Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Buku

Beranda / Buku / PRO DAN KONTRA SAYONARA Mengingat Masa –masa Dikala SD Sayonara teman, kelas dan sang Guru.
PRO DAN KONTRA SAYONARA Mengingat Masa –masa Dikala SD Sayonara teman, kelas dan sang Guru.
0 Komentar | Dibaca 796 kali

Supaji Alatas M.Pd
Guru SMP N I Tambak-Bawean-Gresik

Teringat ditahun 81–an semasa saya masih duduk di kelas 3 SD, dimana waktu itu masih sulit rasanya kita belajar seperti sekarang, sesuatu masih kurang sepurna dan belum terlengkapi, media pembelajaran, alat tulis sulit kita nikmati, sehingga boleh dikatakan zaman itu, zaman ketinggalan dalam hal pendidikan, belajar kala itu belajara apa adanya, menginjak diusia yang ke-7 tahun dan sudah duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, seminggu akan datang, akan memasuki kenaikan kelas, budaya kenaikan kelas dulu lain dengan zaman sekarang yang saya rasakan, dulu ketika saya masih di SD kenaikan kelas dengan membawa sebungkus makanan yang ditata rapi dengan daun pisang didalamnya berisi nasi, telur goreng dan dua buah kue, lalu sang guru memanggi satu persatu siswa dan menukarkan dengan bungkusan makanan siswa lain, kemudian kita makan bersam-sama di dalam kelas, asik rasanya,…..lima menit kemudian Rapor dibagikan oleh sang guru,…. ada rasa sakral ketika siswa yang merasa ketinggalan kelas waktu itu, kenapa? tentu kita merasa kasihan dan ibah terhadap teman yang ketinggal kelas “Sayonara my class, so say good by my friend?” salah satu teman berkata pada mereka, ternyata penerapan kala itu muncul pada penerapan kurikulum 2013 (K-13) pemerintah mengeluarkan regulasi baru terhadap lembaga pendidikan terutama lembaga Sekolah Dasar (SD) untuk tidak menaikkan kelas terhadap siswa, pembelajaran ini mirip dengan pendidikan di Malaysia sekarang, Penulis pernah mengikuti work shop di Singapore dan Thailan yangg diselenggaraka pirex education 2010, semuanya menggunakan sistem serupa yang diterapkan pada kurikulum 2013 (K-13).Kata ketinggalan kelas sudah tidak berlaku bagi sekolah Dasar, kata Sayonara tidak lain menjauhi dari kata–kata minder terhadap siswa yang ketinggalan kelas, kata bodoh terhadap siswa akan berdampak terhadap psikology anak yang ketinggalan, oleh sebab itu sikap saya selaku guru dengan adanya kebijakan baru tentang dihapuskannya sistem tinggal di kelas bagi siswa SD merupakan fenomena dan nuansa baru terhadap guru kelas (untuk SD) fenomena akan menambah beban sang guru jika siswa yang tidak dinaikkan merasa jauh ketinggalan dengan mereka yang smart student artinya apa, mereka akan merasa lebih minder dengan temannya yang pandai nantinya di kelas lebih tinggi, persoalanya materi yang diberikan akan lebih banyak dan lebih sulit dari yang awal.Apalagi siswa yang dinaikkan sama sekali tidak bisa membaca justru menambah beban seorang guru kelas.
Perubahan metode mengajar terhadap seorang guru boleh dikatakan efektif karena perencanaan seorang guru lebih matang dengan adanya RPP dan ke-tidak efektif ketika yang diajarkan kita (seorang guru) sama sekali tidak memahami membaca, dan menghitung terutama (siswa SD kelas 1) dalam RPP, kelas bawah tentu yang ditekankan membaca dengan lancar dan menghitung.
Jika kebijakan tersebut tetap dilaksanakan, bagaimana terhadap siswa yang belum bisa membaca dan menulis di Kelas I SD, jawaban pertanyaan tersebut sudah saya singgung diatas, keadaan siswa akan merasa sulit, permasalahan guru akan bertabah, penekanan kurikulum bukan hanya menekankan kenaikan kelas saja tentu dibarengi dengan kecerdasan dan pemahaman siswa terhadap materi selama ini diberikan oleh seorang guru.Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor: a).Karakteristik anak didik dan lingkungan b).Tujuan peralatan (media) serta c).Prosedur dan pelaksanaan sistem (M.Provus ) dalam buku Evaluasi Hasil Belajar Hal.29 karya Dr.Purwanto, M.Pd. Apakah mereka harus naik kelas ? tentu tidak, naik dan tidaknya siswa ditentukan dari beberapa aspek baik akademis maupun non akademis.
Pembelajaran masa kecil tingkat rendah atau bawah adalah pembelajaran mendidik dan pemahaman suatu materi, Jika kebijakan tersebut tetap berjalan, justru akan menimbulkan anak menjadi malas untuk belajar, seusia 6 sampai 8 tahun anak cenderung menjadi malas karena sudah ada jaminan pasti naik kelas, orang tuapun yang tidak paham persoalan pendidikan begitu mengabaikan kebijakan dan aturan sekolah yang selama ini terpampang didepan sekolah dengan Visi Misi sekolah yang dibuat steholdher sekolah.
Terhadap siswa yang kemampuannya belum memadai jika dipaksakan harus naik kelas tentu nantinya justru akan menyulitkan siswa yang bersangkutan, lembaga sekolah kita akan tidak berwibawa dan tidak punya arti dihadapan wali murid.
Jika kebijakan ini tetap berjalan, bagamana upaya guru untuk mengukur keberhasilan siswa dalam meyerap ilmu yang telah diajarkan di sekolah mereka, seorang guru mempunyai beberapa catatan penting yang menyangkut kepribadian siswa yang mereka didik, catatan pribadi siswa tentu meliputi nilai harian, koknitif, afektif, psikomotorik, Lihat Tabel:
INPUT PROSE HASIL
Siswa
1. Koknitif
2. afektif
3. psikomotorik Proses belajar
Mengajar Siswa
1. Koknitif
2. Afektif
3. psikomotorik
Potensi perilaku
Yang dapat diubah Usaha mengubah perilaku Perilaku yang telah berubah
1.efek pengajaran
2.efek pengiring
Setiap siswa mempunyai potensi untuk dididik,potensi itu merupakan perilaku yang dapat diwujudkan menjadi nyataPotensi jiwa yang dpat diubah melalui pendidikan meliputi ketiga input tersebut ( Koknitif,afektif dan psikomotorik), sebagai acuan untuk mengukur kemampuan siswa tentu selama satu tahun kedepan.Nilai ujian kenaikan kelas (UKK) tentu jangan dibuat sebagai patokan kenaikan kelas, nilai tersebut ditekankan pada nilai harian selama kurun waktu yang ditentukan oleh seorang guru berkisar antara 3 bulan dan 6 bulan, sehingga penilaian terhadap siswa boleh diketahui semaksimal mungkin, karena hasil belajar merupakan proses berinteraksi dengan lingkungan (sekolah) untuk mendapatkan perubahan upaya dalam perilakunya.Semoga pendidikan kita ganti MenPan tidak ganti kebijakan baru, justru akan memperkompleks kebijakan tersebut#

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Dermawan

Dermawan. S.Ag, - lahir di Pancurbatu pada tahun 1970 - menghabiskan masa kecil sampai selesai tingkat SLT ...
Daftar Artikel Terkait :  2
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0