Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Kisah Perusahaan Tafsir Hadits
Kisah Perusahaan Tafsir Hadits
0 Komentar | Dibaca 555 kali
Go Jali @jali09
06 October 2014

Tidak satu pun orang terpelajar percaya bahwa di sana ada perusahaan tafsir hadits. Bukan karena kombinasi tiga kata tersebut mungkin tidak masuk akal, melainkan belum pernah ada satu materi pelajaran tafsir dan hadist pun yang diarahkan untuk kepentingan perusahaan. Namun akan berbeda halnya bila Anda mengalami satu kisah seperti yang saya alami, kira-kira empat tahun yang lalu.

Taxi yang saya tumpangi dari Kudus menuju Semarang bersopirkan seorang bapak-bapak yang sangat akrab. Sebut saja ia Pak Ucul! Kami terlibat banyak obrolan. Tentang asal-usul kami berdua, tentang status sudah menikah apa belum, dan sekilas tentang kehidupan kami berdua. Sampai pada akhirnya ia bertanya tentang pendidikan terakhir saya.
“Baru dua tahun yang lalu saya lulus sekolah ‘aliyah, Pak!” jawab saya.
“Ya, setingkat SMA, Pak,” lanjut saya karena dari sorot mata dan mimiknya terlihat bahwa jawaban saya kurang jelas.
“Ow! Adek masih mau kuliah?”
“Insya Allah, Pak, bila ada biaya.”
“Di jurusan apa kira-kira, Dik?”
“Em, di Jurusan TH, tafsir hadits, Pak!”
“Ooo! Bila sudah wisuda, kira-kira akan kerja di perusahaan apa, Dik?”
###

Di sinilah saya terdiam. Wawasan setiap orang memang berbeda, namun saya malah terkejut sekaligus prihatin. Terkejut, karena belum pernah saya mendengar pertanyaan seberat itu. Bukan saya tidak bisa menjawab, tetapi arah pertanyaan dan isinya berlainan, sehingga bingunglah saya! Dan prihatin, sebab selama ini banyak orang masih berpikiran bahwa setelah lulus sekolah dan kuliah harus ada pekerjaan dan rupiah.
Akhir-akhir ini, lembaga yang kita percaya sebagai wadah belajar anak-anak kita makin terlihat mengalami krisis orientasi yang bisa dibilang parah. Maka, ada baiknya kita menilik, meneliti, lantas mengoreksi, kemudian menemukan apa sejatinya pendidikan dan pengajaran, serta bagaimana relasi awal antara ijazah dan perusahaan.

Pendidikan atau Pengajaran (?)
Kata ‘pengajaran’ merupakan derivasi dari kata ‘ajar’ yang dasar maknanya adalah petunjuk yang diberikan kepada seseorang supaya diketahui. Kata ini biasa disepadankan dengan ta’lim dalam bahasa Arab. Ta’lim merupakan darivasi dari kata alima yang berbentuk past. Artinya ‘mengetahui.’ Sedangkan dalam bahasa Inggris, kata ta’lim ini biasa disenadakan dengan kata teach. Artinya ‘mengajar.’

Tidak ada yang salah dengan pengertian ini. Semua pengajar di antara kita telah melakukan apa yang biasa disebut ‘mengajar.’ Cukup dengan memberitahu murid-murid mengenai apa yang belum mereka ketahui dan bermanfaat bagi mereka, Anda sudah layak mendapat julukan pengajar, namun belum pantas mendapat gelar pendidik.

Dengan kalimat yang lebih tegas, pendidikan bukan sekadar ‘memberitahu,’ bukan sekadar memindahkan pengetahuan di otak saya ke otak para murid. Aktifitas mengajar atau teaching berbeda dengan mendidik atau educating, seperti halnya ta’lim berbeda dengan tarbiyyah. Pendidikan adalah gabungan antara memberitahu, menemani, menjaga, mengatur, mengawasi, dan membimbing siapa saja yang membutuhkan.

Kata tarbiyyah, yang sering diartikan ‘mendidik,’ masih satu derivasi dengan kata rabb yang seringkali disalah-kaprahkan dengan memaknainya ‘tuhan,’ meski ini tidak sepenuhnya keliru. Dari kata rabb ini, salah satunya, terbentuk kata rabba-yurabbi-tarbiyyah yang berarti memelihara, mengatur, mengawasi, dan menjaga. Ini salah satu uraian sementara pakar tafsir mengapa di dalam al-Quran Allah Swt menggelari diriNya dengan kata Rabbu al-’Alamin. Demikian ungkap salah seorang pakar bahasa Arab, al-Raghib al-Asfahaniy [w. 503 h.] dalam karyanya, Mu’jam Mufradat Li Alfadz al-Qur’an.

Ketika ada orang buta berjalan di depan Anda, lalu Anda bilang, “Awas, ada lobang, Pak,” maka Anda telah melakukan ‘pengajaran’ kepadanya. Ketika Anda tidak hanya ‘memberitahu’ melainkan juga menghampirinya, lalu membimbingnya, kemudian membiasakannya setiap hari untuk menghindari lobang tersebut, saat itulah Anda telah melakukan apa yang biasa dikenal dengan ‘pendidikan.’ Pernahkah, dalam bertahun-tahun kita hidup di Indonesia,
Ijazah dan Perusahaan

Jika demikian halnya, maka pendidikan sebenarnya harus dan niscaya berawal di lingkup keluarga. Sekolah hanya sampingan. Karena anak-anak lebih banyak bersama Anda sebagai orang tua dari pada yang lain. Sehingga ijazah cuma merupakan tanda bahwa mereka telah menyelasaikan ini dan itu, merupakan data evaluatif untuk mengamati perkembangan anak secara keilmuan bukan prilaku, dan tidak ada hubungannya dengan perusahaan, sejak awal adanya.

Hanya saja, yang patut disayangkan adalah masih banyak orang tua yang gusar bila ijazah ini tidak berfungsi. Ya, tidak berfungsi dalam arti tidak menghasilkan rupiah. Padahal, sejak semula, telah dimengerti bersama bahwa orientasi pendidikan bukan sekadar untuk menaikkan standart penghasilan ekonomi—lantas dengan begitu, ia layak mendapat status ‘manusia berpendidikan tinggi dan berpenghasilan mahal,’ melainkan juga untuk tujuan yang lebih luhur. Yakni, perbaikan prilaku.

Bukankah kita sama-sama tahu bahwa Nabi Muhammad Saw diutus bukan untuk menaikan prosentasi penghasilan ekonomi, melainkan liutammima makarima al-akhlaq: melengkap-benahi prilaku berbudi pekerti?! Kalau ini diabaikan, maka tidak aneh bila Anda menjumpai tawuran dirutinkan secara berjamaah oleh orang-orang yang justru kita sebut ‘berpendidikan.’ Atau, memang itukah tujuan pendidikan? Berebut benar?
###

Bila dunia pendidikan dibentuk cuma untuk kepentingan ekonomi, maka sungguh teramat rendah tujuan itu dan tak sebanding dengan kerja keras semulia pendidikan. Money-oriented (otak-duwit) macam ini sebaiknya tidak bersemayam—atau justru kita simpan diam-diam—dalam diri kita. Saya bingung, lalu terdiam, ketika ditanya Pak Ucul prihal akan bekerja di perusahaan apakah saya manakala sudah lulus dari fakultas usuluddin jurusan tafsir hadits, karena tidak tahu harus berkata apa.

Meskipun, dalam hati saya menjawab bahwa saya akan bekerja di perusahaan tafsir hadist, pertama, sembari tetap hormat kepada Pak Ucul karena usianya yang lebih tua pengalaman dari pada saya; dan kedua, sembari berharap semoga dunia pendidikan kita bukan saja mampu mengajar melainkan juga mendidik dalam arti yang sebenar-benarnya, sehingga Pak Ucul tidak mengulangi pertanyaan yang sama, minimalnya, kepada selain saya. Wallahu A’lam bi al-Shawab [].

Bedengan-Ambulu, 02 April 2011 (dimuat di Majalah Al-Falah Surabaya)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Herbal Negeriku

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0