Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Handling siswa yang always CarPer
Handling siswa yang always CarPer
0 Komentar | Dibaca 672 kali

Seorang Guru Produktif bergegas mencari Guru BK, “pak… aduh… tolong kasih konseling itu Uci sam Ira, mereka sering sekali pura-pura sakit,” demikian katanya, “alasan saja itu, supaya kita jadi kasihan sama dia, ” lanjutnya bersemangat.

Sebagai guru mungkin kisah di atas pernah Anda alami. Siswa mengeluh sakit perut atau sakit kepala, sakit maag, bahkan mungkin yang lebih parah, yaitu penyakit-penyakit akut semisal hepatitis, pneumonia, bronchitis, dan sebagainya. Namun ketika siswa menyampaikan keluhannya, terasa ada yang janggal dengan keluhannya tersebut, atau tampak tidak sesuai dengan gejala umum yang kita ketahui, atau seperti ada polanya, macam-macam lah.

Apakah insting kita benar? bukankah kata orang-orang bijak ikutilah hatimu, karena hati tidak pernah berbohong?

Bagaimana cara kita mensikapinya?

Tugas kita sebagai guru adalah membantu proses pembelajaran siswa, belajar dalam arti terjadinya sebuah perubahan kualitas nilai diri melalui proses tertentu.

Sementara ini, saya melihat 2 sudut pandang untuk kejadian di atas. Pertama, mungkin siswa tersebut benar-benar sakit, hanya bisa kita ketahui bila berkunjung ke rumahnya dan mendapatkan penjelasan langsung dari orang tuanya, yang tentunya dibuktikan dengan rekam medik seperti hasil laboraturium, CTscan, Rontgen, dan sebagainya.

Kedua, siswa melakukan akting untuk mencuri perhatian guru, atau pun mengalihkannya, misal untuk menghindari ulangan harian, dalam hal ini baik mencari perhatian maupun mengalihkan perhatian dilakukan dengan cara yang sama, berbohong.

Jika siswa benar-benar sakit, maka berikanlah saran atau rekomendasi untuk pengobatan yang terbaik menurut Anda. Kemudian sedapat mungkin Anda pantau perkembangannya baik secara langsung ataupun melalui orang tuanya via telepon.

Jika siswa berpura-pura, maka  itu berarti mereka sedang membutuhkan perhatian, tentu hanya inilah motif yang bisa dikemukan bila siswa melakukan kebohongan untuk mencari perhatian. Bila hal tersebut terjadi, berilah perhatian lebih kepadanya, tentu dalam batas-batas moral yang sesuai, sebab tidak jarang siswa mencuri perhatian guru karena tertarik secara emosional (kita akan membahas lain waktu jika yang terjadi adalah sebaliknya, guru terlibat perasaan kepada siswanya).

Berikanlah perhatian lebih, berikanlah perhatian khusus untuk siswa yang khusus pula, artinya seorang guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai sosok yang adil dalam persepsi adil siswanya. Seorang guru harus menganggap setiap siswa adalah pribadi yang unik yang penanganannya tentu tidak sama, melainkan harus sesuai dengan kara