangkitkan agar Komite Sekolah berperan tentunya perlu dorongan dari berbagai pihak, agar lembaga yang dibentuk secara demokratis ini berperan dan berfungsi secara maksimal dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah bukan sebagai lembaga yang mengekor dan dikendalikan oleh pimpinan sekolah.Disinilah pentingnya kemitraan yang kokoh dan sinergitas.(Jeneponto,2014)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ABDUL GHOFAR

Saya hanya seorang guru Bahasa Indonesia yang terus berjuang mengintimidasi para penerus bangsa untuk berka ...
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0