Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen TERBANG TANPA SAYAP
Cerpen TERBANG TANPA SAYAP
0 Komentar | Dibaca 875 kali
SAHABUDDIN @elsah
04 October 2014

Oleh:Sahabuddin (Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang)

Sungguh suatu pemandangan yang menakutkan takkala kubuka mataku dan berada di sebuah padang yang luas dengan pancaran sinar mentari yang amat menyiksa.Panas,lapar dan kelelahan yang menemani hidupku.Sepertinya tidak ada yang bisa menolong sesamanya karena masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.”Ya Allah,mau dibawa ke mana aku ?”,teriakku kala serombongan pasukan menghalauku ke tempat yang bercahaya merah.Dari jauh telah kurasakan hawa panas cahaya merah itu.Tubuhkupun telah bermandikan keringat.”Panas ya ?”,tanya Bundu,pemuda sekampungku yang selalu menjadi buah bibirku.Bundu sekeluarga berbeda keyakinan denganku dalam beragama Islam.Bundu sekeluarga anti bid’ah dalam beragama,sedangkan aku sekeluarga dan seperguruan sangat menjujung tradisi bid’ah dalam masyarakat Islam.Aku sekeluarga berpegang teguh pada ajaran guru tarekatku sedangkan Bundu sekeluarga tidak percaya pada ajaran tarekat.”Islam ini dibangun di atas sunnah yaitu Al Quran dan Hadis.Oleh karena itu, Islam hendaknya dilaksanakan menurut petunjuk Al Quran dan Hadis”,kata Bundu padaku dalam suatu pertemuan.”Tidak,ada Ilmu rahasia yang tidak disampaikan Allah dalam Al Quran, juga oleh Nabi Muhammad kepada seluruh umatnya melainkan hanya pada sahabatnya yang tertentu saja,itulah yang dibilang tarekat”,bantahku dengan mengutip perkataan guruku.”Ajaran Islam yang benar hanya ada dalam Al Quran dan Hadis.Kalau ada ajaran yang bertentangan dengan itu maka termasuk ajaran sesat”,tambah Bundu yang membuat telingaku agak panas mendengarnya.”Jadi kamu bilang terekat itu sesat ?”,tanyaku.”Saya tidak bilang tarekat itu sesat,saya Cuma bilang bahwa kalau ada ajaran yang bertentangan atau tidak ada dasarnya dalam Al Quran maupun Hadis maka itu adalah sesat”,jawab Bundu.”Begini saja,kita tidak perlu perdebatkan siapa yang benar dan siapa salah,nanti kalau mati baru kita tahu siapa diantara kita yang beruntung dan siapa yang akan celaka,bagimu amalanmu dan bagiku amalanku”,ungkapku menganghiri perbincangan.
Seluruh tubuhku bergetar kala mendekat ke tempat yang bercahaya merah,ternyata adalah danau api dengan api yang berkobar-kobar.”Di seberang sana ada kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan.Untuk sampai ke tempat abadi dan nikmat itu kalian semua harus melewati danau api ini dengan terbang.”Terbang,bagaimana kubisa terbang sedang aku tidak punya sayap ?”,jawabku.Tiba-tiba kulihat Bundu memakai sepasang sayap dan tersenyum padaku.”Ayo Buddin kibarkan sayapmu lalu kita terbang bersama”,ajak Bundu.”Saya tidak punya sayap,darimana kamu mengambil sayap ?”,tanyaku mengharap memiliki juga sayap.”Tumbuh sendiri”,jawab Bundu lalu kulihat Bundu melebarkan sayapnya lalu terbang tinggi melewati danau api.”Wahai guruku tolong semberangkan aku ?”,teriakku memanggil guru tarekat yang kuyakini akan datang menolongku.”Tolong dirimu sendiri karena aku juga tidak punya sayap !”,kudengar suara guruku dari arah selatan.”Ayo semua menyeberang kalau tidak akan kuserek kalian”,perintah pasukan berseragam hitam itu.Tiba-tiba dari belakang ada yang menendangku dengan keras sampai aku terlempar ke arah danau api.”Toloooong,aku tidak bisa terbaang,toloooooonng !!!”,teriakku.”Tidaakkk…..panaass…toloooonng !!!”.
Aku tak kuasa menolong diri saat tubuhku jatuh ke danau api.Amat panas kuasakan.”Alhamdulillah,Abi udah sadar”,teriak anakku Ulis.Perlahan-lahan kudengar suara dokter,”Alhamdulillah,bapak sudah sadar cuma jangan dulu diganggu karena badannya panas sekali,beri tindakan penurun panas,Suster !”,perintah Dokter yang menanganiku.Perlahan-lahan kubuka mataku dan samar-samar kulihat sosok yang berseragam putih.Kurasakan napasku sesat dan alat bantu pernafasan masih melekat dihidungku.Kuteringat bahwa aku masih berada di rumah sakit Labuang Baji,namun aku sudah tidak tahu sudah berapa hari aku berbaring di kamar pasien.Kuperhatikan sekelilingku,sepertinya aku dipindahkan ke ruang ICU,karena aku dikelilingi oleh alat-alat yang tidak kulihat sebelumnya di kamar rawat inap.
“Suster,kembalikan pasien ke kamarnya”,perintah Dokter.”Baik,Dok !”,jawab Suster yang sudah beberapa hari kulihat datang merawatku.”Ayo Pak kita kembali ke kamar semula,nampaknya bapak sudah semakin baik”,kata Suster yang bernama Wati,orangnya cantik lagi ramah yang membuatku terhibur memandangnya.Wati masih yang cewek pintar menghibur pasien,makanya aku tidak keberatan kalau Wati selalu memeriksa atau membetulkan keteter yang melekat di bagian terhormat dari tubuhku.”Maaf ya Pak,keteternya sudah mau dilepas”,kata Wati sambil mengangkat sarungku.Kututup mata lalu kutahan nafas saat tangan Wati mulai melepas keteter.”Tahan,iya Pak !”,pinta Wati dan aku cuma diam tanda setuju.”Iya,sudah Pak insya Allah tidak lama lagi Bapak akan pulang”,sambung Wati.”Terima kasih sebelumnya Suster”,ungkapku.”Sama-sama Pak”,jawab Wati.
Dokter telah membolehkanku pulang.”Alhamdulllah,terima kasih Ya Allah atas kesembuhan yang Engkau berikan kepadaku”,suara hatiku.Bererapa jam dalam perjalanan aku dan istri yang setia menemaniku sampai di kampung.Kami disambut oleh tetangga dan kerabat,diantaranya ada yang memelukku.Aku sembuh walau kekuatan fisikku tidak seperti dulu lagi.
Kini aku telah meninggalkan Rumah Sakit,tempat aku berobat selama sepuluh hari.Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan untuk menikmati hidup di muka bum ini,kesempatan untuk membesarkan dan mendidik anak-anakku,kesempatan untuk memperbanyak bekal hidup di negeri akhirat.Tapi,ada satu yang membebani pikiranku,yaitu mimpi yang kualami saat di rawat di rumah sakit.Aku gagal terbang melewati danau api karena ku tidak punya sayap.Jangankan sepasang,satu sayap saja aku tidak punya sayap. Guru tarekatku yang selama ini kuanggap sebagai junjungan,penyelamat dan yang telah menjaminku masuk surga ternyata tidak punya pula sayap,nasibku sama yaitu sama-sama jatuh ke danau api.Bundu yang selama ini kuanggap akan celaka ternyata dia yang selamat,memiliki sayap dan bisa terbang melewati danau api menuju ke kampung abadi dan penuh kenikmatan.”Benarkah kata Bundu,bahwa hanya ajaran Al Quran dan Hadislah yang benar ?, lalu bagaimanakah ajaran tarekat yang selama ini kuamalkan benarkah sesat ?”,batinku sebelum tidur.
Selama menginjak bangku kuliah aku mulai tertarik menuntut ilmu tarekat.Bagiku ilmu tarekat itu adalah ilmu khusus buat para kekasih Allah,sebagai jalan pintas menuju surga.”Tarekat itu adalah ilmu istimewa kepada orang yang diistimewakan Allah.Orang yang tidak bertarekat,tidak terjamin keselamatannya di akhirat”,kata guruku yang mengaku sebagai penguasa dunia akhirat,yang sudah tiga kali dikuburkan.Akupun percaya pada ajaran guru tarekatku.Melalui guruku,kudapatkan ilmu-ilmu batin,antara lain ibadah batin dan ilmu pelindung diri.Ibadah batin itu antara lain sahadat batin sebagai penyelamat dalam sakratul maut,shalat batin sebagai penyelamat di alam kubur,taubat batin sebagai penghancur segala macam dosa.Diantara ilmu itu ada yang bisa membuat kita hidup kembali setelah dikuburkan.
Guruku hebat telah menguasai ibadah batin,sehingga dia tidak perlu lagi melaksanakan syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.Guruku tidak melaksanakan shalat lima waktu,tidak shalat Jumat dan puasanya Cuma 9 hari di bulan Ramadhan,itupun bisa dibantu dengan minum kopi di pagi hari.Guruku adalah teladanku,makanya akupun malas shalat dan malas puasa karena kuyakin diriku sudah dijamin masuk surga,gurukulah yang akan membawaku bersama ratusan pengikutnya masuk surga.
Aku kembali berada di sebuah padang yang luas,tiba-tiba kulihat sosok orang tua yang berjubah putih mendekatiku.Wajahnya mengingatkanku pada foto yang terpasang di dinding rumahku.Foto gurunya guruku,yaitu Syaikh Abdul Qadir al Jelani.”Assalamu alaikum !”,dan kujawab “Wa alaikum mussalam”.”Apa yang kau cari di padang ini ?”, tanya orang tua itu.”Aku mencari sayap untuk bisa terbang ke kampung abadi”,jawabku.”Itu sayap kebenaran yang tidak dicari ke mana-mana,melainkan ada di dalam hatimu sendiri”,sambung orang tua itu.”Bagaimana kubisa masuk ke dalam hatiku ?”,tanyaku lagi.”Bukalah jalan menuju hatimu”,jawabnya.”Jalan mana yang dimaksud?”,tanyaku.”Jalan kebenaran yang telah diturunkan Allah dan yang telah diajarkan atau dilewati oleh Rasul-Nya.Jalan kebenaran itu ada di dalam al Quran dan Sunnah Rasul.Terbanglah kepada Allah melalui hatimu dengan sepasang sayap Al Quran dan Sunnah Rasul.Tinggalkan ajaran yang tidak memliki dasar atau yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah rasul,”jawab orang tua itu.
“Bagaimana dengan ajaran tarekat guruku itu yang mengaku sebagai muridnya Syaikh Abdul Qadir Jaelani”,tanyaku lagi.”Saya Abdul Qadir,saya tidak pernah mengajarkan ilmu sesat seperti yang diajarkan gurumu itu.Ajaranku bersumber dari Al Quran dan hadis,dan saya tidak pernah menjamin muridku masuk surga,karena surga itu tergantung pada Rahmat Allah dan jalan Rahmat itu ada pada diri masing-masing.Tidak seorangpun manusia bisa menjamin seseorang masuk surga,jadi kalau ada ajaran yang bertentangan dengan Al Quran dan Hadis itu bukan dariku melainkan dari setan.Kalau ada ahli tarekat yang mengaku menemukan hakekat dan mencapai ma’rifat tetapi dalam kenyataan meremehkan syariat maka itu dusta dan tertipu,Nabi saja yang telah menjadi kekasih Allah sangat menjaga syariat,palagi kalau cuma umatnya”.Jawabnya lalu tiba-tiba Syaikh lenyap dari pandanganku.Dan akhirnya kudengar istriku membangunkanku untuk shalat Subuh.
Usai Shalat Subuh kuceritakan seluruh mimpi-mimpiku kepada istriku dan tekadku untuk meninggalkan ajaran-ajaran tarekat guruku untuk kembali kepada ajaran yang benar,yaitu Al Quran dan Sunnah Rasul.Kusisihkan sebagian rezki Allah untuk membeli Tafsir Al Quran,Kitab-Kitab Hadis Sahih Terjemahan,Kitab-Kitab Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan Buku-Buku Islam.Kusibukkan diriku mempelajari dan memahami kitab-kitab tersebut.Kemudian kuberusaha mengamalkan ajaran Islam yang benar,kutinggalkan ajaran dan amalan sesat yang kesyirikan seperti ziarah kuburan keramat,mempersembahkan sesajen kepada roh penghuni tempat atau kuburan keramat.Kepada guru dan teman seperguruan tarekat kusampaikan bahwa aku telah keluar dari anggota terakatnya.”Buddin telah kafir,dia akan menyesal di dalam neraka,siapa lagi yang mau masuk neraka silahkan keluar dari tarekat ini,dia itu orang lemahnya imannya sehingga mudah dipengaruhi oleh guru terekat lain”,ujar guruku dihadapan murid-muridnya.”Katanya Kareng,rela dibakar di neraka asalkan sanggup mengamalkan Islam yang benar sebagaimana yang diajarkan dalam Al Quran dan Hadis”,kata Puddin mengutip perkataanku padanya.Aku sudah tetap pada keyakinanku bahwa ajaran Al Quran dan Hadislah yang benar,yang bisa menjamin keselamatan di negeri akhirat,yang bisa menerbangkan ke kampung abadi dan nikmat.”Justru kalianlah yang akan menyesal nanti bila tetap dalam ajaran sesat dan tidak bertaubat sebelum mati”,uangkapku pada Puddin,teman seperguruanku.Terus kupelajari Islam sampai kumimpikan diriku bisa terbang melewati danau api lalu menerobos sebuah pintu dan masuk ke dalam sebuah taman yang indah.Mimpi ini telah meyakinkanku bahwa Al Quran adalah petunjuk dan jalan yang lusus yang pengamalannya harus sesuai dengan yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasul-Nya,bukan yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru-guru tarekat.Terima kasih Tuhan ternyata melalui penyakitku Engkau datang memberiku petunjuk.Semoga penyakitku menjadi penebus atas dosa-dosa kesesatanku di masa lalu.Semoga dengan penyakit itu Engkau membersihkanku dan Engkau berkenang masuk ke dalam hatiku untuk menjadi pemimpin hidupku dalam kehidupan dunia dan akhirat.
“Berarti kita tidak boleh bertarekat ?”,Tanya istriku.”Boleh,karena tarekat itu adalah jalan yang bisa mengantar kita untuk mencapai hakekat ketuhanan dan sampai kepada keridhaan atau kasih Allah,tetapi dengan tarekat yang benar,yaitu tarekat yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya melalui al Quran dan Sunnah Rasul,bukan dengan tarekat sesat”,jawabku.”Yang mana tarekat sesat ?”,sambung istriku.”Yaitu tarekat buatan setan untuk menyesatkan manusia,yang dilihat dari ajaran dan gurunya.Ajarannya bertentangan dengan aqidah dan syariat Al Quran dan Hadis,sedangkan gurunya bukanlah orang yang taat menjalankan agama,seperti tidak shalat,anti masjid atau dekat kepada kesyirikan,antara lain kuburan keramat,benda-benda keramat dan suka mempersembahkan sesajian pada roh,tempat atau kuburan keramat,termasuk pula suka melakukan sihir.”Astagfirullah,berarti perguruan tarekat kita dulu itu sesat ?”,tanya istriku.”Iya,makanya bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya,lalu memperbaiki diri dengan memperbanyak melakukan amalan saleh,semoga Allah berkenang mengampuni dosa-dosa kita”.jawabku “Kurang ajar,kuserahkan uang dan emasku hanya untuk mendapatkan tiket ke neraka,tolol sekali,kirain tiket ke surga”,sambung istriku yang kubalas dengan senyum sebagai tanda mengakhiri obrolan untuk mengikuti resep dokter.(Palajau,Januari 2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0