Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / PETE-PETE[1] & KURIKULUM 2013
PETE-PETE[1] & KURIKULUM 2013
2 Komentar | Dibaca 707 kali
USMAN . J @makkiobaji
29 September 2014

“Barangkali hanya Tuhan dan pak sopir yang tahu apakah pete-pete itu akan berhenti atau berbelok”. Ungkapan ini penulis anggap cukup pas menggambarkan perilaku sahabat dan saudara kita yang berprofesi sebagai sopir pete-pete. Untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, pak sopir biasanya selalu khilaf (baca:lupa) untuk memberi tanda berhenti atau pada saat akan berbelok kepada pengendara lain. Akibatnya kesalahpahaman seringkali terjadi yang biasanya berakhir dengan pertengkaran seperti halnya peristiwa siang ini yang saya alami. Berlomba satu sama lain mengejar setoran, keselamatan penumpang dan pengendara lain benar-benar ditangan Tuhan.

Apakah sekolah atau tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku para sopir ini? Hemat penulis sangat mempengaruhi. Riset sederhana (baca: tanya sana-sini), yang penulis lakukan ternyata hampir semua sopir pete-pete tidak sempat mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Dari beberapa sopir yang penulis temui, tingkat pendidikan yang paling tinggi adalah SMA, itupun belum sempat mengecap model kurikulum 2013.

Dari sisi usia juga mempengaruhi. Yang paling parah perilaku binalnya (baca:sembrono) adalah mereka yang berusia antara 15-20 tahun, malah ada yang masih berusia antara 13-14 tahun. Mereka ini dalam kosa kata persopiran disebut “sopir palimbang”. Sopir yang “asli” singgah minum kopi, kemudian digantikan sopir “palsu”. Sopir palsu tidak selalu dilengkapi dengan surat izin mengemudi dan tentu saja minim pengalaman, hanya modal nyali dan bisa putar kemudi. Jauhlah harapan kita mereka menguasai maksud dan penggunaan rambu lalu lintas.

Penulis memastikan bahwa para sopir palsu ini adalah remaja putus sekolah. Di usia belia mereka sudah berhadapan dengan dunia kasar dan keras, sebagaimana nyanyian Iwan Fals, “…anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal”. Mereka masih berusia remaja, usia dimana kaki kirinya masih golongan anak-anak, sementara kaki kanannya menanjak fase dewasa. Usia yang menurut Santrock (2013), seharusnya masih belajar memahami nilai-nilai dan perspektif orang lain.

Perilaku binal para sopir palsu ini, penulis masih bisa pahami. Yang membuat penulis “terguncang” (baca: syock) adalah karena masih banyak juga sopir yang berusia dewasa mendekati uzur menurut kepolisian (indikatornya jika memiliki SIM) yang masih juga “binal” mengemudikan pete-petenya. Perkembangan moralitasnya menurut Drijarkara (1981), manusia yang belum menyadari posisi dirnya yang seharusnya melihat dirinya berhadapan dengan baik dan buruk, membedakan antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan, larut dalam habitus-nya Piere Bourdieau

Apa yang