Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Buku

Beranda / Buku / Cerpen: Secangkir Teh Air Hangat
Cerpen: Secangkir Teh Air Hangat
0 Komentar | Dibaca 780 kali
Mas Subiyanto @massubiyanto
30 September 2014

Tiba-tiba aku teringat kejadian di masa-masa sekolah SD dulu. Aku terharu melihat pengorbanan ibuku terhadapku meskipun kelihatannya sepele. Semoga dapat menginspirasi.

Singkat cerita, bulan ramadhan adalah bulan puasa yang sangat ditunggu-tunggu bagi setiap muslimin dan muslimat diseluruh penjuru dunia. Betapa bahagianya sebab disana terkandung banyak nilai-nilai jasmani dan ruhani yang sangat indah dalam menapaki hidup sehari-hari. Apalagi dimasa usiaku yang menginjak belasan tahun, bulan ramadhan adalah bulan puasa yang sangat special sebab disana beragam kegiatan beribadah. Pokoknya serba di masjid. Baik shalat wajib berjamaah, baca quran, tarawih berjamaah, subuh berjamaah dan lain sebagainya.

Ada kisah menarik yang sangat ditunggu-tunggu sewaktu sekolah SD dulu tentang akan diadakannya kegiatan buka bersama sekolah yang sudah menjadi agenda rutin setiap tahun.

“Anak-anak besok hari ahad sore bada’ ashar sekolah akan mengadakan kegiatan buka bersama diharapkan anak-anak memakai baju muslim yang rapi dan membawa bekal makanan masing-masing ya!”, terang Pak Hendra guru wali kelas 5 SD Negeri Mawar Indah 01, Tegal.

“Horeee…..siappp…. pak Guru?!!!” jawab anak-anak serempak sambil penuh suka cita.

“Oke kali ini pelajaran akhiri sampai disini dulu, selamat menunaikan ibadah puasa, dan wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuhu”, Tukas pak Guru hendra sambil bergegas merapikan bukunya.

“Wa alaikum salam warahmtullahi wabarakatuhu.” Jawab singkat anak-anak penuh kompak dan berhamburan berlarian keluar kelas

***

Usai shalat dhuhur berjamaah di masjid yang tidak jauh dari rumah, aku menghampiri ibuku di dapur. Rupanya ibuku sudah mulai sibuk dengan kegiatan di dapurnya.

“Bu, besok hari ahad sore bada’ ashar sekolah akan mengadakan kegiatan buka bersama, kira-kira menunya apa bu yang Budi bawa ke sekolah?” Tanyaku sambil mendekat ke ibu yang sedang menyiapkan bumbu masaknya

“Ya kamu maunya apa, pengin ayam goreng ya ntar ibu beliin ayam di warung mak Diroh” jawab ibuku sambil mengupasi bawang merah

“Ya udah terserah ibu aja yang penting menunya enak,” tukasku

“Kalo minumnya bu, aku pengin kayak teman-teman pake tempat air yang bentuknya rupa-rupa bisa ditenteng dibawa kemari bu.”

“Bisa ga ya bu???” Tanyaku singkat sambil menggaruk-garuk kepala

“Ya udah ntar coba ibu usaha cariin ya kalo ada, nak,” jawab ibu sambil senyum

“Makasih bunda ya…hore akhirnya aku bisa buka bersama di sekolah bareng teman-teman…,” selisik budi kelihatan ceria

“Sekarang aku ijin dulu bu ya mau ke masjid mau lanjut baca quran sambil nunggu shalat ashar, assalamu alaikum,” pintaku sambil merapikan peci dan sarungnya.

“Hati-hati ya nak, wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.” Jawab singkat ibu sambil melanjutkan pekerjaanya.

***

Singkat cerita, m