Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Ketika Guru Ingin Dimengerti oleh Siswa
Ketika Guru Ingin Dimengerti oleh Siswa
0 Komentar | Dibaca 679 kali

Penulis : ZaidBuri Prahastyo (terapis NLP dan Hypnotherapy, Guru BK SMK Darussalam Makassar)

Beberapa kali saya menerima siswa yang meminta konseling pribadi karena merasa diperlakukan terlalu keras oleh gurunya. Hal ini menggelitik saya, mengingat bukankah seharusnya gurulah yang mengerti siswanya, sebab guru pasti pernah mengalami kondisi yang dialami siswa, pernah berada di usia siswanya. Bukan sebaliknya.

Seorang guru pasti pernah menjadi siswa, oleh karena itu semestinya paham benar bagaimana tipe-tipe guru yang menyenangkan dalam proses belajar, atau minimal mengetahui bagaimana gaya mengajar yang paling tidak menyenangkan bagi siswa, kemudian mengambil pelajaran dari hal tersebut dan menjadi sosok guru yang senantiasa dinantikan kehadirannya, dan menyenangkan gaya mengajarnya.

Beberapa guru tampak belum memahami perbedaan Keras dan Tegas, sehingga pada akhirnya, stigma galak tetap melekat padanya. Keadaan ini semakin parah dengan pendapat bahwa Keras itu adalah Cara dan bagian dari pendidikan.

Mari kita sama-sama renungkan, baik di masa kini maupun di masa lalu kita, ketika kita menerima sebuah kekerasan, dalam hal ini kita lah yang mendapatkan perlakuan keras tersebut, Apa yang tersimpan dalam hati dan pikiran kita? Rasa senang? Rasa Nyaman? atau Rasa Benci? Rasa Bersalah? …

Akankah kita tega menanamkan rasa benci dan bersalah ke dalam hati dan pikiran anak didik kita? Membuat diri kita sendiri mendapatkan stigma negatif dari siswa? Pantaskah untuk kita?

Jangan pernah berharap siswa mengerti apa yang kita inginkan, tapi buatlah siswa mengerti apa yang kita sampaikan, buatlah siswa terinspirasi oleh apa yang kita lakukan.

Untuk membuat siswa taat pada aturan Anda, sederhana sekali, pahamkanlah kepada mereka Mengapa mereka harus taat pada aturan Anda, bukan karena takut hukuman, tetapi karena manfaatnya bagi lebih banyak orang. Jika mereka melanggar aturan itu, berarti mereka belum paham, berilah pemahaman, jika masih melanggar, beri waktu mereka untuk memahami, jangan bosan, akal dan hati buatan Tuhan jauh lebih lembut dari batu, padahal batu yang ditetesi air terus menerus akhirnya akan cekung juga.

Jadi ketika sebagai guru Anda merasa ingin dimengerti oleh siswa, maka ingatlah bahwa mereka belum cukup dewasa untuk mengerti cara berpikir di usia Anda, dan sebaliknya Anda seharusnya mampu mengerti bagaimana cara berpikir mereka karena pernah berada di umur mereka.

Menjadi tua hanyalah soal umur, tetapi menjadi dewasa, menjadi seorang guru profesional adalah sebuah sikap hidup.

God bless you full.. God bless all teacher in the world.. aamiin.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

WITONO

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0